
Setelah mencercaku dengan telak, Kang Solihin menarik tangan Kang Bagus, mengajaknya pergi dari hadapanku. Sementara aku, hanya sesaat setelah kedua pria itu meninggalkan pekarangan depan rumahku, aku merasa sekujur tubuhku lemas. Dan entah bagaimana tongkat di kepitan tanganku terlepas, aku terduduk di tanah. Wajahku menggelam dan air mata tak kuasa untuk kubendung. Aku mulai menangis sesenggukan. Ucapan Kang Solihin sangat memukul sanubariku. Hatiku seperti disayat-sayat.
"Ucapan Kang Solihin itu benar. Tapi...." Kututupkan kedua belah tanganku ke wajah dan menangis keras.
Beberapa menit setelahnya, kuhapus air mataku dan kupikir aku tidak perlu meratapi apa yang baru saja terjadi. Apa yang terjadi di masa lalu tentang orang tuaku itu bukanlah salahku. Dan tentang sifat...? Mau bagaimana lagi, kemarahanku atas nasib yang membuatku tumbuh menjadi sosok yang gampang emosi. Dan sekarang, tentang apa yang terjadi belakangan ini, aku tidak mau memikirkannya lagi, cukup menghindar dan pergi jauh-jauh, jika perlu akan kutinggalkan saja tanah Jawa ini.
Dengan memaksakan diri, kuraih tongkatku dan berusaha bangun. Melangkahkan kaki ke dalam rumah.
Semoga tidak ada barang yang hilang, pikirku mengingat kemarin aku meninggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci. Kemudian aku teringat bagaimana kondisi isi kulkasku mengingat ada banyak bahan masakan yang belum sempat kubagikan kepada tetangga. Bagaimanapun juga aku akan meninggalkan rumah dan mesti memutus saluran listrik. Semua bahan makanan yang tersedia mesti kubagikan kepada para tetangga.
"Aku mesti mengosongkan kulkas sekarang," gumamku seraya bergegas menuju dapur, lalu lekas-lekas mengambil nampan besar untuk mewadahi semua bahan masakan itu.
Di depan kulkas, kutaruh tongkatku dan nampan besar di tanganku lalu duduk di lantai.
"Wulan, kamu sudah pulang?"
Aku tersentak. Tiba-tiba suara seorang pria yang begitu akrab di telingaku menyapa dari arah kamar mandi.
Aku mendongak. Dan terperanjat. Yang kulihat adalah pria itu. Dia tersenyum ceria ke arahku.
Bagaimana bisa dia ada di sini? Bahkan dia tiba lebih dulu dariku?
"Maaf saya masuk tanpa izin. Rumah saya terkunci, emm apa kamu mengganti kuncinya? Apa kunci yang lama rusak? Soalnya anak kuncinya tidak cocok. Kamu mengganti kuncinya?"
Kakiku lemas. Dadaku terasa sesak, dan aku bertanya-tanya apakah aku akan pingsan di sini? Aku ketakutan. "Ini tidak nyata," rapalku, mataku terpejam. "Ini tidak nyata. Dia tidak ada di sini. Kamu hanya membayangkannya, Wulan. Ini hanya halusinasi."
Tiba-tiba satu tangan menyentuhku. Kubuka mataku perlahan...
Dia benar-benar ada di sini....
"Ada apa? Kenapa kamu ketakutan seperti itu melihat saya?"
Plak! Kutepis kuat-kuat tangannya dari bahuku.
"Pergi!" bentakku. "Keluar dari sini!"
Praktis dahi pria itu mengernyit. Nampak kebingungan. "Ada apa, Wulan? Apa saya ada berbuat salah? Saya baru tiba tadi pagi, bahkan kita baru saja bertemu. Kenapa kamu tiba-tiba marah pada saya? Memangnya apa salah saya?"
Dengan susah payah aku meraih tongkatku dan berusaha berdiri. "Jangan bersandiwara!" teriakku. "Jangan berusaha mengelabuhiku dengan omong kosongmu!"
__ADS_1
"Sandiwara apa, Wulan?"
"Diam! Lebih baik kamu pergi sekarang juga!"
"Tidak akan sebelum kamu jelaskan ada masalah apa."
"Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi, aku saja yang pergi."
"Wulan!" Tiba-tiba pria itu menarik bahuku. Aku tersentak dan nyaris saja terjatuh, tapi dengan sigap pria itu menangkap tubuhku.
Aku memberontak tanpa ingat pada kondisi kakiku, sehingga begitu pria itu melepaskan tangannya dariku, aku merasakan sakit pada kakiku dan akhirnya aku terjerembab.
"Wulan! Ya ampun, maaf."
Tanpa kusadari bagaimana jelasnya, pria itu menggendongku dan mendudukkan aku di kursi dekat jendela. "Apa yang terjadi dengan kakimu?" tanyanya. "Kenapa kamu bisa cedera begini?"
Pria itu duduk berjongkok lutut di hadapanku seraya mendongak menatapku. Dan aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tatapan yang begitu akrab, mata yang seolah kukenali dengan baik. Suaranya, bahasanya, nada bicaranya, seolah aku menemukan segala sesuatu yang kurindukan.
Tidak. Tidak, Wulan. Jangan termakan. Jangan terlena. Dia pria bajingan yang mesti dihindari.
"Wulan?"
"Tapi, Wulan, kenapa?" tanyanya lemah.
"Aku tidak ingin melihat Oom ada di sini."
"Tapi kenapa? Beri saya penjelasan, please?"
"Pergi. Tolong."
Melemah. Pria itu mengalah. "Baiklah. Kalau memang itu yang kamu mau, saya akan pergi."
Berdiri tegap. Pria itu melangkahkan kakinya kemudian pergi setelah menoleh ke arahku sejenak.
Entah berapa lama setelahnya, aku mendapati diriku menangis hingga tidak menyadari bahwa aku tidak sendirian lagi di ruang dapur itu. Ada seseorang menyentuh pundakku.
"Wenny?"
Ketakutan. Resah dan gelisah. Tubuhku gemetar melihat gadis itu berdiri di sampingku dengan buket mawar merah besar di tangannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya lembut seraya menaruh buket mawar itu di atas meja. Dia nampak seperti Wenny sahabatku yang sediakala. Tentu, karena dia tidak mengira bahwa aku mengetahui perbuatannya kemarin.
Aku menggeleng. Antisipasi.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita. Tapi kalau kamu butuh teman untuk mendengarkanmu, aku selalu ada seperti biasa, oke?"
Aku mengangguk.
"Oh ya, Kang Aji sudah menceritakan semuanya kepadaku. Semuanya, mulai dari dia tidak sengaja menyerempetmu, dan... yang terjadi kemarin, antara Mentari dan Luna."
Arrrrrrrrrrgggh...!
Pandai sekali dia berakting! Dasar gadis tidak waras....
"Sudahlah. Jangan memikirkan hal itu lagi. Lagipula Luna sudah bebas. Baru saja Kang Aji menelepon Kang Jaka. Dia sudah di jalan mengantar Luna pulang."
Hah?
Mataku spontan membuka lebar. Terkejut. "Apa tadi yang kamu bilang? Bagaimana maksudnya, siapa yang mengantar Luna pulang?"
"Kang Jaka. Siapa lagi?"
"Kok? Kok bisa?"
"Lo? Kenapa kamu kaget begitu?"
"Ya bagaimana bisa, Wen? Si... Jaka itu baru saja ada di sini."
"Apa?" Kening Wenny mengernyit. "Jangan halu kamu, Lan. Itu mustahil."
"Aku serius, Wen. Bukan halusinasi. Dia baru saja dari sini. Kami bicara." Tepatnya kami baru saja berselisih, tepatnya lagi bertengkar.
"Tidak. Itu mustahil. Aku lihat sendiri Kang Aji barusan video call dengan mereka. Baru saja, Kang Jaka dan Luna baru keluar dari kantor polisi. Kalau kamu tidak percaya, nanti kamu bisa tanyakan sendiri pada Kang Aji. Dia masih di rumah, ke toilet sebentar."
Oh, Tuhan. Aku kebingungan. Mana mungkin? Rasanya sulit dipercaya. Pria itu baru saja pergi dari sini. Bagaimana dia bisa ada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan?
"Oh ya, ini." Wenny meraih buket mawar yang tadi ia bawa dan menyerahkannya kepadaku. "Tadi aku menemukan buket mawar ini di teras depan. Ini untukmu, ada namamu di slip suratnya."
Mawar merah? Untukku? Dari siapa?
__ADS_1
Segera aku memeriksa dan membaca isi pesannya....