7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Dinner Romantis


__ADS_3

Ak Jaka memandangiku dari seberang meja yang diterangi lilin. Kami tengah makan malam romantis berdua, setidaknya itu yang coba dilakukan oleh Ak Jaka di halaman belakang villa mewah yang kami tempati: memberikan kejutan berupa makan malam romantis untukku dalam rangka mengukir momen indah di masa bulan madu kami sebagai pasangan pengantin baru.


"Kamu suka?" tanya Ak Jaka.


Aku memandang sekeliling. "Ini luar biasa," kataku seraya menatap ke langit yang bertabur bintang.


Dekorasinya sederhana dan anggun, dengan taplak meja linen putih, peralatan makan perak mengilap, pencahayaan lembut, dilengkapi bunga-bunga indah dan lampu warna-warni, dan irama lagu yang merdu melengkapi momen indah ini: lagu-lagu tentang cinta.


"Aku sangat suka. Terima kasih, Ak."


Tapi dia justru meminta maaf.


"Untuk apa?" tanyaku.


Seraya mengedarkan pandang ke sekeliling taman, ia berkata, "Untuk semua ini."


"Maksudnya?" kembali aku bertanya, tak sabar.


"Semua ini, tempatnya, suasananya."


"Aku tidak mengerti."


"Harusnya aku mengajakmu ke restoran mewah. Menyewa band sungguhan, dan--"


"Ak," selaku. "Tidak perlu. Jika pun iya, itu bisa diwujudkan suatu saat nanti. Tapi sekarang ini sudah sangat cukup. Aku suka." Kutatap matanya lekat-lekat untuk membuatnya yakin bahwa aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku.


Ak Jaka meraih tanganku dan mencengkeramnya lembut. "Terima kasih atas pengertianmu," ujarnya. "Aku harap kamu selalu sabar menghadapi... segala apa pun kondisi yang mesti kita hadapi. Yang seperti ini, yang selalu dalam pengawalan dan persembunyian."


Aku tersenyum, sebagaimana yang seharusnya. "Selalu. Seperti janjiku pada Aak. Aku janji aku akan selalu sabar dan selalu mengerti. Aku janji."


Yeah, seperti yang pernah kukatakan: selama Ak Jaka ingin menetap dan berusaha menemukan saudara kembarnya, maka selama itu juga aku rela jika mesti hidup dalam persembunyian demi menghindari kericuhan.


"Apa kamu masih curiga padaku?"

__ADS_1


"Emm?" Alisku terangkat.


"Maksudku...." Ak Jaka menarik tangannya dariku. "Tidak... emm... barangkali, di benakmu masih terpikirkan bahwa aku ini... tidak punya kembaran, atau... mungkin kamu berpikir bahwa semua itu hanya kebohongan, dan... mungkin kamu berpikir bahwa aku... bersembunyi untuk... menyembunyikan diriku sendiri. Atau apa pun kamu mengartikannya."


"Aku mengerti maksudmu, Ak." Kuraih kembali tangan Ak Jaka dan kubalas cengkeraman tangannya dengan lembut. "Aku percaya pada keluarga Aak. Aku percaya pada kesaksian Mang Zulfikar dan Bibi Fatma kalau kamu memang punya kembaran. Entah... kamu, sosok yang ada di hadapanku sekarang ini... sedang menipu kami semua atau tidak, tapi aku memutuskan untuk percaya kepadamu. Ada atau tidak kecurigaan itu di dalam benakku, dan apa pun kebenarannya, biar nanti waktu saja yang menjawab. Toh, kalau di benakku ada keraguan, itu bukanlah kehendakku, dan untuk menghapuskannya, itu sama sekali tidak dipaksakan, ya kan, Ak? Jadi biarlah. Kita jalani saja kebersamaan kita saat ini, karena aku merasa sangat dicintai olehmu, dan aku sangat mencintaimu. Selebihnya, biar Tuhan saja yang menentukan. Itu saja."


Dia mengangguk, dan matanya berkaca. "Jadi tidak usah dibahas?"


"Tentu saja, tidak usah dibahas. Tidak sekarang sampai semuanya terbukti," aku mengoreksi. "Omong-omong," --aku tersenyum-- "kupikir sebaiknya kita berdansa. Biasanya begitu pasangan merayakan momen penting mereka, ya kan?"


Dengan mengedikkan kedua bahu, Ak Jaka mengulurkan tangannya. "Sebenarnya aku tidak tahu dan tidak punya pengalaman, tapi jika itu yang Ratu-ku inginkan, maka akan kupenuhi semuanya. Mari."


Ah, pria-ku yang manis. "Terima kasih sudah menjadikan aku ratumu." Kusambut uluran tangannya dengan perasaan yang membuncah. Aku sangat bahagia.


Kami berdansa sampai empat lagu, dan aku tidak menginginkan hal itu berakhir. Dalam momen ini, aku teringat kenangan ayah dan ibuku. Meski hubungan mereka hanyalah hubungan gelap, sebuah perselingkuhan, tapi ayahku sangat mencintai ibuku. Begitu juga sebaliknya. Dalam setiap momen ulang tahun pernikahan mereka, kami akan merayakannya. Ayahku akan menyiapkan makan malam romantis untuk istri yang sangat ia cintai, mengajaknya berdansa, dan mereka akan menghabiskan sepanjang malam untuk bermesraan, dan bercinta di ranjang pengantin mereka. Sungguh, ayahku nyaris sempurna dalam mencintai ibuku. Nyaris. Dan kau pasti mengerti maksudku.


Mengingat momen kebahagiaan keluargaku dulu membuat mataku berkaca, dan aku tidak ingin telaga bening itu menjadi aliran anak sungai atau air terjun yang jatuh bebas hambatan. Tidak.


"Hanya kamu. Aku hanya merasa bahagia bersamamu," ia menjelaskan.


Dan aku tersentuh. "Aku juga. "Hanya kamu. Aku hanya merasa bahagia bersamamu."


Lalu kami berciuman. Sungguh menyenangkan. Seolah-olah ada lumeran cokelat yang begitu lezat di antara bibir kami sehingga membuat kami begitu lahap menghabiskannya. Tapi bagi Ak Jaka bibirku saja itu tidak cukup. Dia selalu mengarah ke leherku di setiap kali ada kesempatan.


Aku mengeran* kuat ketika daya isapnya begitu kuat di tengkuk leherku. "Oh, Tuhan, Ak...."


Tapi dia tidak mau berhenti.


"Oh, ayolah...."


Ak Jaka melepaskan taringnya dari leherku, lalu menengadah ke langit. "Aku tidak bisa mengendalikan diriku padamu."


Oh, manis sekali. Dia membuatku tersipu. "Aku tahu. Dan aku berharap kamu tidak akan pernah bosan." Aku menatap lekat kedua matanya ketika ia menunduk. "Lakukan ini, setiap hari. Tidak masalah dengan jejak yang kamu tinggalkan. Lakukan saja, sampai aku menjadi nenek-nenek dan kulitku jadi keriput. Sampai aku tidak menggairahkan lagi."

__ADS_1


"Ya, pasti. Dan coba bayangkan, usiaku lebih tua dua puluh tahun darimu. Kalau usia kita panjang, saat kulitmu keriput nanti, mungkin aku sudah tidak punya gigi. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan ini? Jadi... mumpung masih muda...."


Hah! Aku terbahak. Bisa-bisanya Ak Jaka menjadikan momen itu kesempatan untuk menyurukkan kembali wajahnya ke tengkuk leherku. Tapi aku tak akan pernah menghindar. Kubiarkan ia melampiaskan hasratnya kepadaku. Memuaskan sisi kanibal di dalam dirinya sebagai seorang pria dewasa untuk terus menyentuhku.


"Tapi tenang saja," bisik Ak Jaka kemudian. "Meski nanti di usia sembilan puluh tahun semua gigiku sudah tanggal, masih ada satu bagian yang...."


Aku terbelalak. "Ak!" lengkingku, lalu aku terbahak-bahak.


"Bayangkan saja," bisiknya.


"Ih, kamu!"


"Kenapa, Sayang?" Dia menyengir konyol.


"Sudah, dong, Ak! Geli, tahu!"


Masih dengan tawanya, Ak Jaka menggandengku kembali ke meja. Waktunya menikmati makan malam. Sajian seafood sudah tersedia di hadapan kami.


“Omong-omong, kasihan Teh Husna dan Kang Solihin tidak sekalian diajak ke sini,” ucapku yang sedang membantu mengupaskan kepiting untuk Ak Jaka.


Ak Jaka tersenyum. “Sayang, mereka juga tidak mau walau kita ajak. Beneran. Mereka tidak mau mengganggu kita. Kan mereka ingin segera memiliki keponakan,” ujar Ak Jaka, membuat wajahku merona.


Bagaimana mungkin tidak merona?


Ak Jaka menatap lembut diriku yang duduk di hadapannya. Tangannya meraih jemariku dan menciumnya dengan lembut.


"Semoga kita segera diberi keturunan, ya."


"Aamiin, Ak. Semoga."


"Aamiin. I love you. Papa sayang Mama."


Hah???

__ADS_1


__ADS_2