31 Hari

31 Hari
Peserta Kegiatan


__ADS_3

Alex dan Radit sedang menunggu seseorang yang sangat penting. Dua detektif itu duduk bersama di salah satu cafe dekat kantor Bareskrim. Menjelang 10 menit, barulah orang yang mereka tunggu datang juga.


Pria itu bernama Dimas, mantan manager restoran Bali Tropical 8 tahun yang lalu. Dimas duduk dengan ramah, dia menyapa kedua detektif itu dengan baik. Setelah mengobrol basa-basi, Alex kemudian mulai masuk pada inti pertemuan ini.


Alex ingin menanyakan lebih banyak tentang acara amal, yang sempat menjadi tanggung jawab Firman saat itu. Termasuk daftar pengunjung dan beberapa dokumentasi kegiatan tersebut.


Sebagai manager tentu dia tahu kegiatan tersebut, walau dia tidak terjun secara langsung baginya itu kegiatan yang sangat mulia. Banyak sekali orang kelas bawah yang sangat terbantu dengan bantuan sembako gratis. Antusias dari bulan ke bulan melonjak tajam, itu sebabnya Firman sempat populer di kalangan masyarakat bawah sekitar Jakarta.


Dimas kemudian menyerahkan satu bundel dokumen lengkap, berisikan daftar penerima bantuan amal selama satu tahun. Ditambah beberapa dokumentasi foto yang masih dia simpan di laptop kerjanya.


Tentu ini sebuah keberuntungan, karena saat itu Dimas yang bertanggung jawab atas semua laporan operasional restoran, termasuk acara amal tersebut. Apalagi Dimas tipikal orang yang sangat menjaga semua data pekerjaan walau sudah tidak bekerja lagi disana.


Sebelum mereka berpamitan, Alex iseng menanyakan tentang hubungan Tania dan Firman. Dia ingin mendengar dari karyawan lain, dia ingin tahu dari banyak sudut pandang. Semoga saja membawa sebuah petunjuk yang tak terduga.


"Bagi saya Firman pria yang biasa saja, tidak banyak menarik perhatian orang. Kecuali pemilik restoran, hal yang paling luar biasa tentu saat mempercayakan Firman sebagai penanggung jawab kegiatan amal.


Saya yang lulusan S1 universitas negri terbaik, sama sekali tidak di lirik bos," ucap Dimas sambil tersenyum meledek.


"Menurut anda kenapa Firman bisa menjadi orang kepercayaan pemilik restoran?" tanya Radit penasaran.


"Mmmmmm..... mungkin karena latar belakang Firman yang tidak biasa. Saat itu banyak desas-desus beredar, Firman adalah pria yang selalu bolak-balik penjara, bahkan saat masih remaja.


Kalian tahu kan kalau penerima bantuan amal kebanyakan adalah mantan narapidana? mungkin tujuan bos saat itu memang sengaja mengumpulkan para mantan narapidana untuk kegiatan sosialnya."


"Kenapa harus mantan pidana?"


"Entahlah, selera bos saya dulu memang selalu aneh," jawab Dimas santai.


Alex dan Radit tercengang, mereka akhirnya mulai paham jika kelas strata penerima bantuan amal ternyata punya pola tersendiri. Itu mengingatkan mereka pada pola yang sama dari kesepuluh korban. Sama- sama pernah masuk penjara dan melakukan kriminalitas.


Setelah pertemuan itu menghabiskan waktu sekitar dua jam, akhirnya Alex dan Radit memutuskan untuk mengakhirinya. Saat Radit akan beranjak dari kursi, dia tidak sengaja menyenggol catatan kasus miliknya di atas meja.


Seketika berhamburan banyak foto-foto kasus yang berserakan di bawah lantai. Radit mulai memungut semua foto tersebut, bahkan Dimas membantunya dengan suka rela. Tiba-tiba Dimas memegang satu buah foto dan menunjukan kepada mereka jika dia sempat melihat pria ini di acara amal.


"Aaaahhh... salah satu penerima acara amal adalah bapak ini, tentu aku selalu mengingat wajahnya," ujar Dimas antusias.


Alex dan Radit kembali duduk di atas bangku. Mulai melirik kembali foto yang menarik perhatian Dimas. Ternyata foto yang dia maksud adalah Sugeng, si supir taxi.

__ADS_1


"Apa anda yakin?"


"Tentu saja, pak Sugeng itu tak hanya sekedar menerima bantuan saja. Dia selalu membantu kami untuk merapihkan kursi dan tenda saat acara selesai. Dia pria yang sangat baik dan senang menolong.


Cuman saya agak heran, saat itu tiba-tiba dia bertengkar hebat dengan Firman. Sampai semua logistik acara hancur dan berantakan. Entah apa yang menyebabkan pria sebaik Pak Sugeng bisa marah sekali dengan Firman."


Dimas menjelaskan lebih lanjut, saat kejadian perkelahian antara Sugeng dan Firman. Semua mendadak berubah dalam sekejap. Firman memutuskan langsung keluar dari pekerjaannya. Acara amal yang terpaksa di hentikan karena alasan tidak masuk akal. Tentu saat itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan pak Sugeng.


Kedua polisi itu benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata selama ini, supir taxi yang mereka kira hanya orang biasa mendadak menjadi target penting. Mereka tidak menyangka, jika Nana dan Sugeng ternyata memiliki sebuah ikatan di masa lalu.


Kasus ini semakin mendekati titik akhir. Kesamaan dan keterlibatan Nana terlalu banyak, membuat mereka kembali menjadikanya tersangka. Seketika Alex merasa bersalah pada Agus, karena saat itu dia malah tidak mempercayai bawahannya.


********


Setelah pertemuan dengan Dimas membuahkan banyak hasil mengejutkan. Tim kejahatan serius kembali ke dalam kantor dan sangat sibuk mengumpulkan banyak informasi.


Mereka mulai berunding dan menganalisis dokumen penting yang telah diserahkan oleh Dimas. Setelah hampir tiga jam lamanya mereka berkutat dengan dokumen tersebut, akhirnya mereka mulai menemukan jawaban baru.


Pertama, jumlah dari penerima kegiatan amal selama satu tahun jika dikalkulasikan sebanyak 1500 orang berbeda. Setelah di sortir lebih detail, ternyata ada sembilan nama yang aktif dalam acara tersebut.


Sembilan nama tersebut adalah para korban berantai, termasuk wanita yang menjadi P S K, Siska. Tak lain adalah pacar Firman sendiri. Kesembilan korban tersebut berasal dari penjuru Jakarta, yang tinggal tak layak dan kebanyakan pengangguran.


Satu foto bahkan memperlihatkan semua korban, termasuk Firman tengah berfoto bersama dengan senyuman akrab. Itu sangat menunjukan jika sepuluh korban memang saling mengenal. Hanya saja polisi belum tahu pasti kapan dan bagaimana mereka bisa mengenal satu sama lain.


Informasi tambahan yang tentu polisi harus gali lebih dalam adalah Sugeng. Pria itu sempat ada di beberapa foto dokumentasi, namun dia terlihat tidak pernah berbaur dengan sepuluh korban lainnya. Dia cenderung lebih senang menyendiri dan sibuk dengan pekerjaannya.


Sugeng adalah pengecualian, dia bukan seorang mantan narapidana dan catatan kriminalnya bersih. Bahkan sebelum aktif di kegiatan sosial ini, Sugeng adalah seorang buruh pabrik yang loyal.


Pria itu sudah 15 tahun bekerja di pabrik sepatu dan sudah direncanakan untuk naik jabatan sebagai kepala gudang. Di saat karir dan ekonominya naik, dia mendadak berhenti bekerja dari pabrik. Memilih untuk aktif di kegiatan amal tersebut.


Tentu itu tidak wajar dan sangat aneh, apalagi diketahui jika dia adalah seorang singel parent. Istrinya kabur saat mengetahui jika anak yang dilahirkannya mempunyai cacat jantung. Alex sangat yakin jika Sugeng tidak sekedar masuk kedalam kegiatan amal, ada motif lain yang sengaja dia sembunyikan.


Dengan bukti yang sudah mereka dapatkan, maka cukup untuk memanggil Nana dan Sugeng secara resmi sebagai saksi. Tidak ada lagi alasan untuk menahan wanita itu masuk kantor polisi. Dia harus bisa mencekal Nana sebisa mungkin, tidak ada lagi ruang kesempatan baginya.


**********


Agus baru saja pulang dari rumah sakit POLRI, dia diminta untuk membawa pakaian dan barang terakhir milik ibunya. Setelah otopsi itu selesai, maka tidak ada alasan lagi polisi menahan barang pribadi milik korban.

__ADS_1


Dengan wajah penuh kesedihan, dia membawa kotak kardus kedalam rumah. Rasa sedih tentu kembali menghujam hatinya, tak kala dia membuka satu persatu pakaian dan tas milik sang ibu.


Dia menahan tangis, tangannya gemetar memeluk pakaian ibunya yang sudah kotor karena darah. Namun bau tubuh Ibu Surti masih lekat dalam penciumannya, dia malah pecah dalam tangis.


Ternyata masih ada satu barang yang baru ia sadari, sebuah sarung tangan kain dengan bulu-bulu halus. Dia mulai termenung, kenapa ibunya bisa memakai sarung tangan bulu, kenapa hanya ada satu pasang yang polisi temukan.


Agus berusaha mengingat sekeras mungkin, ternyata dia baru sadar, saat makan siang ibunya sempat mengeluh alerginya kumat lagi. Karena sebelumnya dia mengkonsumsi banyak udang yang mengakibatkan kulitnya mengalami ruam merah.


Itu sudah menjadi kebiasaan ibunya jika tengah mengalami kulit ruam, dia akan menutupinya dengan sarung tangan. Karena hampir seluruh tubuhnya bisa terkena ruam merah, termasuk bagian tangan.


Dia berusaha mencari sarung tangan itu, kedalam saku baju, celana maupun dalam tas milik ibu Surti. Sayangnya, dia masih belum menemukan satu pasang bagian kanan. Dengan cepat dia langsung menelepon petugas forensik, yang saat itu bertanggung jawab atas otopsi ibunya.


Setelah menelepon pihak terkait, dia menemukan sebuah jawaban tak terduga. Menurut petugas forensik yang bertugas di TKP, menuturkan bahwa mereka hanya menemukan satu pasang sarung tangan saja.


Sudah dicari kemana pun, pihak forensik tidak bisa menemukan sarung tangan bagian kanan. Karena itulah, mereka mengasumsikan jika pembunuh sengaja menyembunyikan sarung tangan bulu itu.


Menurut analisis mereka, bisa jadi sarung tangan itu menyimpan sebuah bukti yang tertinggal. Bisa berupa sidik jari p3mbunuh, DNA, air ludah, helaian rambut, ataupun hal yang sangat mudah di identifikasi oleh lab forensik.


Namun terasa janggal, Agus sangat yakin jika pembunuh tidak membawa sarung tangan itu. Karena p3mbunuh hanya membawa satu pasang sarung tangan dan membiarkan satu pasang lain begitu saja.


Apalagi setelah ditelusuri lagi, sarung tangan bagian kiri sangat bersih dan tidak mengidentifikasi DNA asing. Perasaan Agus tidak tenang dan terus merasa gelisah. Dia buru-buru keluar dan mengambil motornya.


Agus berniat untuk kembali ke TKP dan berjumpa dengan kontrakan Jono. Dia ingin memastikan, jika sarung tangan bagian kanan yang hilang itu masih ada di sana.


Sesampainya di kontrakan Jono yang masih dibatasi garis polisi. Agus menerobos masuk jendela samping dan berhasil menyusup ke dalam ruang tengah rumah itu.


Dia mulai menyalakan senter agar penglihatannya lebih terbantu. Setelah mencari kesemua sudut ruangan, sela-sela perabotan rumah tangga, dari atas hingga bawah sekalipun dia masih belum menemukan sarung tangan milik ibunya.


Agus tidak menyerah, firasatnya mengatakan jika sarung tangan itu sengaja di tinggalkan oleh ibunya. Karena dia tahu betul, jika ibunya sering bertanya padanya tentang banyak hal, termasuk dunia investigasi.


Saat dirinya masih dalam masa pelatihan, dia pernah menjelaskan pada ibunya, jika tes DNA sangat membantu dalam menyelesaikan kasus p3mbunuhan. Apalagi metode investigasi polisi semakin maju dan canggih, jejak sekecil apapun yang ditinggalkan oleh pelaku bisa sangat mudah di identifikasi.


Bahkan bercak keringat dan setetes sp3rma bisa di identifikasi melalui tes DNA. Itulah mengapa, Agus sangat yakin jika ibunya tidak akan meninggal sia-sia. Ibu Surti pasti menggunakan kepintarannya yang terkahir sebagai manusia.


Dia mulai mencari di sekitar lemari kamar, diketahui jika ibu Surti telah diseret paksa dari dalam lemari menuju ruang tengah. Agus yakin jika Ibu Surti pasti melakukan kontak fisik yang tak disadari p3mbunuh.


Dia melihat ada sebuah keranjang baju dekat lemari tersebut. Agus melihat tumpukan baju kotor menumpuk di dalam keranjang. Dengan gesit dia mulai mencari sarung tangan itu di dalam keranjang.

__ADS_1


Alhasil, sarung tangan bulu itu berhasil ditemukan. Firasat Agus kali ini tidak salah, dia mendapati ada goresan kecil di ujung jari sarung tangan. Bahkan dia menemukan sehelai rambut lurus berwarna hitam. Tentu itu bukan rambut Ibu Surti, karena rambut ibunya sangat kriting dan dicat warna cokelat.


Dia segera memasukan bukti baru ke dalam kantong plastik. Bergegas menaiki motornya dan menuju badan forensik nasional untuk segera di identifikasi. Agus yakin, jika terdapat banyak jejak DNA p3mbunuh tertinggal di sarung tangan milik ibunya.


__ADS_2