31 Hari

31 Hari
Seorang Wanita


__ADS_3

Imin duduk dengan sangat gelisah, penuh ketakutan dan semua wajahnya berkeringat. Dia kini sudah terperangkap di sebuah ruang interogasi yang minim akan pencahayaan.


Alex tahu jika pria ini tipe orang yang cepat panik dan tidak sabaran. Maka dia sengaja mengulur waktu agar bisa menguasai keadaan psikologisnya.


Menunggu sekitar 20 menit, barulah Agus dan Karina masuk ke dalam menemui tersangka.


Imin sangat terkejut ketika dia menyadari ada wanita cantik yang berprofesi sebagai polisi. Dia mulai tersenyum dan memasang wajah menggoda.


Langsung saja kepala Imin dipukul oleh sebuah buku besar. Agus tidak tahan melihat pria macam dia, selain mesum tentu dia sangat kurang ajar.


"Bedebah gila! kau sadar ini kantor polisi!" sentak Agus dengan sangat gusar.


Melihat Agus marah luar biasa, mendadak raut wajah Imin berubah drastis. Imin memang pria pengecut dan pecundang sejati. Dia bahkan tidak terlihat serius dengan operasi penangkapan ini.


"Langsung saja Imin, apa kamu m*mbunuh wanita bernama Siska Lestari?" tanya Karina dengan tajam.


"Tidak, kalian salah tangkap. Saya tidak m*mbunuh wanita itu!!" sanggah Imin dengan histeris.


"Tapi menurut catatan IP, HP anda terlacak di hotel tersebut sekitar pukul 07.00 malam. Tentu itu sangat crusial, mengingat jam kematian korban terjadi antara pukul 07.00- 08.00 malam."


"Saya memang mengikuti wanita itu sampai hotel! Tapi aku tidak m*mbunuhnya sama sekali!!!!"


Agus pun menggebrak meja dengan sangat keras, kemudian dia mencekik kerah baju Imin dengan kuat. Dia menatap pria menyebalkan itu dengan penuh kebencian. Dia sungguh tidak tahan mendengar rengekan suara Imin yang begitu kekanak- kanakan.


"Kamu tidak bisa mengelak bodoh, katakan saja bagaimana kamu bisa m*mbunuh wanita itu HAH!!!" sentak Agus.


Imin semakin ketakutan tak kala dia dipojokan seperti itu. Dia hanya bisa menundukkan kepala dan menangis sejadi jadinya. Karina menyuruh Agus untuk keluar ruang interogasi, baginya dia hanya mengacaukan segalanya.


Alex terus memantau jalan interogasi dari sisi kaca depan. Dia melihat jika Agus masih belum berpengalaman dalam memahami tersangka. Ini tidak bisa dibiarkan, maka dari itu dia menyuruh Agus keluar.


Sebagai gantinya dialah yang harus turun tangan, sekalian dia ingin menunjukan bagaimana cara menginterogasi tersangka tanpa sebuah perpecahan situasi.


Saat Alex masuk kedalam ruang interogasi, dia membawa tiga buah gelas kertas kopi hangat. Salah satu cup kopi itu ia berikan untuk Imin. Mendadak Imin menjadi tenang dan terkendali.


"Minumlah terlebih dahulu, kita bicara santai saja," ucap Alex sambil tersenyum.


"Apa kamu polisi? sungguh baik sekali, terimakasih!!!"


Imin segera meraih cup kopi itu dan meneguknya dalam sekejap. Dia merasakan kepuasan dan kenikmatan tak kala air kopi itu sudah habis. Dia kembali tersenyum dan merapatkan posisinya di bangku tersebut.


"Kamu tahu Imin, hanya kamu satu satunya orang yang aku berikan secangkir kopi di ruang interogasi ini.


Bahkan seorang anak konglomerat tak pernah aku izinkan untuk minum saat kami bicara," jelas Alex.


"Wah luar biasa!!!! Saya memang selalu hebat dari dulu," balas Imin sambil tertawa cengengesan.

__ADS_1


"Sekarang aku yakin jika pria baik seperti dirimu tidak akan bisa membunuh seorang wanita. Ahhhh.. siapa juga yang bakal percaya, betulkan Karina?"


"Ah.. betul.. betul.." jawab Karina sedikit canggung.


Mendengar dirinya telah mendapatkan banyak pujian dan kepercayaan lebih dari polisi. Membuat Imin menjadi lebih tenang, bahkan dia ingin sekali banyak berbicara pada polisi berbadan besar ini. Imin hanya bisa tersenyum dan tersipu malu.


"Jadi Imin, apa kamu bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat kamu membuntuti Siska di hotel saat itu?"


Imin mendorong kursinya lebih dekat, dia malah memajukan kepalanya agar semua kata-katanya dapat jelas terdengar oleh Alex.


"Saat wanita j*lang itu masuk ke kamar no.09, saya tidak sempat masuk karena pintu itu sudah di kunci. Jadi saya putuskan untuk menunggu dia keluar dari ujung dekat pintu lift.


Sekitar 20 menitan menunggu, pintu itu terbuka sendirinya. Namu anehnya saya tidak melihat Siska keluar, aku melihat orang lain."


"Orang lain? kamu tahu siapa dia?"


"Saya tidak tahu siapa dia, sekilas saya sempat melihat wajahnya namun itu tidak jelas. Orang itu berpakaian aneh, dia memakan jas hujan hitam dan kepalanya berkudung.


Dia berjalan dengan santai dan kepalanya terus menunduk kebawah. Saat itu bahkan saya mulai berpikir jika Siska seorang L*sbi."


"L*sbi? apa hubungannya?"


"Apa kalian masih tidak sadar, orang aneh itu adalah wanita!"


"Ahhhhhh... kalian tahu gak julukan saya apa? penakluk betina, semua jenis wanita pernah saya coba dong.


Walau dia menutup dirinya dengan jubah hitam sekalipun, saya tahu dia perempuan. Dari cara berjalan, pinggulnya bergoyang dan gerakan kedua pundak. Saya tahu semua itu...!!!" ucap Imin dengan bangga.


"Apa kamu ingat hal lain yang mungkin dimiliki oleh wanita berjas hitam itu?"


"Mmmmmm.. oh iya iya, saya baru ingat. Setelah orang itu pergi dia masih meninggalkan bau parfum mint yang sangat menyengat. Bahkan aku masih bisa menciumnya di sekitar pintu."


"Bau mint? Lalu setalah itu, apa anda langsung masuk ke dalam kamar?"


"Saya sempat masuk karena dari bawah pintu itu terganjal sebuah buku. Pas masuk, saya tidak melihat Siska di sekitar kasur.


Eh eh.. taunya pas di kamar mandi, saya lihat Siska sudah m*ti berlumuran d*rah. Kaget dong saya, ya udah dari sana saya kabur.


Jadi jelaskan ya pak kalau saya sama sekali tidak m*mbunuh p3lacur itu. Idih amit amit jabang bayi deh, pamali gusti!!" celoteh Imin tanpa henti.


Karina dan Alex sontak terkejut mendengar kesaksian Imin. Mereka percaya tidak percaya dengan semua penjelasan Imin. Namun ada satu hal lain yang belum Alex konfirmasi dan itu sangat penting.


"Kalau Imin merasa gak membunuh, kenapa kamu kabur saat tahu di kejar polisi?"


"Yah.. saya kira kalian mau nangkap saya karena kasus pencurian. Jujur aja sih, sebelum kabur saya sempat geledah tas dan ambil semua uang dari dalam dompet dia.

__ADS_1


Duh, males juga harus masuk penjara lagi. Sial, semua ini gara gara wanita kotor itu!! Dia memang pantas mati," ucap Imin dengan enteng.


Sementara itu Alex mulai berdiri dan segera mengakhiri sesi interogasi. Sebelum dia meninggalkan Imin, dia mendekati pria itu dan menjulurkan tangan untuk saling bersalaman.


"Terimakasih anda memang luar biasa," ucap Alex dengan senyum datarnya.


Belum sempat Imin meraih tangan Alex, tiba tiba pergelangan tangan Imin di putar balikan oleh si anjing gila.


Setelah berhasil mematahkan tulang dan sendi pergelangan tangan Imin. Alex kemudian menarik tubuh Imin keatas dan menjatuhkannya sekali lagi ke dasar lantai.


Bruuuukkkk!!!!!


Imin kembali menjerit kesakitan, dia benar benar dilumpuhkan dalam sekali hitungan detik saja. Sementara itu Agus sengaja mematikan CCTV ruang interogasi, dia ingin membantu menyembunyikan tindakan kekerasan pada tersangka.


"Kau yang seharusnya membusuk di kerak neraka!" umpat Alex dengan penuh kekesalan.


*********


Alex sedang menenangkan diri di atap gedung. Dia menikmati banyak batang rokok hanya untuk mengusir rasa frustasinya. Dia terus memandang langit sore dengan tatapan kosong.


Tiba tiba dari arah samping, Agus datang dan menyapanya. Dia ternyata ingin ikut bergabung dan sama sama menghisap batang rokok. Kini mereka berdua hanya diam dan menikmati pemandangan sore.


"Apa pak Alex percaya dengan semua perkataan Imin?" tanya Agus penasaran.


"Sejujurnya aku tidak ingin mempercayai pria bajingan seperti dia."


"Kalau memang itu seorang wanita, aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana dia mendapatkan kekuatan untuk m*mbunuh 9 orang?"


"Terkadang kita tidak bisa meremehkan sisi gelap dari seorang wanita, itu lebih menakutkan," jawab Alex dengan senyum ketir.


Mereka kembali terdiam sejenak, kepulan asap nikotin semakin menyembur di udara sekitarnya. Mereka kini mulai mencair dan saling mengakrabkan diri.


"Lalu kenapa harus mereka yang menjadi korban? Jika mereka tidak punya kaitan sama sekali, apa mereka d!bunuh secara acak?" tanya Agus.


"Untuk saat ini kita masih belum tahu apakah korban dipilih secara acak atau memang sudah ditargetkan. Jika kita lebih tahu pola itu lebih dalam, kemungkinan kita bisa mencegah p*mbunuhan terjadi berikutnya.


Kamu tahu apa yang paling aku takutkan dari kasus p*mbunuhan berantai? Monster itu tidak akan pernah berhenti m*mbunuh sampai kita benar benar menangkapnya.


Kita seperti di kejar kejar oleh waktu dan pedang secara bersamaan. Apapun yang terjadi kita harus mencegah itu terjadi, jangan sampai ada korban berjatuhan!" ungkap Alex dengan serius.


Agus tersentak dengan pernyataan si anjing gila. Dia bahkan tidak bisa berpikir sejauh itu, dia bahkan tidak mengira jika dia sedang menghadapi monster yang sangat menakutkan.


Alex kemudian memutuskan untuk melepas Imin, karena bukti yang sangat kurang untuk bisa menjeratnya sebagai pelaku p*mbunuhan. Hanya saja dia tidak bisa melepas Imin begitu saja, dia harus dibawah pengawasan polisi secara ketat.


Namun untuk mengkonfirmasi perkataan Imin, dia membutuhkan data baru dari tim forensik TKP. Dia ingin mencari apakah memang ada sidik jari Imin di sekitar tas dan dompet milik korban. Apakah ada jejak sepatu Imin di lantai kamar hotel itu.

__ADS_1


__ADS_2