7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Perih Nan Manis


__ADS_3

Aku terkesiap samar ketika tangan kokoh pria perkasa itu mencengkeram kuat sebelah dadaku. Membuatku terhenyak dan kepalaku jatuh terbenam ke dalam kelembutan bantal sementara ia membenamkan taringnya ke tengkuk leherku dan mengisapku kuat-kuat.


Kilasan rasa nyeri yang tajam membangkitkan gairahku dengan liar. Kurasakan luapan hasrat yang begitu membuncah di dalam diriku. Secara naluriah, pinggulku tersentak di ranjang, luapan hasratku semakin bertambah, panas, menggelora. Kupikir aku bisa mati oleh kenikmatan itu, yang begitu membakarku.


Belum berhenti dari tengkuk leherku, dan tubuhku pun masih mengejang, Ak Jaka menambahkan kenikmatan itu dengan menelusurkan jemarinya ke bagian intim tubuhku, dan aku kembali terkesiap. Dia menyentuhku, membuaiku di bagian itu.


"Ak," sengalku. Kurasakan tanganku mengepal ke dalam seprai. Aku membuka mulutku untuk memohon kepadanya bahwa aku tak bisa menanggung reaksi alami tubuhku ini atas serangan sensualnya, tapi tak bisa, mulutku tak mengeluarkan suara. Kemudian, ia menyentuhku lebih pasti, menggeserkan dua jari di permukaan itu lalu meluncur dalam kelembapan itu, mengelus dan membuai sehingga membuatku bergetar. Dengan berhati-hati ia telah menyiksaku. Hingga aku menarik napas tajam, bagaikan bisikan di tengah kegelapan malam sementara mataku terpejam.


Lagi dan lagi, manis dan sempurna. Ia mengelus bagian itu kembali. Dan seperti yang kurasakan, aku tahu, kami berdua sama-sama bagai terhilang dalam kenikmatan itu. Perasaan ini terasa menakutkan, tapi juga menggembirakan. Teramat sangat. Sampai akhirnya, sentuhan itu mengoyakku bagaikan gelombang pasang, merenggutku dari tonggak kewarasan dan mengayunkan diriku ke bintang-bintang, melemparkanku jauh ke dalam gelombang hangat kebahagiaan.


"Demi Tuhan, rasamu membuatku tergila-gila," Ak Jaka bergumam begitu melepaskan taring tajam itu dari leherku, kemudian mengamati sejenak kemulusan dadaku sebelum akhirnya melahap bagian itu dengan rakus, membuatku mengeran* karena sensasi nikmat yang luar biasa itu, yang ia salurkan ke dalam diriku. "Ya Tuhan...!" ia mengeran*, dan seraya tidak sabar, ia menyelinap turun di tubuhku, mendesak tungkaiku membuka untuk dirinya.


Aku merintih. "Ya Tuhan, Ak, aku... aku tidak akan tahan."


"Sssh...," ia berbisik, mulutnya menekan di lekuk perutku. "Biarkan saja aku merasakanmu. Oke? Rileks...."


Hmm... Ak Jaka meletakkan telapak tangannya yang hangat di pahaku, membuat interval bagian itu hingga terbuka lebar. Kemudian, dengan lembut, ia merileksasi diriku dengan lidahnya, pertama-tama menggigit kecil bagian lembut nan peka itu, menikmati kemanisan itu untuk dirinya sendiri, juga untukku. Untuk membuatku merasakan begitu nikmatnya dicumbu dengan penuh cinta. Oleh seorang yang mencintaiku.


Di luar, hujan sudah reda, membuat ruang di sekeliling kami terasa hening kecuali detak pelan jarum jam di dinding, hingga membuat desa* napas kami begitu jelas terdengar, dan aku sedikit mencemaskan suara-suara yang kami buat di kamar pengantin ini terdengar hingga ke luar pintu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku maupun Ak Jaka tak mampu menahan diri. Terlebih, aku ingin memekik, melengkingkan namanya ketika Ak Jaka menyapukan lidahnya dengan ringan di ******* ***** tubuhku. Dia gila sekali. Tak bisa kukendalikan diriku sampai akhirnya, mataku terbuka. "Oh! Astaga! Ak!" pekikan halus menyerah tercekat di tenggorokanku. Kurasakan napasku semakin cepat.


Dan, saat Ak Jaka juga menyadari hal itu, ia mengangkat kepalanya lalu cepat-cepat memosisikan diri, menyelinap masuk ke dalam diriku, sebagian dirinya -- masuk ke dalamku hingga batas yang menghalanginya terbenam sempurna.

__ADS_1


Merasakan sesuatu -- yang pertama kali masuk ke tubuhku, seketika tanganku tersentak dan kembali mencengkeram seprai. Kusadari saat itu aku begitu ingin, begitu bergairah dan berhasrat, namun juga takut: khawatir kalau-kalau aku tidak akan bisa menanggung rasa sakit dari sesuatu yang akan segera terenggut dariku. Keperawanan itu: mahkota yang berharga dalam hidupku sebagai seorang perempuan.


"Aku harus merasakanmu saat meraih puncak pertama. Aku ingin," kata Ak Jaka seraya mensejajarkan diri denganku, menindihku dengan seluruh bobot tubuhnya. Menekanku di bagian bawah, yang membuatku terkesiap. Bingung antara antisipasi diri dan ketidakberdayaanku untuk mencegah ledakan di dalam diriku yang mustahil bisa kuhentikan. Yang kurasa sebentar lagi akan terjadi. Ak jaka menggeram. "Denyutan itu," ujarnya, suaranya parau dan dalam, "aku ingin berbagi kenikmatan itu. Tumpahkan, Wulan. Sekarang." Dia mulai bergerak di ambang pintu keperawanan itu.


"Ya. Aku...."


Tak bisa kulanjutkan kata-kataku, sebab di saat bersamaan aku merasakan getaran itu, jauh di dalam perutku. Seraya mencengkeram seprai, aku akan meledak. "Oh, Tuhan...!" aku menjerit, mataku terbuka lebar. Tepat pada saat itu tatapan Ak Jaka mengunciku, matanya gelap oleh hasrat. Penuh hasrat. "Oh, Tuhan! Ah! Aku... aku... tidak tahan!"


"Lepaskan, Sayang."


Aku menggeleng, berusaha menahan diri. Memejamkan mataku kuat-kuat. Tetapi tidak bisa. Aku...


"Akh...!"


Ya Tuhan, betapa nikmatnya ini. Dan Ak Jaka berhasil mendapatkan keinginannya, merasakan luapan pertama puncak kenikmatan itu dengan kuat meluap di dirinya, di dalamku.


Saat itu, tubuhku menjadi kaku, pinggulku yang sensual terangkat sepenuhnya dari ranjang, mulutku membuka dalam jeritan tanpa suara. Tak mampu bertahan, Ak Jaka mengangkat dirinya di atasku dan menindihku dengan seluruh berat tubuhnya. Dengan lembut, ia memelukku hingga getaran yang menguasaiku perlahan-lahan mereda.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ak Jaka dalam bisikan.


Dan aku menjawabnya dengan senyuman dan wajahku yang memerah. "Kamu tahu tanpa perlu bertanya," ujarku.

__ADS_1


"Ya," sahutnya. "Dan sekarang saatnya babak yang sedikit menyakitkan. Aku ingin sekarang, kamu siap, kan?"


Aku mengangguk. "Sudah hakmu, Ak. Aku siap lahir batin." Meski sebenarnya aku takut akan sakitnya. Tapi aku harus menunjukkan bahwa aku siap memberikan hak itu kepadanya.


"Terima kasih, Sayang." Dia tersenyum, dan memulai perlahan....


Untuk membuatku terlena.


Yeah, hanya untuk membuatku terlena. Sebab pada akhirnya....


"Auw...!"


Sakit sekali, Tuhan....


Aku meringis kesakitan. Menangis merasakan perihnya luka di bawah tubuhku setelah upaya yang dahsyat itu, yang cukup lama itu hingga Ak Jaka mampu mengoyak kegadisanku. Membuatku selain merasakan sakit dan perih, juga merasakan rasa nyeri yang teramat tajam. Sementara, di atasku, mata Ak Jaka terpejam erat, urat di lehernya menyembul dan licin oleh keringat ketika kepalanya seakan terlempar ke belakang, dan dia mengeran* kuat.


"Ya Tuhan, Sayang. Sudah berhasil," bisik Ak Jaka, suaranya parau dan lemah, namun kaya oleh rasa takjub. Dan sama seperti diriku, ia pun gemetar oleh upaya yang seolah melampaui batas. Dia lega. "Berhasil...," gumamnya sekali lagi. Lalu kemudian ia menyadari keadaanku yang membeku. Kaku. "Hei, Sayang, kamu... tidak apa-apa?"


Mataku mengerjap, bulir bening terus mengalir di sudut mata. Menahan perih.


"Sayang, apa sakit? Maksudku... apa sangat sakit?"

__ADS_1


Lebih dari yang bisa kukatakan, Ak. Sungguh, sakitnya luar biasa....


__ADS_2