7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Hati Yang Hancur


__ADS_3

"Mentari! Ini pria yang barusan kita bicarakan! Yang membuatmu menangis, dan merenggut keperawanan banyak gadis!" kata Juwita berapi-api, sementara Jelita cepat menjauh, barangkali merasa khawatir pria itu akan merampas batu hitam yang dipegangnya.


Pria itu, yang wajahnya sangat kukenali, melirik ke kiri di mana Mentari berdiri di sana. Dia hendak melayangkan senyum pada gadis itu namun batal ketika Mentari menunjukkan wajah kaku malah kemudian membuang muka darinya.


"Kalian membicarakan apa mengenai aku?"


Kedua gadis pirang itu tidak segera menjawab tapi malah tertawa cekikikan.


"Gadis-gadis aneh! Ada apa? Kenapa kalian tertawa? Cepat, kembalikan batu hitam itu padaku!"


"Anda sungguh mau tahu apa yang barusan kami bicarakan?" Juwita berkata seraya tersenyum-senyum.


"Katakan saja, Gadis Sinting! Aku ingin tahu, apa yang kalian bertiga bicarakan tentangku. Dan jangan bertele-tele!"


"Hei, memangnya Anda tidak malu jika kami mengatakannya secara terang-terangan?" Jelita berkata.


"Kami melihat Anda dan gadis cantik bernama Puspa Sari berbugi*-bugi* di dalam gubuk tua!" tandas Juwita.


"Gadis kurang ajar! Jangan kalian berani mefitnahku!" teriak Oom Jaka. Dia marah, dan melayangkan tatapan membunuh.


"Memang benar. Ini bukan fitnah. Itulah kenyataannya. Kalian berzinah di dalam gubuk tua. Anda juga melakukannya dengan gadis bernama Arumi, dan tiga hari lalu dengan Mentari di saung sana. Benar, kan?"


Amarah Oom Jaka tidak terkendalikan lagi. Wajahnya mengelam. Telinganya seperti dipanggang. Sekali lompat saja, dia melayangkan satu tamparan ke wajah Juwita.


Aku tidak pernah melihat amarahnya. Sekarang dia terasa begitu asing.


"Cukup, Kang!" Mentari berteriak, sementara sepasang gadis pirang itu melarikan diri dari sana.


"Apa maksudmu menghalangiku? Heh? Jangan halangi aku, Tari! Akan kubunuh kedua gadis itu!"


"Cukup! Apa maksudmu menyerang gadis itu?" tanya Mentari berang, tapi dia tidak memandang ke arah pria yang sedang berselisih dengannya. Seperti tadi, dia membuang muka.

__ADS_1


"Dia... gadis itu, dia tadi... kamu mendengarnya sendiri, kan? Dia berkata jahat tentang aku. Dia memfitnahku. Itu semua tidak benar. Hanya omong kosong! Kamu tidak percaya pada mereka, kan?"


Mentari mendengus. Wajahnya tersenyum sinis. Membuat si pria menjadi tambah marah walau bercampur heran. "Mentari, ada apa ini? Kamu bicara tapi tidak mau melihat padaku. Kamu sepertinya membela gadis-gadis tukang fitnah itu."


"Mereka tidak memfitnah. Aku melihat sendiri Akang dan Puspa Sari di dalam gubuk tua itu. Jangan Akang kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan!"


Pria itu menyeringai, lalu hendak mendekati Mentari.


"Jangan berani bergerak lebih dekat!"


Oom Jaka kaget bukan main. Dia mengulurkan tangan hendak memegang lengan Mentari tapi gadis itu kembali membentak. Air mukanya membayangkan ancaman.


"Kang Jaka! Jangan sentuh aku! Aku bukan Puspa Sari ataupun Arumi yang bisa menjadi pemuas nafsu bejatmu!"


Si pria ternganga besar. Dua kakinya seperti direkat ke tanah. "Mentari, aku...."


"Aku tidak sudi Akang menyebut namaku! Pergilah dari hadapanku!"


"Aku tidak melihat hantu! Tapi melihat makhluk yang sangat menjijikkan!"


Oom Jaka menggaruk-garuk kepala. "Well, terserah kamu mau bilang apa! Tapi tolong kamu jelaskan dulu kenapa kamu membela dua gadis berengsek tukang fitnah itu? Lalu kenapa kamu marah-marah dan berkata tidak karuan padaku? Aku merasa aku tidak punya salah apa pun padamu. Dua gadis pirang itu mencuri batu hitam milikku. Mereka juga memfitnahku lalu enak saja melarikan diri. Aku tidak...."


Saat itu mendadak ada suara menderu dahsyat. Sesaat kemudian sebuah motor hitam besar muncul dan berhenti di tempat itu. Di atas motor yang melaju kencang itu duduk seorang pemuda dengan gaya keren dan gagah.


"Hei, Bro! Apa yang kalian lakukan berdua di sini?" tanya pemuda yang mengendarai motor itu.


Raut wajah Mentari dan pria di hadapannya malah tampak kebingungan, lalu, sesaat kemudian, Oom Jaka mengedipkan mata, tapi pemuda itu tidak mengerti isyarat yang diarahkan kepadanya.


Dia mengangguk, dan malah berkata, "Baiklah. Aku tidak ingin mengganggu. Rupanya kalian sedang asyik berduaan di tempat ini. Well, aku pergi dulu. Nanti aku akan mencarimu kembali. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."


"Tolong jangan pergi dulu, Aji."

__ADS_1


"Tapi, Bro--"


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


"Kang Aji, kalau Akang memang mau pergi, apa aku boleh ikut?"


Ucapan Mentari itu membuat pemuda bernama Aji terheran-heran dan memandang Oom Jaka yang saat itu hanya bisa berdiri tegak sambil menyeringai. Dahinya bergelombang dengan kerutan. Sementara, di sisi lain, pemuda bernama Aji itu mengira gadis itu hanya menyindirnya, dan ia malah berkata, "Aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Sungguh. Aku permisi undur diri dulu."


"Kang Aji, tunggu! Aku ikut!"


"Tapi...?"


"Boleh, kan?"


Pemuda itu memandang pada Oom Jaka seolah ingin bertanya, tapi Oom Jaka hanya berdiri diam, memandang kedua orang di hadapannya dengan raut muka heran dan kebingungan.


Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba gadis itu melompat naik ke atas motor dan duduk di belakang Aji. Merangkulkan tangan kanannya erat-erat ke pinggang pemuda itu.


"Mentari, bagaimana ini?"


"Gas motornya, Kang!"


"Tapi mungkin aku harus bertanya...?"


"Ayo pergi! Dalam perjalanan kamu boleh mengajukan seribu pertanyaan. Aku akan menjawab semuanya! Apalagi menyangkut temanmu yang kamu anggap baik dan suci itu!"


Dengan perasaan tidak enak hati, pemuda itu menderumkan motor dan melaju pergi.


"Gadis sinting! Gila sekali dia!" Oom Jaka menggeleng-gelengkan kepala dan menendang-nendang rumput. "Caranya pergi dengan Aji, seperti sengaja ingin membuatku sakit hati. Dia pakai merangkul pinggang lelaki itu segala. Ingin membuatku sakit hati dan cemburu? Gila! Untuk apa aku sakit hati dan cemburu? Kupikirkan pun tidak. Ya ampun, kenapa dia jadi begitu? Apa yang terjadi padanya? Katanya dia melihat sendiri aku dan gadis bernama Puspa di dalam gubuk. Jangan-jangan... bayangan yang kulihat di dalam gubuk itu memang bayangannya? Apa gadis itu melihat aku dan Puspa sedang...?"


Hatiku hancur! Semuanya sudah jelas sekarang. Dengan rasa sakit hati, aku melarikan diri dari sana.

__ADS_1


Aku kecewa padamu, Oom. Kukira kamu pria yang baik. Kukira kamu belahan jiwaku. Dan kemarin...? Ternyata kamu hanya ingin mengincar keperawananku saja. Dasar pria berengsek! Sialan!


__ADS_2