
...Empat Wanita yang sangat merepotkan!...
...***********...
Ibu Surti memang paling dekat dengan Nana, selain rumahnya berdempetan mereka terkenal paling klop di seantero komplek. Begitu dengan hari ini, Nana sengaja membawa Ibu Surti belanja ke Mall besar di Jakarta.
Kali ini mereka berdua sedang berada di Chanel Store Boutique di Plaza Indonesia. Nana dengan sangat murah hati sengaja membelikan Ibu Surti sebuah tas mahal.
Nana memang hidup sederhana untuk dirinya sendiri, hanya saja dia sangat loyal untuk siapapun yang dekat dengan dirinya. Membelikan tas Chanel itu sangat mudah, dia hanya ingin membuat Ibu Surti senang.
Sekitar satu jam berada disana, Ibu Surti yang sudah tua renta dan kampungan hanya memilih tas yang menurut dia paling murah. Dia kaget bukan kepayang ketika harus mengetahui harga selangit itu.
Setelah membungkus tas barunya dengan paper bag, dia menyuruh Nana untuk menunggunya sebentar. Dia ingin ke toilet khusus pelanggan store Chanel itu.
Dia dengan terburu buru langsung masuk sendirinya ke dalam toilet. Sedangkan Nana memilih untuk duduk di luar dengan tenang. Selang lima menit di bilik toilet, Ibu Surti keluar sambil mencuci tangan di wastafel. Di sana dia menaruh paper bag dipinggir wastafel.
Dari arah pintu toilet masuklah dua orang wanita sedang sibuk ngobrol cekikikan. Mereka ternyata Maria dan Dominic, sekarang dua wanita itu sudah menjadi bestie dadakan.
Maria lalu memberikan paper bag miliknya ke Dominic. Dia sengaja menitipkan tas itu karena ingin mencuci tangan di wastafel sana. Sesampainya di wastafel dia melihat Ibu Surti ada di sampingnya. Dia langsung merasa jijik tak kala melihat ada ibu tua dengan pakaian lusuh.
Saat dia pikir jika wanita ini adalah pembantu, dari salah satu majikan yang menjadi pelanggan di store chanel ini. Kali ini dia cukup mengabaikan Ibu Surti, sampai dia merasa marah dan jengkel saat melihat ibu Surti pergi menenteng paper bag di samping mereka.
"Hei, kamu berhenti!" teriak Maria.
Ibu Surti menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke sumber suara cempreng itu.
"Ya, ada apa?"
Mendengar balasan dari Ibu Surti yang begitu santai membuat kemarahan Maria semakin naik. Dia lalu berjalan menghampiri wanita tua itu dan langsung menampar pipi Ibu Surti dengan keras.
Plaaakkk!!!
"Dasar pencuri, manusia kotor sepertimu memang menjijikan!"
Ibu Surti begitu shock dengan perilaku kasar Maria. Dia bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa dituduh sebagai pencuri. Wanita tua itu masih memegang pipinya yang sakit, dia belum berani menatap Maria balik.
Mendengar kegaduhan dekat wastafel, Dominic langsung mendekati mereka. Dia mulai kepo dengan pemandangan dramatis ini.
"Kenapa Maria?"
"Kamu lihat kan? wanita tua bangka ini berani beraninya curi paper bag punyaku!" sentak Maria gusar.
"Maaf, anda salah, ibu sama sekali tidak mencuri tas itu. Benda ini memang milik ibu," balas Ibu Surti berani.
"APAAAAA!!! Sudah nyolong pinter banget bohongnya."
__ADS_1
Maria kemudian merebut paksa paper bag dari tangan Ibu Surti. Dia membuka dus besar dan mengambil sebuah tas warna cokelat di dalamnya. Namun betapa terkejutnya Maria tak kala tas itu ternyata bukan miliknya.
Dia diam diam mulai melirik Dominic, ternyata paper bag miliknya ada di tangan temannya itu.
Namun demi menahan sebuah gengsi dan ego, Maria memberikan kode pada Dominic untuk menyembunyikan paper bag itu.
"Kamu lihat kan tas ini? harganya masih kalah jauh sama kedua ginjal mu itu!!! Orang miskin kaya kamu gak mungkin bisa beli ini, Haloooo..."
"Nona, ibu memang orang miskin. Tapi ibu bukan pencuri, tas itu memang milik ibu, percayalah," ucap Ibu Surti dengan sedih.
Maria malah semakin kesal dibuatnya. Dia tertawa sinis, wajahnya terlalu jelas memancarkan sebuah kebencian. Dia dengan nekat dan penuh arogansi malah memukul Ibu Surti dengan tas itu.
Tentu Ibu Surti kesakitan, tubuhnya yang sudah tua tak kuat menahan semua beban dari benda itu. Dia hanya bisa menjerit kesakitan dan terus memohon tanpa henti.
Sedangkan Maria dan Dominic hanya bisa tertawa terbahak bahak. Mereka memang bestie level dajal. Tanpa diduga Nana datang dan langsung menendang perut Maria dengan kaki kanannya.
Bruuukkkk!!!
Sontak saja wanita itu tersungkur jatuh ke lantai. Maria kesakitan dan dia berteriak sekencang mungkin. Langsung Saja Nana menyelamatkan Ibu Surti, dia membantu ibu tua itu untuk berdiri tegak.
Tiba tiba Dominic dari arah belakang berjalan menghampiri mereka berdua. Dia berniat untuk menyerang Nana sekaligus. Tak sempat menyentuh Nana sekalipun, dia langsung mendapatkan tamparan dan dorongan oleh kaki Nana.
Bruuukk!!!!
Dominic ikut terjatuh dengan begitu keras, dia tersungkur seperti Malin Kundang. Kedua bestie dajal itu tidak bisa berkutik sama sekali, mereka dengan cepat mendapat pukulan yang setimpal.
"HEIIIIII.... BANGSAT!! JANGAN PERGI KALIAAAAANNNN!!!!" Teriak Maria dari jauh.
*************
Farel menikmati secangkir kopi hangat dengan tenang. Dia sedang berbicara dengan Andrea secara tatap muka. Pertemuan ini sangat rahasia, siapapun tidak boleh tahu jika Farel sedang bekerja di balik layar.
Mereka duduk berdua dan saling berhadapan, di tengah meja berserakan banyak dokumen tentang Tania dan Nana di masa lalu.
Setelah pencarian cukup singkat, akhirnya Andrea bisa mendapatkan catatan sipil milik Tania. Dari catatan hidupnya, dia pernah tinggal di panti asuhan sejak usianya 15 tahun. Tidak ada catatan informasi orang tua kandung ataupun alamat rumah sebelumnya.
Setelah usia 19 tahun dia di adopsi oleh keluarga kaya raya dan tinggal di Amerika sampai lulus kuliah. Setelah itu dia kembali ke Indonesia dan merintis karir sebagai pengacara swasta dari firma hukum bergengsi.
Namun pada tahun 2020 dia tercatat mendirikan sendiri firma hukum di Bekasi. Tak hanya itu, dia mendirikan sebuah yayasan sosial yang bergerak di pemberdayaan masyarakat tertinggal.
Melihat dari keseluruhan profil Tania terlihat tidak mencurigakan sama sekali. Dia justru tergambarkan sebagai wanita mandiri dan penuh kesuksesan.
Farel tidak bisa percaya begitu saja, dia yakin jika Tania bukanlah Tania yang polos. Dia pun tidak bisa mempercayai data dari panti asuhan tersebut. Bagaimana dia bisa masuk panti asuhan saat usianya 15 tahun tanpa informasi apapun.
Lalu sebelum usia 15 tahun apa yang sebenarnya wanita itu lakukan? Dimanakah ia sebenarnya tinggal? Farel harus mencari lebih jauh. Jika memang dia adalah Tania si anak kepala pelayan, maka itu bukanlah hal biasa, ada sesuatu yang besar dan itu masih tersembunyi.
__ADS_1
"Apa yang kamu dapatkan tentang istriku?" tanya Farel.
Andrea langsung menyerahkan dua buah dokumen penting. Kesatu adalah laporan hasil investigasi untuk kematian 12 mayat. Kedua adalah laporan catatan medis Nana saat di Amerika.
Andrea dengan rinci menjelaskan jika kedua belas mayat itu ditemukan pertama oleh Ivan, ayah Nana. Namun setelah itu tidak ada tindakan lanjut dari kepolisian dan mayat mereka langsung di kuburkan saat itu juga.
Hanya saja Andrea menemukan kejanggalan aneh, setelah kematian masal di rumah itu Nana langsung diterbangkan ke Amerika. Sedangkan ibunya yang sakit di pindahkan ke sebuah perawatan pribadi di Singapura.
Sejak kejadian itulah Nana dan Ibunya tak pernah bertemu kembali. Sampai diusianya menginjak 17 tahun, Nana bahkan tak bisa menghadiri pemakaman ibunya.
"Kenapa Nana harus pergi sendirian ke Amerika? Dia masih kecil, usianya saja baru 12 tahun."
"Maaf tuan, tapi saya harus menyampaikan ini. Sebenarnya alasan Ayah Nana mengirimnya saat itu Ke Amerika untuk sebuah pengobatan di RS Jiwa."
"APAAA????" teriak Farel.
Andrea terus menjelaskan semua temuan rahasianya secara rinci. Berdasarkan rekam medis yang telah ia dapatkan, Nana sering mengalami sebuah gangguan kecemasan akut dan perilaku agresif yang tidak terkontrol.
Dia mendapatkan perawatan selama tiga tahun dan tetap melanjutkan sekolah formal sampai kuliah di Amerika. Setalah dewasa, dia diizinkan oleh ayahnya untuk menetap kembali di Indonesia.
Semua apa yang telah didengarnya serasa sebuah kebohongan. Selama ini pihak keluarga Handono tidak pernah menceritakan masalah ini kepada keluarganya. Farel saat itu hanya mengenal Nana si gadis anak konglomerat saja.
Dia tidak pernah berpikir sejauh ini. Siapa Nana dan bagaimana dia dahulu menjalani hidup, Farel sama sekali tidak peduli.
Tangan Farel kembali membuka lembar demi lembar laporan medis Nana. Sampai pada tahap laporan observasi pasien. Di lembar selanjutnya diperlihatkan beberapa tulisan tangan Nana yang masih belum rapih.
"Apa ini?"
Andrea sejenak menilik laporan tulisan tangan Nana saat kecil. Dia sempat membaca beberapa paragraf.
"Oh.. ini diary yang selalu Nana tulis saat di Rumah Sakit. Kata pihak di sana, dia tidak suka aktifitas apapun selain menulis diary."
Farel memperhatikan tulisan Nana dengan lebih teliti. Setelah dibaca kembali memang tulisan itu mirip dengan curahan hati seorang anak kecil 12 tahun. Laporan observasi ini harus ditindak lebih lanjut, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang isi pikiran seorang Nana saat itu.
"Apa kamu tahu pembunuhan berantai yang akhir akhir ini menghebohkan media masa?"
"Saya tentu tahu itu tuan," balas Andrea.
"Aku ingin secepatnya mendapatkan laporan proses investigasi itu di Bareskrim. Gunakan semua koneksi kita untuk mendapatkan laporan itu."
"Baik tuan."
"Terakhir, kamu terus awasi gerak gerik Tania. Laporkan semua aktifitas dia sehari hari, perhatikan apakah dia bertemu dengan istriku atau tidak."
"Baik tuan."
__ADS_1
Ditengah percakapan, suara HP farel berdering dengan nyaring. Dia lalu menjawab panggilan telepon itu dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.
"APA? Istriku sekarang sedang berada di kantor polisi????" ucap Farel kaget.