7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Pagi Pertama


__ADS_3

Kebiasaanku sejak dulu yang selalu bangun pagi menguntungkan bagiku dalam kondisiku sekarang ini. Seraya menguap lebar aku meregangkan tubuh yang terasa pegal luar biasa akibat kegagahan Ak Jaka yang menakjubkan, yang membuat dirinya begitu kelelahan hingga masih tertidur pulas di sampingku. Sejenak aku bingung, menggosok-gosok mataku untuk mengusir kantuk, lalu memandang ke sekeliling ruangan. Jam menunjukkan pukul empat lewat sedikit. Aku tahu anggota keluarga yang lain pastilah belum bangun, paling tidak lebih dari setengah jam lagi baru mereka akan terbangun dan keluar dari kamar.


Sementara mengumpulkan nyawa dan kekuatan baru pagi ini, aku menggunakan waktu untuk berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa keluar kamar tanpa suara? Saat aku memutuskan untuk beranjak, Ak Jaka malah terbangun. “Mau ke mana, Sayang?” tanyanya.


Aku hanya tersenyum sebelum kemudian mengatakan aku ingin mandi, dan sementara menunggu waktu subuh, aku akan menyiapkan sarapan di dapur.


Ak Jaka mengangguk. "Aku akan mandi setelah kamu," ujarnya.


"Ya," kataku. Aku pun turun dari tempat tidur, dengan cepat meraih dan memakai jubah mandiku, mengambil handuk dan memakai sandal rumah, kemudian berjalan ke luar kamar. Pelan-pelan, aku menyusuri ruangan demi ruangan lalu sampai ke area dapur. Untunglah seperti dugaanku, tidak ada orang. Belum ada anggota keluarga yang bangun pada jam empat pagi. Dan ketika aku sampai ke kamar mandi, pintu kamar mandi sedikit terbuka, aku langsung menyelinap masuk dan menutup pintu.


Dan yang terjadi berikutnya persis dengan apa yang kuharapkan. Aku berusaha mandi dengan meminimalisir suara, dan berusaha mandi secepat mungkin. Sehingga, sewaktu yang lainnya terbangun untuk mandi atau berwudu, aku sudah lebih dulu berada di dapur. Aku tidak ingin menerima godaan dari anggota keluarga bahwa pengantin baru ini bangun kesiangan karena kelelahan akibat malam yang melelahkan.


Setelah selesai mandi, aku segera masuk ke kamarku untuk berpakaian dan merapikan diri. Aku hampir tidak bisa melihat sosok Ak Jaka di balik selimut. Seperti anak kecil, ia meringkuk dan menyelubungi tubuhnya hingga menutupi kepala. Pria itu bergerak ketika aku membuka selimutnya.


"Aku sudah selesai mandi," kataku pelan.


Dia mengangguk. "Ya," katanya seraya berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, lalu ia meregangkan tubuh sambil menguap lebar, kedua tangan dan kedua kakinya yang jenjang mengejang. Pun bagian kelelakiannya. Aku jahil menyibak selimut dari tubuh Ak Jaka sewaktu ia meregangkan tubuh, dan langsung terkekeh-kekeh karena melihat semua bagian tubuhnya mengejang sempurna.


"Dasar gadis kecil...!" protesnya sambil tertawa. "Jangan memancing harimau, nanti kamu harus mandi ulang, mau? Hmm?"


Aku menggelengkan kepala sambil tertawa, tepatnya berusaha meredam tawa. "Tidak mau. Sana, Aak pergi mandi. Cepat, ya...."


"Ya." Ak Jaka bangun segera. "Pasti dingin mandi jam segini. Nanti hangatkan aku, ya?"


Eh?


Hahaha! Dasar! Maksudnya apa itu?

__ADS_1


"Apa pun untukmu," kataku supaya Ak Jaka bergegas ke kamar mandi.


Sementara aku menyeberangi ruangan, dan membuka tirai, Ak Jaka keluar dari kamar. Aku pun segera kembali ke dapur setelah berpakaian.


Di dapur, aroma kopi segar menggelitik hidungku, tetapi ruangan itu kosong. Kupikir pasti Ak Jaka yang menyeduh kopi itu sebelum ia masuk ke kamar mandi. Well, sudah ada kopi hangat, aku pun mengambil cangkir dari rak, menuangkan kopi untuk diriku sendiri, dan menyesapnya sementara seseorang berjalan ke arah dapur. Mang Zulfikar.


"Selamat pagi, Nak."


"Selamat pagi, Mang," aku balas menyapa.


"Bagaimana perasaanmu hari ini?"


"Baik, Mang."


"Bahagia sudah menjadi istri keponakan Mamang?"


"Bagus. Yang akur, ya, kalian. Kalau ke depannya nanti ada apa-apa, kalian beritahu Mamang dan Bibi. Anggap kami seperti orang tua kandung kalian sendiri."


Ah, Mang Zulfikar, pagi-pagi begini sudah membuatku terharu. Aku mengangguk, nyaris melankolis. "Ya, Mang," kataku. "Terima kasih karena Mamang sudah memperlakukan kami seperti anak Mamang sendiri."


Mang Zulfikar mengangguk seraya tersenyum.


"Mamang mau makan sesuatu?"


"Kopi saja, Nak."


"Akan kuambilkan." Aku tersenyum kepadanya. "Mamang mau dibikinkan sesuatu untuk sarapan?" tanyaku seraya mengulurkan secangkir kopi kepadanya.

__ADS_1


Mang Zulfikar mengangguk. "Pisang goreng?"


"Akan kubuatkan."


"Bakwan jagung?"


"Baiklah. Ada lagi?"


"Martabak sayur?"


Aku tersenyum lebar kepadanya. "Oke, Mang. Gorengan komplit."


Sambil tertawa kecil, Mang Zulfikar pergi ke ruang tengah, sementara aku mulai bergulat untuk membuat sarapan. Untungnya pada saat bersamaan, Teh Husna pun sudah bangun. Ia cepat-cepat mandi, kemudian segera membantuku di dapur untuk sesi goreng-menggoreng. Kesibukan kami hanya berhenti sesaat untuk salat subuh. Setelahnya, aku dan Teh Husna, dibantu juga oleh Bi Fatma kembali berkutat dengan menu sarapan pagi, sementara kaum lelaki menunggu sambil berbincang-bincang di ruang tengah. Televisi menyala, menyuguhkan berita pagi dan fenomena alam yang terjadi.


Tibalah saatnya sarapan. Aku kembali ke kamar sejenak menyusul Ak Jaka, merapikan rambutku, menyemprotkan parfum, dan berusaha tampil cantik, seperti ingin mengalahkan pesona pagi. Sekuat tenaga aku ingin menjadi seorang istri yang terbaik, pagi ini aku ingin terlihat menarik.


Orang-orang menunggu kami di ruang makan. Dan ke sana-lah kami berdua melangkah. Pagi itu aku dan Ak Jaka memang sangat merindukan sarapan pagi. Tenaga yang terkuras habis karena pertarungan semalam membuat kami benar-benar kelaparan.


Sesampainya kami di ruang makan, aku mendapati wajah-wajah menyelidik, senyum yang aneh, dan beberapa kalimat yang lebih terdengar menggodam daripada menggoda. Mereka pasti baru saja membicarakan tentang kami sewaktu kami belum kembali ke dapur. Sungguh, ini seperti uji nyali di acara televisi. Beratnya tiga kali lipat dibanding ketika aku mendaki puncak Mahameru.


Dengan seribu tanda tanya memenuhi benak, aku dan Ak Jaka duduk bergabung dengan mereka di meja makan. Saat aku menatap Ak Jaka, sangat tampak sekali jika dia tak lebih baik dariku. Ingin sekali aku bertanya padanya, kenapa semua pasang mata sebegitunya memandang rambutku yang masih terlihat basah?


Di situasi yang seperti itu, kegilaan dengan mudah menghinggapi otakku. Ya, ya, ya, saat itu aku masih sempat-sempatnya berpikir gila. Andai aku berjilbab seperti Teh Husna, mungkin ceritanya akan berbeda.


Tapi malu ih, aku sendiri yang digoda. Teh Husna kan baru saja mandi, rambutnya tentu saja lebih basah daripada rambutku. Dan ia juga mandi paginya sebelum salat subuh, berarti kemungkinan semalam ia juga menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, bukan? Begini ni nasibnya sebagai pengantin baru. Hanya aku dan Ak Jaka yang menjadi trending topik saat ini. Godaan pertama untukku dan Ak Jaka yang baru sehari menjadi pasangan suami-istri.


Tapi aku bersyukur, keceriaan dari wajah-wajah itu menggambarkan bahwa mereka begitu mencintai aku dan Ak Jaka, dan mereka sedang menciptakan pagi termanis untuk kami.

__ADS_1


Terima kasih. Sungguh aku bahagia karena memiliki kalian semua....


__ADS_2