
Malam itu, entah pasangan lain merasakan hal yang sama ataukah tidak, tapi aku dan Ak Jaka jelas mengalami perjuangan yang luar biasa. Setelah selaput darah sebagai simbol keperawanan itu terkoyak oleh Ak Jaka -- dalam upayanya yang luar biasa dan dalam proses yang cukup lama hingga membuatku meringis kesakitan berkali-kali sebelum menjerit ketika selaput darah itu berhasil terkoyak -- aku malah bagaikan kehilangan separuh nyawaku. Aku lemas tak berdaya untuk waktu yang cukup lama sehingga membuat Ak Jaka merasa tidak tega untuk segera melampiaskan hasratnya malam itu. Aku bagaikan jatuh tertidur atau mungkin pingsan, entahlah, yang kutahu aku hanya setengah sadar sewaktu Ak Jaka kembali menyatukan diri denganku, bergerak perlahan seolah takut aku kembali kesakitan. Dan saat itu, bagaikan mati rasa oleh hilang kesadaran itu, aku malah tidak dapat menikmati momen di saat Ak Jaka menyelesaikan pertarungannya, mencapai puncaknya untuk pertama kali. Kasihan rasanya, ia meraih klimaksnya itu seorang diri dalam keheningan dan tanpa kehebohan yang maksimal. Karena tidak ada aku yang menikmati momen itu bersamanya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku merasa benar-benar lemas malam itu. Seakan-akan semua sarafku terputus hingga kehilangan separuh jiwa. Mataku terpejam tanpa bisa aku mencegahnya.
Hampir tiga jam lamanya, akhirnya aku membuka kembali kelopak mata, dan segera bertanya-tanya di mana diriku berada. Lengan dan kakiku terasa begitu berat, seolah-olah masih tertidur. Aku berguling ke samping, dan merasakan tarikan otot yang menyakitkan hingga aku meringis kesakitan.
"Ada apa?" tanya Ak Jaka yang terbangun dari tidur pulasnya. "Masih sakit?"
Mataku terbuka sepenuhnya. Aku menyadari bahwa aku berbaring menelentang, rambutku menyebar di sekitarku, pakaian kami bertebaran di lantai, dan sensasi menggelitik menjalariku. Rasa lelah sekaligus puas menguasaiku.
Aku tersenyum pada Ak Jaka yang berbaring di sampingku, selimut terlilit di pinggangnya. Aku sadar wajahku merah bahkan saat aku menatapnya. "Sedikit," kataku. "Kakiku... terasa kaku."
Ia mengangkat alis. "Tapi tidak kapok, kan?" Ak Jaka mencondongkan tubuh dan menjawil ujung hidungku. "Terima kasih, rasanya manis sekali. Dan sangat pantas untuk ditunggu. Itu momen terindah yang tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup. Terima kasih, Sayang."
Sekarang wajahku merah padam, perasaan puas yang sangat membahagiakan menjalariku. Aku buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tiba-tiba aku merasa sangat malu.
Dengan lembut, Ak Jaka menyibakkan helaian rambut dari wajahku. "Sekarang jangan malu-malu lagi padaku, ya?" katanya.
Aku mengulurkan tangan dan menjangkaunya, tersenyum ke arahnya. "Aku tidak malu, kok, Ak." Kemudian aku melirik selimut yang kubalutkan ke tubuhku erat-erat. "Well, aku memang malu. Sedikit. Tapi ini wajar. Dan mungkin... besok-besok...?"
Ak Jaka juga tersenyum. "Mmm-hmm. Besok-besok kamu akan terbiasa. Dan... bisa jadi kamu yang akan melepaskan semua pakaian dari tubuhku. Dan kamu yang akan naik ke atasku. Apa itu namanya? Woman on top?"
"Ak!" pekikku, refleks aku memukul bahunya. "Dasar kamu, ya! Dari mana kamu tahu istilah itu? Hmm? Jangan membuatku malu!"
Lalu kami tertawa bersama.
Sesaat kemudian aku melirik ke arah jam. Sekarang hampir jam dua belas malam. "Yang lain sudah tidur belum, ya? Aku mau ke kamar mandi. Tapi malu," kataku.
__ADS_1
"Takut mereka menggoda kita?" Ak Jaka beringsut duduk, meraih celana piyamanya yang tergeletak di lantai. "Biar aku cek dulu."
Ketika ia tidak melihat, aku memanfaatkan kesempatan untuk mengumpulkan pakaianku sendiri. Salah satu tali bra-ku tergantung lepas, tapi satu tali lagi hilang.
"Apa kamu melihat tali bra-ku?" tanyaku. "Sebelahnya lepas."
Ia melirik ke sekitar dengan santai. "Tali beha?"
Euw, agak menyebalkan. Untung saja dia tidak menyebut sinonim bra satunya lagi. Kan tidak enak kalau sepasang pengantin baru menyebut benda-benda keramat dengan bahasa yang kasar.
Ak Jaka menggeleng. "Tidak. Aku tidak lihat. Kurasa kamu harus cukup puas hanya dengan satu tali."
"Kalau hanya satu, bagian dadaku tidak akan tertutup sempurna."
Dan Ak Jaka menyengir konyol. "Memangnya itu masalah?" Ia tertawa. "Nanti juga akan kutanggalkan lagi."
Setelah tubuhku tertutup pakaian kembali, kupaksakan diri untuk berdiri. Kaki dan pahaku terasa pegal, seolah-olah aku habis berlari maraton, dan butuh sesaat bagiku untuk membiasakan diri dengan perasaan itu.
"Bisa berdiri?" tanya Ak Jaka, dia baru saja membuka pintu dan mengintip ke luar kamar.
Aku mengangguk. "Sebentar," kataku. "Masih tidak nyaman. Kakiku pegal."
"Kugendong, ya?
"Hah?" Aku melotot. "Tidak usah, Ak. Nanti malu kalau ada yang melihat."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, dong. Kan kita sudah sah. Halal. Dan lagipula... kamu begini kan gara-gara aku."
Hahaha! Aku tertawa, nyaris ngakak. "Memangnya kamu habis ngapain aku, sih?"
Eh? Aku kembali terkekeh. Pun Ak Jaka. "Kamu mau tahu?" Dia menghampiriku dengan kerlingan mata yang nakal lalu berlutut di hadapanku. "Setelah berhasil membobol gawang, aku...."
"Kamu... melakukan itu waktu aku setengah sadar?" tanyaku malu-malu.
Dia mengangguk. "Tak bisa kutahan," bisiknya. "Aku begitu tergoda melihatmu terbaring... polos di bawahku. Jadi...." Dia memalingkan wajah. "Aku tidak bisa menahan diri."
Uuuh... tangannya mengelus bagian dalam pahaku. "Dan sekarang aku yang tidak bisa menahan diri," ujarku, membuat Ak Jaka seketika tersenyum semringah.
Hmm....
"Maksudku nggak bisa nahan kebelet, Ak. Aku mau ke kamar mandi." Lalu aku tertawa cekikikan melihat wajah tampan di depanku itu memberengut.
Well, pada menit berikutnya, sementara handuk kuselempangkan di bahu kiri, aku meraih tangan Ak Jaka untuk minta ditemani keluar dan mengajaknya ke pintu, kami berhenti sejenak untuk mengintip suasana di luar kamar. Hening. Tidak ada siapa pun sejauh mata memandang. Semua orang sepertinya sudah terlelap di dalam kamar masing-masing.
Tak lama kemudian, kami sudah mengendap-endap menuju kamar mandi, nyaris tanpa suara. Satu-satunya yang membuatku berdebar hanyalah saat membuka pintu belakang dan ada suara kriek-kriek. Syukurlah, tampaknya tidak ada yang mendengar itu.
Kau tahu, bahkan di dalam kamar mandi pun hati ini masih dag dig dug. Kukerahkan segala kemampuan dan kepandaianku yang pas-pasan untuk melakukan prosesi bersih-bersih dengan meminimalisir suara. Dan aku rasa hasilnya cukup baik. Tinggal satu masalah lagi. Bagaimana keluar dari kamar mandi dan sesegera mungkin melangkahkan kaki menuju kamar tanpa ada yang melihat? Mengingat seisi rumah yang begitu iseng terhadap satu sama lain, aku tahu aku akan menerima godaan yang bisa membakar wajahku hingga begitu panas.
Dan itulah yang terjadi. Sewaktu aku dan Ak Jaka mengendap-endap hendak kembali ke kamar kami, Kang Solihin dan Teh Husna mengintip dari pintu kamar mereka.
"Ecieeeee... yang terbangun untuk melanjutkan babak kedua."
__ADS_1
Jiaaaaah... tahu saja mereka. Wkwkwk!