
...Terburuk dari yang terburuk...
...************...
Jam 06.00 pagi Farel masih tidur terlelap di kamarnya sendiri. Dia tidur miring sambil memeluk guling besar dengan nyaman. Sulit sekali untuk bangun, dia begitu menikmati pelukan hangat guling daripada harus memeluk istrinya sendiri.
Tiba-tiba semua mimpi indah Farel buyar seketika, tak kala seluruh badanya terkena siraman air yang sangat dingin.
Byuuuuur......
Farel bangun dalam sekejap. Dia kesal dan kaget bukan main, karena seluruh baju dan kasurnya basah. Farel lalu mengucek matanya berulang kali, dia masih belum fokus dengan pandangannya.
Betapa terkejutnya Farel ketika dia melihat dengan jelas ibunya ada di depan dia sendiri. Seorang ibu dengan wajah marah tiada tara. Ternyata Sania yang menumpahkan air itu ke anaknya sendiri.
"Ibu, ngapain disini segala!" ucap Farel.
"Justru ibu yang harus nanya, kenapa kamu bisa tidur disini!!"
"Ya kan ini kamar Farel."
"Dasar anak bodoh! kamu sudah menikah Farel, seharusnya kamu tidur satu kamar dengan istrimu sendiri.
Jadi berita perceraian kalian itu benar. Tega kamu bohongin orang tua mu sendiri!!!" balas Sania dengan isak tangis.
Farel terdiam dan tidak berkutik sama sekali. Pada akhirnya dia harus siap menerima kenyataan yang ada. Dia harus siap menjelaskan bahwa mereka akan segera bercerai.
Dia mencoba menenangkan ibunya yang terus menangis. Dia berdiri dari kasur dan mencoba menenangkan Sania sebisa mungkin. Namun Sania sudah kepalang kecewa, dia bahkan menangkis semua sentuhan Farel.
"Ibu, ayo kita bicara."
"Ibu gak mau lagi dengar semua omongan kamu. Gara-gara gosip perceraian itu, hubungan kita dengan keluarga Handono retak.
Bahkan mereka mengancam akan menarik semua dana suntikan perusahaan! Apa sih susahnya menikah dengan wanita sebaik Nana!!" celoteh Sania.
"Aku sudah coba berulang kali bu, tapi itu selalu gagal. Farel gak bisa memaksakan perasaan atau pura pura bahagia.
Kami sepakat bercerai dengan baik-baik, ibu gak usah khawatir. Farel akan bertanggung jawab dengan semua kerugian perusahaan."
Mendengar penjelasan anaknya membuat hati Sania tambah sakit dan pedih. Dia tidak menyangka jika Farel bisa memutuskan bercerai dengan Nana. Sania tidak bisa menerima itu, dia harus melakukan berbagai cara untuk menyatukan mereka kembali.
"Ibu gak mau kalian cerai titik! kami sudah sepakat kalau kamu dilarang masuk kantor. Jabatan Presdir kamu dibekukan untuk sementara waktu."
"Apa?? itu gak adil bu!!!!" protes Farel kesal.
"Kamu bisa mendapatkan semua jabatan kamu kembali setelah berhasil membuat Nana hamil," ancam Sania.
"Hamil?" Gila apa ya!"
"Kamu yang gila Farel. Suami istri ko pisah kamar."
"Please bu, biarkan aku hidup berdasarkan apa yang Farel pilih. Aku gak cinta sama Nana," sahut Farel.
Sania menutup matanya dengan rapat. Dia benar benar seperti diserang ribuan tawon di kepalanya. Sungguh ironi sekali anak muda zaman sekarang. Mereka tidak bisa berpikir lebih realistis.
"Hari ini juga kamu siap-siap buat honeymoon di Lombok. Ibu sudah siapkan tiket dan semuanya. Jangan pikir untuk kabur atau pura pura bulan madu lagi!!
__ADS_1
Ibu sudah siapkan banyak pengawal untuk terus memantau gerak gerik kalian berdua."
Farel awalnya tidak percaya begitu saja, ide honeymoon kloter dua sangat konyol. Tapi setelah melihat dari dalam jendela, dia akhirnya percaya dengan semua rencana ibunya itu.
Sekarang rumah kecil mereka sedang di kelilingi pengawal berjas hitam. Mereka menjaga ketat tempat tinggal seperti sedang mengawasi ******* saja.
*******
Nana dan Farel akhirnya menyerah dengan segala perdebatan yang ada. Mereka sudah tidak bisa mengelak ataupun membela diri lagi. Kedua keluarga mereka terlalu besar dan otoriter, masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan ancaman kecil.
Farel benar benar mengajak Nana liburan + honeymoon ke Lombok. Entah kenapa orang tua mereka memilih tempat ini, mungkin karena mereka mempunyai banyak investasi properti di pulau eksotis seperti Lombok.
Mereka kini sedang menuju bandara, Farel mengendarai mobil dengan perasan ugal-ugalan. Dia masih sangat kesal dengan tindakan sang ibu yang sudah di luar batas. Apalagi di belakang mereka banyak mobil pengawal yang terus mengikuti.
"Situasi semakin buruk saja, arrggggghhhh sial.. siaaal..." gerutu Farel.
"Mau gimana lagi, orang tua kita terlalu egois. Sebaiknya kita jangan buat ulah dulu, hindari pertikaian dengan keluarga."
"Lalu kamu mau gitu kita honeymoon lagi? Tahun kemarin saja kita..."
"Apa? ya tahun kemarin kamu ninggalin aku sendirian di London. Sedangkan kamu malah asik pergi liburan sama tiga teman kamu ke Dubai," protes Nana sebal.
Farel terdiam sejenak, dia baru ingat jika dulu dia terlalu memperlakukan Nana begitu kejam. Bahkan acara honeymoon pertama mereka dijadikan bahan lelucon oleh Farel. Saat itu dia sengaja mempermainkan Nana, dia dengan tega meninggalkan Nana sendiri.
Namun untuk sekarang, apakah ini tanda dia diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Namun bisakah Farel melakukan itu?
Bagaimana dengan perceraian yang selama ini dia telah persiapkan. Bagaimana perceraian itu hanya tinggal menghitung minggu saja?
...Ayo Farel, kamu bisa, jangan lengah hanya karena hati mu merasa bersalah....
"Janji ya... seorang pria gak boleh lari dari ucapannya."
"Iya, aku janji. Kita cukup habiskan liburan di Lombok beberapa hari saja."
"Kalau ternyata gak hamil gimana?"
Farel mendadak menginjak rem, mobil itu berhenti begitu saja. Farel memalingkan wajah kesamping, dia melihat istrinya yang begitu polos atau memang bodoh.
"Kamu pikir hamil kaya bikin Indomie apa!!! No.. jangan mimpi kamu bisa hamil, aku gak sudi tidur satu ranjang sama kamu Na!
Ingat ya, aku gak akan gentar dengan perceraian ini. Setelah diary itu selesai sampai hari ke 31, kamu wajib menandatangani surat perceraian itu. Titik!" celoteh Farel dengan penuh kekesalan.
*******
Sementara itu, Agus terus dilanda rasa cemas, takut dan khawatir yang berlebih. Bagaimana tidak, pencarian pelaku pembunuhan berada di titik terendah. Semua investigasi terasa buntu dan sia sia, penjahat itu begitu licin dalam menjalankan semua pembunuhan itu.
Dia sudah tidak pernah pulang lagi ke rumah, setiap harinya dia hanya sibuk memeriksa dan mencari bukti baru. Namun nihil, dia sampai sekarang belum menemukan apa-apa.
Semua tim kejahatan serius sama mengalami rasa lelah yang luar biasa. Ternyata menggabungkan pembunuhan 7 tahun yang lalu dengan sekarang cukup sulit. Sekeras apapun Alex dan tim mencari kesamaan ataupun pola, tidak ada benang merah yang bisa mereka lihat.
Dia hanya seorang pembunuh gila yang mengincar manusia lemah dan tak berdaya. Dia monster yang sangat haus akan darah dan penderitaan orang lain.
Farel menggeser kan kursinya mendekat meja kerja Alex. Dia ingin melepas sedikit penat dengan mengobrol. Dia ingin sekali bertukar pikiran dengan si bos.
"Bos, bolehkah aku bertanya?
__ADS_1
"Hmmmmmmm..." gumam Alex begitu saja, matanya terus fokus menatap layar laptop.
"Kenapa pelaku sengaja menghilangkan bagian tubuh korban?
Dia m3motong l!dah korban atau m3ncongkel dua bola mata korban, apa dengan membunuh saja tidak cukup?"
"Kamu tanya saja sama pelaku."
"Ayolah kapten, aku serius. Aku masih saja belum paham, kenapa ada wanita semengerikan itu di dunia ini!"
"Menurutku dia hanya ingin mencoba menunjukan betapa dia sangat membenci mereka.
Dia ingin memperlihatkan amarah teramat besar kepada korban yang memang sangat terbelakang dari masyarakat kita."
"Apa dia menjadikan potongan tubuh itu sebagai simbol kejahatan?" tanya Agus semakin penasaran.
"Mungkin lebih dari itu, bisa saja dia menganggap itu sebuah maha karya besar yang berharga.
Kamu tahu kan, beberapa pelaku pembunuhan berantai sering kali menyimpan benda benda korban? itu tak lain sebagai kepuasan yang tak ternilai."
Agus mulai paham sekarang, bahwa memahami isi pikiran pelaku pembunuhan itu tidak mudah. Dia harus melihat dari sisi lain yang jauh dari nalar manusia normal.
Dia memang tidak salah menjadi bawahan si anjing gila. Alex memang bar bar dan galak, tapi itu sebanding dengan kecerdasan dia sebagai polisi.
Agus tak sengaja melihat layar laptop di depannya. Ternyata Alex sedang melihat catatan story, upload foto dari sosial media Facebook milik korban terkahir.
"Kenapa Bos kepo sama akun Facebook korban?"
"Manusia banyak meninggalkan jejak di sosial media, aku yakin pasti menemukan itu," balas Alex dengan serius.
Farel ikut mencari dan menyimak semua unggahan korban selama ini di Facebook. Ternyata korban no.09 tipikal wanita yang eksis dan narsis di halaman Facebook. Maka akan mudah mendapatkan semua data privacy korban.
Tiba tiba Agus melihat unggahan foto pada tahun 2019 silam. Dimana dia sedang berfoto dengan seorang laki laki yang tidak terlalu muda. Dari posenya mereka saling bergandeng dan merangkul satu sama lain, sepertinya mereka dekat. Bahkan tulisan unggahan itu diberi judul " I Miss You Mas..."
"Tunggu.. tunggu... berhenti bos!"
Sontak saja Alex menghentikan scroll mouse- nya itu, kini gambar Siska dan pria itu tengah menjadi fokus Agus. Setelah itu dia mendorong kursinya kebelakang dan meraih satu dokumen penting di meja kerjanya.
Setelah mendapatkan dokumen itu dia kembali menuju meja Alex. Agus membuka beberapa lembar dokumen investigasi dan menunjukan sebuah foto lain terhadap Alex.
"Tuuuh... tuuuh... benarkan. Pria yang ada di foto itu adalah Firman," ucap Agus dengan begitu antusias.
"Firman? kamu kenal pria ini?"
"Gimana sih bos, masa gini saja kamu lupa. Firman dia adalah korban pertama dari kasus pembunuhan berantai ini!!!!"
"APAAAA!!!!"
Alex segera merebut dokumen investigasi itu dari tangan Agus. Dia melihat foto korban pertama dengan foto di wall Facebook korban terakhir. Ternyata memang benar, pria itu adalah Firman. Sangat jelas dengan segala ciri ciri korban.
"Akhirnya kita menemukan bukti baru. Kerja bagus Agus!" puji Alex dengan senang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Dasar bodoh!! ya... kita cari tahu apa hubungan Siska dan Firman. Kenapa Siska bisa mengenal korban pertama dari kasus tujuh tahun lalu," jawab Alex kesal.
__ADS_1