
Sial! Aku merutuk. Aku mengambil jurusan IPS dalam pendidikan SMA-ku. Aku tidak mengerti tentang ilmu Biologi. Bagaimana sekarang? Aku kebingungan sendiri: apa itu DNA? Kenapa tes DNA diperlukan dalam mengidentifikasi hubungan darah antara satu orang dengan orang lain? Apakah bisa tes DNA digunakan untuk mengidentifikasi antara keponakan dengan paman atau bibinya? Apakah DNA saudara kembar identik itu sama persis? Dan pertanyaan yang paling ingin kuketahui jawabannya adalah: apakah DNA dari bayi Jaka Prasetya akan memiliki kecocokan dengan DNA Jaka Pradana sehingga bisa menyatakan hubungan biologis sebagai ayah dan anak di antara keduanya?
Astaga...! Ketakutan itu membuatku frustrasi sehingga aku menghabiskan sepanjang siangku dengan mencari informasi dari internet. Tetapi, alih-alih mendapatkan jawaban yang memuaskan, aku malah mendapatkan teguran. Tanpa kusadari kapan datangnya, Ak Jaka sudah merebut ponsel dari tanganku.
"Apa maksudnya ini?" ketusnya seraya menatap dan membaca sekilas judul artikel yang kubaca.
Gawat, pikirku. Aku tidak pernah tahu, tepatnya belum tahu, bagaimana jika Ak Jaka marah atau merasa tersinggung? Bagaimana ia akan bersikap kepadaku saat ini? Susah payah aku menelan ludah, lalu berdeham. "Tidak ada, Ak," kataku. "Aku hanya takut... bagaimana kalau ada alasan takdir merenggutmu dariku. Itu saja."
Dengan sebal, Ak Jaka melempar ponselku ke sofa dan ia duduk. "Kamu pikir aku akan menikahi perempuan yang hamil oleh Prasetya, hmm? Begitu?"
Aku menggeleng. Berdusta.
"Jangan berbohong. Aku tahu isi kepalamu." Rahangnya mengeras. "Dengar aku, aku lebih baik mati daripada harus mengakui kesalahan yang sama sekali tidak aku perbuat. Terserah dunia mau bilang apa. Biar orang-orang mau mengancamku dengan cara apa pun, aku sama sekali tidak akan takut. Aku tidak bersalah!"
Ya ampun, dia terlihat agak mengerikan ketika marah. "Maaf, Ak. Aku sama sekali tidak bermaksud... membuatmu marah. Maafkan aku, aku mohon?"
Dia tidak menggubris, dan malahan keluar dari villa menuju halaman belakang. "Tolong buatkan aku jus," pintanya seraya melangkah.
Menyesal. Aku mengutuk keteledoranku yang kurang hati-hati. Sungguh aku tidak berniat membuat suamiku jadi kesal dan marah seperti itu. Aku hanya takut kalau ada kemungkinan: "suatu alasan" yang membuat Ak Jaka tersudut dan terpaksa bertanggung jawab atas kehamilan gadis yang dinodai oleh saudara kembarnya. Aku takut. Itu saja.
Kuhela napas dalam-dalam. Aku harus tenang, batinku. Dan aku harus memenangkan hatinya kembali.
Segera, aku beranjak ke dapur. Membuka lemari pendingin dan mengeluarkan buah melon dingin dan membuatkan jus untuk Ak Jaka.
Hanya dalam hitungan menit, jus melon itu siap dan aku segera membawanya ke halaman belakang. Ak Jaka tengah berenang saat itu.
"Bawa kemari," ketusnya ketika aku baru saja hendak menaruh gelas jus itu ke atas meja.
Aku mengangguk, menuruti permintaannya dalam diam, lalu berdiri di pinggir kolam sambil memegang gelas jus itu dengan kedua belah tangan seakan ingin mendekapnya ke dada.
"Duduk."
Eh?
"Duduk... Ak?"
Dia mengangguk. "Sini," katanya, masih dengan nada dinginnya dan seraya menunjuk tempat, memintaku untuk duduk di tepi kolam itu. Persis di hadapannya. Ada ponselnya dengan layar gelap tergeletak di sana.
__ADS_1
Aku menurut. Aku duduk di hadapannya dengan menekuk kaki, tapi itu tidak sesuai dengan yang Ak Jaka inginkan.
"Duduk yang benar. Masukkan kedua kakimu ke air."
Aduh! Dia pasti hendak berbuat sesuatu padaku.
Aku cemas. Begitu aku duduk dengan kedua kaki terendam di dalam air, Ak Jaka langsung mengambil posisi di antara kedua tungkaiku yang terbuka.
"Jusku, tolong."
Ya ampun, tolonglah jangan sedingin ini dan seketus ini. Hatiku meringis.
"Maaf?"
Aku tertegun. Aku hilang fokus saat Ak Jaka menenggak jusnya, lalu tiba-tiba kusadari ia mengatakan kata itu. "Maaf?"
"Aku tidak bermaksud marah, merasa kesal atau...." Dia menghela napas dalam-dalam. "Maafkan aku. Maaf?"
Oh Tuhan, aku terdiam. Gelisah. Dari ekspresi Ak Jaka dapat kurasakan bahwa ia menyimpan beban yang ia pendam sendiri. Tapi apa?
"Prasetya menghubungiku via email."
"Emm?" Sepertinya mataku nyaris melotot. "Apa pesannya?" tanyaku hati-hati.
"Baca ini." Ak Jaka meraih ponselnya dan menghadapkan layar ponsel itu kepadaku.
Bulan baru untuk babak yang baru. Kisah ini akan terus berlanjut. Akan lebih banyak cerita baru dan pasti akan lebih seru.
Praktis aku mengernyit, bingung.
"Hanya itu yang dia tulis." Ak Jaka mengedikkan bahu. "Dia memang tidak mengatakannya secara langsung. Tapi aku mengerti, dia ingin aku terjebak dalam perangkapnya. Dia ingin gadis-gadis itu menuntutku, bahkan mungkin dia ingin aku berakhir di penjara seperti yang dia alami. Dia ingin memulai babak kericuhan yang baru."
Entah kapan, tanganku yang tadi menyentuh wajahnya sekarang berpindah ke kepala, tepatnya mendarat di dahiku. "Babak yang baru? Ya Tuhan, aku tidak mengerti, kenapa dia sesakit hati itu padamu? Bukankah apa yang terjadi padanya itu adalah kesalahannya sendiri?"
"Ya." Ak Jaka melempar pandangan ke kejauhan. "Tapi yang membuatnya lebih sakit hati adalah, setelah dia masuk penjara, gadis yang dia inginkan justru menginginkan saudara kembarnya."
Hah?
__ADS_1
"Tidak rasional," geramku. "Dia tidak waras."
Sungguh aku geram. Terlebih, ingatan-ingatan sialan tentang bagaimana pria itu menyentuhku waktu itu kini berlomba-lomba muncul di dalam benakku. Membuatku kesal. Sialan!
"Memang dia tidak waras. Entah sudah berapa gadis yang menjadi korbannya dalam bulan kemarin."
Sesak. Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Tujuh," gumamku. "Mungkin hanya tujuh. Tapi itu untuk mendapatkan jimat keberuntungan. Dan kalau terus berlanjut, kurasa bukan lagi untuk jimat keberuntungan. Melainkan hanya untuk menciptakan kekacauan. Dan... bulan ini... mungkin akan lebih dari tujuh. Kalau dia sudah mendapatkan jimat keberuntungannya, ditambah lagi dengan batu pemikat jiwa itu...."
"Apa maksudmu? Bagaimana kamu bisa mengatakan semua itu? Kamu asal bicara atau...?"
Tenang, Wulan. Saatnya sekarang kamu bicara. Sekali lagi kuhela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Aku... maksudku... banyak yang kuketahui. Atau mungkin kamu yang pura-pura tidak tahu bagaimana tindak-tanduk saudara kembarmu dan apa tujuannya."
"Maksudmu? Kenapa kamu malah...?"
"Mungkin sebenarnya kamu tahu banyak. Hanya saja kamu tidak mau membahasnya denganku."
"Apa? Kok? Kenapa sekarang kamu malah menuduhku begitu?" Dia mengusap wajah karena gelisah. "Oke, oke, aku memang banyak mendengar informasi, tapi... aku sama sekali tidak tahu kebenarannya."
"Kebenarannya adalah saudara kembarmu itu berusaha mendapatkan jimat keberuntungan dari tujuh darah perawan yang... yang dia rasakan. Maksudku dengan ritual... menggauli tujuh orang gadis dan merenggut keperawanan mereka."
Ak Jaka menggeleng. Menentang kenyataan yang ia dengar dari mulutku. "Mustahil Prasetya percaya pada hal-hal semacam itu. Mustahil."
"Itu fakta. Aku mendengar sendiri dia bicara soal jimat keberuntungan. Sebenarnya aku tahu banyak hal. Aku melihat sendiri apa yang dia lakukan. Aku melihat dia... dia mencicipi darah perawan dari perempuan itu. Emm... dia... menjilatnya. Dia menjilat darah perawan itu dengan lidahnya, lalu... lalu dia mengambil... sehelai bulu... itu. Disimpannya di dalam dompet. Cinta cucunya Nek Aluh itu korbannya yang ke-empat. Waktu itu dia bergumam sendiri, dia butuh tiga perawan lagi."
Ak Jaka hanya membisu dengan mulut menganga.
"Dia memiliki sebuah batu bulat berwarna hitam mengkilat. Batu itu juga seperti jimat. Namanya Batu Pemikat Jiwa. Aku tidak tahu apakah batu itu benar-benar berkhasiat atau tidak. Kalau memang berkhasiat, mungkin batu itu yang membuat dia bisa dengan mudah memikat para gadis sehingga secara tidak sadar mereka menyerahkan keperawanan mereka. Jika pun batu itu tidak memiliki khasiat, tapi toh memang wajah kalian tampan, bukan? Apalagi orang-orang mengira kalau itu Jaka Pradana, tanpa hal-hal semacam itu pun, para gadis akan dengan sukarela menyerahkan diri mereka kepada pengusaha tampan yang kaya raya. Dengan sadar atau tidak, para gadis memang terpikat pada ketampanan wajah kalian. Bahkan gadis lesbia* pun terpikat karena kejantanan kalian."
Ups!
"Maksudku... pada kejantanan saudara kembarmu. Maaf...?"
Mulutku lepas kontrol.
"Jadi apa yang mesti kulakukan sekarang? Mengubah pencarian diam-diam ini dengan sayembara besar-besaran? Apa aku harus memasang wajahku sendiri dalam selebaran, surat kabar? menaruhnya di sosial media? Begitu? Sialan!"
Sungguh aku mengerti kegalauannya. Tetapi mau bagaimana lagi? Daripada semakin banyak korban berjatuhan. Pada akhirnya semua orang akan mengetahui wajah itu: wajah seorang penjahat kelamin.
__ADS_1