7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Ketakutanku


__ADS_3

Setelah kelelahan, lengket oleh peluh, aku dan Ak Jaka menghabiskan waktu untuk beristirahat sebentar. Dalam momen hangat itu aku tersenyum, aku merasa puas pada kegilaan yang baru saja kami lakukan. Saat itu aku bisa melupakan segala hal dan fokus pada hasrat dan gairah kami saja, yang kami lampiaskan dengan begitu liarnya. Namun, pada akhirnya, menjelang kami keluar dari rumah, keresahan dan kegelisahan itu kembali hadir melingkupi jiwaku yang seakan begitu rapuh. Aku kembali merasa ketakutan.


Sambil tersenyum semringah, Ak Jaka menawarkan lengannya untuk kugandeng saat kami baru saja berpamitan pada Teh Husna dan Kang Solihin. Kebetulan siang itu Mang Zulfikar dan Bi Fatma sedang tidak berada di rumah karena ada urusan lain.


"Hei, kalian berdua," kata Ak Jaka pada Kang Solihin dan Teh Husna yang mengantar kami ke depan pintu. "Pergilah ke kamar kalian untuk bersenang-senang. Mumpung sedang berduaan saja, bukan?"


Aku mengangguk kepada mereka, lebih tepatnya berusaha menunjukkan kondisi diriku bahwa aku baik-baik saja. Seakan-akan segalanya normal. Padahal tidak. Keadaan yang sebenarnya justru berbanding terbalik. Aku begitu ketakutan. Sebab, meski Nek Aluh sudah diringkus oleh polisi, masih ada beberapa keluarga gadis lain yang mungkin akan datang untuk melabrak Ak Jaka. Yang ingin menyerang dan melenyapkannya seperti yang ingin dilakukan oleh Nek Aluh. Ya, barangkali tumbalnya sudah tercukupi, tujuh darah perawan, yang berarti ada tujuh keluarga yang akan mengancam keselamatan Ak Jaka.


Oh, Tuhan, tolong jaga kami. Jangan biarkan terjadi hal buruk kepada kami. Tolong biarkan kami bahagia, Tuhan. Tolong....


"Ayo, Sayang." Ak Jaka tersenyum kepadaku. Dan kami pun pergi.


Diiringi oleh beberapa orang pengawal bersenjata, kami melangkahkan kaki menyusuri jalan masuk menuju mobil putih yang tengah menunggu saat Kang Solihin dan Teh Husna melambaikan tangan sambil tersenyum. Tepat saat pintu mobil tertutup, mataku terpejam. Kurasakan ketakutanku semakin menguasai pikiranku. Aku merasa resah dan gelisah luar biasa.


Sesuatu yang lembap membasahi pipiku, dan aku menyekanya. Kuamati ujung jariku, dan menyadari itu air mata. Cepat-cepat kuusap sudut-sudut mata, dan menyuruh diri sendiri agar tetap tenang. Aku akan kembali beberapa saat lagi dan semuanya akan baik-baik saja. Hatiku akan kembali tenang. Mungkin hanya satu jam, bahkan mungkin kurang dari itu. Santai saja dan tenanglah.


Tapi hatiku masih terasa resah dan gelisah ketika kami melaju pergi.


Dalam perjalanan ke tempat pemakaman umum itu, Ak Jaka terus menggenggam tanganku. Tak sedikit pun ia melepaskan tangannya dariku. Namun hanya itu, selain menggenggam tanganku dan beberapa kali tersenyum penuh simpati, Ak Jaka tidak melakukan apa pun atau mengatakan apa pun. Juga diriku, aku tidak mengatakan apa pun. Memangnya apa lagi yang mesti dikatakan? Ungkapan-ungkapan penghibur seakan tak berguna untuk saat ini. Ketenangan itu akan kembali nanti saat kami sudah pulang dari pemakaman.


Sesampainya kami ke tempat tujuan, kami melangkah dengan hati-hati. Makam ibuku dan makam nenekku berada satu area dengan makam keluarga Ak Jaka. Sebab atas izin Ak Jaka-lah, dulu, jenazah ibuku dan jenazah nenekku diizinkan untuk dimakamkan di area pemakaman keluarganya. Meski pada saat nenekku meninggal Ak Jaka tidak bisa datang untuk melayat, ia tetap menghubungiku untuk mengatakan bahwa aku boleh memakamkan nenekku di dekat makam ibuku, di pemakaman keluarganya.


Jarak dari kami memarkir mobil ke area makam yang kami tuju hanya sekitar satu kaki jauhnya, dan sensasi kecemasan menguasai diriku saat aku semakin dekat. Ini di luar. Sangat berbahaya. Dan kami tidak boleh lama-lama berada di sini, batinku. Perlahan-lahan aku menapaki batu nisan pemakaman itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Ak Jaka kepada semua makhluk yang sekiranya berada di sekitar kami, termasuk yang mungkin masih berada di alam kubur.


Aku tersenyum. Kubersihkan daun-daun mati dari batu nisan, yang sekiranya terjangkau oleh tanganku. Setelah itu, aku pun menaburkan bunga di setiap makam. Selain makam ibunya Ak Jaka dan makam neneknya, di tempat ini juga ada makam kakeknya Ak Jaka, nenek buyut dan kakek buyutnya pun di makamkan di sini. Sayang, pikirku, kakekku tidak sekalian dimakamkan di sini dan malah dimakamkan jauh di Subang sana atas permintaan keluarga dari pihak kakekku. Dan, makam ayahku berada di negeri tetangga.

__ADS_1


"Doa dulu, yuk?" ajak Ak Jaka.


Segera aku menurut, mengangkat kedua belah tangan selayaknya orang berdoa dan menundukkan kepala.


Persis di saat itu, sensasi menyengat yang aneh menjalari bagian belakang kulit kepalaku, dan aku mendongak. Di sisi seberang pemakaman, ada seorang pria berusia cukup tua dengan setelan serba hitam sedang mengamati kami. Janggut hitamnya yang menjuntai panjang dan soror matanya yang tak biasa membuatku bergidik ngeri.


Aku menyipitkan mata, balas menatapnya, yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Ia tampak tidak asing.


Tapi aku tidak bisa mengingat siapa dirinya.


Pria tua itu, dengan wajah menyeringai marah, menempelkan ponselnya di telinga, namun seseorang yang coba ia hubungi tidak menjawab teleponnya. Dia mengepalkan tangan dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jubah hitamnya.


"Ak," kataku seraya menjulurkan tangan menyentuh -- nyaris menyentak -- lengan Ak Jaka. Tapi ketika aku mendongak lagi, pria tua tadi sudah tidak terlihat.


Sebelah alis Ak Jaka terangkat, dia menatapku keheranan. "Ada apa, Sayang?"


Aku menggeleng, lalu mengangguk. Merasa cemas. "Tadi ada seseorang berdiri di sana," kataku seraya menunjuk tempat pria tua tadi berdiri.


"Tadi ada!"


"Lalu? Menghilang begitu saja?"


"Tidak tahu. Tapi tadi ada."


"Mungkin kamu hanya salah lihat."


"Apa?" Sontak aku berdiri.

__ADS_1


"Sayang, rileks." Ak Jaka ikut berdiri.


"Kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu...."


"Aku tidak salah lihat!"


"Iya, iya, oke," katanya bermaksud menenangkan.


"Tidak," kataku. "Aku tahu, kamu mengira bahwa aku ini berhalusinasi, ya kan? Karena kecemasanku ini kamu merasa kalau aku ini tidak waras? Begitu, Ak?"


Ak Jaka terkejut mendengar tudinganku. Dia menggeleng namun tetap kesulitan membela diri. "Bukan begitu maksudku. Kamu jangan salah paham."


"Lalu apa?"


"Sayang...."


"Kamu pikir aku salah lihat, kan?"


"Iya, tapi...."


"Tapi apa? Apa maksudnya salah lihat?"


"Ya... salah lihat. Itu, maksudku...." Dia kebingungan sendiri menjelaskan maksudnya.


"Itu!" tukasku. "Salah lihat! Halusinasi! Permainan pikiran! Yang kulihat sekadar bayangan yang tidak nyata! Pikiranku terganggu! Aku tidak waras! Begitu, kan?"

__ADS_1


Di sana, di hadapanku, Ak Jaka berdiri kaku. Tercengang. Terpaku dan membisu menatapku. Untuk sesaat, seketika suasana jadi hening sebelum akhirnya Ak Jaka memelukku. "Maafkan aku, ya?" pintanya. "Aku salah. Aku, aku yang bersalah. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku janji. Kita pulang sekarang. Ayo."


Semudah itu???


__ADS_2