7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Pertemuan


__ADS_3

Oom Jaka tidak bisa datang lebih cepat seperti yang ia rencanakan, sebab dari rumahku aku bisa mendengar beberapa orang pria mengobrol hingga larut malam di luar sana, hingga akhirnya Oom Jaka terpaksa datang setelah dini hari, setelah suasana benar-benar sepi tanpa seorang pun lagi yang duduk-duduk nongkrong di pendopo milik tetangga. Itu pun ia terpaksa lewat pintu belakang demi kedatangannya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali aku dan kedua kerabatnya. Dia memanjat beranda belakang rumahku dan menelepon untuk memberitahuku kalau ia sudah sampai dan menungguku membukakan pintu untuknya.


Aku berdebar. Berbagai macam rasa bercampur aduk di dalam benakku. Aku bahagia dan juga merasa nervous karena ini pertama kali kami bertemu setelah setahun terakhir, tapi, hatiku juga merasa cemas. Obrolan kami yang panjang lebar di telepon itu bukan berarti aku percaya sepenuhnya bahwa yang mengetuk pintu berandaku adalah Oom Jaka Pradana yang asli. Aku masih berpikir ada kemungkinan si sosok palsu-lah yang datang malam itu. Jadi, setelah menutup telepon, aku mengambil pisau dari dapur untuk berjaga-jaga.


Tolong jangan membuat hatiku kecewa, Tuhan, batinku ketika aku memutar anak kunci.


"Hai."


Oh Tuhan, pria tampan itu kini ada di hadapanku. Dia tersenyum bahagia ketika pintu terbuka dan tak menghalangi kami untuk bertatap muka. Senyuman yang sama yang menghiasi wajahku pada saat yang sama. Lalu, dia maju lebih dekat hingga membuat darahku berdesir. "Wardana," katanya, nyaris berbisik seraya menunjukkan untaian kalung emas berbandul huruf dari inisial namaku. "Kau hadiah yang paling berharga untukku. Amat sangat berharga. Aku datang untukmu, Wulan."


Aku tersenyum, saaaaaaangat bahagia. Tapi itu tak berarti aku bisa membukan gembok teralis yang masih memisahkan kami. Belum. Aku mundur dua langkah dari posisiku, berdiri di hadapan pria itu dengan satu tangan memegang tongkat untuk menopang tubuhku, dan satu tangan untuk meraih pisau yang kuselipkan di belakang pinggangku, kemudian menggenggam gagangnya erat-erat.


Melihat hal itu, sepasang mata indah pria tampan di hadapanku itu tiba-tiba berpaling ke arah tanganku.


"Maaf untuk...?"


"Aku mengerti," sahutnya cepat.


"Em, aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu."

__ADS_1


"Aku tidak masalah," katanya seraya mengedikkan dagu ke arah pisau di tanganku. "Kamu memang harus waspada dan berjaga-jaga."


Aku mengangguk, senang akan sikap tenang dan pengertiannya. "Aku punya satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Jaka yang kukenal," kataku. "Kalau kamu bisa menjawab dengan benar, aku akan yakin sepenuhnya kalau... kalau kamu... adalah Jaka Pradana yang asli."


"Well, apa pertanyaannya?"


"Pertanyaannya, minuman apa dan makanan apa yang kubawakan untukmu sebelum... kita bertabrakan waktu itu, tahun lalu?"


"Pertanyaan yang mudah." Dia tersenyum semringah. "Hari itu pagi hari, masih dalam kegelapan subuh. Kamu membawakan sarapan untukku, seteko teh hangat, nasi kuning dengan aneka lauk, mulai dari dua butir telur rebus, satu lele bakar ukuran sedang, dua ikan asin sepat, sepotong ayam goreng bagian dada, ikan teri yang disambal, dua buah tahu kuning yang digoreng, dan dua buah tempe mendoan, lalu ada irisan satu buah tomat kecil, kol yang diiris memanjang, satu timun berukuran kecil dipotong memanjang empat bagian, dan beberapa potong kacang panjang rebus yang tidak kuhitung jumlahnya. Kuharap itu tidak jadi masalah karena aku tidak berpikir untuk menghitungnya, hmm? Bagaimana?"


Aku tersenyum bahagia. "Jawaban yang sempurna. Kamu benar-benar... Jaka Pradana yang asli." Pria pujaan hatiku.


Uuuuuh... ada yang tidak sabar. Sama sepertiku. Aku pun sudah tidak sabar. Tentu saja, segera kucabut untaian anak kunci dari daun pintu lalu kuserahkan kunci di tanganku itu kepadanya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, gembok teralis itu sudah terbuka.


"Ehm." Oom Jaka melangkah masuk, dengan satu lirikan dan senyuman indah menyungging di sudut bibirnya, ia menutup kembali teralis itu dan menutup pintu. "Well," -- dia berbalik -- "boleh kupeluk?"


Aku mengulurkan tangan. "Bisa tolong taruh dulu pisau ini ke meja, please?"


"Tentu. Apa pun untukmu."

__ADS_1


Pisau di tanganku berpindah ke tangannya, dan segera ia letakkan ke atas meja di sudut ruangan, lalu ia segera menghampiriku, membentangkan kedua belah tangan.


"Sekarang?"


Aku mengangguk, air mata bahagia itu kembali menetes dengan sendirinya begitu kedua lengan kokoh itu mendekapku erat-erat. Seakan nyaris meremukkan tulang-tulangku. Rasa hangat, nyaman, dan aman melingkupi jiwaku seketika. Ada kedamaian yang begitu akrab, seolah hubungan ini bukanlah sesuatu yang baru. Tetapi kebahagiaan yang kurasakan jelas seperti kuncup bunga yang baru saja bermekaran dan semerbak aroma harumnya begitu segar dan memikat. Ada rasa manis di dalamnya. Aku... seperti kuncup bunga itu, yang baru saja mekar dan didatangi kumbang jantan, namun bunga ini mekar bukan untuk menjadi kuntum yang gugur dan membusuk, malainkan untuk sebuah keabadian. Seperti itu yang kurasakan saat raga kami menjadi satu dalam hangatnya sebuah pelukan.


"Maaf untuk pemilihan momen yang salah," ujarnya. Oom Jaka melepaskanku dari pelukannya. Seraya menatap lekat wajahku, dia menangkupkan kedua belah tangannya di lekuk tulang pipiku, dan ujung-ujung jemarinya bersemayam di tengkuk leherku. "Harusnya aku datang lebih cepat. Harusnya aku tidak perlu menunggu momen ulang tahun kita, apalagi sampai benar-benar terlambat, sampai kamu mengalami banyak hal buruk. Aku menyesal. Aku... aku merasa sudah mengecewakan Nek Asih. Dia menitipkanmu padaku. Sebelum dia meninggal, Nek Asih memintaku untuk menjagamu. Tetapi, hanya karena alasan aku sedang tidak berada di Indonesia, aku membiarkanmu sendiri. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Wulan. Maaf...."


Sungguh aku tidak pernah tahu apa saja yang sudah dikatakan oleh nenekku kepada pria ini semasa ia masih hidup. Tapi apa pun itu, aku berharap bahwa Oom Jaka membalas perasaanku karena dia memang memiliki perasaan yang sama terhadapku, dan sama tulus seperti perasaanku terhadapnya.


"Kamu tidak salah, kok. Yang penting sekarang kamu sudah ada di sini. Bukan karena terpaksa, dan bukan karena merasa tidak enak apalagi rasa bersalah pada nenekku, ya kan?"


Dia tersenyum, lalu mengangguk, kemudian menggeleng, setelah itu ia meraih tanganku dan meletakkan telapak tanganku di dadanya. "Sejak setahun yang lalu, jantung ini berdetak hanya untukmu."


"Ah, gombal," ledekku, namun begitu aku tersipu.


Sungguh, ini seperti mimpi. Dia mengangkat tangan, memasangkan kalung itu ke leherku. "Aku ingin hidup bersamamu. Tidak peduli dalam suka maupun duka, aku ingin kita selalu bersama. Aku, Jaka Pradana Nugraha, melamarmu dan berjanji akan segera menikahimu. Aku mencintaimu, Wulan. Untuk selamanya." Seulas senyum lebar melintasi wajahnya saat dia kembali menangkup wajahku. "I love you," bisiknya, dengan embusan napas menyapu wajahku -- dan kupejamkan mata saat bibir kami bersentuhan untuk pertama kali....


Oooh... ada yang berdebar-debar di dalam dada.

__ADS_1


__ADS_2