
Begitu mudahnya Ak Jaka membuatku tertawa. Hanya dengan kata-katanya yang sederhana, sebuah keseriusan dalam kalimat berbalut canda.
“Tetaplah seperti ini,” ucapku. "Aku... aku bahagia. Sungguh, kamu membuatku sangat bahagia."
Ak Jaka tersenyum. “Jangan menangis, meskipun kamu terlihat begitu cantik saat matamu berkaca-kaca,” ucap Ak Jaka sambil mengusap air mataku dengan ujung jarinya. Aku tersenyum.
"Emm... Ak?"
"Ya? Ada apa, Sayang?"
"Emm...."
"Kenapa?"
"Anu... aku minta maaf?"
"Untuk?"
"Sikapku hari ini. Yang emosional, labil...."
"Ssst... jangan dibahas, ya? Setidaknya tidak malam ini. Aku tidak ingin ada hal apa pun yang bisa mengganggu pikiran kita. Belum saatnya. Kita sedang berbulan madu. Hmm?"
Aku mengangguk. "Ya. Apa pun yang dikatakan suamiku."
"Hu'um, kalau begitu mari kita makan." Ak Jaka menyuapiku sepotong udang dari tangannya.
Oh, Tuhan... aku tidak minta selalu. Tapi semoga lelakiku ini akan sering bersikap manis seperti ini kepadaku. Sungguh aku tidak perlu kejutan besar. Cukup dengan hal-hal kecil, namun sesering mungkin. Aamiin....
Dalam menit-menit berikutnya kami menikmati makan malam itu dengan lahap. Sampai kami berdua merasa kekenyangan dan rasa kantuk mulai menghampiri. Aku menguap....
"Kamu sudah mengantuk. Ayo, kita ke kamar." Ak Jaka berdiri, hendak mengulurkan tangan dan membuatku bingung.
Dengan kedua alis bertaut, kuedarkan pandang ke sekeliling. "Lalu ini, siapa nanti yamg akan membereskannya?" tanyaku.
"Ada pelayan yang akan membereskannya, Sayang. Yang pasti bukan kamu. Karena kamu adalah Ratu-ku."
__ADS_1
Uuuuuh... dia membuat Ratu ini tersipu. Aku pun mengangguk seraya tersenyum, lalu berdiri. Dan, tiba-tiba Ak Jaka menghampiriku.
"Ak!"
Keget! Aku terpekik saat tiba-tiba Ak Jaka mengangkat tubuhku, menggendongku menuju kamar. Aku merasa malu saat melihat ada orang yang melihat kami.
“Ak, turunkan aku," pintaku. Namun, Ak Jaka tak mempedulikan permintaanku. Pria itu tetap menggendongku. Membuatku hanya bisa membenamkan wajahku di dada bidangnya. Wangi tubuh suamiku itu membuat diriku merasa begitu nyaman.
Aku tersenyum penuh makna bahagia, aku sebenarnya suka dengan perlakuan Ak Jaka. Dia sangat romantis.
"Malam ini kita akan tidur di lantai atas."
Eh? Alisku praktis bertaut. "Kenapa?" tanyaku. Tapi kemudian aku menyadari aku tak semestinya bertanya. "Tidak perlu dijawab. Apa pun yang diinginkan suamiku, maka itulah yang akan terjadi."
"Yah, begitulah yang seharusnya. Teruslah jadi istri yang penurut." Ak Jaka tersenyum dan melangkahkan kaki, menuju ke arah tangga. Di sana, sejejak kelopak mawar merah menyambut kami.
Bagian atas tangga diterangi lilin led, dan ada lebih banyak kelopak mawar berserakan di lantai, mengarah ke arah kamar di mana Ak Jaka akan membawaku. Masih... dengan kamar pengantin yang dihias dengan indah.
Ceklek!
"Well, selamat malam, Sayang. Semoga mimpimu indah."
Lalu aku memberengut. "Tidak bisa," protesku seraya berusaha duduk. "Aku tidak bisa tidur dengan rias wajah seperti ini. Risih, tahu!"
Dan Ak Jaka terkekeh. "Dasar! Kamu membuat keromantisan kita jadi berantakan."
"Masa bodoh!" Aku turun dari ranjang. "Yang penting wajahku bersih dari mekap."
Dalam detik berikutnya aku sudah berada di dalam kamar mandi. Seraya menarik napas dalam-dalam, aku membuka gaunku, menyampirkannya di belakang pintu, lalu mematut diri di depan cermin untuk membersihkan mekapku.
Setelah selesai dengan riasan wajah yang sudah tak berbekas, aku perlu menggosok gigi, lalu menyisir rambut dan membiarkannya tergerai.
Setelah satu pengamatan terakhir, aku meninggalkan kamar mandi hanya dengan pakaian *alam.
"Sudah selesai?" tanya Ak Jaka seraya mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dalam genggamannya, lalu menaruh benda persegi itu ke atas nakas. Di sana, ia bersandar di kepala ranjang. Setelan jas putih yang tadi ia kenakan sudah ia tanggalkan, hanya menyisakan kaus pas badan dan celana boxer putih yang senada dengan warna kausnya.
__ADS_1
Seraya berjalan ke arah nakas di samping tempat tidurku, aku menanggapi pertanyaan basa-basi Ak Jaka hanya dengan anggukan, lalu meraih gelas yang berisi penuh air mineral dan menenggaknya. Setelah itu, segera aku naik ke atas... pangkuan suamiku.
Ups!
"Apa?" tanya Ak Jaka. Entah ia benar-benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura, aku tidak tahu. Tapi dia menyengir konyol.
Aku cemberut karena diberi pertanyaan yang tidak tahu mesti kujawab apa. Padahal aku sudah duduk di atas pangkuannya, mengapit kedua kakinya di antara pahaku dan melontarkan senyuman terbaik. Dan dia malah bertanya "apa"?
"Menurutmu? Apa yang aku inginkan, dan apa yang ingin kulakukan?"
Dia mengedikkan bahu. "Tadi kamu sudah mengantuk, kan?"
"Well, Ak," kataku gemas. "Sekarang katakan, kamu mau langsung tidur atau mau bercinta dulu denganku? Kalau mau bercinta dulu, ayo, kalau mau langsung tidur, ya, oke. Kamu maunya apa?"
Tapi dia malah kembali menyengir konyol. "Kamu sendiri maunya bagaimana?"
Argh! Menyebalkan!
"Aku tidak pandai merayu!" kataku seraya membuka kausnya melewati kepala, lalu kulingkarkan lenganku di lehernya. Dan, mencium bibirnya. "Tapi aku istri, aku menurut apa yang suamiku inginkan. Kalau mau bercinta dulu sebelum tidur, ayo."
Ak Jaka mengangguk-angguk sambil tersenyum, yang kuyakini dengan suatu pemikiran di dalam benaknya, sedangkan tangannya yang sedari tadi melingkar di tubuhku menarikku lebih dekat kepadanya, lalu kami berciuman. Tak menggebu, hanya ciuman sesaat, sedikit lebih lama untuk saling berbalas. Namun lebih dari cukup untuk memastikan apa yang sepasang pengantin baru ini inginkan.
"Tidak perlu malu," ujar Ak Jaka seraya memandangi wajahku. "Katakan saja, kamu mau kita bercinta, kan, Sayang?"
Ih, dasar! Sekarang dia malah membuatku tertunduk malu. Wajahku terasa panas karena Ak Jaka menggodaku seperti itu.
Senyum Ak Jaka samar berubah. Demikian pula dengan sorot matanya yang kian menggelap. "Jadi?"
Aku kembali menunduk, tapi Ak Jaka tak tinggal diam. Ia langsung menyambar bibirku untuk sebuah ciuman dalam. Satu tangannya menahan di pinggang, dan satu tangan lagi menangkup di belakang kepala, mencengkeram kuat helaian rambutku namun tak menyakiti. Bibirnya menekan dalam upaya menunjukkan kepadaku betapa bergairahnya ia terhadapku.
Oh, Tuhan, dalam sekejap, keinginan itu benar-benar telah muncul kembali. Keinginan yang rasanya semakin sulit untuk diredam.
Bukan sekadar kecupan. Bukan sekadar ciuman singkat dan sesaat. Dia *elumatku hingga aku engap dan nyaris pingsan karena menahan sesak. Aku butuh oksigen.
"Jangan menyesal, Sayang," Ak Jaka berbisik di telinga. "Kau membangunkan hasratku sebagai seorang lelaki. Aku tak akan mengampunimu. Tidak malam ini. Tidak saat ini. Kupastikan... akan kusiksa dirimu dalam kenikmatan...."
__ADS_1
Oh Tuhan....