
Semua orang yang ada di ruang tamu itu sama terkejutnya. Ak Jaka segera bangkit berdiri.
"Jangan pernah kamu melakukan itu. Jika tidak, saya sendiri yang akan mengirimmu ke penjara. Camkan itu!"
Merasa takut akan ancaman Ak Jaka, Arumi bergidik ngeri. Ia segera menundukkan pandangan, tak berani menatap wajah marah suamiku yang melotot kepadanya.
"Ini juga berlaku bagi kalian berdua. Jaga baik-baik keponakan saya dan biarkan dia terlahir ke dunia. Ingat, jika kalian sengaja melenyapkan janin-janin itu, saya pastikan, kalian tidak akan pernah lagi mengecap kebebasan di dunia ini. Kalian paham?"
Gadis-gadis itu mengangguk takut. Lalu Puspa Sari berkata, "Bibiku belum tahu kalau aku hamil. Bagaimana nanti jika dia tahu, apalagi kalau aku hamil tanpa suami?"
"Kenapa kamu tidak berpikir seperti itu sebelum membiarkan lelaki itu menyentuhmu? Dasar gadis bodoh!" Kang Solihin menggerutu kesal. "Inilah kesalahan kalian para gadis. Mau-maunya disentuh sebelum dinikahi. Dasar genit! Kalian benar-benar wanita murahan!"
Ya ampun! Kalau aku masih mampu membendung gejolak yang menggoncang hati dan pikiranku, lain halnya dengan Teh Husna yang merasa geram pada kepedasan kata-kata suaminya. Sebagai sesama wanita ia tidak tega gadis-gadis itu dicaci maki oleh suaminya.
Tidak dapat menahan rasa ibanya lagi, Teh Husna segera melangkahkan kaki ke ruang tamu dan menarik lengan suaminya sambil melotot. "Biarkan Kang Jaka menyelesaikan masalahnya sendiri!"
Setelah Teh Husna menyeret Kang Solihin ke ruang tengah, suasana di ruang tamu itu untuk beberapa lamanya dicekam kesunyian. Ada ketidakenakan seolah menggantung di udara, menyusup ke lubuk hati orang-orang yang ada di ruangan itu.
Sementara itu, aku yang berada di tempatku bersembunyi hanya tegak mematung walau di dalam dadaku bergoncang menahan rasa tegang. Kumohon jangan ada yang mendesak suamiku untuk menikahi mereka, Tuhan. Aku takut Ak Jaka tidak cukup kuat dengan kesetiaannya. Tolong....
Saat itu aku teringat kata-kata Ak Jaka ketika ia mengatakan kepadaku: aku harus meninggalkannya ketika ia tidak menjaga kesetiaannya kepadaku. Tapi nyatanya tidak semudah itu untuk menghadapi situasi seperti ini. Mungkin memang bisa kulakukan jika nanti ia memang menduakan aku. Akan mudah bagiku untuk meninggalkannya. Tapi diambang garis ketakutan akan terjadinya takdir seperti itu, aku sungguh merasakan sesak di hati.
"Kang," Luna akhirnya kembali bicara. "Tentang yang dikatakan oleh gadis itu," -- ia menatap ke arah Puspa Sari -- "Akang tidak akan menikahi gadis-gadis hamil ini, kan?"
Ak Jaka terdiam lalu menghela napas berulang kali. "Tidak akan. Bertanggung jawab pada kalian bukanlah kewajibanku. Tapi demi keponakan-keponakanku yang nantinya akan kalian lahirkan, sudah menjadi kewajibanku untuk turut membantu menafkahi mereka."
Luna tersenyum senang.
"Baiklah. Tapi bisakah Akang memberikan tempat tinggal untukku? Maksudku untuk persembunyian," kata Puspa Sari yang langsung ditimpali permintaan yang sama oleh kedua gadis lainnya. "Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan para tetangga. Tolong?"
Cinta dan Arumi turut mengiyakan, memohon belas kasihan.
Dari raut wajah Ak Jaka, aku menyadari bahwa ia merasa bingung mendengar permintaan gadis-gadis itu, namun kemudian ia berkata, "Baiklah. Akan saya siapkan tempat untuk kalian bersembunyi. Tetapi dengan syarat, kalian meninggalkan rumah masing-masing dengan izin wali kalian. Bukan dengan kabur diam-diam. Apa kalian bisa?"
Ketiga gadis itu menyanggupi.
"Sekarang silakan kalian pulang dulu. Pengawal-pengawal ini akan mengantar kalian pulang. Mintalah izin dan berkemas. Kabari kapan kalian akan pergi, akan saya siapkan mobil untuk menjemput kalian dan membawa kalian ke kota."
Ketiganya mengangguk. "Lalu bagaimana dengan nenekku?" Cinta bertanya.
"Soal itu saya hanya bisa menyiapkan seorang pengacara untuk mendampingi proses hukum Nek Aluh. Beliau telah melakukan tindakan kriminal dan menyebabkan beberapa orang terluka. Proses hukum akan terus berlanjut, kami hanya bisa mengajukan permohonan untuk mendapatkan hukuman seringan-ringannya. Selebihnya sesuai bagaimana nanti keputusan hakim."
Walau mukanya berkerut mendengar kata-kata Ak Jaka, namun Cinta kembali berkata, "Tidak bisakah Akang bebaskan nenekku? Kasihan, beliau sudah tua."
"Maaf, tidak bisa. Semuanya sesuai hukum yang berlaku. Bukan saya yang menjadi korban di sini, tapi warga."
"Saya mengerti. Tapi... Akang orang kaya yang terpandang. Dengan uang, Akang pasti bisa menyelesaikan semuanya."
"Tidak semua bisa diselesaikan dengan uang, Nona. Saya tidak akan menyuap siapa pun. Saya harap kamu mengerti itu."
Dan Cinta pun terdiam.
"Oke, sudah selesai, bukan? Silakan. Saya ada urusan lain."
Cinta, Arumi dan Puspa Sari baru hendak berdiri dan keluar ruangan ketika bunyi bedebug orang jatuh di luar pintu menyita perhatian. Para pengawal dengan cepat membuka pintu yang tadi ditutup rapat, semua orang menghampiri ke luar termasuk aku, Teh Husna, dan Kang Solihin dan kami mendapati Bonita duduk terjengkang di teras rumah. Yunita meringis kesakitan karena satu kakinya tertindih badan yang luar biasa gemuk itu.
__ADS_1
Sekian pasang mata melongo, mengamati pemandangan yang agak lucu dan menggelikan itu. Karena saking besarnya badan Bonita, ia kesulitan bangun dari posisinya, di sisi lain, rok super lebar yang ia kenakan tersingkap ke atas hingga memamerkan betis hingga ke paha putih mulus yang besar berlekuk-lekuk itu. Dan, barangkali tidak punya ukuran yang cukup untuknya, ternyata ia tak mengenakan celan* *alam. Cukup membuat sepasang mata para lelaki itu melotot memandang ke arah itu.
"Aku penasaran, dia perawan atau tidak, ya? Jangan-jangan dia juga salah satu korban sepupuku yang sableng itu."
Kali ini aku tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan Kang Solihin, ia langsung mendapatkan jeweran di telinga kirinya oleh sang istri.
"Bantu dia berdiri," perintah Ak Jaka kepada para pengawal.
Agak susah, tapi akhirnya Bonita bisa bangkit dengan bantuan beberapa orang, lalu semua kembali masuk ke ruang tamu.
"Teh Bonita, kenapa kamu ke sini?" tanya Luna.
Muka bulat gemuk dan keringatan gadis itu kelihatan menyeringai. "Tentu saja aku menyusulmu. Aku sudah menduga kamu akan datang ke sini setelah melihat video klarifikasi yang sudah diunggah si Jaka ini. Ternyata tebakanku benar."
Wajah Luna bersemu merah. "Aku ada urusan, Teh. Maaf aku tidak memberitahumu kalau aku ke sini."
"Mereka terlihat saling mengenal dengan baik," gumamku, keheranan.
"Mereka adik-kakak," bisik Teh Husna.
"Apa?" Sungguh aku terkejut.
"Kenapa kamu heran begitu? Mereka itu saudari, tahu! Satu ayah dari dua ibu yang berbeda."
Aku manggut-manggut, lalu bertanya dalam hati: kenapa waktu itu Bonita sengaja menuduh Luna yang menyebabkan kematian Mentari?
"Memangnya apa urusanmu?" tanya Bonita ketus. "Kamu tentu sudah tahu kalau Jaka yang berjanji akan menikahimu itu adalah seorang penipu. Jadi ada urusan apa kamu dengan Jaka yang asli?"
Terkejutlah Luna mendengar kata-kata saudarinya itu. Ia sesaat bimbang sebelum bicara. "Aku... aku ingin membuktikan sendiri kalau aku tidak salah. Ini Jaka yang berjanji akan menikahiku. Dan dia pasti akan menikahiku, ya kan, Kang?"
"Aku tahu, Teh. Aku juga akan memohon pada Wulan untuk mengizinkan kami menikah."
"Apa?" Aku menganga, sungguh tidak menyangka Luna akan mencetuskan kalimat itu.
"Kenapa, Wulan? Kamu berhutang budi padaku. Kamu ingat, kan, selama kamu sakit, aku yang sudah merawatmu selama di rumah Kang Aji. Jadi...."
"Oh, waw! Kamu pikir itu sepadan, Lun? Hmm? Kamu tidak waras! Suamiku itu bukan barang yang bisa dibagi dengan orang lain."
"Benar. Dia tidak waras," Bonita menimpali. "Dia itu sama seperti ibunya yang sundal itu! Tukang rebut suami orang! Murahan!"
Luna menatap marah. Mukanya mengelam. "Ibuku bukan perempuan seperti itu!"
"Itu tidak penting lagi sekarang. Ibumu juga sudah meninggal. Yang penting sekarang jangan kamu mengikuti jejak kelam ibumu itu!"
Luna menggigit bibirnya sendiri. Wajahnya memucat. Sambil memegangi dadanya dengan kedua tangan, ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Dengarkan aku, kamu juga sudah tidak perawan dan akan dinikahi oleh kekasihmu yang cabul itu, jangan kamu ganggu lagi kehidupan Jaka yang asli dan istrinya ini. Lupakan saja cintamu yang bertepuk sebelah tangan."
Luna mendongak memandang ke arah Bonita. "Kenapa kamu kejam sekali mengatakan semua ini padaku? Kurang baik apa aku padamu? Bahkan ketika kamu memfitnahku yang telah membunuh Mentari sampai aku harus mendekam di sel tahanan, aku sama sekali tidak membalas perbuatanmu."
Aku tersentak. Kenapa harus membahas peristiwa itu? Kenapa peristiwa kematian Mentari mesti diungkit-ungkit lagi?
"Luna! Tutup mulutmu! Memang kamu pelakunya!"
Wajah Luna yang tadinya pucat kini berubah merah seperti saga. Air mukanya tak kalah bengis dengan paras Bonita.
__ADS_1
"Kamu!" Tiba-tiba Luna tudingkan jari telunjuk tangan kanannya tepat ke arah Bonita. "Aku tidak melakukannya! Bukan aku yang membunuh Mentari! Tapi kamu! Ketika kejadian Mentari meregang nyawa, bukankah kamu dan Yunita yang ada di situ? Bukan aku! Dan aku tahu, kamu sengaja memfitnahku supaya aku dipenjara. Kamu iri padaku karena parasku cantik dan Uwak memilihku untuk dijadikan istri Kang Jaka setelah ritual tujuh perawan itu sempurna. Kamu ingin menggantikan posisiku, sebab itulah kamu ingin mengirimku ke penjara! Karena kamu tahu tidak akan ada lelaki yang mau denganmu karena tubuhmu yang kelebihan berat itu, jadi kamu pun mengincar kesempatan untuk dinikahkan dengan Kang Jaka! Aku tahu semuanya!"
Semua orang yang ada di tempat itu jadi terkejut besar.
Bonita yang dituding telunjuk oleh Luna pucat pasi seperti melihat setan. Mulutnya bergetar.
"Luna! Kamu menuduhku? Kamu sengaja hendak memutar balik kenyataan? Benar-benar busuk budi pekertimu! Kamu layak kuberi pelajaran sekarang juga!"
Door!
Suara letusan senjata api bergema di udara. Semua wanita yang ada di ruang tamu memekik histeris, menutup mata dan telinga dengan kedua telapak tangan.
Begitu kami semua membuka mata dan memperhatikan sekitar dan ingin tahu apa yang terjadi, siapa yang menembak dan siapa yang tertembak, rupa-rupanya Ak Jaka sudah keluar dari rumah dan meringkus seseorang yang mengintip di luar. Di balik tanaman yang dipangkas rapi.
"Buka penutup wajahmu. Aku tahu ini kau, Setya!"
Sama seperti pada saat aku tercengang dan terkagum-kagum pada kesaktian kakek kedua gadis pirang tempo hari, sekarang pun aku dibuat kagum dengan keahlian menembak Ak Jaka yang tepat mengenai kaki sasarannya hingga tak mampu melarikan diri.
Akhirnya penyusup bertutup wajah itu berhasil diringkus.
Sungguh, begitu Ak Jaka menarik lepas penutup wajah itu, hatiku sangat lega. Pria itu sama sekali tidak membohongiku. Dia memang memiliki kembaran dan sekarang aku melihatnya secara langsung. Keduanya ada di hadapan kami.
Dan sekarang, warga sekitar mulai berhamburan di depan rumah Mang Zulfikar.
"Kalian semua berengsek!" Jaka Prasetya mengumpat marah seraya dipegangi dua orang pengawal. Seolah lupa dengan luka tembak di kakinya, ia terus menggelegarkan suaranya. "Susah-susah aku memenuhi persyaratan ritualku, kalian malah mengacaukan semuanya di saat aku hanya tinggal menyempurnakannya!" Dia menatap tajam ke arah Luna.
Gadis itu terkesiap, lalu ia mengumpulkan keberanian untuk menjawab, "Aku tidak mencintaimu! Kamu menipuku dengan berpura-pura sebagai Kang Jaka Pradana! Aku tidak mau menikah dengan Jaka yang palsu!"
"Aku juga Jaka! Wajah kami sama! Dan kekayaan yang ia miliki itu juga milikku! Aku berhak! Kenapa kamu tidak mencintaiku saja padahal kamu tahu dia sama sekali tidak mencintaimu? Kenapa?" Pria itu meludah. "Padahal kamu juga bukan gadis yang baik. Kamu tahu uwakmu dukun sakti dan aku berguru padanya. Kamu setuju untuk menjadi penyempurna ritualku setelah mendapatkan ketujuh darah perawan itu. Kita harusnya menikah malam ini karena kamu perawanku yang ke-tujuh."
Semua orang tercengang. Siapa yang menyangka Luna terlibat dalam hal sebesar ini? Terlebih diriku, sekarang semua misteri yang membuatku bertanya-tanya sudah terjawab. Dan kini aku juga tahu kalau Jaka Prasetya mencintai Luna, tapi yang dicintai gadis itu sebenarnya adalah Jaka Pradana tanpa ia tahu kalau ternyata pria yang dikenalnya dengan nama Jaka itu sebenarnya ada dua orang dengan wajah yang sama, kembar identik.
"Lupakan semuanya, Setya. Untuk apa kamu terus membenciku hanya karena Luna? Bukan salahku kalau dia mencintaiku, tapi kenapa kamu malah menghancurkan persaudaraan kita hanya karena dia? Aku saudaramu. Kita keluarga. Kita harusnya bersatu. Bersama. Dan sekarang harusnya kamu menikahi gadis-gadis yang hamil ini, lupakan saja Luna kalau dia tidak mau menikah denganmu. Toh dia tidak dengan salah satu pun di antara kita. Itu adil untukmu, bukan? Aku sudah punya istri. Wulan."
Aku tertunduk. Ketakutan, bagaimana jika pria itu menceritakan perihal aku yang hampir beradu ranjang dengannya waktu itu? Gawat.
Tapi untungnya hal itu tidak terjadi. Untuk sesaat pria itu terdiam sambil berpikir. "Apa kamu akan memaafkan semua perbuatanku?" tanyanya.
Ak Jaka mengangguk. "Tentu. Kamu saudaraku. Kita keluarga. Aku memaafkanmu dan aku janji semuanya akan baik-baik saja asal kamu mau bertanggung jawab kepada ketiga gadis ini. Mereka mengandung anakmu. Nikahi mereka."
Pria itu kembali membisu. Lalu sesaat kemudian ia kembali bertanya, "Apa mereka bersedia?"
Ketiga gadis itu menunduk, terdiam dan kebingungan, tapi juga tidak buka suara untuk menyuarakan penolakan.
"Beri mereka waktu untuk berpikir. Aku yakin mereka akan bersedia."
Dengan lesu, sambil menahan rasa sakitnya, Jaka Prasetya menganggukkan kepala, dan persis di saat itu Ak Jaka segera memeluknya, dengan rasa bahagia yang membuncah.
"Nikahi aku juga, ya, Kang."
Hah???
Yunita, gadis yang cantik namun sayang terlalu cungkring, berdiri sambil cengengesan di ambang pintu. "Aku juga hamil."
Astaga....
__ADS_1