
...Sebenarnya, Agus lah yang terperdaya oleh cinta pertamanya....
...***********...
Dua hari setelah pemakaman mendiang Ibu Surti, Agus malah tertimpa musibah lain. Dia baru saja selesai disidang oleh komite pendisiplinan internal polisi. Dimana dia resmi mendapatkan sanksi dan menjalani skors selama 1 tahun lamanya.
Akibat penyerangan pada warga sipil, atas kejadian penembakan senjata api pada mobil Farel. Tak hanya itu dia terbukti melakukan kekerasan pada Farel berdasarkan hasil visum. Agus dianggap lalai dan tidak bermartabat dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota kepolisian.
Setelah keluar dari gedung polisi, kini lencana dan senjata api sudah dikembalikan. Dia berjalan keluar dengan wajah lesu dan tidak ada semangat hidup. Alex memperhatikan bawahannya itu dari jauh, namun dia belum berani menyapa Agus.
Setelah urusan selesai, Agus masuk ke dalam rumah yang sudah tidak ada siapa-siapa. Omelan ibunya yang super bawel tak bisa terdengar lagi, masakan ibunya yang lezat hanya tinggal bayangan.
Agus masuk kedalam kamar dan memilih untuk tidur seharian tanpa tujuan apapun. Dia mengunci diri dan mengisolasi dari urusan dunia luar. Kini tidak ada lagi tujuan hidup, semua hilang begitu saja.
Sekitar pukul 07.00 malam, Farel memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Agus. Dia mempunyai niat baik untuk melihat keadaan tetangganya itu, apa Agus dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah pintu itu terbuka, dia kaget melihat kondisi Agus yang berantakan seperti mayat hidup. Mendapati Farel sedang berdiri di hadapannya, Agus langsung menutup pintu kembali dengan keras. Dia tidak ingin berjumpa dengan pria brengsek seperti Farel.
Farel tidak menyerah, dia terus mengetuk pintu rumah tetangganya sampai ratusan kali. Sampai pada akhirnya, Agus membuka pintu kembali dan mengambil rantang makanan yang sengaja Farel siapkan.
Dia dengan balutan emosi tak terkontrol, langsung melempar susunan rantang itu ke tanah. Semua isi makanan dan potongan buah-buahan berserakan di atas tanah. Farel tidak bisa berbuat banyak, dia memilih diam.
"Kenapa kalian tidak pindah rumah saja!! aku orang miskin, hartaku cuman rumah ini satu-satunya!!" bentak Agus marah.
"Kita perlu bicara, semua kesalahpahaman ini harus segera diluruskan," bujuk Farel dengan sabar.
__ADS_1
"Kesalahpahaman? kalian jangan senang dulu, aku akan terus memburu Nana sampai kiamat sekalipun! Aku pasti bisa menemukan bukti kuat agar bisa menjebloskan istrimu ke dalam penjara."
Agus sudah tidak ingin banyak berdebat lagi, dia langsung menutup pintu. Namun itu segera dicegah oleh Farel, dia menahan gagang pintu bagian luar sekuat mungkin. Farel benar-benar ingin bicara dengan polisi itu.
"Kamu yang seharusnya sadar Gus, berhati-hatilah dengan cinta pertama-mu,Tania."
"Apa? kamu bilang Tania. Oh gini yah cara Nana menghasut-mu agar menyeret orang yang tidak ada hubungannya sama sekali."
"Aku serius, Tania adalah teman lama Nana sewaktu kecil. Kamu pikir Tania adalah wanita polos?"
"Berhenti mengadu domba orang lain. Sekali pembunuh tetap pembunuh, dan itu adalah istri kamu sendiri!!" teriak Agus kesal, dia lalu menutup pintu rumah sangat rapat.
Setidaknya Farel sudah mengatakan inti dari pertemuan ini. Karena dia yakin jika Tania patut dicurigai, apalagi setelah Nana menceritakan semua masa lalunya pada Farel secara jujur.
***********
Dia tidak akan pernah memaafkan Farel maupun Nana. Jangan pernah pikir untuk bisa melepaskan, walau mendapatkan skors selama 1 tahun, tidak akan membuatnya berhenti sedikit pun.
Dia duduk di atas sofa dengan perasaan jengkel, apalagi Farel berani menyinggung Tania. Tapi tetap saja dia terus kepikiran dengan pernyataan Farel, jika Tania adalah teman masa lalu Nana saat kecil.
Dia mulai mengingat masa remaja dengan Tania saat di sekolah. Tania adalah wanita pintar dan populer, walau berasal dari panti asuhan tidak membuatnya minder ataupun terbelakang.
Jika memang Tania bagian dari masa lalu Nana, kenapa wanita itu tidak memberitahunya. Kenapa kedua wanita itu seolah tidak mengenal satu sama lain. Pikirannya tambah kacau dan berantakan, semua tidak berguna.
Tiba-tiba Alex menelepon, awalnya dia sangat malas menjawab mantan bosnya itu. Namun apapun yang terjadi dia masih membutuhkan bantuan dari Alex dan yang lain.
__ADS_1
Mereka mulai berbicara, saling menanyakan kabar, memberikan motifasi dan bertukar banyak pikiran. Sampai pada topik sensitif, Alex mulai membicarakan masalah Nana.
Dia sudah berhasil mendapatkan alibi Nana secara akurat saat kejadian pembunuhan ibunya. Menurut rekaman CCTV, dia naik taksi sekitar pukul 02.10 di depan minimarket. Lalu taxi dengan nomor plat yang sama, terekam masuk ke gedung Rumah sakit sekitar pukul 03.50 WIB.
Namun dilihat dari jarak rumah sampai rumah sakit terbilang tidak terlalu jauh. Jika kondisi lalu lintas stabil hanya membutuhkan waktu 30 menit saja. Alex memberikan pernyataan lain, jika saat itu kondisi jalan sedang macet karena terjadi kecelakaan truk besar.
Alex dan tim sudah menemui perusahaan taxi dan supir yang mengantar Nana saat itu. Menurut kesaksiannya, Nana memang menaiki taxi tersebut sampai rumah sakit. Bahkan itu bisa dibuktikan dengan tracking line dan harga argo taxi yang sesuai jarak.
"Aku tidak percaya itu semua. Aku yakin wanita itu memanfaatkan kondisi macet sebagai alibinya. Dia mempunyai waktu sekitar satu jam lebih untuk melakukan kejahatan," sanggah Agus murka.
"Bahkan sinyal HP Nana terlacak aktif disekitar jalan raya tersebut," debat Alex.
"Apa bos tidak sadar? dari titik macet sampai rumah kontrakan paman Jono, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja dengan berjalan kaki. Itu adalah rencana yang sangat kuat dan matang, dia berusaha mengecoh kita semua!!!"
"Kita punya saksi yang kuat, supir taxi itu menyatakan jika Nana tidak pernah keluar dari Taxi selama perjalanan."
"Dia bisa saja menyogok super taxi itu dengan mudah."
"Gus, sudahlah...."
"Apa bos menyuruhku untuk menyerah? jangan harap aku berhenti sedikit pun."
"Bukan begitu Agus, kita bisa merombak semua ini dari awal. Coba kamu pikir secara baik-baik, apa kau yakin hanya Nana saja yang tahu dimana alamat rumah paman kamu?
Diluar sana, paman Jono banyak sekali musuh. Daripada terus mengejar satu orang yang tidak pasti, lebih baik kita memperluas pencarian tersangka lainnya," jelas Alex hati-hati.
__ADS_1
Agus tidak tahan, dia langsung menutup pembicaraan mereka di telepon. Tiba-tiba dia mulai teringat Tania, karena malam sebelum pembunuhan terjadi, dia sempat memberikan alamat rumah kontrakan paman Jono.
Tapi dengan cepat Agus menyingkirkan praduga pada wanita yang sangat dia cintai. Mana mungkin wanita sebaik Tania bisa melakukan hal jahat seperti itu. Itu mustahil dan tidak akan pernah terjadi.