
"Ssst... rileks, Ak." Kuraih Ak Jaka ke dalam dekapanku. Aku sungguh mengerti bagaimana kegelisahannya saat ini. Kucoba menepuk-nepuk punggungnya supaya ia tenang. "Aku tahu ini sulit," aku berkata. "Tapi menurutku, kita harus mencegah supaya tidak ada lagi korban berjatuhan. Jangan ada lagi gadis yang terpedaya dan tanpa sadar menyerahkan keperawanannya kepada saudara kembarmu. Dan caranya, tentu dengan membuat para gadis mengenal wajah itu dan membuat mereka antisipasi pada pria itu. Jadi kalau mereka melihat wajah kembaranmu, mereka tidak akan terpesona, dan justru mereka akan segera melarikan diri. Dengan begitu kuharap tidak akan ada korban lagi, ya kan?"
Ak Jaka berdeham, ia mengeratkan pelukannya ke tubuhku. "Bagaimana dengan perasaanmu?" tanyanya. "Apa kamu tidak bermasalah kalau wajah ini terpampang di mana-mana sebagai seorang penjahat?"
"Tidak masalah. Aku bisa memaklumi semuanya."
"Kamu yakin?"
"Demi kemanusiaan, dan demi membersihkan nama baikmu. Aku tidak apa-apa. Aku bisa menerima semuanya."
Sungguh....
"Aku tidak menyakitimu, kan? Kamu tentu tahu kalau kita bisa saja pergi tanpa harus peduli pada semua ini. Kita bisa hidup di luar negeri. Tapi... rasanya itu tidak benar. Aku tidak bisa mengabaikan sepak terjang Prasetya begitu saja. Aku...."
Ia sudah tak mampu berkata-kata.
Aku tersenyum. Mengeratkan kembali dekapanku ke tubuhnya. "Terima kasih," ucapku. "Aku senang Aak memikirkan perasaanku. Tapi sungguh, Ak, aku tidak apa-apa. Aku akan selalu ada untukmu dan kita akan menghadapi masalah ini sama-sama. Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang."
"Em, jadi kamu percaya padaku, kan, Ak?"
"Emm... memang mustahil." Ia melepaskan pelukan. "Tapi... yah. Mungkin Prasetya yang sekarang seperti itu."
"Jadi apa kamu juga percaya kalau kemarin di pemakaman aku melihat seseorang yang memperhatikan kita?"
Ak Jaka menyeringai. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan bahwa dia tidak percaya. Dan aku tahu, kalau aku bersikap prontal, itu tidak akan baik untuk hubungan kami. Jadi, dengan sabar kutunggu Ak Jaka merespon pertanyaanku. Kutatap ia dengan sejuta tanda tanya.
Dia mengedikkan bahu. "Baiklah. Seperti apa orangnya?"
"Laki-laki," aku mulai menjelaskan. "Usianya sekitar lima puluh atau enam puluhan. Berpakaian serba hitam. Dia berkumis. Berjanggut hitam, panjang. Memakai penutup kepala seperti blangkon. Sorot matanya tajam. Dan di tengah-tengah dahinya ada tatto kecil warna hitam, bentuknya seperti ular."
Aku ingin mengatakan bentuknya lebih seperti berudu. Tapi itu akan terdengar seperti lelucon. Jadi tidak kukatakan. Tapi mau bagaimana lagi? Ekornya yang pendek dan dari jauh terlihat nyaris tanpa liukan, membuat tatto itu terlihat seperti seekor berudu daripada seekor ular.
"Kenapa, Ak?"
Seketika kusadari pria tampan di hadapanku itu nampak tercengang. "Aku... tidak tahu," katanya, ia menggeleng-gelengkan kepala. "Dari ciri-ciri yang kamu sebutkan... sepertinya...."
"Siapa?"
"Dia...."
"Ak?"
"Uwak Kubro?"
__ADS_1
"Apa? D-Dia Kub... Kubro? Dukun Kubro?"
Ak Jaka jauh lebih tercengang. "Kamu...?" Dia mengernyitkan dahi. "Tunggu dulu, kamu tahu nama Dukun Kubro, tapi tadi...."
"Ya, aku tahu nama itu. Tapi tidak tahu siapa orangnya. Tapi rasanya aku pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi aku tidak tahu di mana. Aku lupa."
Sekarang Ak Jaka mengangguk-angguk. "Aku ingat," katanya. "Bukankah kamu pernah tinggal di rumah Aji bersama Luna? Mungkin kamu melihatnya di sana. Uwak Kubro itu uwaknya Luna."
"Hah?" Mataku membelalak lebar. Bagaimana mungkin tidak? Orang-orang di sekitarku ternyata saling mengenal satu sama lain.
Mungkin saja, pikirku. Mungkin aku pernah melihat uwaknya Luna sekilas sewaktu aku tinggal di rumah Aji.
"Kamu merasa pernah melihat Uwak Kubro sebelumnya, dan kamu kaget ketika mendengar namanya, nama yang kamu kenali sebagai nama seorang dukun. Dari mana kamu tahu kalau dia dukun? Tentunya bukan dari Luna atau Aji, kalau tidak, kamu tidak akan sekaget ini."
Aku mengangguk. "Memang," kataku. "Aku mendengar nama itu dari Jelita dan Juwita. Sepasang gadis lesbia* yang berhasil ditaklukkan oleh saudara kembarmu."
Oh, pipiku memerah.
"Dari mana kamu tahu semua itu?" Ak Jaka menatapku penuh selidik.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Itu... anu...."
"Emm?"
"Kamu mengintip mereka?"
Kali ini aku nyengir. "Mau bagaimana lagi, adegan itu ada di depan mata."
"Ya Tuhan... jadi kamu pernah melihat milik pria lain?"
"Ak!" Aku melotot, sekaligus merasa sangat malu. "Aku tidak sengaja...."
"Tidak sengaja? Kamu mengintip mereka, kamu bilang itu tidak sengaja?"
"Itu... itu... maksudku... maksudku... maaf...." Aku mengutuk diri sendiri karena tidak bisa memikirkan alasan yang tepat. "Aku penasaran," kataku akhirnya.
Dan itu membuat Ak Jaka ternganga. "Penasaran?"
Aku mengangguk. "Ya... wajar, dong, kalau aku penasaran. Itu bukan adegan biasa. Mereka bertiga itu bertarung, dan kedua cewek lesbia* itu kalah. Lalu mereka diikat, dan kemudian... mereka diperkosa. Tapi akhirnya malah keenakan. Malah minta nambah."
"Lalu kamu kepingin?"
"Eh?"
"Kepingin, kan?"
__ADS_1
"Nggak...."
"Serius?"
Lagi-lagi pipiku jadi merah merona. "Kamu jangan begitu, Ak...."
"Well, jadi kamu melihat seberapa...?"
"Kupikir itu kamu...," rengekku.
"Tetap saja." Dia menatapku dan nyaris melotot. "Itu bukan aku dan kamu sudah melihat milik pria lain," ketusnya. "Aku tidak suka."
Tidak tahu bagaimana mesti menanggapi Ak Jaka, aku hanya bisa menunduk. Aku tahu Ak Jaka tidak bermaksud marah padaku, atau sungguhan-sengaja menunjukkan rasa geramnya. Tapi 'kejantanan' saudara kembarnya juga bukan bahan bercanda yang tepat.
"Aku minta maaf."
"Kamu nakal. Masih perawan lo waktu itu."
"Mau bagaimana lagi? Waktu itu aku mengira kalau itu kamu, pria yang kucintai. Pria yang kupikir akan kudapatkan hatinya. Walaupun saat itu hatiku sakit, tetap saja, aku jadi penasaran...."
Sebelahnya alisnya terangkat. "Penasaran dengan...?"
Oh Tuhan... aku malu sekali.
"Kamu penasaran melihatku telanjan*? Hmm? Kamu mau melihat kejantananku?"
Aku mesti jawab apa? Aku malu, tapi bibirku juga malah ingin tertawa.
"Sekarang masih penasaran atau sudah tidak lagi?"
Oh, kedua tangannya sudah bertengger manis di atas pahaku yang terbuka.
"Kalau kamu masih penasaran, sekarang juga bisa keperlihatkan padamu."
Dasar... dia membuatku tak bisa menahan tawa. Aku terkekeh. "Bagaimana mungkin masih penasaran?" kataku. "Kamu sudah menunjukkannya padaku berkali-kali."
"O ya? Baiklah. Kalau begitu biar aku yang mengatakan padamu. Sekarang... akulah yang penasaran, bagaimana rasanya kalau kita menikmati alam yang terbuka?"
Deg! Hatiku mendadak merasa gelisah. "Maksudnya?"
"Mari kita bercinta di sini," ia bicara tepat satu senti di depan wajahku. "Di tempat sejuk dan sepi ini. Kita nikmati alam terbuka. Dan kamu bisa berteriak sesuka hati. Mengekspresikan diri."
Hah? Aku terbelalak. Apa ini?
Aku merasa deja vu.
__ADS_1