31 Hari

31 Hari
Menangkap Tikus Got


__ADS_3

Tim kejahatan serius sedang berdiam dengan wajah frustasi dan penuh kelelahan. Semua proses investigasi tidak berjalan lancar, banyak sekali potongan potongan misteri yang belum terpecahkan.


Mulai dari pencarian saksi mata, mencari kesamaan latar belakang dari kesembilan korban, mengumpulkan banyak sekali rekaman CCTV dan menanggapi respon membludak dari warga sipil.


Semenjak kasus pembunuhan berantai ini muncul ke publik, di sanalah karir mereka sebagai polisi di pertanyakan. Banyak sekali pihak yang selalu menyalahkan kinerja kepolisan, tanpa mereka tahu bahwa seluruh tenaga dan pikiran habis terkuras oleh kasus sulit ini.


Agus terus berdiri dengan cemas, dia sejujurnya mengkhawatirkan Alex. Sudah dua jam dia rapat darurat dengan para petinggi, dia takut jika tim ini akan dilepaskan tugas kali ini.


Pintu ruangan terbuka, Alex berjalan masuk dengan wajah yang sangat berantakan. Dia lalu membanting semua meja dan kursi, mengacak acak dokumen hingga berhamburan.


Alex sedang meluapkan segala amarah dan kekesalannya. Dia memang si anjing gila dengan tempramental yang sangat buruk. Sedangkan semua anggota hanya diam dan memaklumi tingkah atasannya itu.


"Ayo kumpul kembali, kita harus berdiskusi lebih lanjut," ajak Alex.


Semua mulai mengikuti Alex dan masuk ke sebuah ruangan khusus. Mereka duduk melingkar dan bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.


Alex berdiri di depan tim dan segera memimpin diskusi ini secepat mungkin. Dia lalu menyalakan sebuah power point dan mempresentasikan kembali semua hasil investigasi sementara.


Slide Pertama menunjukan gambar 9 korban secara berurutan, mereka dijejerkan berdasarkan waktu kematian masing masing. Ada 8 korban pria dan 1 perempuan. Semua pekerjaan mereka tergolong rendah dan di pandang sebelah mata.


"Agus kamu bisa jelaskan apakah 9 korban ini memang berkaitan satu sama lain? apakah mereka pernah bertemu atau mempunyai sebuah ikatan yang tersembunyi?" tanya Alex dengan lugas.


"Kesembilan korban tidak mempunyai kaitan, tidak pernah saling mengenal, tidak ada catatan kriminal yang berkaitan, tidak mempunyai dendam yang sama. Hanya satu kesamaan mereka yaitu jenis pekerjaan," jawab Agus.


Alex mengangguk paham, dia lalu melanjutkan slide kedua. Dimana dalam layar power point itu menunjukan berbagai macam alat pembunuhan.


"Karina, bisakah kamu menemukan benda tumpul mana yang sangat mendekati dengan senjata pembunuhan dari semua kasus?"


"Berdasarkan temuan tim forensik bisa disimpulkan jika pelaku menggunakan palu Godam berat 6Kg, merek King Kong dan jenis palu itu di produksi tahun 2013 silam.


Sulit untuk melacak pembelian palu tersebut di toko perkakas, karena itu palu dengan skala produksi besar dan luas."


Alex kembali mengangguk, dia lanjut untuk membuka slide ketiga. Di sana ditampilkan jejak sepatu boots yang tertinggal di beberapa TKP korban.

__ADS_1


"Radit, jelaskan saja apa yang kamu ketahui tentang sepatu ini?"


"Itu sepatu boots dengan ukuran 42, dilihat dari jenis gerigi pinggir yang khas disimpulkan keluaran merek Goodbooots tipe 576C keluaran tahun 2014.


Sebuah boots murah yang umum biasa digunakan oleh semua orang. Jadi akan mustahil melacak kepemilikan sepatu itu di Indonesia," jelas Radit.


"Bima apa anda sudah mengecek semua daftar penggilan telepon dari semua korban? apakah ada nomor yang terlihat sama dan mencurigakan?" tanya Alex.


"Tidak ada, semua panggilan terkahir para korban sangat umum dan normal. Bahkan panggilan P S K kemarin pun itu hanya nomor sekali pakai, sulit untuk dilacak," jawab Bima.


Alex merenung sebentar, dia mulai mencari cari sesuatu hal lain yang mungkin terlewatkan.


"Oh iya, bagaimana dengan semua toko bunga yang kemarin kau datangi Gus?"


"Sepuluh toko bunga yang saya datangi dekat area hotel semua mengatakan jika buket bunga itu bukan bikinan mereka.


Hanya menurut teman lamaku yang kebetulan mempunyai hobi merangkai bunga, bisa jadi buket bunga itu memang sengaja di buat sendiri oleh pelaku. Karena dari desain dan tata letak terlihat sangat unik dan tidak biasa," balas Agus dengan yakin.


Sontak saja semua segera bergegas dan keluar dari ruangan itu. Mereka dengan buru buru memakai baju anti peluru dan mempersiapkan senjata masing-masing. Ini saatnya pemburuan tersangka yang mungkin adalah pelaku sesungguhnya.


******


Pria kasar yang tengah menjadi buronan polisi bernama Muhaimin atau sering dipanggil Imin (35). Dia dikenal sebagai supir truk yang setiap bulan tercatat sering memanggil wanita malam.


Menurut pengakuan teman teman seprofesinya, Imin menjadi tergila gila dengan satu P S K yaitu Siska. Dia begitu terobsesi mengejar wanita itu kemanapun dia pergi.


Namun dengan latar belakang seperti itu, Imin masih belum cocok menjadi tersangka pembunuhan berantai. Motifnya terlalu sempit jika mengaitkan dengan kematian kedelapan korban lainnya.


Hanya saja Alex tidak mau kehilangan apapun lagi, walau profiling Imin lemah dia harus tetap mengejar pria itu. Karena dialah yang terlihat berpotensial menyakiti korban terakhir.


Tim Kejahatan serius sudah berada di tempat, mereka menggunakan mode penyamaran dan pengintaian. Selang 10 menit mengintai, akhirnya tim dapat menemukan tersangka sedang duduk dekat musola.


Menurut keterangan kemananan terminal bus, dia dijadwalkan akan berangkat pukul 02.00 siang ke Bandung. Dimana di ketahui jika rumah orang tua Imin ada disana.

__ADS_1


Bisa di asumsikan bahwa Imin akan melarikan diri ke rumah orang tuanya. Ini menguat dugaan yang besar jika pria ini sedang menghindari kejaran polisi.


Alex memberikan aba-aba pada tim lain untuk menjaga setiap pintu dan jalan yang kosong. Sementara itu dia dan Agus akan mencoba mendekati Imin dengan perlahan.


Setelah kedua polisi itu berjalan mengepung tempat duduk Imin, sontak saja Imin terkejut dan langsung lari kencang sekali. Pria jangkung itu dengan gesit dapat kabur dari pengawasan polisi.


Mengetahui target kabur dari cengkraman polisi, berbondong bondong lah semua tim mulai berlarian mengejar Imin. Pria itu dengan pintar dapat menghindari kejaran polisi.


Dia terus berlarian ke arah lantai atas, dia berlari dan bersembunyi dari bus ke bus yang lain. Semua mulai kehilangan sosok Imin, dia tidak terlihat dimana mana.


Namun Agus tidak menyerah begitu saja, dia terus berlarian naik ke lantai paling atas. Ternyata usahanya tidak sia sia, dia melihat baju kuning Imin tengah masuk ke pintu toilet wanita.


Dengan sigap Agus masuk ke toilet wanita, dimana para pengunjung toilet wanita mulai berlarian keluar dan berteriak. Mereka mengira Agus adalah seorang mesum, tidak ada yang menyadari jika dia seorang polisi.


Kamar mandi itu terdapat 4 bilik WC, dimana target pasti bersembunyi di salah satunya. Dia kemudian membuka satu persatu pintu WC dan mendapati jika Imin tengah merunduk takut melihat wajah garang Agus.


"Kena kau!" ucap Agus dengan senyum puas


.


"Ampun pak... bukan saya yang bunuh wanita itu!!"


"Diam saja! Sekarang ikut saya ke kantor polisi."


Tangan Agus mulai menyeret paksa tubuh Imin dengan susah payah. Namun bukanya menyerah atau pasrah, Imin malah mendorong tubuh Agus ke ujung wastafel. Sontak saja Agus kembali lepas kendali, Imin bisa pergi berlarian dengan bebas.


Saat akan membuka pintu kamar mandi dan melewatinya, tiba tiba Alex mencegatnya dari depan. Dia dengan amarah yang sudah tak terkendali mulai mengangkat tubuh Imin dan menghempaskan pria itu dalam sekejap ke atas tanah.


Bruuukkk!!!


Imin kali ini tidak berkutik, kekuatan dari tubuh besar anjing gila membuat badanya remuk padam. Dia merintih kesakitan dan merengek seperti anak kecil.


"Mampus kau tikus got!" celoteh Alex.

__ADS_1


__ADS_2