
Seraya tersenyum malu-malu, aku dan Ak Jaka mengabaikan godaan Kang Solihin dan Teh Husna, kami masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Kusampirkan handukku ke tempatnya kembali, di sudut ruangan, sementara di sisi lain, Ak Jaka langsung meraih ponselnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.
Untuk sesaat, sambil duduk di sisi Ak Jaka, aku membiarkan mataku melayang di sepanjang dinding, yang digantungi dengan perpaduan helaian kain putih dan cokelat muda yang elegan. Karpet aubusson yang tebal di tenun dengan nuansa warna yang senada dan diberi aksen cokelat kemerahan yang hangat. Langit-langit tampak tinggi dan dihias indah dalam helaian kain yang senada dan berbagai hiasan bunga. Mengagumkan.
"Mau kembali tidur?" tanya Ak Jaka seraya mengulurkan tangan untuk menaruh ponselnya kembali ke atas nakas.
Aku mengedikkan bahu. "Terserah Aak saja. Aku menurut. Kalau mau langsung tidur, tidak apa-apa."
"Begitu?" katanya. Dia tersenyum simpul seolah mengerti dengan apa yang ada di dalam benakku, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke sisi tempat tidurku. Menghampiriku. Dan kemudian, seakan telah membulatkan pikiran tentang sesuatu, ia bergerak cepat dengan penuh tekad, menangkap tanganku dan menarikku ke dirinya dalam gerakan yang begitu cepat dan luwes sehingga membuat napasku terhenti.
Mulut Ak Jaka turun menutupiku dalam ciuman yang kaya oleh berbagai kemungkinan. Dengan sensual bibirnya bertemu dengan bibirku, *engulumku dan meluncur keluar masuk dengan pelan dan malas, seakan ia bermaksud menghabiskan waktu semalaman untuk ciuman ini. Seketika itu, aku memutuskan bahwa aku tidak keberatan jika ia melakukannya. Jantungku mulai berdentam-dentam dan suatu kebutuhan mendasar yang ganas bangkit di dalam diriku saat aku menempelkan tubuhku di tubuhnya.
Bibir Ak Jaka sempurna, hangat dan manis. Ak Jaka menyapukan mulutnya kembali kepadaku, menggigit ringan, mengisap lembut, dan menggesek kulitku dengan bulu-bulu kasar yang baru tumbuh di rahangnya. Hidungku mengembang, menghirup aroma musk hangat di tubuh pria gagah itu. Sebagai seorang pria ia bertubuh lebih tinggi dariku, apalagi tanpa alas kaki, aku mesti berjinjit untuk bersentuhan dengannya.
Ak Jaka menciumku sepenuhnya, membuka mulut di atasku, menggoda bibir bawahku, kemudian meliukkan lidahnya masuk ke dalam, menyelidiki, merasakan, dan menyentuh jiwaku.
Namun itu masih belum cukup. Aku membiarkan tanganku meluncur turun dari bahu ke pinggangnya, lalu menuju kancing-kancing piyamanya. Aku merasa Ak Jaka bergidik di bawah sentuhanku saat aku melepaskan kancing pertama, dan saat itu juga Ak Jaka sedikit menjauhkan diri tanpa benar-benar mengangkat bibirnya dari bibirku.
"Malam pengantin belum usai," gumamnya di mulutku. "Sekali lagi, Sayang."
Aku mengangguk. "Tentu. Aku milikmu."
Piyama itu meluncur jatuh ke karpet di kaki Ak Jaka.
Aku berjinjit untuk menciumnya dengan ringan. "Dan sekarang," renungku, menurunkan pandanganku, "giliran bawahannya kurasa." Dengan cepat aku menurunkan celana itu dan membiarkannnya terjatuh.
Ak Jaka menaikkan sebelah alis. "Well, bertindaklah sesukamu terhadapku."
__ADS_1
Semakin berani, aku berlutut dan menarik lepas apa yang tersisa dan melemparkannya ke lantai. Lalu, aku bangkit berdiri dan mundur dua langkah, mengamati pria itu yang berdiri tegap dengan kepolosannya, kecuali di bagian itu yang sama sekali tak polos. Aku mengulum senyum.
Dengan pasif, Ak Jaka mengangkat tangannya, mulutnya melengkung membentuk seringai miring yang khas. "Kamu tidak sabaran," komentarnya.
Tapi aku nyaris tidak mendengar, di saat bersamaan aku maju dua langkah dan menyelipkan tanganku, menyusurkan telapak tanganku di sekitar pinggang lalu naik ke bagian atas tubuhnya, membelitkan jemariku pada rambut-rambut halus yang menutupi dadanya. Aku bisa merasakan panas tubuh Ak Jaka dan kekuatan yang meluap dalam dirinya, dan itu membuatku nyeri oleh kerinduan yang asing dan baru.
Aku tahu Ak Jaka juga merasakannya. Dengan sentuhanku, pria itu berdeham, suaranya tersiksa yang manis dan dalam. Merasa semakin berani, aku menemukan dua titik sensitif di dadanya, keras dan tegang di bawah ujung jariku. Untuk sesaat, kubiarkan tanganku menggoda dan bermain-main dengan tidak yakin, lalu dengan berani aku menggerakkan tangan dengan sensual ke atas dada Ak Jaka. Dengan suara parau, Ak Jaka menanggalkan piyamaku.
Saat itu juga, aku menyuruk ke lehernya, menempelkan bibirku, dan mengisap lembut kulit putih itu, ingin tahu bila hal itu bisa memuaskannya.
Itu benar. "Ah, Sayang!" ia tercekat.
Aku memperkuat dan memperdalam *sapanku, dan jemari pria itu mencengkeram bahuku, menekan ke dalam kulitku. Kembali, pria itu mengeran* lapar, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin menyiksanya. Sebagaimana ia telah menyiksa diriku.
Seolah ditarik oleh kekuatan yang tak bisa ditahan, jemariku menelusur ke bawah dan menggenggam dirinya. Hasratnya yang kembali bangkit. Lurus, kuat, dan berdenyut. Praktis aku berlutut.
Tapi dia tidak bergerak untuk menghentikanku.
Aku menariknya dalam-dalam di kehangatan mulutku. Untuk menyeimbangkan diri, aku menyelipkan satu tangan di sekitar kakinya yang jenjang. Itu tampak benar-benar alami. Aku merasa kuat. Feminin.
Mulutku bergerak di tubuh Ak Jaka, mula-mula dengan canggung, lalu lebih yakin, saat irama belaian itu terbangun.
Masih mencengkeram belakang kepalaku, Ak Jaka membiarkan tangan satunya mencengkeram bahuku, jemarinya, mengencang tak beraturan di kulitku. "Oh, Sayang, Wulan, ampun," ia berbisik, kata-katanya tercekik. Pahanya mengencang, pinggulnya menyentak malu dengan mendesak.
Tiba-tiba, jemari yang sebelumnya hanya mencengkeram helaian rambut di kepalaku, tiba-tiba mengepal lebih kuat di kulit kepalaku.
"Hentikan!" dengan serak dan kasar ia berbicara. "Oh, Tuhan, hentikan...!"
__ADS_1
Aku menengadah untuk melihat kepala Ak Jaka tersentak ke belakang, mulutnya membuka dalam jeritan tercekat tanpa suara. Dalam satu gerakan menuntut yang cepat, Ak Jaka mengangkatku naik dan mendekapku. Dengan canggung, melemparkan diri kami ke atas tempat tidur, ke ranjang pengantin kami.
Dan kemudian, aku tak pernah mengingat dengan pasti bagaimana persisnya, Ak Jaka, dengan mendesak dan tanpa bicara, mengangkat kakiku dan menekuk lututku, membuka bagi dirinya. Kebutuhan yang mendasar dan tanpa ampun, ketidaksabarannya tampak nyata. Dengan geraman jantan primitif, Ak Jaka merentangkan bagian itu dengan jemarinya. Merasai sentuhannya aku bergidik, membuka diri bagi pria itu. Mata Ak Jaka menyala liar. Dan...
"Akh!"
Sakiiiiiiiiiit...! Gila! Dia sungguh dia! Tanpa ba bi bu, Ak Jaka memasukiku dalam satu sentakan keras, dengan kasar mendesakkan tubuhnya ke dalam, menumpukkan tubuh di atasku dengan satu tangan. Otot lengan dan lehernya mengencang saat dia menghunjamkan dirinya ke dalamku bagaikan pria kerasukan.
Sakit, Ak....
Aku ingin menjerit, ingin mengeluh, tapi tak kulakukan.
Kemudian, mata Ak Jaka terpejam rapat. Kepalanya menengadah, tersentak berulang kali. "Ah, Sayang... Wulan... oh...! Emmmmmmm... ya Tuhan...!" suaranya parau. Dengan berapi-api ia menghunjamkan dirinya kepadaku.
Ya Tuhan... aku bertahan sekuat tenaga. "Mas... please, Mas...."
Sesuatu kembali tumpah dari dalam diriku. Kehangatan itu kembali menjalar, menghangatkan kami berdua.
Dan setelah itu, Ak Jaka kembali berpacu...
Uh! Benar-benar tangguh!
Luar biasa!
"Aaaaaaaaaah...!" *rangnya kemudian, Ak Jaka mendesakkan dirinya untuk terakhir kali, lalu roboh terkulai, gemetar di tubuhku.
Sungguh, ini malam pengantin yang teramat manis.
__ADS_1