7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
OMG!


__ADS_3

Aku merasa menyesali keterlambatan waktu Kang Aji yang baru pergi ke kota hari itu untuk suatu keperluan, sekalian ia hendak membelikan ponsel baru untukku. Seandainya aku sudah punya ponsel di tanganku, sudah kurekam tindakan bejat pria itu yang dengan berutalnya menggilai kedua gadis pirang itu.


Dengan senyum kemenangan, pria itu mengangkat tubuh kedua gadis itu ke dekat sebuah dahan besar yang seka dan jatuh ke tanah, lalu ia mengikat kedua tangan gadis itu masing-masing ke dahan yang berada di ujung kepala mereka. Dengan kedua tangan terikat tali dan tertahan dahan yang berat di ujung kepala, kedua gadis itu ditelanjangi. Pakaian mereka ditanggalkan hingga tak bersisa dan mereka berdua dibuat benar-benar polos tanpa sehelai benang yang menutupi. Kecuali di bagian mulut yang diikat dengan kain tipis mengelilingi belakang kepala, lalu ia menyipratkan air ke wajah kedua gadis itu hingga mereka berdua tersadar dari pengaruh obat biusnya, kemudian menjerit histeris. Tetapi sayang, suara mereka tertahan. Tak akan bisa melengking dengan maksimal.


Masih dengan senyum kemenangannya, pria itu menanggalkan semua pakaian dari tubuhnya, mulai dari atas hingga ke bawah dan akhirnya benar-benar polos dengan gairah yang mulai mencuat.


Ya ampun, aku menelan ludah, ingin berpaling tapi tak mampu berpaling. Ada sesuatu dalam jiwaku yang menarikku untuk melihat betapa menggairahkannya pria itu. Terutama di bagian itu. Seksi. Besar. Menakjubkan.


Oh... sadarlah, Wulan. Dia pria menjijikkan. Semua bagian dirinya menjijikkan. Tercelup ke sana-sini. Sudah berapa wanita yang ia masuki. Dia tidak pantas mendapatkan keperawananmu. Dia menjijikkan.


"Well, let's do it, Girls. Dua lawan satu. Akan kulayani kalian berdua bergantian sampai kita bertiga sama-sama terpuaskan."


Ouch! Ngilu!


Pria itu baru saja menenggak suplemen yang semakin merangsang gairahnya dan membuat ia akan mampu bertahan lama saat menjajaki kedua gadis cantik itu.


Jelita. Dia yang menjadi sasaran pertama pria itu. Awalnya, gadis cantik itu meronta-ronta begitu sang Jaka bertelungkup di atas tubuh mulusnya yang telanjan*. Menggeram, melotot marah, mengentak-entakkan kakinya, tapi juga memohon pengampunan agar tak disentuh melalui tatapan matanya yang akhirnya menyorotkan pengibaan, memohon dan penuh harap. Tetapi sang Jaka bukanlah pria yang punya rasa belas kasih. Ia duduk bertopang dengan kedua lutut bersilang di atas perut gadis jelita itu, menumpangkan kedua tangannya di atas bantalan dada si gadis yang empuk itu dan mencengkeramnya kuat-kuat. Tak pelak, meski meronta, sensasi nikmat mulai menjalari jiwa gadis itu, begitu kentara dari reaksinya yang spontan memejamkan mata dan tersengal dalam *rangan. Lalu, ketika pria itu menuruninya melewati perut dan berhenti di antara pangkal kedua pahanya, gadis itu sudah tidak meronta lagi. Membuat si Jaka menyengir girang. "Bagaimana? Kamu suka, kan? Kamu mulai menikmati? Tentu saja, ini enak, luar biasa nikmat, Sayang. Kalian akan ketagihan. Aku jamin itu."

__ADS_1


Gadis yang semula menolak itu kini ia malah membuka interval kedua kakinya lebar-lebar, mempersilakan bagi pria itu untuk membawanya menuju puncak kenikmatan.


Melihat reaksi Jelita yang demikian, Juwita pun akhirnya terdiam dan berhenti mengentak-entakkan kakinya ke tanah. Dia mengamati bagaimana pria itu membenamkan wajahnya di antara tungkai Jelita. Memperhatikan bagaimana kesatria ranjang itu memuja surga jelita dengan cumbuan bibir dan lidahnya, menyesapnya dalam-dalam hingga sang Jelita terangkat tubuhnya, menegang kencang dengan kedua tumit menekan kuat ke tanah beralas tikar alami rerumputan hijau, di taman belakang villa, persis di bawah kamar yang kutempati.


Gadis itu ternganga, terpesona pada sesuatu yang asing baginya sebagai penyuka sesama jenis, sementara di sisi lain, sang Jaka tertawa puas, merasa bangga akan dirinya yang mampu menaklukkan gadis penyuka sesama jenis itu. "Jadi, kamu sudah siap, kan, Sayang?" Dia mengarahkan diri, lalu menekan ke bawah, memasuki gadis itu dengan perlahan, dan aku jadi merinding.


Bagaimana rasanya? Bahkan gadis penyuka sesama jenis bisa semelayang itu? Ya ampun, pasti nikmat sekali. Oh, Tuhan... aku penasaran sekali. Bagaimana rasanya? Kepingin....


Eh?


Sadar, Wulan. Sadar. Itu tidak benar. Jangan terbujuk. Itu memang nikmat, tapi harus dengan pria yang tepat. Jangan berandai-andai, oke? Diam dan nikmati saja tontonan ini karena tidak ada hal lain yang mampu kamu lakukan.


Ya ampun, berandai lagi memang tidak. Tetapi aku berkeringat karena melihat pertarungan dahsyat di bawah sana. Si pria membabi buta dalam hunjamannya, mengentak-entak cepat dengan pacuan liarnya.


Dan aku jadi terpengaruh. Tidak hanya ikut bermandikan keringat, kusadari aku....


Ah, tak perlu kusebutkan. Kau pun mengerti maksudku. Ada yang mengalir keluar di bawah sana.

__ADS_1


Dan memalukan! Mataku terpejam menikmatinya. Argh!


Dasar konyoooool...!!!


Begitu aku kembali menatap ke bawah, sang Jaka sudah berpindah sasaran. Dia sudah berada di atas tubuh cantik Juwita dan melakukan hal yang sama. Ia rema* kuat-kuat bantalan lembut di dada gadis cantik itu dan membuatnya memekik penuh kenikmatan. Lalu ia melakukan hal yang sama setelah menuruni gadis itu melewati perutnya yang rata, ia membenamkan wajahnya di sana. Menunjukkan keahliannya dalam menyenangkan seorang wanita. Dengan bibir dan lidahnya, sang Juwita pun mabuk dalam kenikmatan dan membuka tungkai kakinya lebar-lebar, mempersilakan. Yang berbeda hanya satu, setelah melihat reaksi gadis itu, pria itu membuka ikatan di mulut gadis itu dan mengajaknya bicara.


"Kamu penasaran, bukan, karena melihat temanmu sebegitu menikmati kegagahanku?" tanyanya, menggoda sasaran. "Well, sekarang kuberikan kamu kenikmatan yang sama. Memohonlah, Sayang. Memohonlah kepadaku supaya menyentuhmu."


Juwita mengangguk-angguk. Bersemangat. "Ya," katanya. "Ya. Tentu saja." Ia memohon dengan tak sabar. "Aku mohon, lakukanlah. Beri aku kenikmatan yang sama. Aku mohon, aku sudah tidak sabar."


Sungguh, reaksi Jelita membuat Juwita amat sangat penasaran.


Dengan tersenyum penuh kemenangan, sang Jaka mengarahkan diri dan membenamkan pusaka kesatria-nya ke dalam gadis itu, membuat Juwita merasakan kepuasan yang sama. Hingga gadis cantik itu sama terkaparnya dengan Jelita, terkapar karena rasa nikmat dan kelelahan. Masing-masing gadis itu dijatahi dua kali oleh kesatria ranjang itu, dengan jejak-jejak merah memenuhi leher, dada, dan paha bagian dalam pada ronde keduanya, dan dilakukan dalam berbagai gaya. Hingga pada akhirnya mereka bertiga tertawa cekikikan. Saling memuji dan mengakui kehebatan. Dan, tidak hanya itu. Mereka bertiga bahkan telah sepakat untuk mengulangi momen manis itu lagi di lain waktu.


Well, setelah ini, kurasa kedua gadis itu akan mengincar para pria untuk minta digagahi.


Dan aku? Nelangsa sendiri dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Oh Tuhan....


__ADS_2