
Aku baru saja bangkit dan hendak menurunkan kedua kaki dari tempat tidur, tetapi dengan sigapnya Ak Jaka sudah lebih dulu berdiri di sisiku dan meraihku ke dalam gendongannya. Yeah, beruntung sekali diriku. Dengan bersuamikan seorang pria baik seperti Ak Jaka, Tuhan mengizinkan aku merasakan indahnya momen awal pernikahan. Jika suamiku adalah pria lain, belum tentu pria itu akan memperlakukan pengantin baru ini semanis perlakuan Ak Jaka terhadapku.
"Tunggu di sini," ujarnya seraya mendudukkan aku di counter wastafel, lalu ia beranjak ke bathtub, mengisi bak mandi itu dengan air hangat.
Meninggalkan air yang mengucur memenuhi bak, Ak Jaka kembali kepadaku. Berdiri tepat di hadapanku. Di antara kedua tungkai kakiku dan dengan santainya ia meraih tangan kananku dan...
Apa yang mesti kukatakan? Ia membuat tanganku menyentuh dirinya. Lambang keperkasaannya sebagai seorang lelaki.
Praktis aku menundukkan kepala, sedikit malu mengetahui tanganku menyentuhnya di bagian itu.
“Jangan menundukkan kepalamu, Sayang,” ucap pria itu sembari meraih daguku, mengangkatnya agar aku kembali menatapnya. “Kamu tidak perlu malu padaku karena kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah menjadi istriku. Seorang perempuan yang sudah dewasa.”
Oh, dengan kurang ajarnya, pipiku malah kian merona mendengar ucapan Ak Jaka. “Jangan menggodaku, Ak!” Aku berusaha keras menyembunyikan senyuman konyol di wajahku.
Ak Jaka menaikkan satu alisnya. “Aku sedang tidak menggodamu, Sayang." Dia menangkup tengkuk leherku dengan tangan kirinya. "Aku hanya mengatakan tentang kebenaran." Tangan kanannya membelai ke pinggul. "Kamu memang sudah menjadi seorang istri. Di momen-momen tertentu, kamu boleh bersikap manja layaknya anak kecil. Tapi dalam momen seperti ini, kamu adalah perempuan dewasa.” Ak Jaka mengelus pipiku yang merona dengan ibu jarinya sementara matanya tidak pernah lepas dari mataku. “Dan perempuan dewasa yang sangat cantik ini adalah milikku," sambungnya menyatakan kepemilikannya terhadapku, lalu tangannya menuruni pahaku, membelai ke bagian dalam.
"Ak," kataku, belaian itu membuatku melenguh.
Ia menyatukan keningnya di keningku. “Aku mau sekarang, ya?" pintanya setengah berbisik. Sementara kedua tangannya sudah bertengger manis di atas pahaku yang terbuka.
Aku mengalungkan kedua tangan di lehernya. “Aku adalah milikmu, dan sudah menjadi hakmu untuk meminta apa pun, kapan pun,” ucapku dan itu membuat sebuah perasaan membuncah seakan mau meledak di dalam hatinya. Dia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Pria dewasa itu menyukai saat aku mengatakan bahwa dia berhak atas diriku.
Mau bagaimana lagi? Di usia terlalu matang ini, ia baru mencicipi nikmatnya bercinta. Jadi dia begitu kecanduan merasakannya hingga mau lagi dan lagi. Terus dan terus.
Dengan gerakan cepat, Ak Jaka meraup bibirku dengan bibirnya. Menyecap, mengisap, dan *elumat, seolah tidak akan ada waktu lagi untuk ia melakukannya. Sementara salah satu tangannya turun kembali dan menyelinap ke bagian dalam pahaku. Membuatku bergidik. "Ak," sengalku.
"Apa, Sayang?" tanyanya, begitu iseng. "Katakan, ada apa? Hmm?"
Aku menggeleng. Pertanyaan yang iseng itu membuatku langsung mengalihkan pandangan dengan pipi yang sudah merona menjadi-jadi. Tetapi, hal itu malah membuat Ak Jaka tidak bisa menahan seringaian nakalnya melihat wajahku yang memerah karena dirinya.
Pria itu menggerakkan tangannya dengan nakal. Menggoda. “Kamu tahu, Sayang, aku suka sekali melihat wajahmu yang merona seperti ini. Terlihat manis dan menggairahkan, membuatku tidak tahan untuk segera *elumatmu,” ucapnya dengan seringaian menggodanya yang tidak pernah hilang dari wajahnya, membuat wajahku semakin memerah mendengar ucapannya yang terdengar vulgar di telinga.
__ADS_1
“Ak, berhenti menggodaku!”
Aku berusaha memasang wajah galak tapi itu justru membuat Ak Jaka tertawa. “Kamu manis sekali. Menggemaskan!"
Aku mendengus pelan. “Dasar gombal! Geli, tahu, Ak!"
"O ya?" Ak Jaka menyipitkan matanya. “Menggelikan? Benarkah? Hmm?”
Aku menelan ludah dengan gugup mendengar nada suara Ak Jaka yang terdengar berbeda. Oh, Tuhan! Kurasa aku sudah salah bicara. Dia akan semakin iseng menggodaku!
“Baiklah, Gadis Kecil, aku akan menunjukkan padamu, apa itu maksud dari kata menggelikan.”
Oh Tuhan! Belum sempat aku membalas ucapan Ak Jaka, pria itu sudah membungkam mulutku dengan ciuman menuntutnya. Ia meraih kedua tanganku, lalu menahannya dengan satu tangannya di belakang punggungku, tidak membiarkanku untuk mendapatkan kebebasan.
Sementara tangannya yang bebas bergerak, membuka interval kakiku lebar-lebar. Aku cemas. Ciuman Ak Jaka semakin turun melewati leher hingga berhenti tepat di depan dadaku.
“Ah…!" *esahan seksi itu lolos begitu aku merasakan mulut panas pria dewasa itu mengulu* puncak dadaku, bahkan pria tampan itu sesekali memberikan gigitan kecil lalu membelai dengan lidah panasnya sebelum kembali *engisapnya dengan keras. Aku ingin sekali menjambak rambutnya untuk melampiaskan sensasi yang ia berikan pada dadaku yang terasa sangat sensitif, tapi sayangnya itu tidak bisa, karena kedua tanganku berada di dalam genggaman tangannya dan itu membuatku frustrasi.
"Ak...," rintihku, merasa geli dan ngilu.
Kelakuannya malah semakin menjadi-jadi. "Bilang ampun, Sayang," bisiknya, tanpa menggeserkan kepalanya.
Serius, ini menggelikan. Dalam arti kiasan sekaligus dalam arti yang sebenarnya.
Aku menatap Ak Jaka takut-takut sekaligus malu karena posisi Ak Jaka yang nampak fokus memandangi bagian itu.
"Ampun, Ak," rengekku. "Aku malu."
Aku ingin menurunkan kakiku tapi langsung ditahan olehnya. Pria itu menatap mataku dengan tatapan memperingatkan, lalu kembali memusatkan perhatiannya. “Indah,” ia bergumam dengan suaranya yang terdengar serak.
Dan apa yang pria itu lakukan setelahnya membuatku mengeran* dengan keras. Tubuhku bersandar pada cermin di belakangku dengan kepala mendongak ke atas. Seolah-olah diriku tersedot ke dalam rongga mulutnya.
__ADS_1
"Sssh...," aku mendesis. "Ampun, Ak. Aku... aku tidak... tahan."
Butuh beberapa detik lagi sampai akhirnya ia melepaskanku. Lalu ia tersenyum puas saat melihat wajahku yang tersiksa. "Lagi, ya."
"Oh!" aku tersentak. “Ya ampun, Ak! Oh! Ak! Kumohon!” jeritku di sela-sela suara *esahan yang memenuhi kamar mandi di villa itu.
Ak Jaka benar-benar membuatku gila. “Mohon apa, Sayang?”
"Mohon berhen...ti. Aku... aku... ter...sik...sa."
Oh Tuhan... sungguh ini terlampau nikmat, hingga aku tak mampu menanggungnya. Mulutku ingin meminta agar Ak Jaka berhenti, tapi tubuhku justru menginginkan lebih. Pikiranku benar-benar kosong.
“Itu hukuman untukmu karena kamu berani meledekku walau tidak sengaja,” ujar Ak Jaka tanpa merasa bersalah sedikit pun sementara aku hanya bisa merengut.
Menyebalkan!
Ak Jaka hanya tersenyum mendengar umpatanku. “Kamu terlihat semakin cantik saat merasa kesal.” Pria itu kembali memagut bibirku, menyesap bibir bagian bawahku dengan gerakan sensual. Lalu menggigitku, membuatku mengeran* pelan dan hal itu dimanfaatkannya untuk menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulutku, mengajak lidahku untuk beradu. Sementara di bawah sana, ia mengarahkan pusat gairahnya kepadaku.
“Eummmmm.…” Aku melepaskan tautan bibir kami begitu merasakan kejantanan pria itu yang menyelinap ke dalam tubuhku. Aku mencengkram pundaknya kuat-kuat.
Ak Jaka menggeram pelan, merasakan bagaimana kehangatan dari dalam tubuhku membuainya dengan nikmat. "Aku suka ini," bisiknya seraya menarik diri lalu kembali mendorong dengan sekali hentakan keras hingga seluruh dirinya terbenam sempurna kepadaku. "Kurasa kita harus sering-sering menyepi." Ia kembali menarik diri. "Setidaknya sebulan sekali. Bagaimana, Sayang?"
“Ah!"
Hunjamannya membuatku memekik. Ia tepat mengenai titik sensitif tubuhku.
“Berteriaklah sesukamu. Lampiaskan saja.” Ak Jaka kembali memposisikan dirinya dengan benar lalu menghunjam lagi di titik sensitif itu berulang kali, mau tak mau, tanpa bisa kutahan, ia membuatku terus *endesah dengan meneriakkan namanya. "Oh,Tuhan...!" ia menggeram. “Ini nikmat sekali, Sayang."
Tak hentinya meracau, suara kami dengan napas tersengal saling bersahut memenuhi ruang kamar mandi. Tentu saja, Ak Jaka benar. Kami mesti sering menyepi. Aku teramat suka akan nikmatnya bercinta dengan berbagai gaya yang bervariasi. Ini sangat nikmat dan menyenangkan!
"Ugh!"
__ADS_1
Luar biasa....