
"Camkan kata-kataku, kalau kamu masih berani mendekati Kang Aji, kubunuh kamu!" Wenny membeliakkan sepasang matanya dan jari telunjuk tangan kanannya ditudingkan tepat ke wajah Mentari, membuat Mentari terkejut dan tersurut satu langkah.
Wajah Mentari yang cantik jelita itu seketika berubah pucat. "Bagaimana kamu bisa menuduhku ingin mendekati Kang Aji? Memangnya aku ini...?"
"Gadis jalan*! Itulah dirimu! Kamu sama seperti ibumu yang *undal itu!"
Wajah pucat Mentari kini berubah merah. "Apa maksudmu? Hati-hati kalau bicara!" bentaknya dengan suara keras dan lantang. Matanya yang besar membersitkan bahwa ia tengah dilanda kemarahan besar. "Jangan berani bicara yang bukan-bukan dan jangan bawa-bawa ibuku! Jika kamu masih bermulut lancang, lekas angkat kaki dari sini sebelum aku menyeretmu dan melemparmu ke luar!"
Wenny kembali melayangkan senyum sinis. "Aku tidak bicara yang bukan-bukan. Justru aku datang untuk bicara yang benar. Aku juga tidak bermulut lancang. Dan terus terang, aku merasa senang jika ada orang lain di tempat ini mendengar apa yang kukatakan padamu, Jalan*!"
"Wenny!" suara Mentari bergetar. "Rupanya kemunculanmu sengaja ingin mempermainkan dan mempermalukan aku!"
"Itu karena perbuatanmu sendiri! Dengar baik-baik apa yang akan kukatakan. Aku tidak suka kamu memikat pacarku! Aku tidak suka melihatmu memeluk mesra pacarku! Paham?"
"Gadis kurang ajar! Siapa yang memikat pacarmu! Siapa yang memeluk pacarmu!" teriakan Mentari menggelegar di dalam ruangan kecil itu.
"Jangan kira aku buta, Berengsek! Aku bisa melihat dengan jelas apa yang kamu lakukan kemarin! Kamu memeluk pinggang pacarku!"
"Kalau kamu keberatan soal itu, kenapa kamu tidak keberatan saat pacarmu membawa pulang gadis lain? Kenapa kamu tidak keberatan saat pacarmu menggendong gadis lain dan membawanya masuk ke dalam kamarnya?"
Wenny tertawa panjang mendengar kata-kata Mentari. "Kamu ingin mengalihkan pembicaraan. Saat ini bukan perihal gadis lain yang ingin aku bicarakan. Soal gadis lain tidak usah kamu korek-korek. Aku bisa mencari tahu sendiri lain waktu dan akan memutuskan apa yang akan kulakukan kalau itu memang benar. Aku datang ke sini untuk membicarakan dirimu! Hanya karena perselisihanmu dengan pria tua bernama Jaka itu, lantas kamu berbuat tak karuan! Apa kamu kira aku tidak tahu bagaimana kamu meninggalkam pria tua itu lalu memikat pacarku? Menunggangi motor bersama-sama sambil tanganmu merangkul ke pinggang Kang Aji? Dirimu sungguh cerdik, Jalan*! Kamu sakiti hati si Jaka itu, sekaligus kamu rayu pacarku!"
__ADS_1
"Wenny! Tuduhanmu busuk sekali! Aku tidak punya niat memikat pacarmu! Juga tidak punya keinginan bermesraan, apalagi bercinta dengannya!"
Ya, karena kamu hanya ingin bercinta dengan Oom Jaka. Dasar....
"Yang kamu ucapkan justru berlainan dengan apa yang aku rasa dan apa yang aku lihat sendiri!" jawab Wenny. "Sebagai seorang perempuan, kamu pasti menganggap apa yang kamu ucapkan itu benar-benar bersih! Terus terang aku meragukan kebersihan dirimu dan hatimu itu! Sebagai seorang anak gadis kamu lebih banyak berkeliaran! Kamu banyak terpikat pada pemuda yang baru datang dari kota! Jangan kira aku tidak tahu kalau kamu pernah jatuh cinta pada Kang Aji! Jangan kira aku tidak tahu karena pria tua bernama Jaka itu mengkhianatimu setelah merenggut keperawananmu, dirimu lantas berbalik hati berusaha mendekatkan diri pada pacarku! Aku ingin tahu apa kamu berani menyangkal ucapanku! Berarti kamu menambah dalam kedustaanmu sendiri! Dasar munafik!" Wenny tertawa panjang. Belum puas sehabis tertawa, gadis itu kembali menyemprotkan kata-kata. "Mentari, kamu memang cantik. Banyak lelaki bisa tertarik padamu. Tapi selain cantik kamu ternyata picik! Sangat picik! Apa kamu kira begitu mudah mendapatkan seorang pacar hanya karena kecantikan wajahmu? Hmm? Tidak! Tidak untuk seorang jalan*!" Wenny kembali tertawa panjang.
Ya Tuhan, mereka berdua gadis terpelajar, tapi kenapa bersikap begitu rendahan?
Mentari murka. "Gadis busuk! Jahanam!" teriaknya.
Dan mereka saling menjambak!
Keluar. Jangan. Keluar. Jangan. Keluar. Jangan. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak usah, Wulan. Biarkan saja mereka. Kakimu saja sedang terluka. Kalau dirimu nekat keluar, akan buruk bagi dirimu sendiri.
Wenny tersadar lalu bingung sendiri melihat apa yang telah dilakukannya. "Celaka! Bagaimana kalau dia mati? Sebentar lagi Luna pasti kembali. Aku harus segera pergi sebelum dia muncul!"
Wenny segera berkelebat ke arah pintu.
Ya ampun, aku harus bagaimana? Kalau Mentari mati, aku yang akan dituduh membunuhnya. Kang Aji dan Luna tahunya aku yang ada di rumah ini. Mereka akan menyalahkan aku. Aku tidak punya bukti untuk membela diri. Aku harus keluar. Harus mencari pertolongan sebelum aku yang dituduh.
Benar. Aku harus segera pergi. Aku cepat-cepat keluar dari pintu belakang dan berusaha mencari pertolongan. Aku tidak akan mengizinkan nama Wenny selamat dan namaku yang dipertaruhkan.
__ADS_1
Dengan gelisah aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada dua orang yang duduk di teras rumah tetangga. Aku pun berteriak meminta pertolongan.
"Ada apa, Teh?" tanya salah satu dari pemuda itu.
Aku menunjuk gelisah. "Ddd di... di rumah itu... di rumah itu ada yang bertengkar. Yang satu sudah kabur. Tapi yang satunya terkapar. Aku tidak tahu bagaimana kondisinya. Tolong, tolong, tolong segera diperiksa."
Tanpa menyahut, kedua orang itu berlari, menghambur masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku yang berjalan lambat, tiba di sana beberapa menit setelahnya. Sudah ada dua orang wanita di dalam sana yang entah kapan masuknya. Salah satunya berbadan luar biasa gemuk yang belakangan kuketahui bernama Bonita, dan yang satunya teramat kurus, tepatnya cungkring bernama Yunita -- berjongkok di samping tubuh Mentari yang tergeletak dan bersimbah darah.
"Kami berdua melihat sendiri, Pak. Luna yang mencelakai gadis ini sampai meninggal. Kami berdua saksi matanya."
Apa???
Aku luar biasa terkejut. Mentari mati! Meninggal dunia dengan tragis. Tapi kenapa kedua wanita itu malah memfitnah Luna?
Terserah, Wulan. Untung bukan dirimu yang difitnah. Sekarang bagaimana mungkin kamu bisa menyebut nama Wenny. Hati-hati dalam bertindak, kalau tidak, kamu sendiri yang akan terperosok. Kamu tidak tahu siapa dua orang ini dan kenapa mereka memfitnah Luna.
Wanita yang memberikan kesaksian palsu itu mengusap mukanya yang putih gembrot dan selalu keringatan. Dia memandang sekeliling. "Cepat lapor polisi! Luna harus ditangkap!"
Deg!
Selamatkan dirimu sendiri, Wulan. Jelas wanita gendut ini punya misinya sendiri. Kamu jangan ikut campur. Mereka bermaksud jahat dan pasti orang-orang berbahaya.
__ADS_1
Percayalah! Sungguh aku dalam keadaan tidak berdaya. Aku tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan. Aku memang pengecut!
Tapi aku ingin hidup dengan damai....