
Seraya menggeliat dari tidurku, suara eranga* pelan keluar dari bibirku karena merasa sedikit terganggu dengan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela tirai jendela hingga menerpa wajahku, lalu mengerjap pelan menyesuaikan dengan bias cahaya mentari pagi yang menghangatkan pagi. Dan sesaat kemudian, begitu kedua mataku terbuka tanpa bisa dicegah, senyum indah seketika mengembang di wajahku begitu melihat wajah tampan suamiku yang kini tengah terlelap tepat di hadapanku. Kumiringkan tubuh dan menyangga kepala dengan satu tangan, menikmati saat-saat seperti ini, memandangi wajah damai seorang Jaka Pradana yang masih terlelap dalam tidurnya. Saat tertidur, pria dewasa itu lebih terlihat seperti anak kecil yang manis daripada seorang pengusaha kaya raya yang memiliki segalanya.
“Menikmati pemandangan indah, Sayang?”
Eh?
Aku tersentak dari pikiranku begitu mendengar suara berat Ak Jaka. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang menatapnya padahal kedua matanya masih terpejam?
Butuh waktu beberapa detik hingga sepasang mata indah itu terbuka, ia menguap lebar. Merentangkan kedua belah tangannya sehingga selimut putih yang menutupi tubuhnya melorot, memamerkan dada bidangnya yang putih, mengingatkanku pada masa setahun silam saat pertama kali aku begitu terpesona menatap dada telanjang pria tampan itu.
Pipiku memerah, merasa malu karena tertangkap basah terlebih saat mata hitam pekat itu perlahan terbuka dan menatap tepat ke manik mataku. Praktis, Ak Jaka pun tersenyum melihat gadis kecilnya ini merona malu. Dan...
"Oh!" aku terkejut, dengan mudahnya Ak Jaka menarik pinggangku agar merapat dengan tubuhnya, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Tak pernah bosan menghirup aroma yang baginya begitu manis, yang sudah membuatnya kecanduan.
“Selamat pagi, Sayang,” ucapnya di telinga dengan suara yang serak, khas seperti orang yang baru saja bangun tidur. Dan, dengan isengnya ia menggigit pelan cuping telingaku, lalu menyeringai saat menyadari reaksi tubuhku karena ulahnya.
"Ak, apa yang kamu lakukan? Aku kan belum mandi," rengekku, berharap ia sekadar iseng. Tapi ia justru membuatku menggigit bibir, menahan suara eranga* supaya tidak lolos dari kerongkongan karena ulahnya yang kini sedang menggodaku.
“Memangnya apa yang kulakukan? Hmm?” ia justru balik bertanya dengan memasang wajah cengengesan sambil menyelinapkan tangan ke balik selimut. Kembali melakukan apa yang telah ia lakukan semalam, membuat wajahku semakin memerah.
Ya Tuhan, pagi-pagi dia sudah mulai menagih jatahnya sebagai suami. Bisa ringsek aku kalau kami berada di villa ini berhari-hari. Apalagi dalam kondisi sebagai pengantin baru ini aku belum tahu bagaimana caranya mengendalikan nafsu pria dewasa itu. Bahkan aku belum pernah berpikir apakah dirinya bisa kutaklukkan?
__ADS_1
"Sayang?"
Aku menatapnya. "Apa?" tanyaku, berusaha mengendalikan diri atas reaksi tubuhku akibat sentuhan Ak Jaka.
"Ada yang ingin kutanyakan."
"Emm? Apa?"
"Begini." Tangannya masih terus aktif bergerak. "Apa kamu tidak keberatan kalau kita tinggal di rumah Mamang? Apa kamu mau kita tinggal di rumah kita sendiri?"
Eh? Aku menyeringai. Baru hendak bertanya kenapa dirinya bertanya seperti itu, Ak Jaka sudah lebih dulu menjelaskan.
"Maksudku... mungkin kamu lebih suka kalau kita tinggal berdua saja. Jadi kamu bisa lebih bebas. Kamu tidak harus repot di dapur. Kamu tidak harus memasak, bersih-bersih, mencuci, atau mengerjakan apa pun. Sungguh, aku menikahimu bukan untuk merepotkanmu sebagai istri yang mengurusi urusan rumah tangga. Dalam hubungan ini kamu adalah Nyonya Pradana. Bahkan jika bisa ingin terus kuperlakukan kamu sebagai seorang ratu. Sungguh, aku... merasa tidak enak padamu."
“Ak... a--ap--apa yang kamu katakan?” aku bertanya dengan sedikit terbata antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Emm... aku... aku tidak masalah dengan tugasku sebagai seorang istri. Aku... aku ingin mengurusimu. Aku ingin aku yang mengurusimu. Dengan tanganku. Aku ingin menyiapkan makananmu, pakaianmu, apa pun kebutuhanmu, aku yang akan mengurus semuanya. Please, aku mohon biarkan aku melakukan semua itu. Biarkan aku melakukan hakku sebagai seorang istri, ya?"
Ak Jaka mengangguk. "Lalu soal tempat tinggal? Kalau kamu mau, kita bisa cari tempat tinggal lain selama kita menetap di sini."
Tidak. Aku tidak ingin mencari tempat tinggal lain. Walau rencana akan menetap di mana kami nanti setelah masalah Ak Jaka dan kembarannya selesai itu belum pasti: apakah kami akan tetap menetap di sini atau menetap di kota, tapi yang sekarang kuinginkan adalah kami tetap tinggal di rumah Mang Zulfikar.
"Aku masih mau di rumah Mamang. Aku suka tinggal di sana, Ak. Sebab... rasanya kita seperti punya orang tua. Dan untukku pribadi, rasanya lengkap. Seperti punya keluarga yang utuh. Ada ayah dan ibu, dan rasanya aku punya saudara. Aku seperti punya seorang kakak perempuan. Aku punya teman untuk berbagi cerita. Teman yang bisa mengajariku banyak hal."
__ADS_1
Ak Jaka tersenyum hangat, tangannya terangkat membelai pipiku dengan gerakan lembut. “Aku sangat mencintaimu, Wulan.” Ia memberikan penekanan di setiap kata-katanya, berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa perasaannya amat sangat dalam untukku. "Terima kasih karena sudah menganggap dan memperlakukan keluargaku seperti keluargamu sendiri."
Aku tidak bisa menahan air mataku yang tiba-tiba saja keluar dari pelupuk mata. Aku mengangguk. Gadis sebatang kara ini cukup beruntung, pikirku. Sekarang aku punya keluarga.
“Hei, Sayang? Kenapa menangis? Aku mohon jangan menangis, Sayang. Aku tidak suka melihatmu menangis. Aku tidak akan tahan, itu membuatku sakit," ujar Ak Jaka seraya menatapku sendu. Diusapnya air mataku dan ia berkata, "Tolong jangan menangis lagi."
Tapi air mataku malah keluar semakin deras begitu mendengar ucapan Ak Jaka dan langsung menghambur ke pelukannya, membenamkan wajahku di dada bidangnya. Sungguh aku benar-benar terharu dengan kata-kata yang Ak Jaka ucapkan padaku. “Aku menangis karena bahagia, Ak. Aku sangat bahagia karena kamu sangat mencintaiku. Terima kasih...."
"Ya. Aku sangat bersyukur karena nenek memberikan tanggung jawab untuk menjagamu kepadaku. Aku bersyukur karena nenek mengatakan kepadaku kalau gadis kecilnya ini jatuh cinta kepadaku dan memintaku untuk menikahimu. Aku bersyukur karena aku mengiyakan permintaan nenek. Pada akhirnya aku menyadari, di dalam hatiku ada tempat untuk cinta. Terima kasih karena kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku. Aku sungguh sangat mencintaimu, Wulan. Sangat cinta. Aku akan selalu menjaga hatimu. Dan aku tidak akan pernah melukai hatimu apalagi sampai mengkhianatimu. Aku janji. Kamu tidak akan pernah meneteskan air mata luka seperti yang dialami ibuku."
Seraya mengangguk, aku melepaskan pelukan dari Ak Jaka lalu menatap matanya dengan mataku yang masih basah oleh air mata. Aku bisa melihat tatapan Ak Jaka padaku yang terlihat sendu. "Terima kasih." Kuusap air mata dengan kebahagiaan yang membuncah. "Kamu tahu, aku sering mendengar orang bilang kalau... nasib anak perempuan akan sama seperti nasib ibunya, atau... orang akan bilang kalau jika ibunya wanita tidak benar, maka karma akan jatuh pada anaknya. Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi aku sangat percaya padamu. Aku punya nasib baik karena aku memilikimu. Aku percaya."
"Dan itu memang harus. Aku tidak akan menjadi sosok seperti ayahku atau seperti ayahmu. Cintaku tidak akan pernah terbagi untuk perempuan lain. Hanya ada kamu. Hanya Wulan seorang."
Perlahan... Ak Jaka mendekatkan wajahnya padaku. Seakan mengerti apa yang akan ia lakukan, aku pun memejamkan mata, merasakan kehangatan bibir Ak Jaka di bibirku. Dan hatiku mulai cemas. Ini masih pagi, dan dia akan membuat tenagaku lemas lagi....
Dengan bergairah, Ak Jaka menyesap bibirku. Dan seperti dugaanku, rasaku selalu berhasil membuatnya mabuk. Tangannya mulai menarik tengkuk leherku untuk memperdalam ciumannya dan bisa menikmati rasa manis bibirku lebih dalam lagi. Lalu tiba-tiba ia menarik diri dariku, membuatku menyeringai. Bingung.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia tersenyum senang. "Bulan madu masih berlanjut, Sayang. Mari kita mandi bersama."
__ADS_1
Dikiranya aku tidak mengerti. Dia bukannya hendak mengajakku mandi. Euw!