7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Logika


__ADS_3

Setelah melihat tontonan seru di halaman belakang villa itu, aku jadi gelisah sepanjang hari. Bahkan pada malam harinya, karena khawatir tidak bisa tidur, akhirnya aku memutuskan untuk minum obat tidur saja yang kemarin dibelikan oleh Aji karena ia mengkhawatirkan kondisiku pasca insiden yang menyebabkan kematian Mentari. Dan untunglah ada obat itu sehingga aku bisa tidur pulas dan nyaman sepanjang malam. Sehingga besok paginya aku bisa pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh pihak kepolisian, ditemani oleh Aji.


Aku tidak bisa menghindar dari pemeriksaan sebagai salah satu saksi kematian Mentari, tapi jawabanku tidak bisa berubah. Aku terlalu takut pada ancaman dari orang-orang berada itu untuk memberikan keterangan yang sebenarnya. Jadi aku masih tetap dengan kesaksian palsu yang kuutarakan kemarin: bahwa aku tidak tahu dengan siapa Mentari bertengkar sebab aku sedang berada di kamar mandi.


Yeah, memang, kesaksianku secara logika tidak memberatkan posisi Luna karena aku tidak menyebut nama Luna dan menyalahkan Luna seperti Bonita dan Yunita yang memfitnahnya secara terang-terangan. Tetapi, secara hati, dengan kesaksianku yang tidak meringankan posisi Luna, aku merasa amat sangat bersalah. Untungnya selang beberapa menit kemudian, bukti cctv dari rumah tetangga yang jaraknya beberapa meter dari rumah Aji berhasil didapatkan oleh pihak kepolisian. Bukti cctv itu menyatakan bahwa Luna memang telah pergi dari rumah Aji sekitar beberapa menit sebelum kematian Mentari. Dan, di kantor polisi itu juga ada si pria bernama Jaka yang menjadi saksi bahwa pada waktu Mentari terbunuh, Luna sedang berada di sebuah penginapan, bersama dirinya. Dia bisa memastikan bahwa Luna berada di penginapan itu dalam waktu yang cukup lama. Bersamanya dalam kamar pesanan mereka, dan itu juga disertai bukti rekaman cctv dari penginapan itu. Jadi, Luna yang kemarin sempat ditahan, kini ia akan segera dibebaskan dari tahanan. Aku lega sekali.


Tetapi di sisi lain, sebuah pertanyaan baru kini muncul dalam benakku: apa yang dilakukan Luna dan pria itu di kamar penginapan? Bukankah Luna pergi untuk bicara dengan pria itu demi Mentari? Kenapa dia malah sampai berduaan dengan pria itu di kamar penginapan? Apa jangan-jangan...?


Ah, kugelengkan kepala, kutepis jauh-jauh pikiran buruk itu. Terserah. Benar atau tidak yang kupikirkan itu terserah. Itu bukan urusanku. Aku tidak boleh ikut campur. Aku tidak boleh memikirkan apa pun lagi tentang pria itu. Bahkan, aku bersikap seolah aku tidak mengenali pria itu. Begitu juga dirinya yang seolah tidak kenal padaku. Ketika Aji memperkenalkan namaku sebagai Siti kepada pria itu, kami hanya berjabat tangan lalu aku segera melepaskannya. Tapi walaupun demikian, tatapan pria itu amat sangat kumengerti, dia mengingat pertemuan pertama kami hari itu yang berakhir di ranjangku. Begitulah yang ada di otakku tentang pikirannya. Dan karena itu untuk sesaat aku tak bisa menahan diri menatapnya dengan sorot kebencian.


"Hei, ada apa dengan kalian berdua?" tanya Aji.


Aku menggeleng. "Kalian masih harus di sini, kan?" tanyaku mengingat kedua pria itu masih harus menunggu Bonita dan Yunita untuk dimintai keterangan atas kesaksian palsu mereka. "Aku ada urusan, jadi aku harus pergi."


"Kamu mau ke mana? Biar kutemani."


"Oh, aku...."


"Biar kutemani."


"Tidak perlu, Kang."


"Aku khawatir kalau kamu pergi sendiri."


"Aku tahu, tapi--"


"Kakimu belum sembuh. Tanggung jawabku belum selesai."


Tapi aku mesti mengambil kesempatan ini sekarang juga mumpung pria cabul itu ada di sini. Aku bisa pulang ke rumahku dan mengambil barang-barangku lalu pergi jauh-jauh. Ini kesempatan yang baik.

__ADS_1


"Siti?"


Dengan cepat aku mengangguk daripada terus berdebat. "Baiklah. Kamu bisa mengantarku."


"Nah, begitu. Jangan bandel." Dia tersenyum, lalu berpaling ke sahabatnya. "Kamu tidak apa-apa, kan, menunggu Luna sendirian?"


Pria itu mengedikkan bahu. "Mau bagaimana lagi?"


"Bagus. Ayo, Siti, kita pergi."


Dengan gelisah aku melangkahkan kaki. Kami menuju parkiran dan masuk ke mobil Aji dan segera pergi.


Semoga Wenny sedang tidak di rumah. Atau kalau dia melihatku, bisa jadi aku akan bernasib sama dengan Mentari.


"Kita mau ke mana?"


"Jalan saja," kataku. "Nanti kutunjukkan."


"Jangan pedulikan aku. Aku hanya ingin bisa cepat pergi dari sini. Memulai hidup baru entah di mana."


Aji mengangguk-angguk. "Lalu sekarang kamu mau ke mana?"


"Ke rumah... maksudku ke rumah nenekku."


"Lo? Kamu punya keluarga di sini?"


"Tidak. Nenekku sudah meninggal. Aku cuma mau mengambil barang-barang dari rumah nenekku lalu pergi ke kota."


Sekali lagi Aji mengangguk. "Kapan kamu akan pergi? Aku akan mengantarmu sampai ke tempat tujuan."

__ADS_1


"Tidak perlu."


"Jangan menolak."


"Tapi, Kang...."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku tidak ingin dihantui rasa bersalah kalau aku tidak memastikan sendiri kamu sampai ke tempat tujuanmu. Itu saja."


"Ya, baiklah." Yang penting aku mesti pulang dulu mengambil barang-barangku mumpung si tetangga cabul sedang tidak berada di rumahnya.


Beberapa menit berikutnya kami sudah berbelok meninggalkan jalan raya dan memasuki jalan setapak. Aji mulai menyadari ke mana tujuan kami. "Rumah nenekmu di sini?" tanyanya. "Rumah Jaka juga di sini."


"Oh," *esahku. Aku hanya mengangguk. Kemudian aku menunjuk ke arah rumahku.


Aji semakin senang karena menyadari rumah tujuanku dan rumah sahabatnya terletak berdampingan. "Ya ampun, kalian bertetangga ternyata. Rumah nenekmu dan rumah neneknya bersebelahan."


"Oh, ternyata. Tapi sayangnya aku tidak menyukai temanmu itu. Bisa kita tidak usah membahasnya terus?"


Seketika raut muka Aji menunjukkan rasa tidak enak hati. Dia mengangguk pelan. "Maafkan aku," katanya.


"Ya. Aku juga minta maaf. Tapi mau bagaimana lagi, aku merasakan aura negatif saat melihatnya," ujarku, dengan sedikit berdusta.


Aji memalingkan pandang ke arahku. Satu alisnya naik saat ia menatapku dengan sorot aneh. "Apa kamu juga mendengar gosip tentang...?"


"Ya." Karena bahkan aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. "Tapi aku tidak ingin ikut campur dan tidak ingin peduli. Tapi juga... aku penasaran, menurutmu apa gosip itu benar? Apa kamu tahu sesuatu?"


Kali ini pria yang ada di sampingku itu menggeleng. "Aku tidak tahu juga. Tapi aku berusaha untuk tidak percaya. Soalnya... aku berteman baik dengan Jaka sejak kecil. Usia kami memang bertaut beberapa tahun, tapi dari kecil aku mengenal Jaka sebagai orang yang baik. Jadi sulit bagiku untuk percaya kalau dia pemuda yang... berengsek. Kecuali kalau aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tapi... sebagai kaum lelaki, kalau aku sekadar melihat dari urusan... maaf, maksudku... dalam urusan dia bermain ranjang, pria tidak bisa disalahkan sepenuhnya kalau dia... begitu. Hal seperti itu tidak akan terjadi kalau si gadis tidak bersedia, ya kan?"


Hmm... aku merasa pipiku memerah. Aku merasa yang dikatakan Aji itu benar. Aku sendiri hampir mengalami bagaimana aku bisa sampai ke ranjang bersama pria itu. Kalau bukan karena kedatangan Wenny hari itu, aku sudah masuk ke list tujuh darah perawan yang dia incar.

__ADS_1


"Well," Aji melanjutkan, "kalau memang Jaka tidur dengan banyak gadis, dan memang itu bukan tindakan yang baik, setidaknya dia tidak melakukannya secara paksa. Para gadis itu memberikan diri mereka dengan suka rela. Jaka tidak memperkosa. Itu yang membuatku tidak bisa menghakiminya. Dia tidak memperkosa."


__ADS_2