
...Awal dari hubungan yang retak...
...***************...
Motor Agus sudah melewati kawasan kumuh sekitar rumah kontrakan Jono. Hujan sudah mulai reda, membuat banyak lubang jalan menjadi genangan air. Motor itu akhirnya sampai juga di depan rumah kontrakan Jono.
Saat Agus membuka helm, pertama kali yang dia lihat adalah para ayam jago itu kompak berkokok. Mereka berpencar tidak karuan seperti sedang diancam oleh maling. Suara ayam yang terdengar riuh sontak mengundang banyak perhatian tetangga sekitar.
Suara ayam itu membangunkan semua orang yang telah bersembunyi akibat hujan lebat. Ini pemandangan aneh dan tidak biasa, perasaannya mulai tidak enak. Prasangka buruk terus menghantui pikirannya.
Agus memutuskan untuk masuk kedalam rumah, dia melihat pintu utama tertutup rapat. Setelah memanggil nama ibunya berulang kali, tidak ada gerakan manusia dari dalam rumah.
Dia tidak tahan lagi untuk terus menunggu, langsung saja dia menarik gagang pintu yang ternyata tidak kunci. Ketika pintu itu terbuka, dia melihat jika tubuh ibunya ditemukan tergeletak di alas lantai, penuh dengan genangan d@rah.
Dia panik mencari paman Jono, ternyata dia malah menemukan tubuh paman Jono tengkurap di atas kasur. Dengan k3pala yang sudah h@ncur tidak berbentuk utuh. Kasur itu kini sudah terendam d@rah, dinding kamar yang sudah terciprat warna merah.
Agus kembali menghampiri tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku, ditambah belakang kepala yang terus mengeluarkan d@rah. Agus seraya memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernafas lagi.
Dia menangis dan menjerit seperti telah dirasuki roh yang paling jahat. Tangannya tak henti menekan aliran d@rah dari belakang kepala Ibu Surti. Tangan satunya lagi tak henti menggoyangkan tubuh ibunya, berharap jika ibunya bisa bangkit dari kematian.
"Ibu.... ibu.... ibu... ibu..." ucapnya dalam penuh isak tangis.
"Ibu maaf, maafkan Agus... tolong jangan pergi tinggalkan Agus, ayo bangun ibu...."
Karena kegaduhan dan jeritan Agus yang menggema, membuat orang-orang mulai berkerumun di sekitar rumah Jono. Sontak lah membuat semua orang kini gempar karena melihat sosok m@yat yang berd@rah-d@rah.
Namun para warga sekitar hanya melihat saja, mereka belum berani mendekat pada Agus. Sampai datanglah rombongan mobil polisi dan ambulance yang tiba di sekitar kontrakan rumah Jono.
Alex dan tim lainnya segera keluar dari mobil dan berlarian menuju lokasi TKP kejadian. Betapa terkejutnya mereka tak kala melihat pemandangan begitu mengerikan dan menyayat hati. Rekan satu tim, terus saja menangis memeluk tubuh korban dengan erat.
Karina, Radit dan Bima, tak kuasa menahan air mata. Mereka menangis menyaksikan korban adalah seorang wanita tua, m@ti dengan cara yang sangat keji. Apalagi teror kematian itu sudah menimpa rekan mereka di kepolisian.
Alex mematung, tubuhnya gemetar hebat dan rasa marah sudah tak bisa terbendung lagi. Dia tak kuat menahan rasa sedih, kecewa dan takut yang semakin memuncak. Alex sejenak pergi menjauh dari tubuh korban, dia segera keluar dan mencari tempat yang lebih sepi.
Akhirnya pria besar itu muntah, dia banyak mengeluarkan cairan dalam perutnya. Kepalanya tiba-tiba pusing dan jantungnya terasa mati rasa. Dia memukul tiang listrik didepannya, Alex tanpa ampun melukai tangannya sendiri.
Sebagai pria yang jarang menangis, dia jatuh tersungkur ke alas tanah dan mengeluarkan banyak air mata. Perasaan sakit hati dan penyesalan mulai merasuki jiwanya.
Sebagai polisi senior dan ketua tim ini, dia sangat gagal menjaga orang-orang terdekat. Dia sudah mengecewakan banyak orang, dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti.
************
Pukul 05.00 sore, akhirnya rumah kontrakan Jono berhasil dievakuasi. Dokter forensik sudah menyisir semua tempat ini dengan baik. Menurut penemuan sementara, Ibu Surti dan Jono diduga dibvnuh oleh p3mbunuh berantai yang sedang mereka incar.
__ADS_1
Semua bukti dan ciri-ciri hasil kejahatan mempunyai banyak kesamaan. Seperti senjata p3mbunuhan, jejak sepatu boots dan bagian tubuh Jono yang sengaja dihilangkan.
Kali ini p3mbunuh bertindak lebih sadis dari biasanya. Dia dengan sayatan tidak rapih, sengaja m3nyayat bagian dada korban dan mengambil organ jantung. Tentu hal ini sudah diluar nalar manusia normal.
Selain itu, korban mendapatkan tulisan no.10 dengan tinta warna hitam di pergelangan tangan kanan. Itu sangat kuat menunjukan pola yang sama dari korban sebelumnya.
Sedangkan Ibu Surti, hanya mendapatkan luka berbentuk X di bagian jidat tengah korban. Mereka mengasumsikan jika Ibu Surti sebenarnya bukan dari bagian target p3mbunuh. Dia hanya sebagai korban tak terduga, hanya karena tak sengaja menyaksikan p3mbunuhan secara langsung.
Setelah mendapat izin dari pihak keluarga, akhirnya jenazah Ibu Surti dan Jono segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi lebih lanjut. Kontrakan Jono kini sudah dijaga ketat oleh kepolisian.
Alex berjalan keluar dari zona TKP, dia menyuruh semua tim untuk tidak mendekat dulu dengan Agus. Karena dia ingin menjadi orang yang pertama berbicara langsung padanya.
Ternyata selama proses evakuasi, Agus memilih untuk menjauhkan diri dari segala keramaian. Dia sedang duduk termenung dengan wajah penuh kesedihan di dalam mobil polisi. Alex masuk ke dalam mobil dan duduk disampingnya.
"Sungguh aku minta maaf, semua ini adalah kesalahanku," ucap Alex lesu.
"Dari sekian banyak manusia bejat di dunia ini, kenapa harus ibuku yang malang," balas Agus dengan tatapan kosong.
Agus kembali menangis, dia bahkan terus memukul dan menyakiti tubuhnya sendiri. Dia menjerit dan berteriak histeris, sudah hampir kehilangan pita suaranya. Alex tidak bisa berbuat banyak, dia terus menunduk malu didepan Agus.
"Aku yakin, semua ini ulah wanita itu!!"
"Aku mohon, kali ini biarkan kami yang urus. Aku tidak mau kamu gegabah dalan mengambil tindakan."
Dia dengan semua kemarahan dan emosi yang tidak stabil, memilih keluar dari mobil dan mencari sosok Radit. Setelah bertemu dengan Radit, dia terus memaksa untuk memberitahukan dimana sinyal terkahir HP Nana berada.
Awalnya Radit tidak ingin memberitahu, namun melihat temannya itu begitu keras kepala sampai sujud memohon. Akhirnya diam-diam tanpa sepengetahuan Alex, dia memberikan lokasi akurat dari sinyal terkahir HP milik Nana.
Setelah mengetahui dimana lokasi terakhir Nana berada. Agus berlarian mencari motor dan melajukan mesin itu dengan kecepatan maksimum.
Hanya butuh waktu 20 menit saja, motor itu sudah memasuki lapangan parkir rumah sakit. Dia langsung berlarian menuju lobi utama dan terus mencari keberadaan dua orang itu.
Tak sengaja Agus melihat punggung Farel dari arah pintu samping. Dia yakin jika Farel tengah menuntun Nana keluar dari rumah sakit ini. Langsung secepat kilat, Agus menyusul mereka berdua sampai lapangan parkir mobil.
Sayangnya dia telat beberapa langkah saja. Nana dan Farel sudah keluar dari halaman rumah sakit menggunakan mobil. Tak mau menyerah begitu saja, Agus langsung berlarian menuju motornya dan menyusul kepergian mobil Farel.
Sementara itu di dalam mobil, Farel belum menyadari keberadaan motor Agus. Dia terus fokus pada kemudi mobil dan berniat untuk pulang ke rumah. Sedangkan Nana, memilih untuk tidur di atas jok dengan lelap.
Farel tak hentinya memandang garis wajah Nana, dia terus meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya adalah yang terbaik. Dia harus teguh pada pendiriannya sebagai pria.
Mata Farel mulai menyadari jika ada gerakan motor yang terus mengejar mobilnya. Farel terus mengawasi motor itu dari arah kaca spion. Lama kelamaan motor itu sudah bisa menyusul, dia melihat dari samping jika motor itu sedang dikendarai oleh Agus.
Entah apa yang Agus teriaki, sepertinya dia ingin mobil Farel berhenti. Namun firasatnya menolak, dia malah terus menambah kecepatan laju mobil. Farel tidak ingin berurusan dengan pria macam seperti itu.
__ADS_1
Melihat kenyataan jika mobil Farel malah semakin menjauh, kesabaran Agus telah habis. Hatinya murka dan sakit semakin berkecamuk. Dia tak segan untuk menyusul mobil itu lebih kencang.
Maka terjadilah aksi kejar-kejaran antara Farel dan Agus. Keduanya sama-sama mempertahan ego dan tujuan masing-masing. Untung saja jalanan tidak terlalu padat, semakin memuluskan niat mereka untuk membuat onar di jalan raya.
Agus dengan berani menyundul bemper belakang mobil dengan kepala motor. Dia bahkan menepikan kakinya ke arah kaca mobil. Tak terima diperlakukan seperti itu, Farel membalas dengan menyerempet mobilnya ke arah motor sport Agus.
Tentu Agus langsung kehilangan keseimbangan, menyebabkan motornya tergelincir di atas jalanan aspal. Agus tidak menyerah begitu saja, dia segera bangkit berdiri.
Dengan sisa-sisa kekuatan, dia berlarian mengejar mobil itu dan melepaskan tembakan peluru ke arah ban mobil.
Dooorrr....
Peluru itu tepat mengenai ban belakang mobil. Seketika mobil yang dikendarai Farel oleng dan berputar-putar sampai menabrak beton pembatas jalan. Mobil itu akhirnya berhenti dan mengeluarkan banyak asap.
Agus berlarian menuju mobil, dia langsung memecahkan kaca dengan siku dan membuka pintu secara manual dari dalam. Setelah pintu mobil berhasil terbuka, Agus dengan tega menyeret tubuh Farel ke aspal.
Dia memaksa tubuh Farel untuk berdiri dengan tegak. Setelah itu dia m3nghajar wajah Farel berkali-kali secara brutal. Wajah Farel semua lebam dan bengkak, hidungnya bahkan patah mengeluarkan banyak darah.
Farel tidak takut sama sekali, dia malah membalasnya dengan sebuah senyuman ketir. Itu malah memancing amarah Agus, dia kembali m3nghajar perut Farel dengan kakinya.
Farel tersungkur dan terpental, dia sudah tidak tahan melawan kekuatan Agus yang besar. Agus kembali menyeret tubuh itu dan m3ncekik leher Farel dengan erat.
"Katakan padaku, kenapa kamu bisa melindungi wanita bejat itu!!!"
"Dia masih istriku yang sah."
"Sadar bodoh! Kamu hanya diperalat istrimu sendiri. Dia wanita licik dan penuh tipu muslihat."
"Sudah berhenti!! Nana tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia adalah tetangga ibumu yang baik hati," balas Farel lemah.
"Apa kamu tahu Rel, apa yang baru saja Nana lakukan pada tetangganya itu??"
"Katakan padaku, ayo jelaskan!!"
"Istrimu yang selama ini kamu anggap baik dan polos, adalah monster yang menyeramkan. Dia telah m3mbunuh ibuku sendiri!!!" teriak Agus sambil menangis histeris.
Ekspresi wajah Farel berubah dengan cepat, dia terkejut bukan main. Kedua matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Dia lalu berbalik memegang erat kerah baju Agus, menatap tajam polisi itu.
"Jangan main-main kamu!! Ibu Surti tidak akan meninggal karena Nana. Otak kamu pasti sudah eror!!" protes Farel geram.
Agus sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menyerang Farel. Dia malah merebahkan seluruh tubuhnya ke atas jalanan aspal. Agus terus menangis pilu dan menyedihkan.
Sedangkan dari arah dekat mobil, Nana sudah berhasil keluar. Dia sedang berdiri mematung menatap kedua pria itu. Nana ikut menangis mendengar perkataan Agus yang dianggapnya seperti mimpi belaka.
__ADS_1
"Tidak mungkin, ini mustahil," ucap Nana pelan.