
...I Love You Farel...
...Sebuah ucapan tanda terimakasih yang menyebabkan infeksi telinga...
...************...
Setelah melewati perjalanan jauh dari Jakarta menuju Lombok, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah resort mewah tepat menghadap pantai Senggigi. Kini hanya ada mereka berdua, tidak ada siapa siapa lagi.
Meskipun ini sebuah resort yang besar, Ibu Farel sengaja menempatkan mereka di sebuah kamar yang hanya menggunakan satu kasur besar. Tidak ada kasur cadangan, tentu ini adalah jebakan Batman dari ibu mertua.
Farel sudah tidak peduli lagi, dia terlalu lelah dengan perjalanan dadakan ini. Tentu yang dia lakukan hanya berbaring di atas kasur. Sedangkan Nana terpaksa mengalah duduk di sofa. Mereka benar benar tidak bisa disatukan sama sekali.
"Rel bangun dong!" rengek Nana manja.
"Duh Nana.. apaan sih."
"Ayo kita jalan jalan... sudah lama aku gak lihat pantai."
"Keluar saja sendiri, Farel cuman mau rebahan, makan, minum, tidur habis itu pulang ke Jakarta," balas Farel ketus.
"Yaaaaaa.... ko gitu sih. Coba lihat deh di luar sana pasti banyak mata-mata. Kalau aku pergi sendirian nanti ibu Sania pasti tahu."
"Mmmmmm... sudah ah, bodo amat. Terserah kamu saja mau ngapain."
Farel tidak berubah sama sekali, dia memang sangat sulit untuk diajak kerja sama. Nana pikir jika sedang berada di bawah tekanan orang tua, Farel akan sedikit nurut padanya.
Tapi Nana tidak menyerah kali ini. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu begitu saja di Lombok. Walau mereka tidak akan pernah melakukan honeymoon, setidaknya menghabiskan waktu bersama itu patut di coba.
Nana bangkit dari sofa, dia lalu mengeluarkan HP dan melakukan panggilan video call dengan ibu mertua. Dia sengaja ingin memancing kecemasan Farel agar mau menuruti semua keinginannya.
"Ngapain lagi sih Na," sahut Farel.
"Telepon Ibu mertua dong...." balas Nana dengan senyuman licik.
Tak terima jika dirinya akan dalam masalah besar, Farel langsung melompat dari kasur dan merebut HP Nana dengan cepat. Wajah Farel berubah drastis menjadi pucat pasi dengan banyak kecemasan.
"Ok.. kita keluar. Kamu jangan coba coba ngadu sama ibu. Awas aja!!!"
"Nah... gitu dong."
******
Menjelang sore hari mereka berdua akhirnya pergi jalan jalan keluar. Pemandangan dan suasana pantai Senggigi begitu memikat jiwa, ini benar benar sangat menyenangkan. Sejujurnya, Farel memang butuh udara segar seperti ini.
Farel memutuskan untuk duduk di bangku dan berteduh saja di bawah pohon kepala. Dia tidak ingin mengeluarkan banyak tenaga untuk menemani Nana. Sedangkan wanita itu memilih untuk masuk ke dalam air.
Farel duduk sambil menggunakan kaca mata hitam, kakinya selonjoran dengan santai. Penampilannya yang hanya menggunakan kaos polos dan boxer tetap membuat pria ini tampil kece. Tak jarang banyak wanita disekitarnya yang melirik diam-diam.
__ADS_1
Walaupun dia jauh dengan istrinya, Farel ternyata selalu memantau pergerakan Nana. Dia sedang melihat Nana bermain air, berlarian menghindari ombak seperti anak kecil.
Nana tertawa dengan begitu lepas, dia membebaskan semua tubuhnya dengan indah. Seakan dia sedang melepas penat dalam banyak masalah rumah tangga. Nana sangat menikmati liburan kali ini.
Dari arah tepi air, Nana berjalan terbirit-birit menghampiri Farel. Dia sengaja ingin mengajak suaminya untuk pergi bermain air bersama-sama. Tentu Farel menolak, dia tidak ingin terkena air laut sedikit pun.
"Ayo dong... please, kali ini saja," ucap Nana dengan sebuah rayuan.
"Enggak!!"
"Ayo dong suamiku yang tampan."
"Enggak, aku bilang gak mau ya gak mau."
Nana kembali menggunakan jurus mautnya, dia mengeluarkan HP dan mengancam akan menelepon sang mertua. Tentu Farel tidak bisa berbuat banyak lagi, dia harus segera menuruti semua keinginan Nana.
Dengan riang gembira dan penuh semangat, Nana menarik paksa suaminya agar masuk kedalam pusaran ombak. Dia bahkan dengan jahil mendorong Farel sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup.
Tentu Farel tambah kesal dengan keusilan Nana, dia pun balik mendorong Nana ke dalam pusaran air. Pada akhirnya mereka malah bertengkar seperti Tom & Jerry. Saling melempar bola-bola pasir, saling menenggelamkan kepala dalam air bahkan Nana terus melorotkan celana boxer Farel.
Mereka bukan sepasang suami isteri, lebih tepat seperti kawanan bebek kampung. Tidak ada keromantisan, tidak ada hal-hal yang manis untuk di kenang, semua tercampur aduk menjadi kacau balau.
Nana tertawa terbahak bahak, dia senang sekali melihat penampilan Farel yang kusut. Seluruh tubuhnya basah dan kotor terkena pasir. Bahkan celana boxer setengah turun dari ******.
Farel tidak bisa marah, tidak bisa menggertak seperti biasanya. Dia malah ikut tertawa kecil melihat kekonyolan mereka berdua. Sungguh ini tidak bisa di percaya sama sekali.
"Sudah ah, ayo kita pulang. Sudah sore."
"Terakhir, janji."
"Ok, sekali saja ya!"
Nana senang karena pada akhirnya Farel mau membantunya untuk mengambil sebuah adegan. Rencananya dia akan masuk ke tengah laut dengan menggunakan papan selancar.
Awalnya Nana sangat percaya diri bisa berdiri dan mencoba berselancar di atas ombak. Karena dia merasa punya pengalaman dengan pelatihan di Jepang. Farel tidak bisa mencegah lagi, kali ini Nana sangat keras kepala.
Dia sudah siap dengan video kamera di tangan, maka saat itu juga Nana bersiap untuk membawa papan selancar mengapung di atas air.
Pertama-tama untuk mencapai tengah laut, dia harus mendayung papan seluncur dengan kedua tangannya. Tentu untuk saat ini dia berhasil membawa papan seluncur itu berada di permukaan air laut.
Nana melambaikan tangan ke arah kamera, karena jaraknya belum terlalu jauh dari Farel. Saat melihat akan ada ombak besar menyapu, Nana malah mendayung kembali papan selancar itu ke tengah lautan.
Dia menunggu ombak itu datang dan bersiap duduk di atas papan tersebut. Setelah ombak bersiap menyembur dirinya, Nana ternyata tidak bisa berdiri dengan seimbang. Kaki kanannya terpeleset jatuh dan tergelincir jatuh terbawa ombak.
Untungnya Farel masih bisa melihat Nana jatuh dari papan seluncur. Sialnya, dia tidak bisa melihat Nana berenang di permukaan air, Farel langsung saja berlarian dan berenang ke tengah laut.
Dia dengan segala daya dan upaya berusaha untuk menyelematkan Nana yang tenggelam. Dia tidak ingin melihat istrinya mati konyol di depan matanya sendiri.
__ADS_1
******
Nana terbaring seperti seorang pasien Kanker saja. Dia masih belum sadar, tangannya masih menempel selang infus. Farel memutuskan untuk merawat Nana di dalam resort, dia tidak mau repot-repot masuk ke rumah sakit.
Setelah menunggu sekitar satu jam, Nana akhirnya sadar. Dia perlahan membuka mata dan menyadari jika kini dirinya sedang berada di resort. Farel seraya memandangi istrinya dengan wajah bete dan khawatir.
"Otak kamu isinya apa sih Na, pake acara surfing segala!! tanpa pemanasan, persiapan matang itu sama dengan bunuh diri!" ucap Farel penuh kekesalan.
Nana menunduk malu, dia kali ini memang bersalah dan ujung-ujungnya selalu merepotkan Farel. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu dia merasa sangat senang setengah mati. Mana sadar dia dengan hal keselamatan dan persiapan seperti itu.
"Ya, maaf."
"Gara- gara kamu nih, liburan kita otomatis di perpanjang. Aku gak mau bawa balik kamu ke Jakarta dalam keadaan sakit."
"Iya.. iya.. maaf deh."
Tiba tiba terdengar suara dari perut Nana berbunyi riuh. Bahkan Farel bisa mendengarnya dengan jelas sekali.
"Kamu lapar?" tanya Farel.
"Enggak."
"Terus kenapa perut kamu bunyi terus kaya gitu."
"Sakit perut, hehehehehe..." balas Nana cengengesan.
"Ya sudah, pergi toilet sana. Sendirian!"
Nana menggelengkan kepala berulang kali. Dia mengarahkan jari telunjuk ke arah pergelangan kaki yang sudah di perban. Saat tergelincir di atas papan selancar malah membuat kakinya terkilir dan sulit untuk digerakkan.
"Gendong," seru Nana tambah manja.
"Idiiih... mulai deh kambuh lagi. Jangan sok manja kaya gitu."
"Mmmmmmm... gendong.. gendong...."
"Enggak!!!!"
"Duh.. duh.. perut aku sakit lagi nih. Gak kuat Rel, aku harus segera mengeluarkan ini semua sekarang juga!" teriak Nana sambil memegang perutnya.
Farel benar-benar di ujung neraka Jahanam. Dia tertimpa kesialan bertubi tubi hanya karena satu wanita menyebalkan ini. Dia terus mend3sah kesal, dia tidak rela jika diperlakukan begini terus.
Akhirnya dia membungkukkan badan dan menggendong tubuh Nana dari atas kasur. Nana memeluk erat bagian leher dan pundak suaminya. Kini dia harus mengantarkan tuan putri menuju toilet kerajaan.
"I love you Farel...." bisik Nana sambil tertawa cengengesan.
"Berisik!!!"
__ADS_1