31 Hari

31 Hari
Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3

Malam harinya, Farel sengaja ikut Nana untuk pergi ke warung bu Tini. Sekalian dia ingin memantau kaki istrinya yang masih diperban. Di warung kelontong mereka membeli beberapa perlengkapan pembersih lantai.


Setelah pergi pulang dari warung, Farel melihat Nana asik minum air warna merah dari plastik dan sedotan ditengahnya. Itu sebuah pemandangan yang menurutnya sangat lucu.


Farel terus memantau langkah sang istri dari belakang. Dia melihat rambut itu bergoyang seperti ekor kuda. Gerak tubuhnya yang selalu terlihat riang. Itulah ciri khas Nana yang selalu dia lihat setiap hari.


Hanya berjalan beberapa menit saja, Nana sudah mengeluh bahwa kakinya mulai pegal. Farel pun berinisiatif untuk mengajak Nana duduk di sebuah bangku tengah taman komplek.


Mereka duduk berdempetan, layaknya seperti orang yang sedang berpacaran. Farel tersenyum ketir melihat Nana masih sibuk dengan minuman plastik aneh itu.


"Kamu mau?" tanya Nana sambil menyodorkan minuman plastik.


Farel dengan santai mengambil minuman itu dan langsung menyeruputnya dari lubang sedotan. Betapa terkejutnya dia jika rasa minuman itu sangat manis, super asam dan tidak enak. Dia bahkan memuntahkan semua air dalam mulutnya.


Nana tertawa terpingkal-pingkal, dia segera mengelap leher Farel yang basah kuyup dengan lengan baju. Sedangkan Farel masih merasa mual akibat minuman sampah itu.


"Minuman apa sih ini?" decak Farel gusar.


"Ini namanya es petir, aku sering lihat bocil sini pada senang minum itu."


"Tuhan.... ini seperti minuman kematian, lama lama kamu bisa kena diabetes minum kaya ginian!!"


Nana hanya merespon dengan senyuman tipis, dia merebut kembali minuman plastik dan menyeruput sampai habis.


"Aahhhh... enak.. enak..."


Farel hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali, mau heran tapi itu Nana. Jadi Farel tidak terlalu terkejut dengan semua tingkah absurd istrinya sendiri. Kini mereka terjebak di suasana tenang malam hari.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Farel.


"Untuk apa?"


"Maaf aku tidak menemanimu saat diinterview polisi tadi pagi."


"Tenang saja, itu bukanlah hal yang sulit untuk aku lakukan."


"Kenapa kamu tidak mengelola restoran Bali Tropical lagi?"

__ADS_1


"Aku bosan dengan tempat itu," jawab Nana sambil menjulurkan kedua kakinya.


Percakapan itu terhenti sebentar, Farel dan Nana malah bengong dengan pikiran masing-masing. Tapi justru ini lah yang mereka butuhkan, ada saatnya mereka harus berada di kesunyian.


"Aku pernah bertemu denganmu delapan tahun lalu di restoran itu," gumam Nana.


"Benarkah? aku kira pertemuan pertama kita saat acara perjodohan itu."


Nana akhirnya menceritakan untuk pertama kalinya, jika dia pernah bertemu dengan Farel saat dia merintis restoran tersebut. Namun pertemuan itu bukanlah sebuah kenangan manis.


Saat itu Farel tengah makan siang dengan teman-teman bisnis dari Australia. Dia masih sangat muda saat itu, terlalu tampan dan banyak menarik perhatian orang. Itulah sebabnya Farel sangat mahir dalam menjalin koneksi yang kuat.


Masalah terjadi ketika salah satu waiters menaruh piring dessert yang salah. Seharunya pelayan tidak itu menyajikan Batun Bedil ( dessert khas Bali ) ke salah satu temannya. Karena teman bulenya tidak memesan dessert manis seperti itu.


Sontak saja Farel begitu marah dan komplain. Dia bahkan menyuruh manager restoran untuk datang menghadapnya. Namun saat itulah Nana yang harus menghadapi konsumen secara langsung.


Itulah pertama mereka bertemu secara tidak sengaja. Farel terus mengomentari pelayanan restoran yang buruk dan pegawai yang tidak kompeten. Bahkan saat Nana menjelaskan jika pelayan tersebut baru bekerja, Farel tidak menerima alasan seperti itu.


"Bisnis adalah bisnis, jangan jadikan tempat ini seperti pelatihan dinas sosial," ucap Nana kembali mengingat pernyataan Farel di masa lalu.


"Apa aku pernah berkata seperti itu?"


Farel terkejut bukan main mendengar kisah Nana yang sangat menggemparkan. Bagaimana bisa dia tidak mengingat kejadian delapan tahun lalu. Bagaimana bisa dengan cepat melupakan wajah Nana.


"Saat itulah aku sangat terpukau dengan pria seperti mu. Seumur hidup tidak pernah ada orang yang mau mengkritik begitu keras, semua orang hanya takut karena aku anak konglomerat. Mereka hanya kumpulan manusia palsu," ujar Nana dengan wajah sendu.


Farel terdiam seribu bahasa, dia tidak bisa mengomentari apapun lagi. Dia bingung harus bersikap apa dan bagaimana dengan Nana. Wanita itu terlalu banyak memberinya kejutan.


Dia hanya membiarkan Nana berbicara panjang tanpa henti. Dia siap menjadi seorang suami pendengar yang baik. Karena selama ini dia sulit untuk mendengar ucapan Nana. Dia terlalu dominan dalam segala hal.


"Saat tahu aku akan dijodohkan dengan si pria restoran. Aku senang bukan main, tentu aku tidak bisa menolaknya," gumam Nana sambil tertawa kecil.


"Kenapa harus senang menikah dengan pria jahat sepertiku? Kamu pasti akan tahu jika pernikahan kita akan hancur dan aku bukanlah suami yang baik," sanggah Farel.


"Karena aku sudah menyukaimu dari dulu. Tidak.. tidak... aku bahkan sangat mencintai pria yang hanya aku temui satu kali."


"Jangan bohong kamu Na!! Ini bukan saatnya kamu mempermainkan perasaan suami sendiri. Kita hanyalah orang asing yang dipaksa menikah tanpa perasan apapun!!"

__ADS_1


"Kamu salah Rel, pernikahan kita hanyalah sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku tahu jika kamu akan sangat membenciku, aku sadar jika sampai kapanpun kita tidak bisa bersama.


Saat kamu meminta perceraian, tentu aku harus menyetujuinya, karena ini resiko yang sudah aku duga sejak awal."


Farel langsung beranjak dari kursi dan berdiri menghadap Nana. Dia memasang wajah marah, kacau dan tidak karuan. Semua perkataan Nana baginya hanya sebuah racun yang berbahaya.


"Tarik semua ucapan mu itu!! anggap saja kita tidak pernah membicarakan ini," sentak Farel sambil pergi meninggalkan Nana sendiri.


Nana mencoba menahan suaminya, dia ingin Farel membalikan badan. Maka dari itu, dia terus berteriak memanggil nama suaminya dengan lantang.


Farel mendengar ocehan Nana dengan begitu kesal. Dia segera membalikan badan dan kembali menghampiri bangku itu. Dia memandang istrinya dengan tatapan dalam.


"Aku sama sekali tidak menyesal menerima perjodohan ini. Jadi tolong tetap bersamaku sampai diary itu selesai, bahkan kamu harus terus memihak padaku jika sesuatu hal buruk terjadi."


"Maksud kamu?"tanya Farel keheranan.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, bersiaplah.."


Farel tidak paham dengan ucapannya kali ini. Nana terlalu banyak berbicara dan semua memusingkan. Dia kembali meninggalkan Nana sendirian lagi.


Farel berjalan memutar dengan cepat, tidak karuan. Dia sangat marah dan tidak bisa menerima semua itu. Kedua matanya merah dan berair, ada sesuatu yang terasa sangat berat di dalam dadanya.


...Nana mencintaiku? tidak mungkin. Aku tidak bisa mempercayainya....


Dia sudah tidak fokus untuk berjalan pulang ke rumah. Dia sudah tidak bisa menahan segala sesak di dalam dada. Dia ingin memuntahkan semua isi hatinya.


Farel membelokan arah dan berjalan menuju sebuah pohon besar. Di sana dia bersembunyi dibalik tubuh pohon. Dia masih berdiri dengan mengepalkan kedua telapak tangan begitu erat.


"ARGGGGHHHHHHHH....." Farel berteriak sekencang mungkin.


Untuk meluapkan perasaan yang sudah tercampur aduk, pria itu malah mengepalkan sebuah pukulan ke pohon tersebut. Berulang kali dia terus mengeluarkan banyak tenaga untuk menghajar pohon besar itu.


Sampai telapak tangan berlumuran darah, kulitnya terkelupas dan itu menyakitkan. Farel sama sekali tidak peduli, dia sudah tersulut api kemarahan dan penyesalan besar.


Akhirnya dia menyerah, tubuhnya terkapar lemas di dekat pohon. Sudut kedua matanya kini mengeluarkan buliran air mata. Dia menangis dengan tersedu-sedu.


...Maafkan aku Nana.......

__ADS_1


...Aku tidak seberani dirimu...


__ADS_2