7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Terjebak Situasi Pelik


__ADS_3

"Ini. Silakan diminum teh manisnya," terdengar suara Luna di ruang kamar sebelah saat aku keluar dari kamar yang kutempati dengan bantuan sebuah tongkat yang dipinjamkan Luna. Itu tongkat milik uwaknya yang pernah mengalami cedera kaki sebab jatuh dari pohon kelapa yang tinggi.


Sebab kamar yang kutempati posisinya hanya tersekat dinding dengan kamar sebelah, suara Luna bisa terdengar jelas olehku saat aku keluar dari kamar.


"Terima kasih," satu suara menyahut.


Sepertinya aku mengenal suara itu. Seperti suara gadis yang bertengkar dengan Oom Jaka kemarin. Gadis yang bernama Mentari.


Lagi-lagi, karena rasa penasaran yang tak pernah bisa kukendalikan, aku mengintip ke kamar sebelah. Benar, ada Mentari di sana. Gadis itu sedang bermuram durja, sementara Luna duduk di hadapannya. Untuk beberapa lamanya, tidak satu pun di antara mereka yang membuka mulut untuk bicara. Akhirnya Luna memecah kesunyian di ruang sederhana yang apik dan rapi itu. "Aku tahu hatimu masih terguncang hebat. Tidak mudah memang menghadapi kejadian seperti ini karena menyangkut jauh sampai ke bagian terdalam dari hatimu. Tapi ketahuilah, apa yang telah kamu lakukan adalah tindakan yang benar. Pemuda itu memang harus kamu jauhi. Bahkan harus kamu tinggalkan sebelum malapetaka menimpa dirimu lebih jauh. Aku akan membantumu jika terjadi apa-apa."


"Terima kasih, Luna. Kamu sangat baik hati. Tapi bagaimana kalau Kang Jaka dendam padaku dan melakukan sesuatu kepadaku?"


Luna tersenyum prihatin. Dipegangnya lengan Mentari dan ia berkata, "Kamu tidak usah khawatir. Aku sendiri yang akan menemui Kang Jaka."


"Apa yang akan kamu lakukan, Lun? Apa yang mau kamu katakan padanya?"


Luna yang cantik menyunggingkan senyum. "Kamu tidak usah khawatir, kamu tidak usah takut. Serahkan semuanya padaku. Pasti akan kuselesaikan demi untuk kebaikan dirimu. Aku akan bicara dengan Kang Jaka untuk tidak lagi mengganggumu. Jangan harap dia bisa pergi dari daerah ini kalau dia berani mencederaimu."


"Terima kasih, Luna. Terima kasih banyak."


Luna memeluk singkat gadis di hadapannya itu dan mengusap-usap punggungnya. "Aku akan pergi ke rumahnya sekarang juga. Kamu tetap di sini. Jangan ke mana-mana. Kamu boleh berada di kamarku sampai aku kembali."


"Terima kasih, Lun. Aku memang merasa aman berada di sini."


"Sebelum aku pergi, ada satu hal lagi yang perlu kukatakan padamu. Jika tidak kukatakan, rasanya akan menjadi ganjalan yang tidak enak."


"Kalau begitu tidak apa-apa, katakan saja, Lun. Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Mentari penuh harap.


"Menurut ceritamu, kamu meninggalkan Kang Jaka pergi bersama Kang Aji, naik motor berdua-duaan dan kamu memeluk pinggangnya."


Mentari membenarkan seraya menganggukkan kepala.


"Dengan caramu itu, kamu bermaksud hendak sekadar membalaskan sakit hatimu pada Kang Jaka. Mungkin juga hendak mengatakan bahwa bukan hanya Kang Jaka pria tampan yang ada di dunia ini. Tapi kamu lupa satu hal. Entah kamu sadari atau tidak, kamu seolah memberi harapan pada Kang Aji."


Mentari terdiam.


"Mungkin aku salah menduga. Tapi setahuku, sebelum Kang Jaka muncul di Rancabali, kamu pernah memperlihatkan sikap dan rasa tertarik pada Kang Aji. Sikapmu berubah begitu Kang Jaka datang."


Wajah Mentari bersemu merah. Gadis itu coba tertawa. "Lun, kamu memintaku melupakan pria itu. Aku telah melakukannya. Mengenai Kang Aji, bukankah dia juga telah terpikat pada gadis bernama Puspa Sari itu?"

__ADS_1


"Itu dulu. Bagaimana kalau dia tahu dan percaya atas apa yang telah dilakukan Kang Jaka dengan gadis bernama Puspa Sari? Dia pasti akan kecewa besar, mungkin marah, mungkin sakit hati, dan mungkin dia akan mengarahkan pilihannya padamu."


Tertunduk malu, Mentari berkata, "Terus terang aku tidak berpikir sampai ke sana, Lun. Aku tidak...."


"Berdoalah yang terbaik. Aku pergi dulu."


Ah, sial. Dengan kaki terkilir dan tongkat ini aku tak bisa lari dengan cepat. Daripada ketahuan, terpaksa aku tetap berdiri di sana dan berpura-pura sengaja menunggu Luna keluar dari kamar itu.


"Siti?"


Aku tersenyum. Pura-pura tenang meski hati sedikit resah. "Hai, maaf kalau membuatmu kaget. Aku sengaja menunggu kalian selesai mengobrol. Emm... aku ingin mandi. Boleh aku meminjam pakaianmu?"


"Oh, oke. Baiklah. Biar aku ambilkan. Kamu tunggulah di sini."


Aku mengangguk dan memutuskan untuk kembali dan menunggu di dalam kamar.


Tidak membutuhkan waktu lama, Luna sudah kembali dan membawakan pakaian ganti lengkap untukku.


"Kamu bisa mandi di kamar mandi belakang, ada handuknya di dalam, di belakang pintu. Dan, ya, aku ingin keluar sebentar. Aku akan cepat kembali dan membawakan makanan untukmu. Tidak apa-apa, kan? Aku tidak akan lama."


Aku mengangguk. "Tentu saja."


"Aku tahu."


"Dia akan di sini selama aku pergi."


"Em."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Baik-baik di sini. Hati-hati dengan pergelangan kakimu."


Luna tersenyum lalu meninggalkan tempat. Tidak lama setelah Luna pergi, aku pun bergegas ke kamar mandi. Menikmati segarnya air dingin mengguyur tubuhku. Menggunakan sampo dan sabun yang wangi. Dan, lumayan, aku bisa melupakan sejenak segala huru-hara yang sebenarnya memang bukanlah urusanku. Yang mesti kulakukan adalah menyembuhkan luka kakiku, mengambil barang-barangku, dan kabur dari daerah pedesaan ini.


Setelah menyelesaikan mandiku dan berganti pakaian baru, aku keluar dari kamar mandi.


Wenny?


Seorang gadis berdiri tegak di depan pintu kamar Luna dengan tatapan marah, membuatku kembali masuk dan bersembunyi di kamar mandi.


Wenny tidak boleh melihatku. Tidak ada seorang pun yang mengenaliku boleh tahu keberadaanku. Kalau tidak, Oom Jaka bisa mengetahui di mana keberadaanku. Siapa tahu kemarin dia tahu kalau akulah yang mengintip adegan panas yang ia lakukan bersama Cinta di rumahnya.

__ADS_1


"Wenny...?" Mentari menyebut nama gadis itu.


Aku pun membuka pintu kamar mandi dan mengintip. Mentari sudah keluar dari kamar itu. Berdiri berhadapan dengan Wenny.


"Kamu masih ingat namaku."


"Tentu saja, Wen."


"Apa kamu juga tahu siapa aku?"


"Maksudmu?" tanya Mentari. "Jelas aku tahu. Kita sudah saling mengenal sejak kecil."


"Jawabanmu tidak salah, tapi bukan itu yang kumaksud, Tari," kata Wenny sambil melayangkan senyum.


Senyumnya sinis? Apa yang dimaksud Wenny? batinku.


"Aku kurang paham maksudmu," ujar Mentari.


"Begitu?"


"Ya, aku--"


"Dengar baik-baik, Tari. Minggu lalu aku dan Aji sudah sah menjalin hubungan. Kami sekarang berpacaran. Sekarang kamu sudah paham maksud kedatanganku?"


Ugh! Kesalahpahaman!


Mentari menganggukkan kepala namun tetap nampak bertanya-tanya apa maksud Wenny dengan semua tanya dan ucapannya itu, atau tidak. Entahlah. Kalau aku jelas mengerti. Paham seratus persen.


"Maaf, Wenny, tapi aku...."


"Aku tidak buta, dan aku tidak tuli. Apa yang telah kamu lakukan terlihat jelas olehku!"


"Memangnya apa yang telah aku lakukan?" Mentari bertanya heran.


"Kamu lupa pada ucapanku tadi? Aku pacarnya Aji. Jangan ada perempuan lain yang berani mendekatinya, termasuk kamu! Gadis jalan*!


Ya ampun, apa aku harus melerai mereka, atau tetap bersembunyi? Tapi kalau kubiarkan... bisa habis Mentari di tangan Wenny, atau sebaliknya.


Bagaimana ini?

__ADS_1


__ADS_2