7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Tuntas!


__ADS_3

"Mari kita mulai babak berikutnya."


Hmm... dasar. Belum bias rona merah di wajahku, dia sudah kembali menggoda.


"Ayo," kembali Ak Jaka berbisik di telinga. "Ini akan menyenangkan."


Dengan kedua tangan Ak Jaka di sisi pinggangku, pinggulku praktis terangkat. Dengan segera pria itu memosisikan diri di pintu masuk rahimku, menunggu untuk terbenam seluruhnya. "Please...." Seraya menatap lekat kedua mataku, ia menarik turun pinggulku, dan...


Aaaaah... tak bisa kujabarkan bagaimana rasanya -- bagaimana nikmatnya -- ketika pinggulku turun dan kejantanan seorang pria yang berdiri tegak, begitu tegang dan keras, menghunjam, menancap ke dalam tubuhku. Rasanya... oh... luapan kenikmatan itu mencapai ke ubun-ubun.


Sungguh, nikmatnya luar biasa.


Untuk sesaat, kami berdua sama-sama terdiam. Merasakan -- tepatnya meresapi penyatuan yang begitu nikmat dan intim.


"Bagaimana rasanya?" tanyaku dalam bisikan begitu melihat wajah tampan di hadapanku menyeringai nikmat. Begitu meresapi. Dengan desisan, ia menggigit bibir dan mata sedikit menyipit.


Dan jawaban dari pertanyaan itu berupa cengkraman di dadaku. Membelai dan merema* dengan kuat. "Seperti ini," ujar Ak Jaka. "Nikmat, bukan? Hangat dan berdenyut. Seakan... kau... melakukan pijatan pada-ku."


Ih... dasar! Aku tersenyum, merasakan panas menjalari pipi.


"Sumpah demi Tuhan, Wulanku yang terbaik."


"Ah, berhentilah menggodaku, Ak."


"Tidak. Aku bukan menggoda."


"Lalu? Apa itu namanya?"


"Aku memujimu."


"O ya?"


"Ya." Lalu ia berbisik, "Kau begitu nikmat. Sempit. Menghimpit dan menjepit. Dan aku menyukai sensasi denyutan itu. Sungguh, ini belum apa-apa, Sayang, tapi reaksi yang kurasakan sudah senikmat ini. Bayangkan saja, bagaimana kalau kau mulai bergerak?"


Hah?


Lagi-lagi mataku nyaris melotot. "Aku?"


"Yeah. Kau."


"Tapi, Ak."


"Ssst...."


"Ak, aku...."

__ADS_1


"Wulanku pasti bisa. Ayo!"


Argh! Dasar!


Pria itu kembali menyengir konyol. "Ayolah, Sayang. Please...?"


"Aku...."


"Aku mohon?"


"Aku tidak bisa," rengekku dengan bibir mengerucut.


"Coba saja dulu. Mulailah bergerak." Ak Jaka mengulurkan tangan meraih bantal. Menumpuknya di belakang punggung lalu ia bersandar santai. "Mulailah."


Arrrrrrg... dia kembali menyengir konyol seperti lelaki sinting. Menyebalkan! Tak hentinya dia membuatku merona karena malu.


"Tapi aku tidak bisa, Ak," protesku, yang langsung disambut dengan hentakan kuat di kedua sisi bahuku hingga aku tertelungkup di atas dada bidang yang seksi itu.


Aku terkejut. Praktis kedua tanganku berpaut di pundak Ak Jaka.


"Ini waktunya memulai. Ayo...."


Dengan gerakan sedikit kasar, Ak Jaka mencengkeram helaian rambut di belakangku, mendekatkan wajahku kepadanya. Sementara tangan kanannya menahan di bagian belakang kepalaku, tangan kiri Ak Jaka menelusup menuruni pinggulku. Mengelusku hingga ke paha, lalu kami mulai berciuman.


"Biarkan aku bernapas dulu, Ak!" protesku seraya terbatuk-batuk.


Tapi Ak Jaka memang bermaksud menyiksaku dalam kenikmatan. Sedikit ngeri kurasakan ketika pria itu menatapku begitu lekat. Dan, seolah tanpa jeda, tangan kanan Ak Jaka yang menangkup belakang kepalaku, terlepas dan turun membelai tubuhku hingga ke paha -- persisnya tepat di *okongku -- yang kemudian tiba-tiba ia hentakkan kepadanya.


"Oh!"


Tuhan... apa yang baru saja terjadi? Nikmat sekali. Peraduan dua keintiman yang menyatu, katakanlah... tubrukan di antara keduanya, di mana ruang yang sempit itu terisi penuh dan teraduk-aduk. Aku ingin menjerit saking nikmatnya. Sungguh, tak bisa kujabarkan.


"Sumpah demi apa pun," bisik Ak Jaka di telinga, "ini luar biasa. Tidakkah kau ingin merasakannya lagi? Please, do... your... best...."


Dia kembali membimbing pinggulku untuk bergerak.


Yap, kau pasti tahu. Bukannya aku tidak bisa. Tapi aku malu. Gadis polos yang baru terenggut keperawanannya kemarin malam ini, diminta untuk... memimpin dalam momen bercinta ini?


Ah....


Tapi tetap saja mesti kulakukan, bukan?


Dengan malu, aku mulai menggerakkan pinggulku....


"Ya, Sayang, lakukan...," Ak Jaka meracau. Lalu mengeran* dalam. Keenakan. "Teruslah bergerak. Terus... akh!"

__ADS_1


Aku tersenyum. Namun terlalu malu untuk mengekpresikan diri dengan kata-kata seperti yang pria tampan itu lakukan. Tapi sungguh, ini nikmat sekali. Luar biasa. Oh Tuhan....


Napasku memburu. Terengah. Dengan mulut terbuka, merasakan sensasi nikmat, berdenyut, dan sedikit ngilu di dalam diriku. Aku terpekik, menjerit, merintih, mengeran* dan menggeram. Tanpa bisa kuhentikan, dengan sendirinya pinggulku bergerak cepat, lincah, dan liar di atas tubuh Ak Jaka. Dan di bawahku, pria itu terus mengeran*, memandangi tubuhku, dadaku, dan di pusat penyatuan kami dengan kabut penuh nafsu. Dan tanpa bisa dicegah pula, tangannya bergerak mencengkeram kuat di dada. Membuatku memekik lirih.


Yeah, untungnya kami berada di villa dan bukannya di rumah. Sehingga, kegaduhan kami di dalam ruang kamar ini tidak mengganggu siapa pun. Tak ada siapa pun yang dapat mencegah deru napas kami yang saling bersahutan, ataupun bunyi berkecipak dari kedua tubuh yang beradu, dan, juga lenguhan, *erangan, serta jeritan dan pekikan kenikmatan di antara kami. Semuanya bebas tanpa gangguan. Kecuali satu, aku kelelahan. Kurasakan pegal di sekitar pinggangku.


"Akh!" *esahku seraya berhenti dan menjatuhkan diri, menelungkup di atas tubuh telanjang suamiku. "Aku nyerah! Capek, Ak. Pegel...."


Dengan pengertiannya, Ak Jaka mendekap tubuhku. Dan tanpa melepaskan penyatuan kami, dengan lihai ia membalikkan posisi, membuat punggungku bersandar di tumpukan bantal sementara dirinya menumpuk tubuhku dari depan. Dengan posisi kedua pahaku di atas pahanya, tubuh kami menyatu dan menempel sempurna, lengket dan panas karena peluh.


"Dekap tubuhku erat-erat," pinta Ak Jaka. Dia menyalungkan kedua tanganku di lehernya, dan dengan kedua kakinya yang tertekuk di bawah pahaku serta kedua tangan menahan bobot tubuhnya di kedua sisi tubuhku, Ak Jaka mulai bergerak.


Ugh!


Ya Tuhan... praktis, aku kembali mengeran*.


"Lagi?" godanya.


Aku mengangguk, tersipu malu. "Yeah. Give me more...."


"Tentu saja. Lebih dari yang kau inginkan, Sayang. Are you ready?"


Dia tak menungguku untuk menjawab, langsung menyerang membabi buta. Membuatku terpekik. Menjerit. Mengeran*. Meledak-ledak dari dalam. Sungguh keperkasaan pria itu menghunjamku dengan telak.


Aku lemah dan tak berdaya. Tak mampu lagi bergelayut di lehernya. Terbaring, mencengkram seprai dengan kepala mendongak ke belakang.


Ak Jaka menggeram. Pinggangnya kian bergerak laju dan padu. Terus menerobos untuk menaklukkan diri. Pantang menyerah dan tak kenal lelah.


Sampai tiba waktunya....


Ak Jaka sampai di ujung pertahanan.


"Ya Tuhan...!" ia menggeram.


Rahang menggertak. Gigi bergemeletuk. Wajah mengeras. Dan Ak Jaka menuntaskan semua dalam satu hunjaman keras.


Dalam.


Kuat.


Cepat.


"Akh!"


Bersamaan, kami mengeran* kuat. Dan seraya menggigit pundakku, Ak Jaka menumpahkan benih cintanya ke rahimku. Tuntas. Hingga denyutan terakhir....

__ADS_1


__ADS_2