7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari bahagia tiba. Hari ini dia, Jaka Pradana Nugraha, akan mengucap akad, disaksikan banyak pasang mata manusia juga malaikat, lalu dia akan resmi menjadi suamiku.


Di sini, dari dalam kamar pengantin ini, aku mengintip kedatangannya. Dalam balutan pakaian pengantin pria dengan warna serba putih dari atas ke bawah, dia terlihat gagah. Begitu tampan dan mempesona.


"Aku merindukanmu," gumamku. Aku tersenyum. Perasaanku sungguh menggebu. Sejak kemarin aku dikurung di dalam kamar pengantin yang sudah dihias dengan indah, sementara Ak Jaka tidak diperbolehkan menemuiku. Terlebih, semalam Ak Jaka diminta menginap di rumah tetangga.


Aku benar-benar rindu walau baru sehari tak bertemu. Dan kini aku menanti dalam doa, di balik kebaya pengantinku yang indah, dalam warna putih yang senada.


Dari kamarku, aku bisa mendengar dengan jelas suara pembawa acara mulai memandu acara menyambut rombongan calon mempelai pria-ku, lalu Bibi Fatma, istrinya Mang Zulfikar, mengalungkan rangkaian bunga melati dan memberikan segelas air putih kepadanya sebelum akhirnya mempersilakan sang calon memperlai pria-ku itu dan semua orang duduk di tempat yang sudah dipersiapkan.


Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan, lalu pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, lalu beberapa kata sambutan, kemudian memasuki acara inti. Yeah, acara pernikahan kami dikonsep sesederhana mungkin, tanpa acara adat. Yang penting berlangsung dengan khidmat dan sakral, hingga kami sah menjadi sepasang suami-istri. Itu saja doaku, itu saja harapanku untuk apa yang terjari pada hari ini.


"Dia sudah duduk berhadapan dengan Pak penghulu," bisik Teh Husna, istrinya Kang Solihin yang menemaniku di dalam kamar. "Sudah berjabat tangan untuk mengucap ijab qabul. Sebentar lagi kalian akan menjadi pasangan yang sah. Halal."


Uh! Seperti Teh Husna, aku tersenyum bahagia, bahkan aku tersipu malu.


Bismillah...


Diawali dengan istighfar, dan mengucap kalimat syahadat, lalu Pak Penghulu dan calon suamiku mengucap ijab dan qabul...

__ADS_1


"Saya terima nikahnya Siti Wulandari Ibrahim binti Muhammad Ibrahim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Satu kali ia ucapkan. Lancar.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah...."


"Alhamdulillah...."


Persis di saat itu mataku kembali terpejam dan senyumanku merekah dalam tetesan air mata bahagia.


"Aamiin...."


Aamiin... aamiin... aamiin. Aku sangat bahagia, Ak. Aku dan kamu sekarang sudah menjadi kita. Sekarang kamu sudah sah menjadi imamku. Jangan nakal lagi, ya. Sekarang kita sudah halal.


Ah, aku malu mengingat kenakalan kami. Itu salah. Kesalahan....


Setidaknya aku bersyukur, karena nanti malam, di malam pengantin kami, aku masih dalam keadaan perawan. Terima kasih, Tuhan, karena Kau masih mengizinkan aku yang tak baik ini untuk mencicipi manisnya malam pertama bersama pria yang sudah sah menjadi suamiku. Terima kasih....

__ADS_1


"Wulan, ayo."


Aku mengangguk. Kembali berdebar plus deg-degan. Aku dipanggil ke depan untuk menemui suamiku di depan khalayak tetamu undangan.


Uuuh... aku keluar dari kamar dengan hati berbunga-bunga dan wajah dipenuhi senyuman ceria. Semringah. Itu pertama kali aku melihatnya sebagai suamiku, juga melihat wajah-wajah baru warga kampung yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Lalu, jantungku semakin berdebar ketika diarahkan pembawa acara untuk duduk di hadapan suamiku.


"Sambut istrinya, tidak apa-apa, kan sudah sah," kata pembawa acara, membuat Ak Jaka tersipu. Dia jadi salah tingkah. Wajahnya juga masih tampak pucat walaupun ia tersenyum malu-malu seperti aku. Kami berdua masih saja gugup meski akad sudah terucap.


Akhirnya, di sini, di ruang akad ini, aku duduk di hadapannya. Menerima mahar pernikahan. Sebuah cincin melingkar di jariku, simbol pengikat tali pernikahan kami, lalu aku bersujud, mencium punggung tangannya sebagai tanda hormatku, dan dia mencium keningku.


"Sebentar, Ak," bisikku. "Kata sandinya apa?"


Eh?


Hahaha!


Wajib kupertanyakan, dong...! Apalagi nanti, sebelum memulai malam pertama. Hihi!

__ADS_1


Well, selamat, Wulan. Kamu sudah sah menjadi Nyonya Jaka Pradana Nugraha. Selamat....


__ADS_2