7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Jiwa Yang Terluka


__ADS_3

Setelah cumbuan-cumbuan mesra yang nikmat dan menyenangkan itu, yang sedikit menyiksa, Ak Jaka memaksaku untuk sepakat dengannya: kami berdua tidak boleh berdekatan dengan sengaja, harus menjaga batasan kemesraan, dan harus menjaga jarak minimal dua meter. Katanya itulah yang terbaik bagi kami berdua, itu semua demi mencegah hal-hal yang tidak ia inginkan.


"Yap, perlu digaris bawahi," katanya. "Itu semua demi mencegah hal-hal yang tidak aku inginkan." Dia tergelak keras saat mengatakan itu.


Hmm....


"Maksudnya...?" tanyaku seraya mendelik.


Dia masih saja tertawa. "Kamu menginginkannya, Sayang. Sangat. Iya, kan?"


Iyuuuh... dasar. Aku tersindir, namun tidak tersinggung. Yeah, mau bagaimana lagi? Nyatanya aku memang menginginkannya.


Well, aturan yang diterapkan Ak Jaka membuat persembunyian ini jadi begitu berat bagi kami. Kami bersama, tapi mesti menjaga jarak.


Dan bicara soal persembunyian, menurut kami, rumahku adalah tempat persembunyian yang tepat untuk Ak Jaka dari kejaran para gadis yang menjadi sasaran kembarannya, juga dari kebengisan dan amarahnya Nek Aluh. Dan kurasa, bisa jadi di luar sana: paman, bibi, nenek, atau kakek dari para gadis itu sudah mulai beringas mencari keberadaan pria cabul itu.


Untuk sementara, aku dan Ak Jaka memutuskan untuk bersemayam dulu di dalam rumah tua nenekku, sampai kakiku sembuh total dan aku bisa berjalan lagi dengan normal. Pasalnya, aku begitu takut jika kami berdua terpisah, lalu aku akan kembali bingung apakah yang di hadapanku adalah dia yang asli ataukah yang palsu. Jadi, dia tidak boleh lagi jauh-jauh dariku.


Sementara, di sisi lain, untuk menyelesaikan masalah Ak Jaka, caranya hanya perlu menemukan kembarannya, dan menunjukkan sosok mereka berdua di hadapan orang-orang untuk membuktikan bahwa wajah tampan itu ada dua, yang satu adalah Jaka Pradana, dan yang satu adalah Jaka Prasetya, satu yang bertindak buruk, dan yang satu hanya terkena getahnya.


Yap, hanya itu caranya. Dan di situlah susahnya. Ak Jaka sudah mengerahkan banyak anak buahnya untuk mencari keberadaan kembarannya, tapi hasilnya nihil. Barangkali pria itu sekarang sama bersembunyinya seperti yang Ak Jaka lakukan.


Karena pembahasan itulah akhirnya aku bertanya pada Ak Jaka, kenapa orang-orang tidak ada yang tahu kalau dia kembar. Bahkan Aji yang bersahabat dengannya sejak kecil pun tidak tahu. Persis di saat itu aku pun menyadari kekonyolanku. Aku mempercayai Ak Jaka tanpa logika. Tanpa melihat ia dan kembarannya secara bersamaan, aku percaya padanya bahwa dia memiliki kembaran. Dan ia berhasil meyakinkanku bukan dia yang bertindak buruk selama ini, melainkan kembarannya. Sungguh, kepercayaanku terhadap dirinya amat sangat tidak logis.


"Aku merasa bodoh," kataku seusai mengajukan pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Ak Jaka. "Seharusnya aku tidak percaya begitu saja padamu tanpa melihat kalau kamu benar-benar punya kembaran. Harusnya... ada bukti otentik, bukan?"


Aku tertunduk lesu. Ingin kuhapus keraguan yang walau secuil itu, tapi itu bukanlah perkara gampang. Sebab, nyatanya aku memang tidak pernah melihat Ak Jaka dan kembarannya berada di satu tempat yang sama dalam waktu bersamaan.


"Agaknya kamu masih meragukan aku," kata Ak Jaka dengan nada kecewa.


Aku menggeleng, merasa bersalah dan mencoba mencari alasan. "Apa aku mengatakan seperti itu, Ak?"


"Mungkin kamu tidak mengatakannya. Tapi dari perkataanmu...."

__ADS_1


Aku tersenyum. "Masalahnya bukan percaya atau tidak, Ak. Tapi logikanya, aku tidak pernah tahu apalagi melihat kamu dengan kembaranmu secara bersamaan."


"Jadi intinya kamu ragu, ya kan? Kamu berpikir masih ada kemungkinan kalau aku ini berdusta, dan aku ini--"


"Sudahlah, Ak. Maafkan aku," kataku memotong dengan suara lembut. "Seharusnya aku tidak bicara begitu."


"Wajar jika kamu bicara seperti itu. Kamu memang tidak pernah tahu kebenarannya. Apalagi dengan hasratku yang selalu timbul saat kita bermesraan, wajar kalau kamu meragukan aku."


Aku terdiam. Kuhela napas berulang kali lalu berkata, "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Ak. Tolong jangan marah, ya? Maaf?"


Tapi dia tidak merespons. Dia memandang ke jurusan lain dan enggan menatap ke arahku.


"Ak," kataku, aku nekat menghampirinya. Tanpa sadar aku berdiri tanpa tongkat dan tiba-tiba merasakan sakit pada kakiku yang terluka. "Auwwwww...!" aku menjerit kesakitan dan kembali terduduk.


Praktis Ak Jaka langsung mencemaskan kakiku. "Makanya jangan pecicilan," ocehnya seraya memeriksa luka di kakiku, lalu mengelus-elus bagian yang terkilir. "Sudah tahu kakimu masih sakit, malah berdiri dadakan begitu."


"Kenapa kamu malah marah-marah?" rajukku. "Kan aku spontan berdiri gara-gara kamu...."


Dia kembali merengut dan ingin duduk menjauh. Tapi untungnya aku sigap menahannya. Kupegang tangannya dan kutatap dia penuh harap.


"Tidak sekarang," kataku. "Please...?"


"Itu aturannya," sahutnya tanpa berpaling.


"Aku mohon...? Kita baikan, ya? Jangan marah lagi...."


"Siapa yang marah?" katanya, lalu ia duduk di hadapanku. Dia tersenyum, tapi kecut.


"Baiklah, kalau kamu tidak marah, senyumnya yang tulus, dong? Please...?" pintaku seraya menelengkan kepala.


Praktis Ak Jaka menaikkan sebelah alisnya. "Kamu minta aku tersenyum tulus... atau minta aku menciummu?"


Aku tertawa perlahan sambil memalingkan wajahku yang bersemu merah ke jurusan lain. Lalu aku berkata, "Menurutmu?"

__ADS_1


Ak Jaka tertawa lalu mengedikkan bahunya. "Kamu minta dicium."


"Benarkah?"


"Mmm-hmm...."


"Mungkin hanya perasaanmu, Ak. Atau Ak Jaka yang sebenarnya ingin menciumku, hmm?"


Dia menggeleng. "Tidak mau. Nanti kebablasan." Dia mundur jauh-jauh sampai ke ujung sofa.


"Baiklah. Kalau begitu tidak usah menciumku. Tapi sebagai gantinya, tolong ceritakan padaku tentang... yang tadi, kenapa tidak ada orang yang tahu kalau kamu punya kembaran? Emm... sori, sori," kataku melihat wajah Ak Jaka yang kembali sendu. "Kuganti deh pertanyaannya. Emm... ceritakan padaku apa saja yang sekiranya bisa kamu ceritakan padaku. Bisa, kan? Aku kan calon istrimu. Hmm?"


Aku memberikan senyuman manis kepadanya, untuk membuat hatinya merasa sejuk dan terpikat, lalu ia bercerita kepadaku...


"Aku... dan kembaranku terpisah saat usia kami sebelas tahun. Orang tua kami berpisah. Aku memilih untuk ikut dengan ibuku, kami pulang ke Indonesia, ke rumah nenek. Sementara Prasetya tidak mau, dia ingin tetap tinggal di Singapura bersama ayah kami. Tapi naas, begitu tiba di Indonesia kami mengalami kecelakaan. Ibuku terluka parah di bagian kepala hingga dia mengalami amnesia. Menurut nenek, dalam kondisi ibuku yang seburuk itu, akan berisiko fatal kalau kami memberitahu ibuku kalau dia punya seorang anak lain yang terpisah jauh dari kami. Nenek tidak mau kalau ibuku berusaha mengingat masa lalunya, apalagi sampai nekat kembali ke Singapura dan nanti terjadi pertengkaran lagi dengan ayahku. Jadi... kami merahasiakan sosok Prasetya dari ibuku. Kami tidak pernah membahas tentang kembaranku pada siapa pun. Jadi warga kampung tidak ada yang tahu. Lalu... tiga tahun setelah itu, ternyata ayahku kembali ke Indonesia dan membuka perusahaan baru di Jakarta. Waktu itu aku tidak tahu soal itu. Aku baru tahu ayahku ada di sini ketika usiaku delapan belas tahun. Itu pun karena... Prasetya masuk penjara. Divonis kurungan dua puluh tahun... karena terlibat kasus pembunuhan berencana."


Hah?


Mataku melotot.


"Dia membunuh saingan cintanya."


"Apa? Cuma gara-gara cinta?"


"Biasalah. Remaja."


"Astagaaaaa...! Bodoh sekali dia."


"Tapi poinnya bukan di situ, melainkan...."


"Apa?" tanyaku.


"Ayahku datang dan memberitahuku kalau Prasetya dipenjara, dan... ayahku memintaku untuk mengurus perusahaannya. Menggantikan Prasetya yang menurutnya tidak bisa diharapkan. Dia menyuruhku kuliah dan mempersiapkan diri untuk menjadi satu-satunya ahli warisnya. Sebab itu hubunganku dengan Prasetya tidak baik. Dia membenciku. Dan dia tidak pernah mau bertemu denganku kalau aku mengunjunginya di lapas. Tidak sekali pun."

__ADS_1


Ya Tuhan, kasihan sekali. Pria ini nampak baik dari luar, tapi aku tahu, di dalam sana... jiwanya terluka.


__ADS_2