31 Hari

31 Hari
Si Kumis


__ADS_3

...Kisah si kumis yang tidak aku tahu....


...******...


Seperti kita tahu, jika pernikahan mereka hanyalah sebatas perjodohan. Tidak ada cinta dan ketulusan. Maka sudah bisa dimaklumi, jika mereka selama ini tidur terpisah.


Dengan dua ranjang yang berbeda, jarak yang berjauhan dan ruang kamar yang tak pernah menyatu. Begitulah mereka selama ini menjalani sebuah rumah tangga.


Kini di tengah larut malam, mereka sedang duduk dan menatap buku diary yang sudah ditukar. Nana dengan buku diary jamur dan Farel dengan nenek sihirnya.


Perasaan Farel cukup bergetar dan tidak karuan. Terasa canggung melihat buku diary Nana, sebentar lagi dia harus membaca isi tulisan tersebut.


Dengan tekad yang kuat, dia segera membuka lembar pertama yang sudah tertulis rapih oleh tinta hitam. Disana dia melihat ada sekitar 3 paragraf yang berderet rapih, itulah curhatan hati pertaman Nana.


Farel mulai membaca kalimat awal dan matanya terus bergeser dari kiri ke kanan.


Minggu, 1 April 2022


Dear Diary..


...Aku bertemu dengan si kumis. Dia kotor, bau, bercorak putih cokelat dan sangat kurus. Perasaanku saat pertama kali bertemu dengannya cukup membuat perasaan senang....


...Aku sedikit tahu tentang prilakunya yang buruk. Selalu menyerang sesuatu yang lebih lemah dan kecil. Bahkan dia tak segan selalu mencuri yang bukan menjadi miliknya....


...Tapi tetap saja, dia sangat menggemaskan. Aku harus segera membawanya pulang ke rumah. Aku harus merawatnya dengan baik, namun sayang si kumis sedikit menyeramkan, aku harus sedikit menjinakkannya....


Mata Farel masih melotot membaca itu semua. Hati dan pikirannya tertegun cukup lama, dia masih belum bisa mencerna sama sekali tulisan Nana.


Dia sama sekali tidak tahu apa maksud dari setiap kata yang mengandung banyak tanda tanya. Dia bukan anak sastra ataupun seorang ahli tata bahasa.


Siapa si kumis?


Apa dia pria atau perempuan?


Kapan dan kenapa Nana bisa mengenal si kumis?


Tiba tiba saja seluruh isi otaknya penuh oleh banyak pertanyaan. Baru kali ini, dia bisa berpaling hanya karena sebuah tulisan sang istri.


Namun hatinya kemudian menolak. Ada rasa gengsi dan tak bisa menerima begitu saja. Dia kemudian buru buru menutup diary itu.


Farel berusaha untuk cuek dan tidak ingin tahu apa apa. Tugasnya hanya sekedar membaca, bukan masuk kedalam tulisan itu.


Ayolah, sadar Farel!


Dia segera bergegas keluar kamar, membawa buku diary itu di tangan kanannya. Farel berniat untuk segera mengembalikan diary Nana secepat mungkin. Dia tidak tahan!


Namun di ruang tengah, ada Nana yang sedang berdiri. Dia sedikit memasang wajah kesal dan tidak suka. Farel tentu terkejut, ini sedikit tidak biasa.


"Ini apa sih Rel?" tanya Nana sambil membuka lembar pertama buku diary jamur itu.


"Ya, nulis dong," jawab Farel santai.

__ADS_1


"Lihat baik baik, disini jelas kamu hanya nulis satu kalimat saja," ujar Nana dengan mata melotot.


"So? Is gonna be wrong?" tanya Farel dengan acuh.


"Ini bukan hanya salah lagi, tapi benar benar hancur," ujar Nana sambil memberikan buku diary jamur ke arah Farel.


"Apa yang salah sih Na, perasaan ejaan bahasa Indonesia benar benar saja."


"Aku sedang duduk dan menulis di sebuah diary. Ini kamu sebut sebuah tulisan diary," komentar Nana dengan gusar, tumben.


"It's the same, just a secentence like you did!" debat Farel tidak mau kalah.


Nana memilih untuk segera mengakhiri pertikaian konyol ini. Dia tidak ingin terlalu lama terhanyut dalam kemarahan sang suami. Tangan Nana seraya merebut diary nenek sihir dengan sedikit kasar.


Dia menatap wajah Farel dengan serius. Tidak ada sentuhan wajah riang dan lucu dari Nana seperti biasa.


"Besok, kamu harus banyak belajar lagi, perbaiki tulisanmu, pake hati lah Rel," ujar Nana sambil melangkah maju meninggalkan Farel seorang diri.


****


Dalam perjalanan pulang kantor, Farel mengemudi dalam pikiran kurang fokus. Dia terus memikirkan sosok si kumis dalam tutur cerita Nana.


Sekeras apapun dia mengabaikan maksud dari tulisan itu, semakin dia tambah penasaran. Dalam benaknya mulai bermunculan berbagai spekulasi. Namun kecurigaan terbesar Farel adalah sosok pria idaman lain. Bisa jadi ada pria yang disembunyikan Nana diam diam.


Tapi siapa pria itu?


Si kumis dengan dengan corak cokelat putih, berbadan kurus dan bau.


Oh tidak, tidak... tapi ini kan Nana, selera dia dari dulu memang aneh. Jadi itu bisa jadi terjadi.


Namun kenapa harus si kumis yang sangat ia dambakan? Bahkan dia ingin menjinakkan pria itu?


Apa dia seorang preman pasar atau bisa jadi anggota geng motor liar?


Arghhhh... pikiran Farel sangat kacau dan buntu, dia tidak bisa menemukan jawaban sedikit saja.


Sampai dia tidak sadar, jika mobil yang sedang ia laju sudah mendekati gang perumahannya. Farel harus bersikap lebih tenang, jangan sampai Nana tahu jika pikirannya sedang frustasi hanya karena sebuah diary.


Namun tak dari arah rumahnya, dia sedang melihat ada kerumunan di depan rumah bu Surti. Para tetangga sepertinya sedang berkumpul, mereka duduk santai di sebuah bangku kayu besar.


Farel menghentikan mobilnya, dia menurunkan kaca mobil. Kepalanya mendongakkan keluar dan melihat situasi dari dalam mobil.


Ternyata ada Nana disana, dia sedang tertawa dan berbincang asyik dengan mereka. Para tetangga yang sama sekali dia tidak senangi sedikit pun.


Mata Nana mulai menangkap sang suami masih di dalam mobil. Kemudian dia turun dari kursi kayu dan segera berlari kecil menghampiri Farel.


Dengan wajah merah dan merekah seperti bunga mawar, dia membujuk Farel untuk segera keluar mobil.


"Rel, untung kamu sudah pulang, ayo ikut kami makan bersama," ajak Nana dengan semangat.


"Malas, kamu aja lah. Aku mau istirahat," balas Farel sangat acuh.

__ADS_1


Mendengar penolakan kasar dari Farel, lantas tak membuat Nana putus asa. Dia kemudian membuka pintu mobil dan menarik tubuh Farel keluar secara paksa.


Kali ini tarikan Nana tidak main main, alhasil Farel tidak bisa melawan. Dia pasrah mengikuti kemauan sang istri.


Disana dia berdiri dihadapan cukup banyak orang. Farel sedikit canggung, karena selama ini dia tidak pernah berbaur dengan para tetangga.


"Ibu ibu, bapak bapak... beri sambutan untuk tamu terhormat kita, FAREEELLL..." teriak Nana dengan penuh kesenangan.


Sontak para tetangga yang hadir kini riuh bertepuk tangan. Mereka benar benar menyambut tamu istimewa dari negri sebrang. Sementara itu Farel hanya bisa berdiam dengan wajah yang malu. Nana benar benar menyebalkan.


Farel sekilas mengamati siapa saja yang sedang berkumpul di sore hari seperti ini. Ada ibu surti dengan anaknya seorang polisi, Agus. Pak Gunawan si tukang ojek pengkolan dengan remaja putri dan istrinya.


Ternyata ada Ibu Tini si ketua geng tukang gosip dengan suami dan anak laki laki yang sudah berkuliah. Terakhir, ada duda muda dengan satu anak perempuan berusia dua tahun.


Mereka benar benar berkumpul dan menyatu. Di hadapan mereka berjejer rapih hidangan maupun kudapan tradisional yang memanjakan lidah.


"Alamak, kita ketemu lagi," ucap Agus si polisi yang sudah tidak terlalu muda.


"Ayolah, gabung dengan kita kita. Ini adalah acara syukuran untuk menyambut kedatang pejabat polisi," kata pak Gunawan dengan semangat menggebu.


"Ahh, pak Gunawan bisa saja. Anak saya toh cuman polisi biasa saja," balas bu Surti sambil tertawa merendah.


"Nak Farel ayo duduk sini, kita makan bareng," ajak pak Adam, suami bu Tini.


"Jangan malu malu, tenang saja Farel. Walaupun kita semua ini pria, tapi jangan salah urusan makan makan kita terdepan!" ujar Dimas, duda keren dengan pekerjaan sebagai marketing.


Sementara itu, Farel tidak menanggapi semua tawaran ke empat pria dengan latar belakang yang berbeda beda. Dia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan ramai dan lingkungan terbuka seperti ini.


Disisi hal Nana merasa sangat senang jika Farel mau mencoba berbaur dengan mereka. Maka dari itu dia tak segan untuk terus mendorong suaminya agar ikut duduk dengan para tetangga.


"Ayo Rel, kita makan. Itu tuh coba lihat ada semur jengkol," bisik Nana kepada Farel.


"Bisa gak sih kalian gak usah repot repot kaya gini, maksa dari tadi," balas Farel dengan muka masam.


"Santai saja, mereka itu semuanya baik ko. Gak usah banyak khawatir," ujar Nana sambil mendorong paksa agar Farel bergerak.


Dia akhirnya bisa membuat Farel duduk di tengah para bapak bapak yang sedang melingkar. Disana mereka ikut antusias dengan kehadiran Farel si manusia paling papan atas.


Farel kini menatap keempat pria tersebut. Lambat laun kedua matanya mulai menilik fisik dan penampilan wajah mereka.


Hanya saja ada yang mengganjal hatinya. Tiba tiba saja bulu kuduknya mulai berdiri. Karena dia mendapati jika ke empat pria itu semuanya mempunyai kumis.


Ada kumis yang halus, lebat, panjang, lebar , hitam pekat dan semua terlihat cocok untuk wajah mereka. Kumis itu mulai melayangkan banyak praduga untuk Nana dalam sekejap.


Farel mulai melirik Nana secara langsung. Dia pun segera tersadar jika dia sangat ramah dan dekat kepada semua pria disini. Bahkan dia menghiraukan suaminya sendiri dibanding mereka yang tidak ada apa-apanya.


Hati Farel mulai geram. Dia tidak terima jika Nana memang mempunyai selingkuhan diantara keempat pria rendahan seperti mereka.


Tapi sebenarnya siapa si kumis itu?


Apa dia memang ada di antara mereka?

__ADS_1


__ADS_2