7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Insiden!


__ADS_3

Lari!


Aku meloncat dan melarikan diri dari sosok pria mengerikan itu. Tak peduli perabotan yang tunggang langgang tersenggol tangan dan terantuk kaki yang setengah mati ketakutan. Kuterobos ruang tengah, ruang tamu, halaman depan dan jalan setapak yang basah. Di bawah langit yang tiba-tiba mencurahkan hujan dan langit yang mencekam. Petir dan kilat menyambar. Aku terus berlari tak berketentuan. Napasku memburu dan jantungku berdebar kencang saat aku berlari. Tubuhku telah letih dan basah kuyup oleh hujan. Aku terus berlari tanpa henti. Entah sudah berapa lama. Dengan napas tersengal tak beraturan akhirnya aku tiba di jalan raya.


Tum!


Sebuah mobil menghantamku dari arah belakang.


Ya Tuhan, aku rela mati daripada keperawananku menjadi tumbal ke-lima pria itu....


Perlahan-lahan semuanya menjadi abu-abu, lalu putih… putih… putih dan semakin putih. Akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.


Entah sudah berapa lama setelahnya, perlahan-lahan aku membuka mataku. Cahaya putih itu, rupanya telah merangsang saraf-saraf mataku. Aku membuka kelopak mata, dan mendapati diriku berada di sebuah ruang sederhana namun bersih dan rapi. Dinding rumah dari bata yang berwarna oranye, dengan lantai beralaskan karpet warna cokelat muda, dengan motif persegi menyerupai susunan bata. Sebuah meja kecil di samping ranjang di mana aku berbaring saat itu, terdapat sebuah gelas berisi air putih, dengan kantung plastik bening berisi berbagai macam obat-obatan di samping gelas. Seberkas cahaya matahari sore mengenai wajahku, menelisik masuk kamar setelah menerobos rimbunnya daun-daun pohon beringin di samping rumah di mana aku berbaring saat itu. Cahaya matahari itulah rupanya yang telah menyadarkanku. Hujan tadi pagi telah reda, berganti panas hingga sore hari.


Aku mencoba menyandarkan tubuhku, tapi rasa sakit tiba-tiba menusuk di arah bahuku, dan juga di bagian kepala dan kakiku. Rupanya kepala dan kakiku benar terluka, ada banyak sisa-sisa darah kering bercampur baluran obat merah dan terbungkus perban. Sedangkan bahuku tidak ada luka luar, namun sangat nyeri di dalam.


“Nona, kamu sudah siuman? Jangan banyak bergerak dulu."


Aku mengamati wajah pemuda di depanku. Tampan dengan senyuman manis yang rasanya kukenali.


"Aji?"


Astaga! Pemuda itu Aji. Pemuda yang kemarin mengendarai motor dan membawa pergi Mentari dari hadapan Oom Jaka.


"Maaf, kamu mengenaliku?" tanya pria yang kini duduk di sisi ranjang yang kutempati, duduk menghadapku.


Cepat-cepat aku menggeleng. "Tidak. Tidak. Aku tidak mengenalmu."


Dia menatapku penuh selidik. "Tapi tadi kamu menyebut namaku. Pasti kamu tahu siapa aku. Kamu mengenalku, kan?"


"Bukan. Tidak. Bukan begitu. Aku...."


"Ya?"


"Aku hanya pernah melihatmu."


"O ya? Di mana?"


"Entahlah. Di... di pinggir jalan mana. Lupa."


"Bagaimana kamu tahu namaku?"


"Seseorang memanggilmu... namamu. Aku mendengarnya, jadi aku tahu."

__ADS_1


Oh, pria itu tersenyum semringah. "Well, hanya dengan melihatku dan mendengar orang memanggil namaku, kamu bahkan bisa mengingat wajahku dan namaku dengan baik. Aku sungguh tersanjung."


Anda tersanjung, tapi aku ketakutan. Berarti aku dalam sutuasi yang tidak aman. Aku berada di rumah dan bersama temannya Oom Jaka. Pria mengerikan itu. Barangkali saja si Aji ini juga... menganut ilmu hitam yang sama? Astaga! Jangan-jangan sewaktu aku pingsan...? Tidak. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Jangan renggut keperawananku....


"Hei, ada apa?"


Aku menggeleng. Aku harus pergi dari sini, pikirku. Kusadari rasa takut mulai merasuk ke dalam benak, aku gelisah dan gemetar. "Terima kasih karena sudah menolongku. Aku permisi."


Sigap Aji menahanku yang hendak turun dari ranjang. “Diamlah dulu. Kamu jangan banyak bergerak.”


"Maaf, tapi aku harus pergi."


"Kakimu terluka, Nona."


"Kurasa aku bisa berjalan."


"Pergelangan kakimu terkilir."


"Tidak apa-apa. Aku harus pergi."


"Jangan keras kepala, Nona."


"Ya, maaf, tapi--"


"Istirahatlah dulu di sini, Teh."


“Nanti lukanya terbuka lagi.”


Oh... lega. Ada orang lain di rumah ini. Seorang gadis pula. Aku merasa sedikit aman. Dan tenang.


"Ini temanku. Tetangga sebelah. Namanya Luna, dan sekarang kamu berada di rumahku."


Luna tersenyum kepadaku, dan aku membalas senyumannya, dan mengangguk kecil.


"Siapa namamu?" tanya Aji.


"Namaku...."


"Emm?"


"Aku...."


"Jangan bilang kamu amnesia karena tertabrak tadi."

__ADS_1


Bagaimana aku bisa mengaku amnesia, aku saja ingat kalau nama pemuda itu Aji.


“Tenanglah. Teteh ada di tempat yang aman. Minumlah ini, pasti Teteh akan merasa lebih bugar.” Gadis itu menyodorkan minuman hangat.


Aku mereguknya, mencoba menenangkan diri. Keramahtamahan dan kecantikan gadis itu membiusku beberapa saat.


“Jadi, siapa nama Teteh?"


Aku tidak boleh menyebutkan namaku yang dikenali banyak orang. "Namaku... Siti. Siti Putri Ibrahim."


"Aku minta maaf karena tidak sengaja menabrakmu tadi. Lebih tepatnya menyerempet. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan memastikan kesembuhanmu dan membiayai semua pengobatanmu sampai kamu benar-benar pulih. Sekali lagi aku minta maaf."


Aku mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku tahu kalau... emm... kamu, kamu tidak sengaja."


"Rumahmu di mana?"


Deg!


"Biar kuantar kamu pulang."


Aku menggeleng. "Aku dari kota. Aku kerampokan."


"Ya ampun," kata Aji dan Luna berbarengan.


Maaf aku harus berbohong.


"Tapi kamu ingat nomor ponsel kerabatmu? Orang tuamu? Atau siapa saja yang bisa dihubungi supaya keluargamu tidak khawatir."


Lagi. Aku mengeleng. "Aku yatim piatu."


Kedua orang di hadapanku saling melempar pandang.


"Maaf untuk... pembahasan ini, yang mungkin membuatmu sedih."


Hmm... sepertinya pemuda bernama Aji ini adalah pria yang baik. Dia mengucapkan permintaan maaf itu setulus hati, setidaknya begitu menurutku.


Ah, Wulan, jangan mudah percaya. Dirimu bahkan tertipu pada karakter Oom Jaka yang kamu kenali selama empat tahun.


"Baiklah, kalau begitu kamu menginap dulu di sini sampai keadaanmu benar-benar pulih. Nanti kalau kamu sudah bisa berjalan normal, kita pergi ke kantor polisi untuk laporan kehilangan benda-benda yang dirampas oleh perampok itu. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang dengan selamat."


Aku berpikir sejenak. Tapi kurasa aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa ke mana-mana dengan kondisi kakiku yang terkilir. Aku juga tidak tahu harus pergi ke mana tanpa memegang uang sepersen pun. Sebaiknya aku tetap di sini dulu sampai kondisiku pulih. Aku akan kembali ke rumah saat kondisi sudah aman, atau meminta seseorang untuk mengambilkan tas dan koperku, juga motorku. Aku harus pergi dari daerah ini.


"Baiklah, tapi... Teh Luna bisa menemaniku terus, kan? Aku tidak nyaman kalau...."

__ADS_1


Aji hanya tersenyum tanpa rasa tersinggung. "Tenang, aku bisa tidur di luar rumah asal kamu merasa nyaman. Sekarang makanlah, lalu minum obat. Kamu harus banyak istirahat."


"Ya. Terima kasih...."


__ADS_2