
Door!
Suara letusan senjata api mendengung di udara. Dua orang polisi baru saja tiba dan bermaksud memberi peringatan kepada Nek Aluh supaya ia menghentikan tindakannya yang brutal. "Jangan bergerak!" perintah salah seorang dari mereka.
Untuk sesaat Nek Aluh terpaku, namun kemudian ia menyeringai dan kembali hendak menyerang Ak Jaka. Beruntung Ak Jaka mampu menghindar meski hal itu semakin membuat Neh Aluh bertambah berang. Ia mengamuk seperti orang gila. Kesetanan dan ingin menyerang siapa pun yang mencoba menghalanginya mengarit leher Ak Jaka. Satu-satunya yang bisa menghentikan keberutalannya hanya ketika polisi benar-benar melayangkan tembakan kepada Nek Aluh lalu meringkusnya.
Kasihan. Di usia setua itu Nek Aluh harus mendekam di sel tahanan karena tindakan penganiayaan yang ia lakukan, dan, kulit tuanya yang sudah keriput mesti terluka karena peluru menembus ke dalam pahanya. Tapi jika tidak diambil tindakan demikian, hal itu akan membuat korban luka akibat sabetan celurit berkarat itu semakin bertambah dan menyebabkan orang lain ikut merasa cemas. Termasuk diriku yang takut suamiku akan celaka karena amarah Nek Aluh yang membabi buta.
Tubuhku lunglai setelah insiden itu dengan wajah basah, bersimbah air mata.
"Wulan?" kata Teh Husna seraya merangkulkan kedua tangan di bahuku, memapahku dan membawaku ke sofa. "Kamu tidak apa-apa, kan? Butuh sesuatu? Mau kuambilkan minum? Tunggu sebentar."
Tanpa aku mengatakan satu kata apa pun saat Teh Husna memberondongku dengan cemas, Teh Husna langsung bergegas ke dapur dan mengambilkan segelas air untukku, lalu ia bergegas kembali ke ruang depan persis ketika Ak Jaka kembali masuk ke dalam rumah. Ak Jaka terkejut melihat kondisiku yang lemas karena shock.
"Minum ini," kata Teh Husna seraya menyorongkan gelas di tangannya yang kemudian disambut oleh Ak Jaka dan dia membantuku untuk minum.
Aku mereguknya cukup banyak, namun aku tetap tak bisa tenang.
"Wulan, Sayang, tenang," ujar Ak Jaka.
Tapi air mataku seketika kembali mengucur dengan deras. Aku menangis sesenggukan.
Ak Jaka memelukku. "Tenangkan dirimu, Sayang. Aku tidak apa-apa, kan? Jangan khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir?" kataku lirih. "Aku ketakutan. Aku takut Aak kenapa-kenapa. Aku takut... aku takut... aku...." Kulepaskan diriku dari pelukannya dan menatap lekat kedua matanya. "Aku tidak mau sendirian lagi. Aku tidak punya siapa-siapa selain dirimu. Kenapa kamu harus nekat keluar tadi? Bagaimana kalau terjadi... sesuatu? Hal yang buruk? Aku--"
__ADS_1
Ak Jaka menaruh jarinya di bibirku, lalu ia menggeleng pelan. "Ssst...," desisnya. "Aku bersalah. Maafkan aku, aku mohon? Ya? Maaf?"
Aku menggeleng, mengusap air mata karena merasa putus asa. Entahlah, bisa jadi mungkin hanya perasaanku saja, namun tidak bisa kupungkiri bahwa aku merasa orang-orang akan menganggap bahwa ketakutanku ini hanyalah hal berlebihan semata.
Detik berikutnya, karena terlalu terbawa perasaan, aku lekas berdiri dan segera kembali ke area belakang.
"Hei...," seru Ak Jaka mencoba menghentikan diriku. Namun aku tidak menggubrisnya. Lebih cepat, aku melangkahkan kakiku.
Sesampainya aku di area belakang, mesin cuci sudah berhenti bekerja. Segera aku mengeluarkan cucianku dan memasukkannya ke mesin pengering, menunggu sesaat hingga mesin pengering off, lalu mengeluarkan pakaian dari dalam mesin pengering itu satu per satu. Mengibaskannya, melipatnya dengan hati-hati, dan menumpuknya dengan rapi.
Ketika aku selesai melipat pakaian, kupindahkan muatan berikutnya dari mesin cuci dan memasukkannya ke mesin pengering.
Ak Jaka. Untuk sesaat, aku memejamkan mata, mencoba menguasai diriku sepenuhnya. Kusadari, ketakutanku memanglah hal yang wajar jika dinilai dari bagaimana aku menghadapi kehidupanku sejak kepergian ayahku yang meninggal dalam kecelakaan tragis, lalu ibuku yang meninggal karena kanker yang ia derita, lalu meninggalnya nenekku karena fisik yang melemah karena termakan usia tua, sungguh aku tidak akan sanggup kehilangan Ak Jaka dan kembali hidup sebatang kara. Aku tidak mau. Namun demikian, di sisi lain, aku tahu aku harus kuat. Sebab, dari awal, bahkan sebelum kami menikah, aku sudah tahu risiko apa saja yang mesti kuhadapi setelah menikah dengan pria yang memiliki wajah penjahat kelamin yang sudah meresahkan warga sekabupaten. Aku dan Ak Jaka sudah pernah membahas soal ini. Ak Jaka pun sudah sering kali bertanya dan memperingatkanku, seberapa siapnya aku menghadapi huru-hara yang kami perkirakan akan terjadi setelah pernikahan kami dan di mana kami tinggal diketahui oleh khalayak ramai. Aku sudah mengatakan dengan tegas bahwa aku menyanggupi segala risiko yang akan kami hadapi. Jadi, aku harus kuat.
Aku membuka mata dan mengipasi diri dengan tangan. Sambil memungut tumpukan pakaian, aku membasahi bibir, lalu menyisir rambut dengan tangan, dan menegakkan bahu, kemudian segera aku berbalik dan melangkahkan kaki. Aku lega, ruang demi ruang yang mesti kulalui itu kosong. Aku tidak perlu berpapasan atau menghadapi siapa pun dalam situasi seperti ini.
Sambil menggeleng, aku cepat-cepat menuju kamar tidurku untuk membereskan pakaian. Tetapi, bukan pakaian yang baru saja dicuci bersih itu yang mesti kubereskan, namun, Ak Jaka dan kehangatan cintanyalah yang mesti kuhadapi.
Setelah aku membuka pintu kamar pengantin itu, suasana di dalamnya gelap gulita. Semua hordeng jendela tertutup, lampu dipadamkan, lalu lilin led tiba-tiba menyala diiringi irama dentingan nada yang merdu, dan Ak Jaka berdiri di hadapanku.
Aku terpukau. Apakah sosok suamiku memang seromantis itu?
"Apa semua ini?" tanyaku.
Dia mengangkat sebelah alis. "Apa mesti kujelaskan?" ia balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak," kataku. "Ini... keromantisan." Aku menghela napas dalam-dalam. "Ini baik untuk pengantin baru. Sangat. Terima kasih. Emm... untuk yang tadi--"
Ak Jaka menyentak pinggangku, menarikku ke dalam pelukannya erat-erat. Aku kaget, semua pakaian di tanganku terjatuh ke lantai.
"Jangan dibahas lagi," bisik Ak Jaka di depan wajahku, lalu ia mencium tengkuk leherku. "Lebih baik sekarang aku mengobati ketakutanmu dulu sebelum kita pergi ke pemakaman. Hmm?"
Tidak. Aku menggeleng. Aku tidak ingin keluar dari rumah setelah insiden yang baru saja terjadi. "Kita tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak perlu pergi ziarah kalau kondisi di luar belum memungkinkan."
"Sayang, jangan menunda pekerjaan baik. Orang tua kita, nenek kita, mereka pasti merindukan kita untuk berziarah ke makam mereka."
Aku menggeleng. "Aku mengerti," kataku. "Tapi--"
"Aku akan meminta beberapa orang untuk ikut bersama kita. Empat, lima, atau sepuluh orang, oke? Pasti aman, kok. Ya? Kita pergi hari ini. Nanti aku akan minta dikirimkan pengawal berpengalaman dan berbekal senjata."
Hah?
"Senjata?"
Dia mengangguk.
"Senjata api? Pistol? Ya ampun, Ak. Nanti...."
Ak Jaka menyengir konyol. "Kamu tidak perlu memikirkan senjata yang itu, Sayang," bisiknya. "Kamu... cukup pikirkan saja senjata yang ini. Yang ini...."
Uuuuuh...! Dasar pria dewasa!
__ADS_1