7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Tertampar Kenyataan Pahit


__ADS_3

Benar atau tidak, sekarang bagiku itu tidak berguna lagi. Rasa cintaku sudah berubah haluan. Sekarang aku membenci pria itu setengah mati.


Keputusanku sudah bulat, aku mesti mengabaikan tentang apa yang baru saja kuketahui di kantor polisi tadi, dan tentang apa penilaian Aji, juga apa saja yang kulewati sepanjang pagi, aku mesti mengabaikan semuanya dan mesti fokus pada keselamatan diriku sendiri. Aku mesti pergi jauh demi menata hatiku dan menata hidupku kembali.


Ya, itu yang mesti kulakukan sekarang. Aku bergegas keluar dari mobil untuk mengambil barang-barangku di dalam rumah.


"Kamu butuh waktu berapa lama sebelum pergi?" Aji bertanya sewaktu kami baru saja keluar dari mobil. "Kalau memungkinkan, aku mau pergi sebentar." Pria itu mengalihkan pandangan ke arah rumah Wenny, di mana gadis itu berdiri tegak di teras rumahnya. Marah dan cemburu.


Seketika aku langsung mengerti atas situasi yang mengancamku. "Ya, tantu saja. Silakan." Pergilah dan selesaikan masalahmu daripada gadis itu membunuhku seperti dia membunuh Mentari. Aku gemetar, gelisah dan ketakutan.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Dia menunjuk sopan ke arah Wenny dengan ibu jarinya. "Ke rumah tetanggamu. Nanti panggil saja aku kalau kamu sudah siap."


Aku mengangguk sambil memohon dalam hati semoga aku selamat.


Detik berikutnya, Aji langsung bergegas menemui Wenny, dan aku segera berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi...


"Wulan!"


Aku terkejut. Ada orang berseru memanggilku. Aku segera berpaling dan mendapati Kang Solihin dan saudara iparnya, Kang Bagus, sudah berada di hadapanku. "Oh, kalian," hanya itu ucapan yang keluar dari mulutku.


"Hai, Wulan," sapa Kang Solihin. "Apa kabar?"

__ADS_1


Dalam keadaan seperti itu, apalagi Kang Solihin adalah sepupu dari pria yang kini amat sangat kubenci, aku jadi bersikap seperti tidak acuh. Seolah-olah bagiku kalau Oom Jaka bersifat sekeji itu, sepupunya itu pasti sebangsa bajingan juga. Buruk semua. Busuk semua.


"Hei, Wulan, kamu baik-baik saja?"


Aku memandangi wajah pria itu. Aku tidak mau menjawab. Sebenarnya aku tidak punya masalah dengan Kang Solihin, tapi mungkin karena aku sedang kalut ditambah mendadak saja timbul rasa benci terhadap sepupu dari pria yang sudah menawan hatiku dan justru menyakitiku, maka aku tidak bisa bersikap ramah kepada Kang Solihin.


"Ya ampun, kok kamu diam saja?" tanyanya. "Melihat wajahmu yang murung sepertinya ada sesuatu yang menjadi ganjalan hatimu."


Aku berdeham pelan. "Apa pun yang sedang kurasa dan kualami, semua itu bukan urusan Akang."


Mendengar kata-kata itu, Kang Solihin dan Kang Bagus sama-sama saling pandang.


"Tidak biasanya dia seperti ini," Kang Solihin berbisik pada saudara iparnya. "Kenapa dia berubah jadi ketus dan tidak acuh padaku?"


"Aku tidak tahu di mana dia. Kalaupun tahu rasanya bukan menjadi urusanku."


Kang Solihin dan Kang Bagus kembali saling berpandangan. "Kenapa dia jadi ketus judes begini?" bisik Kang Solihin yang bisa terdengar olehku.


"Jangan-jangan si Jaka itu telah menyakitinya. Pasti terjadi sesuatu di antara mereka," jawab Kang Bagus.


"Kalaupun betul, itu urusan dia dengan Jaka. Tidak sepantasnya dia bersikap seperti ini terhadap kita," tukas Kang Solihin.

__ADS_1


"Kalian mencari Oom Jaka?" tanyaku, kemudian menyunggingkan seulas senyum. Kedua pria di hadapanku jadi lega. Tapi hanya sesaat. Karena di lain kejap, senyum itu lenyap dan aku kembali berucap, "Jika ingin tahu di mana kerabat kalian itu berada, tanyakan pada kekasih-kekasihnya."


Kedua orang itu membeliakkan mata. "Siapa? Kamu bicara seperti seolah ada banyak sekali kekasihnya."


"Memang ada banyak. Arumi, Puspasari, Mentari, Cinta, bahkan Luna."


"Jangan bicara sembarangan. Sejak kapan semua gadis itu jadi kekasih sepupu kami?" tanya Kang Solihin, sementara Kang Bagus bengong tak mengerti.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Kalian bertiga pasti sama saja. Suka mendekati gadis-gadis untuk menghibur diri secara keji! Kami ini bukan barang mainan!"


"Astaga." Kang Solihin sampai tersentak mendengar kata-kataku. "Jangan-jangan Jaka telah melakukan sesuatu pada gadis ini. Mungkin sudah dipeluk atau diciumnya."


Kang Bagus mengangguk sepakat. "Mungkin juga sudah digerayanginya. Sudah dijebol mungkin."


"Gila! Dia enak-enakan dapat anak orang, kita berdua yang dapat dampratan. Ayo, Kang, kita tinggalkan tempat ini. Tapi biar aku mengatakan sesuatu dulu pada gadis kecil ini supaya dia tahu rasa!" Setelah berkata begitu Kang Solihin memandang ke arahku dan berkata, "Neng Wulan, apa pun urusanmu dengan Jaka, itu bukan urusan kami! Apa pun urusan Jaka dengan gadis-gadis lain, juga urusanmu dengan gadis-gadis itu, juga bukan urusan kami! Tapi satu hal kuberitahu padamu, di kota sana, ada lusinan gadis tergila-gila pada Jaka. Mereka semua menyukai sepupuku itu! Kecantikan mereka tidak kalah denganmu! Jangan kamu merasa paling cantik karena punya sepasang mata yang indah! Di kota ada banyak gadis bermata indah, lebih indah dan lebih bening dari matamu! Memiliki kecantikan yang tidak kalah denganmu! Lalu, masih ada segudang gadis cantik lainnya. Biar aku sebutkan nama mereka satu persatu. Laura, Nilam, Anggraini, Cantikah, Caludya, Cintia, sampai Bella, Bunga, Citra, Lestari juga menyukainya. Dari yang berambut hitam sampai yang pirang. Ada banyak lagi yang tergila-gila pada Jaka. Tapi Jaka memperlakukan mereka dengan baik. Tidak pernah dia mempermainkan seorang gadis seperti yang kamu katakan tadi! Kalau dia ingin berbuat hina, kenapa mesti dilakukan di sini? Di kota ada banyak gadis yang bersedia menyerahkan dirinya secara pasrah! Tapi dia tidak mau melakukannya! Aku tidak tahu apa kamu masih perawan atau tidak! Tapi sepupuku itu aku tahu betul! Sampai saat ini dia masih bujang! Dan jangan salah, meskipun seorang pria nakal sekalipun, mereka tidak berbekas. Bagaimana denganmu? Kalau kamu sudah pernah digerayangi, statusmu sudah menjadi gadis kotor yang menjijikkan!"


Aku terbelalak ternganga mendengar kata-kata Kang Solihin, membuat wajahku merah sampai ke telinga. Tubuhku tidak bergerak barang sedikit pun.


"Kenapa kamu terdiam? Kamu sudah terjamah? Iya? Dasar gadis menjijikkan! Kamu dengar ini baik-baik. Kalau bukan karena jasa nenekmu kepada kami, kami tidak akan sudi mengenalmu lagi. Sikap dan ucapanmu barusan sangat merendahkan kami dan sepupu kami. Semoga saja kamu kualat! Gadis kecil tidak sopan pada orang yang lebih tua! Orang tuamu sudah gagal mendidikmu hingga kamu bertingkah binal dan tidak tahu adat! Begitulah macam anak dari seorang gadis durhaka terhadap orang tua, anaknya pun tumbuh jadi gadis yang tidak baik. Ibunya jadi simpanan, anaknya bersikap sok padahal tidak lebih dari gadis sundal!"


Seperti petir menyambar. Aku tidak bisa berkutik, dan bahkan, mungkin aku tidak akan lagi berani bicara dengan orang-orang yang mengenalku.

__ADS_1


Sakit sekali hatiku, tapi aku tahu akulah yang bersalah....


__ADS_2