
Hari-hari berikutnya berjalan dengan baik. Aku dan Ak Jaka sudah memutuskan tanggal untuk pernikahan kami, dan kami berdua juga telah sepakat akan melangsungkan akad nikah di KUA saja. Meski ternyata pada akhirnya ada perubahan karena suatu alasan.
Dalam masa menunggu dalam persembunyian itu, aku sudah bisa berjalan dengan normal dan melepaskan tongkatku. Dan kabar baik berikutnya adalah dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai persyaratan pernikahan bagi Ak Jaka sudah lengkap dan dikirimkan kepada Kang Solihin. Lalu pada saat yang tepat, aku dan Ak Jaka segera meninggalkan rumah.
Hari itu, hampir lewat tengah malam, dengan motorku kami pergi ke rumah pamannya Ak Jaka, Mang Zulfikar, orang tua dari Kang Solihin yang tinggal di kecamatan sebelah dengan tujuan untuk minta diuruskan syarat-syarat pernikahan untukku. Mengingat kondisi Ak Jaka yang katakanlah terancam dari keluarga perempuan-perempuan yang menjadi tumbal dari perbuatan saudara kembarnya, maka berita pernikahan kami tidak boleh tersebar ke masyarakat luar, apalagi masyarakat di kampungku. Maka dari itu, untuk pengurusan dokumen-dokumen berikutnya, khususnya untuk kelengkapan dataku, kami meminta bantuan Mang Zulfikar untuk mengurusnya: baik urusan dengan pihak pemerintahan desa maupun urusan dengan KUA setempat. Selain untuk pengurusan dokumen, Mang Zulfikar secara pribadi akan meminta kepada seluruh pihak terkait untuk merahasiakan tentang rencana pernikahan kami, terutama dari warga kampungku dan keluarga para gadis malang itu. Untungnya semua pihak yang dimintai pertolongan bersedia memaklumi dan memenuhi permintaan Mang Zulfikar, dan mereka mau diajak bekerja sama.
Pembahasan mengenai pernikahan kami dengan Mang Zulfikar sudah berlangsung sejak beberapa hari sebelum kami meninggalkan rumah, bahkan sebelum dokumen-dokumen kelengkapan persyaratan Ak Jaka dikirimkan. Sebab itu, rencana pernikahan kami sedikit ada perubahan, tidak seratus persen sesuai dengan apa yang aku dan Ak Jaka kehendaki. Rencanaku dan Ak Jaka yang pada awalnya ingin menikah di KUA saja dan tanpa resepsi mendapat protes dan penolakan keras dari Mang Zulfikar. Sebagai paman satu-satunya, saudara dari almarhumah ibunya Ak Jaka, Mang Zulfikar ingin pernikahan keponakannya itu diselenggarakan dengan resepsi atau acara syukuran meski hanya kecil-kecilan. Mengingat dulu Ak Jaka banyak membantu dalam pernikahan Kang Solihin, maka mereka tidak bisa menerima kalau pernikahan Ak Jaka sendiri hanya berlangsung di KUA dan tanpa resepsi.
Sebenarnya, Ak Jaka sendiri pun sudah menjelaskan kepada Mang Zulfikar dan keluarganya bahwa kami akan mengadakan resepsi pernikahan suatu saat nanti setelah situasi kami bisa dianggap aman. Tetapi mereka pesimis dengan yang namanya resepsi susulan. Aku masih ingat benar yang dikatakan oleh Mang Zulfikar pada saat itu, bahwa kami bisa mengadakan resepsi sesuai yang kami impikan saat tiba waktu yang pas nanti. Tapi pada saat hari H, Mang Zulfikar ingin acara kecil-kecilan tetap diselenggarakan. Dan itu wajib tanpa penolakan.
Aku menurut saja kataku pada Ak Jaka. Asalkan di sepanjang acara keadaan akan aman-aman saja. Tidak terjadi kekacauan yang bisa membahayakan banyak pihak apalagi sampai mempermalukan Mang Zukfikar sekeluarga. Segala kemungkinan terburuk mesti diantisipasi. Sebab itu, Ak Jaka menyetujui dan akan mengerahkan keamanan ekstra saat acara pernikahan kami dilangsungkan. Jadi, dengan keputusan bersama, kami semua sepakat, akad pernikahan kami dan acara syukuran kecil-kecilan akan dilangsungkan di rumah Mang Zulfikar. Dan, sesuai rencana yang telah disepakati bersama, sejak H-1 sore, tim WO akan memasang tenda dan dekorasi. Untuk hidangannya kami sudah memesan katering yang akan diantarkan pada hari H.
Barangkali ini acara pernikahan teraneh pada abad ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak ada kabar burung bagi warga sekitar rumah Mang Zulfikar, bahkan warga tidak pernah melihat aku dan Ak Jaka sebelum hari H karena kami bersembunyi di dalam rumah, tahu-tahu sore itu ada pemasangan tenda dan segala macam hiasan dekorasi, lalu kami akan muncul pada esok paginya dengan pakaian pengantin, dalam balutan tuksedo dan kebaya lengkap, dalam keadaan siap menikah. Pasti pada saat itulah kasak-kusuk akan terjadi, pikirku. Warga kampung di desa Mang Zulfikar semuanya akan dipersilakan datang meski tanpa diberi cetakan undangan.
Dalam persembunyian kami, beberapa hari sebelum pernikahan kami berlangsung, tepatnya setelah kami semua menyepakati hasil rembukan rencana pernikahan itu, aku membayangkan diriku dalam situasi riuh resepsi pernikahan kami, di mana aku akan merasa seperti orang asing di antara ratusan orang. Sebab, yang kukenal hanyalah keluarga Ak Jaka, sementara aku tidak mengenal seorang pun tamu undangan lainnya. Berbeda dengan Ak Jaka, dia mengenal para tetangga dekat rumah Mang Zulfikar, dia juga mengenal keluarga besan Mang Zulfikar. Tentu saja, dia tidak akan berada dalam situasi secanggung yang nanti akan aku alami.
"Huft...! Tidak apa-apa, Wulan," gumamku malam itu di dalam salah satu kamar di rumah Mang Zulfikar, kamar yang kutempati sendirian. "Yang penting sah. Dan pernikahanmu direstui dan didoakan oleh banyak orang. Dan yang terpeting... dialah mempelai pria-ku. Bukan orang lain."
Oh Tuhan... aku tidak sabar untuk hari istimewa itu.
"Hei, kenapa senyum-senyum?" suara Ak Jaka membuatku tersentak kaget. Tiba-tiba pria itu muncul dari balik pintu, lalu membuka daun pintu kamar itu lebar-lebar dan duduk di sebelahku, di tepian tempat tidur. "Apa yang kamu pikirkan? Hmm? Hari pernikahan kita, atau malam pertama kita?"
__ADS_1
Eh?
Ya ampun, merah merona pipiku. Terasa panas karena tersipu. "Aku memikirkan pernikahan kita. Bukan malam pertamanya...."
"O ya?"
"Iya, Ak...."
"Lalu kenapa wajahmu merah begitu?"
Aku memalingkan muka ke jurusan lain, merasakan pipiku semakin panas. "Kamu sih, bahas-bahas soal...."
"Oh, sudahlah... aku malu, Ak."
"Kenapa mesti malu?"
"Ya malu lah...."
"Kalau membicarakannya saja malu, apalagi kalau... melakukannya nanti."
Kali ini aku mendelik, lalu terbahak-bahak. "Sudah dong, Ak. Jangan bahas beginian dulu. Kemarin-kemarin itu kan aku hanya bercanda. Kalau sekarang kan situasinya berbeda. Sekarang... aku benar-benar akan menjadi pengantin. Aku malu." Kuusap-usap pipiku yang terasa hangat dan kebas.
__ADS_1
Ak Jaka tersenyum semringah. Jelas rona bahagia terpancar dari kedua matanya yang indah.
"Sayang?"
"Emm? Ada apa?"
"Aku mencintaimu," ujarnya seraya meraih dan menarik tanganku, lalu ia menyapukan bibirnya dengan lembut di punggung tanganku, juga di telapak tanganku. "Terima kasih karena kamu sudah bersedia menikah denganku," katanya seraya menatap lekat kedua mataku. "Terima kasih atas cinta dan kepercayaanmu. Bahkan sebelum melihat kembaranku, kamu memutuskan untuk tetap percaya kepadaku. Terima kasih, ketulusanmu akan cinta dan kepercayaan itu sangat berarti bagiku. Terima kasih, Sayang."
Dia membuatku tersenyum karena ucapannya yang begitu tulus. "Sama-sama, Ak. Tapi bagusnya kamu berterimakasihnya nanti saja, setelah kita sah. Biar nanti kita punya bahan obrolan," kataku, lalu aku tertawa.
"Malam pengantin itu bukan waktunya untuk mengobrol, Sayang...."
"Uuuuuh... memangnya untuk apa?"
"Jangan sok polos, Siti Wulandari Ibrahim. Atau kamu akan tahu akibatnya."
Ih... seram...!
Hahaha! Akan kulihat, seberapa beringasnya dia.
Ups!
__ADS_1