31 Hari

31 Hari
Cinta Pertama


__ADS_3

...7 Jam Setelah Penemuan Mayat...


Jam 08.00 malam, Farel sudah berada di sebuah ruangan interogasi. Dia duduk sendiri di sebuah ruangan sunyi dan sempit. Dia merasa sedikit gelisah, dia tidak suka suasana kantor polisi.


Setelah 15 menit menunggu lamanya, akhirnya dua detektif datang menemui dirinya. Mereka adalah Alex dan Bima ( wakil ketua tim) yang akan meminta keterangan secara langsung dari Farel.


Mereka berdua duduk secara bersamaan, saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Bima lalu membuka laptop di atas meja dan mulai menanyai identitas saksi terlebih dahulu.


Setelah pencocokan data sudah selesai, barulah Alex yang memulai interogasi kecil ini. Kini dia sedang menghadapi seorang presdir dan pemimpin perusahaan besar, dia harus lebih berhati hati.


"Apakah anda yakin tidak ingin di dampingi kuasa hukum?" tanya Alex sebagai pembukaan.


"Aku rasa tidak perlu untuk saat ini, katakan saja secara langsung kenapa kalian berani beraninya memanggil saya ke kantor polisi," ucap Farel dengan angkuh seperti biasanya.


"Baiklah, orang penting seperti anda tidak akan punya waktu luang banyak," balas Alex sambil menyerahkan sebuah layar tablet di depan Farel.


Layar gadget itu sedang memperlihatkan sebuah video pendek, dimana Farel sedang bertikai dengan seorang pria di dalam mini market. Tentu Farel mengingat kejadian ini, hanya saja dia belum tahu apa kaitannya dengan kasus pembunuhan.


"Sekitar pukul 05.30 sore kemarin anda terlihat sedang bertikai dengan pria ini, saat itu kasir mini market mengatakan jika anda tengah melerai pria yang baru saja melakukan kekerasan pada wanita di samping anda, apa itu betul?" tanya Alex.


"Iya, itu betul. Pria itu memang brengsek, dia pantas mendapatkan itu semua, lalu apa hubungannya denganku?" tanya Farel sedikit kesal.


Alex kemudian menyerahkan foto Siska Lestari, wanita P S K di depan Farel. Lantas mata Farel mulai mengamati wanita cantik itu, dia tidak merasakan ada hal aneh pada foto itu.


"Apa anda mengenal wanita ini secara pribadi?" tanya Alex.


"Tidak, aku hanya mengenal wanita dan pria kasar itu sebatas pertemuan di mini market," jawab Farel santai saja.


Alex menghela nafas pelan, dia mengangguk-anggukkan kepala. Dia kembali menatap Farel dengan berani, dia tidak ingin kehilangan sedikit saja informasi bahkan dari saksi sekalipun.


"Sekitar pukul 7/ 8 malam kemarin apa yang anda lakukan?" tanya Alex.


"Tentu aku pulang ke rumah saat itu dengan istriku, tanyakan saja dia secara langsung."

__ADS_1


"Apa anda bisa mengkonfirmasi keterangan itu secara langsung?" tanya Alex semakin tajam.


"Ya ampun, perlukah kalian mengusik kehidupan pribadi ku juga?" protes Farel dengan kesal.


"Tinggal tunjukan saja, tidak sulitkah?" balas Alex tambah sengit.


"Ok, ok.. baiklah, aku sudah sangat tidak tahan berada di ruangan pengap seperti ini lagi," balas Farel sambil mengejek kasar.


Dia lalu menyerahkan rekaman CCTV depan rumahnya sendiri, untung saja dia selalu memantau semua rekaman CCTV lewat HP. Jadi dia dengan mudah memperlihatkan pada polisi jika mobilnya sudah masuk garasi pukul 06.40 WIB.


Bahkan setelah jam 8 malam sekalipun dia dan istrinya tidak terlihat keluar rumah. Itu menunjukan bahwa alibi Farel aman dan tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


Setelah melihat semua keterangan dan alibi saksi, Alex menyimpulkan bahwa Farel sama sekali tidak terkait dalam pembunuhan berantai. Maka dia putuskan untuk segera mengakhiri sesi interogasi ini.


Bima pun segera mengatakan permohonan maaf dan terimakasih kepada Farel karena telah berkenan memenuhi panggilan polisi. Setelah itu mereka pergi begitu saja meninggalkan Farel sendiri.


"Tunggu! sebenarnya ada apa ini? Aku berhak tahu kenapa aku bisa dipanggil sebagai saksi. Benarkah ada pembunuhan?" tanya Farel kepada mereka berdua yang hampir menyentuh gagang pintu.


"Maaf aku belum bisa mengatakannya untuk sekarang," balas Alex sambil membalikan badan.


Alex kemudian berjalan kembali menghampiri Farel yang masih duduk. Detektif itu lalu mengeluarkan sebuah foto dari TKP. Dimana foto itu terdapat seorang wanita P S K telah mati berlumuran d*rah di atas bathtub.


"Wanita yang anda temui kemarin di mini market telah terbunuh dengan secara keji dan mengenaskan!" ucap Alex dengan tatapan tajam dan marah.


Farel dengan tangan gemetar meraih foto itu. Jantungnya hampir copot tak kala dia melihat bagaimana wanita itu kini telah menjadi m*yat.


******


Setelah interogasi saksi telah selesai, Agus mengajak tetangganya untuk bersantai sejenak di sebuah cafe. Mereka kini sedang menikmati beberapa cemilan dan kopi.


"Syukurlah jika semua baik baik saja, terimakasih sudah memenuhi panggilan polisi," ucap Agus dengan wajah malu malu.


"Santai saja, anggap saja aku sedang mengalami kesialan," balas Farel dengan senyum pahitnya.

__ADS_1


"Apa kalian masih belum menemukan pelakunya? Padahal banyak sekali CCTV terekam di seluruh gedung hotel itu," tanya Nana dengan wajah penuh khawatir.


"Entah ini sebuah kebetulan atau direncanakan, kemarin seluruh CCTV hotel sedang off karena ada perbaikan total, gila kan?" ungkap Agus dengan wajah frustasi.


"Jadi kalian masih belum mendapatkan sketsa wajah sekalipun?" tanya Nana semakin ngotot.


"Tidak, untuk saat ini kami sedang mengincar kemungkinan pria kasar itu sebagai pelaku. Kami sudah mendatangi rumahnya, pria itu hilang dari kemarin, tentu dia sedang menjadi buronan polisi," ungkap Agus sambil terus meneguk dan menikmati kopi itu.


Baru sekitar 30 menit saja di dalam cafe, Agus undur diri dari hadapan mereka. Dia menyatakan bahwa harus segera mencari toko bunga di sekitar hotel tersebut. Walau Agus tidak mengatakan secara detail pada mereka, dia meminta saran pada Nana untuk menentukan toko bunga yang ia tahu.


Kebetulan saja karena semua penghuni komplek tahu jika Nana sangat suka bertanam bunga. Terlintas saja di pikiran Agus untuk meminta saran agar memudahkan pencarian.


Nana dengan senang hati merekomendasikan sebuah toko bunga yang ia tahu. Dia memberikan alamat dan nama toko bunga itu kepada Agus.


"Beauty flower," ucap Agus tak kala melihat dan mencari alamat toko bunga di Google maps.


"Semoga kamu menemukan keberuntungan di sana ya Gus," ucap Nana sambil tersenyum tipis.


******


Agus sangat lega sekali, jika toko bunga itu masih buka di jam 10.00 malam. Dia lalu menekan bel pintu dan mendapati wanita muda berjalan mendekati pintu.


Setelah pintu itu terbuka, Agus langsung saja berbicara pada inti. Dia mengatakan jika ingin bertemu dengan pemilik toko bunga ini. Setelah wanita muda itu pergi untuk memanggil sang bos, Agus mulai berjalan mengitari toko.


Toko bunga ini cukup kecil, interior setiap ruangan begitu sangat menonjolkan warna warna pastel. Agus cukup terkagum kagum dengan semua kerapihan toko.


Dia malah masuk ke sebuah ruangan lain, disana dia mendapati ada seorang wanita berambut ikal panjang tengah sibuk merangkai sebuah buket bunga. Agus cukup penasaran, dia berjalan menghampiri wanita itu.


Ternyata wanita itu menyadari kehadiran Agus, dia menoleh dan mengarahkan wajahnya ke depan Agus. Wanita itu sangat cantik, kulitnya cokelat sawo matang dan bibir tebalnya tersenyum lebar pada Agus.


Deg!


Hati Agus mulai berdetak kencang dan tak karuan. Dia mengenali siapa wanita itu sebenarnya. Tentu dia sangat tahu, dia bahkan sangat bahagia bisa melihatnya kembali.

__ADS_1


"Tania," ucap Agus dengan pelan dan canggung.


Wanita itu semakin tersenyum, wajahnya mengembang dengan senang. Dia memang Tania yang selama ini Agus kenal. Dia Tania, cinta pertama Agus di masa lalu.


__ADS_2