
"Boleh aku datang larut malam nanti?"
Deg!
"Boleh?"
"Larut malam?"
"Aku tahu mungkin waktunya tidak pantas. Tapi aku tidak bisa datang di waktu yang pantas. Jadi bisakah... malam ini? Aku ingin datang sekaligus untuk menjemputmu. Aku mohon?"
Uuuuuh... aku tak hentinya menangis haru. "Sekalian saja langsung lamar aku," candaku.
Lalu, tanpa terduga, pria itu menanggapiku dengan serius. "Akan kulakukan," katanya. "Akan kulakukan, Wulan. Aku akan melamarmu."
Dan itu membuatku terkekeh. "Serius?" tanyaku. "Aku tadi hanya bercanda, tapi kalau...."
"Tapi kalau aku serius, kamu akan menerima lamaranku, kan?"
Aaaaah... proses ini terlalu cepat, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. "Aku tidak mungkin menolak. Aku menunggumu sejak setahun yang lalu."
"Aku tahu," katanya. "Dan aku akan datang."
Aku senang bukan kepalang. Impianku akan menjadi nyata. Tapi ada satu kendala....
"Kamu akan datang? Emm... bagaimana aku bisa mengenalimu, maksudku... aku takut terkecoh. Bagaimana aku bisa membedakanmu dengan kembaranmu?"
Cukup lama ia bergumam, bingung. Lalu ia menemukan solusinya. "Aku punya hadiah untukmu, untuk kado ulang tahunmu, sekaligus... sebenarnya... tadinya aku berniat ingin melamarmu. Perhiasan itu sekalian untuk melamarmu. Sebuah kalung emas dengan bandul huruf W, inisial namamu. Aku akan menunjukkannya padamu saat aku datang nanti. Itu berarti yang datang itu aku, Jaka Pradana yang asli. Bukan kembaranku."
"Baiklah. Aku mengerti."
"Well--"
"Eh, tapi...."
"Ada apa?"
"Bagaimana kalau nanti di jalan terjadi sesuatu sampai kalung itu berpindah tangan?"
"Ya ampun, Sayang." Pria itu tertawa. Cekikikan. "Ini bukan cerita sinetron."
Oh, melting. Dia memanggilku sayang.
"Ya. Tapi apa pun bisa terjadi, kan?"
"Ya, baiklah. Mari kita buat password-nya."
"Well, ide yang bagus. Apa password-nya?"
"Wardana."
"Apa itu?"
"Nama calon anak kita. Gabungan nama kita, Wulandari Jaka Pradana."
__ADS_1
Hahaha! Aku kembali tertawa. Kali ini nyaris terbahak keras. "Ya ampun, progress-nya super kilat, ya. Dasar!"
"Aku senang mendengarmu tertawa. Dan, yeah, Wardana itu satu kata dalam bahasa Sansekerta, yang artinya hadiah yang berharga. Dan itulah dirimu. Kamu hadiah yang berharga untukku."
Untuk sesaat aku tertegun. Terpaku....
"Wulan?"
"Oh? Ya, ya. Maaf. Aku...."
"Apa kamu juga akan banyak terdiam saat kita bertemu nanti?"
Ya ampun, aku tersipu-sipu. "Entahlah. Bisa jadi begitu," kataku. "Lihat nanti saja. Bagaimana reaksiku... saat kita ketemu nanti. Tidak perlu dibayangkan, ya...."
"Well, aku akan datang agak larut."
"Ya, aku akan menunggumu."
"Kalau begitu bersiap-siaplah untuk pergi."
"Tentu. Tapi lupakan dulu soal itu. Emm...."
"Ada apa, Wulan? Masih ada yang mengganjal?"
"Bukan begitu. Tapi... baiklah, anggaplah iya."
"Well, kalau begitu katakan saja. Apa yang masih mengganjal di hatimu?"
"Kita sudah bicara cukup banyak. Bahkan untuk pertemuan kita nanti. Tapi...."
"Emm... begini, kita sudah bicara cukup banyak. Dan entah bagaimana Kang Solihin dan Kang Aji bisa mempercayaimu kalau kamu adalah dirimu yang sebenarnya. Maksudku, Jaka Pradana, bukan Jaka Prasetya."
Oom Jaka berdeham. "Aku mengerti," katanya. "Baiklah, seperti aku dan Aji, dan aku dengan Solihin, mereka mengenaliku dari kisah masa kecil kami. Melalui kenangan. Kurasa kamu juga bisa, kan, mengenaliku dengan kenangan indah kita yang tidak mungkin diketahui oleh orang lain?"
"Kenangan... indah? Apa kenangan kita?" tanyaku hati-hati.
Dia kembali berdeham. "Kenangan saat kamu jatuh cinta padaku."
Hah? Aku terperangah. "Emm maksudnya?" tanyaku, mati-matian berusaha menyembunyikan rasa malu. "Memangnya kamu tahu kapan persisnya aku jatuh cinta... jatuh cinta padamu?"
"Aku tahu semuanya, Sayang."
"Tidak ah."
"Menurutmu?"
"Kamu pasti ngarang."
"Di keheningan subuh."
"Eh? Kok...?"
"Di pagi yang lembap. Ketika aku menabrakmu dalam kegelapan dan kamu justru terjatuh dalam pelukanku."
__ADS_1
Aaaaaah... malu! Dia membuatku berteriak-teriak memintanya menghentikan ucapnnya, tapi dia tidak ingin diam.
"Aku tahu, di saat itulah pertama kali kamu jatuh cinta kepadaku. Gadis belia-ku terpana, merasakan detak jantungku dengan hatinya yang berdebar. Persis satu tahun yang lalu. Benar, kan?"
Oh... Tuhan, ini membuatku malu. "Bagaimana kamu bisa tahu? Perasaan aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun."
"Karena aku merasakannya. Tatapan matamu yang mengatakannya padaku. Tapi sayang, saat itu waktunya belum tepat bagiku untuk meraihmu. Kamu masih anak sekolah, sementara aku...."
"Pria dewasa," jawabku, menghindari kata tua.
"Ya. Terlalu dewasa untukmu."
"Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah delapan belas tahun."
"Ya, benar. Sekarang, karena kamu sudah delapan belas tahun, dan kamu sudah lulus sekolah, aku ingin meraihmu. Bahkan aku ingin lebih dari sekadar meraihmu. Aku ingin memintamu, aku ingin mengikatmu dalam jalinan pernikahan. Secepatnya."
Dan aku tersenyum. "Secepatnya, tepatnya kapan?"
Aku tidak mendapatkan jawaban itu secara langsung. Keheningan tiba-tiba menyelimuti....
"Aku dalam masalah, Wulan. Dan kamu tahu itu. Tidak tahu kapan bisa selesai, tapi yang pasti butuh waktu lama untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku tidak ingin membuatmu merasa terjebak dalam situasi yang membingungkan. Jadi... akan kuselesaikan semuanya lebih dulu. Setelah itu barulah kita merencanakan pernikahan kita. Oke?"
Tapi aku selalu ketakutan. Aku takut kembarannya itu masih mengincarku. Aku tidak mau kalau ada kesalahan yang membuatku kehilangannya. Aku tidak ingin bernasib sama seperti yang dialami oleh gadis-gadis lain. Tapi bagaimana aku mesti menjelaskannya?
"Wulan?"
Aku menggeleng-geleng. "Tidak oke," kataku. "Sama sekali tidak oke. Aku...."
Bingung! Bagaimana aku mesti mengatakannya? Tolonglah....
"Kenapa?"
"Aku... aku sudah terjebak."
"Maksudmu?"
Kupejamkan mataku dan kuhela napas dalam-dalam. "Aku membutuhkanmu untuk keluar dari pusaran yang diciptakan oleh kembaranmu. Aku... aku terjebak dalam situasi menakutkan, karena aku masih perawan. Aku takut kembaranmu masih mengincarku dan aku takut... aku takut tidak bisa lolos seperti sebelum-sebelumnya."
Demi Tuhan, ini tidak nyaman untuk kami satu sama lain. Pria yang kubicarakan tentang moral-bejat-nya itu adalah saudara kembar Oom Jaka sendiri. Tapi ini mesti dibicarakan, meski ini membuatnya shock.
"Kamu hampir... mengalaminya, Wulan?" tanya Oom Jaka, suaranya bergetar. "Hampir? Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Aku minta maaf atas apa yang menimpamu karena saudaraku. Aku minta maaf."
Tolong jangan dibahas. Aku tidak ingin kamu bertanya bagaimana hal itu terjadi. Aku tidak ingin menjelaskan bagaimana pria itu menyentuhku, karena hal itu hanya akan menimbulkan rasa sakit. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa saudara kembar-mu telah mencumbuku dan nyaris... bercinta denganku? Aku tidak ingin mengakuinya, tapi bagaimana mungkin aku bisa berdusta? Aku takut kalau nantinya kamu menilaiku murahan....
"Wulan? Kamu baik-baik saja?"
Aku tidak baik. Bagaimana bisa baik setelah hari-hari buruk yang kulalui? Terlalu banyak hal buruk yang menimpaku. "Jangan dibahas, ya? Aku... hanya ingin menikah denganmu. Sesegera mungkin."
"Ya, secepatnya."
"Dalam waktu dekat?"
"Sayang--"
__ADS_1
"Please... itu akan baik untukku. Aku tidak ingin terpisah lagi darimu setelah kita bertemu. Walau sedetik, aku tidak mau. Aku ingin selalu bersamamu, dengan seorang pria yang bisa selalu melindungiku. Aku takut sendiri. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Kakiku cedera. Aku ketakutan setiap saat. Takut dengan pria itu. Takut dengan pelaku yang membunuh Mentari. Takut dengan semua orang di sekitarku. Aku butuh rasa aman. Tolong?"
Ya Tuhan, aku ingin semua orang mengerti keadaanku. Aku butuh rasa aman....