7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Ketakutan


__ADS_3

Semburat cahaya matahari pagi ini telah menghangatkan tubuhku dan membuatku lupa akan dinginnya siraman air hujan tempo hari. Menghangatkan kebekuan tubuhku hingga ke ujung-ujung jari kaki dan jari-jemari tanganku. Menguapkan basah tetes-tetes embun yang tampak di ranting pepohonan. Dan kemilau warna sinar matahari yang kuning keemasan di penjuru timur itu benar-benar indah. Membuatku sedikit bersyukur akan hari ini, bahwa aku masih bisa bernapas. Membuatku berharap bisa menikmati pagi ini dengan tenang tanpa terusik masalah hati yang sedang kuhadapi, tentang cinta yang menjadi benci, dan, tentang kemelut kehidupan seperti lingkaran setan di mana aku berada di tengahnya, di antara kobaran api.


Oh Tuhan, apakah di pagi yang indah berkabut tipis ini aku akan dapat mengembangkan senyumku lagi? Tapi aku tahu, pria yang setahun terakhir mengisi hatiku itu tak layak untuk terus kucintai. Seperti yang dikatakan oleh almarhumah Mentari tempo hari, pria yang tak ingin lagi kusebut namanya itu adalah pria yang paling menjijikkan di tanah Rancabali ini.


Merasa nelangsa, kufokuskan pandanganku pada burung-burung gelatik di ranting-ranting tanaman semak berduri mimosaceae, menggoyang lembut anak-anak daunnya yang baru saja mulai membuka karena hangatnya sinar mentari pagi.


Yah, memang dasar, burung-burung kecil itu memang nakal. Berkicau-kicau, saling menggoda pasangannya masing-masing dengan lompatan-lompatan ringan dan anggukan-anggukan kecil di antara duri-duri di ranting mimosaceae. Selalu, aku menjadi iri pada mereka. Begitu bebasnya burung-burung kecil itu mengungkapkan perasaan pada kekasih mereka masing-masing.


Tentu saja, aku hanya dapat menikmati rasa iri itu dalam kesendirianku. Meneriakkan perasaan hatiku pada awan-awan yang berarak, pada semilir angin pegunungan, dan pada lembah nun jauh di sana yang tampak menghijau oleh sawah-sawah subur sepanjang mata memandang.


Benar. Syukuri saja saat ini, Wulan, batinku.


Setelah kepergian Aji pagi itu, selepas kami sarapan, tak banyak hal yang bisa kulakukan. Aku hanya duduk berdiam diri di dalam kamar yang kutempati. Pengurus villa ini tidak selalu berada di villa. Ia hanya akan datang sesekali untuk bersih-bersih. Dan setelah bersih-bersih, ia pun pergi. Jadi aku hanya sendiri. Sesuai pesan Aji, dan janjiku padanya, aku akan memenuhi permintaannya: aku tidak akan pergi meninggalkan villa dan akan mengunci semua pintu dengan aman.


Duduk termenung sendiri dan demi tak menimbulkan suara, aku berbaring di tempat tidur dalam keheningan. Dan, nyaris gila. Benar-benar tidak ada yang kulakukan selain terbaring, duduk, mondar-mandir, dan menatap ke luar jendela, plus berusaha menekan pikiran-pikiran yang bermunculan. Selebihnya sama sekali tidak ada.

__ADS_1


Aku tidak ingin memikirkan apa pun, batinku. Tetapi takdir kembali menyeretku ke dalam peristiwa yang tak semestinya kuketahui.


Dari jendela kamar yang menghadap ke taman di bawahku, aku memandangi burung-burung dan pepohonan sembari memikirkan tentang peristiwa-peristiwa yang kusaksikan belakangan ini, lalu mengeluh sedih. Ketika aku sedang merenungi kemalanganku, menatap ke langit dan mengalihkan pandanganku yang sayu ke taman, terdengar suara-suara tawa, mataku berkelana mencari sosok itu di taman belakang villa, dan muncullah dari sana, berjalan dengan angkuhnya dua orang gadis berambut pirang, menghampiri seorang kakek yang mulai memutih rambutnya meski ia masih berbadan tegap.


Sementara aku melihat mereka dengan sembunyi-sembunyi karena rasa takut, tapi juga penasaran, langsung mengambil teropong jarak jauh yang dipinjamkan Aji untuk melihat burung-burung di pepohonan. Kugunakan benda itu hingga bisa melihat dengan jelas orang-orang yang kini jaraknya sudah cukup jauh dari posisiku.


Kakek berpenampilan dahsyat di atas batu yang menghadap ke jurang itu menghentikan samadinya. Telinganya menangkap suara kaki-kaki melangkah ke arahnya, langkah kedua gadis pirang itu. Matanya yang tadi terpejam dibuka sedikit, lalu ia menggumamkan sesuatu yang tak bisa kudengar.


Orang tua itu mengenakan sehelai jubah hitam. Rambutnya panjang di sebelah belakang, melambai-lambai ditiup angin kencang. Kakek yang tengah bersamadi menggerakkan kepalanya. Begitu dia membuka sepasang matanya lebih besar, dua gadis berparas cantik, sama-sama mengenakan pakaian hitam dan sama-sama berambut pirang itu telah berlutut di hadapannya.


Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dengan bantuan teropong, aku bisa melihat dengan jelas ketika salah satu gadis berambut pirang itu segera mengeluarkan batu hitam mengilat dari balik pakaiannya, lalu diserahkan kepada si kakek.


Kakek berpakaian hitam menyambut benda itu dengan wajah berseri-seri dan mata berkilat-kilat. Batu hitam mengilat itu diusapnya berulang kali. Aku tidak bisa mendengar ia menggumamkan apa, tapi dia nampak begitu bahagia.


Kedua gadis pirang itu saling melontar pandang. Kemudian kembali mereka bercakap-cakap.

__ADS_1


Setelah cukup lama obrolan yang tak terdengar olehku itu berlangsung, si kakek menaruh batu hitam mengilat itu di atas pangkuan, lalu tangannya yang kiri dan yang kanan mengusap kepala dua gadis berambut pirang itu, dan mereka kembali bicara. Nampaknya si kakek sedang menanyakan sesuatu, ketika salah seorang gadis berambut pirang itu mengatakan sesuatu sebagai jawaban, si kakek tampak sangat terkejut. Dia mengusap-usap janggut putihnya berulang kali. Dan semakin panjang sesuatu yang dituturkan oleh si gadis berambut pirang itu, ekspresi si kakek bertambah kebingungan, sekaligus marah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengoceh panjang, dan terakhir wajahnya jelas terlihat kecewa.


Kedua gadis kembar itu saling pandang kembali. Lalu kedua gadis berambut pirang itu sama-sama membungkuk memberi hormat. Sesaat kemudian, keduanya segera meninggalkan tempat itu.


Tidak lama setelah dua gadis itu berlalu, si kakek mengambil batu hitam dari atas pangkuannya. Mulutnya berkomat-kamit layaknya membaca sebuah mantera. Si kakek gerakkan tangannya, membuat gerakan berputar. Yang kiri didorong ke arah depan, yang kanan ditarik ke belakang. Tapi tidak terjadi apa-apa. Terlihat kebingungan, si kakek kembali berkomat-kamit membaca manteranya. Sampai tiga kali. Lalu dua tangannya diputar kuat-kuat.


"Kraaakkkk!!!"


Batu hitam itu pecah menjadi beberapa bongkah ketika dihantamkan ke permukaan batu yang ia duduki. Sepasang mata si kakek membeliak besar memperhatikan batu yang pecah. Masih kurang percaya dia mendekatkan batu itu ke matanya, memeriksa pecahan-pecahan batunya.


"Palsu!" teriak si kakek tiba-tiba. "Kurang ajar! Dua gadis itu pasti telah menipuku!"


Kira-kira itu yang kakek itu ucapkan berdasarkan reaksi dari emosinya dan gerakan bibirnya.


Kakek berbaju hitam itu mengepalkan tangan dan mengentakkan lagi batu itu ke batu besar yang ia duduki, butiran pecahan batu berhamburan ke tanah.

__ADS_1


Ya ampun, hatiku bertanya-tanya: itu tadi murni karena tenaga dalam biasa, kan? Bukan sejenis ilmu kanuragan?


__ADS_2