7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Mendamba


__ADS_3

Setelah berpakaian dan berdandan, aku keluar dari kamar dengan perasaan bersalah karena adegan yang tak seharusnya itu. Rasanya begitu menyenangkan dan begitu ingin kunikmati, sehingga aku membiarkan percumbuan itu terjadi di antara kami. Namun, pencegahan diri secara sepihak yang dilakukan oleh Ak Jaka membuatku jadi tidak enak hati.


Dengan gelisah, aku keluar dari kamar dan menyelinap ke dapur untuk membuat sarapan. Aku sedang membuat roti panggang dan memanggang daging ketika Ak Jaka masuk ke dapur, sementara sepiring nasi goreng spesial untuknya sudah terhidang di atas meja.


"Baunya enak," komentarnya sambil menghampiriku dari belakang.


Getaran menjalari tulang punggungku karena kedekatan Ak Jaka. "Mungkin daging panggangnya," kataku.


"Bukan daging panggangnya, Sayang," kata Ak Jaka dengan nada ditarik-tarik. "Tapi dirimu."


Oh... dia mencium bagian belakang leherku. Aku mengeran* lirih. Kalau aku bisa menyimpan apa pun kenikmatan yang ia berikan kepadaku, aku tidak akan pernah kehausan akan belaian kasih sayang dari pria ini.


"Kamu belum mandi?" tanyaku, memperhatikan ia yang belum ada perubahan sejak keluar dari kamarku tadi.


Dia menyengir konyol. "Aku tidak berniat menginap di sini," ujarnya seraya duduk di atas counter dapur. "Jadi aku tidak punya pakaian ganti. Ingin masuk ke rumah sebelah, tapi ngeri keluar dari sini."


"Jadi tidak mau mandi karena tidak punya pakaian ganti?"


Dia mengangguk. "Ya."


"Memangnya tidak risih?"


"Akan lebih risih kalau mandi tapi tidak berganti pakaian."


"Kalau begitu tidak usah berganti pakaian," kataku, menyengir konyol, lalu berbisik. "Tidak usah pakai apa-apa. Tidak jadi masalah buatku."

__ADS_1


Haha! Aku tergelak hebat, pun Ak Jaka yang tak mampu menahan suaranya. "Dasar nakal!" ledeknya.


"Ya sudah. Duduklah di meja makan. Semuanya sudah hampir siap."


Ak Jaka menurut. Segera ia turun dari counter dan pindah duduk di kursi meja makan. Kuhidangkan di hadapannya seteko teh hangat, sepiring nasi goreng, roti panggang isi daging, dan sekeranjang penuh aneka buah.


Ak Jaka memandangi berkat yang tertata di hadapannya. "Aku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini karena memiliki istri yang jago masak sepertimu," katanya, lalu ia mengulurkan tangan untuk menangkap pinggangku dan mendudukkan aku di pangkuannya. Kedua lengannya melingkar sempurna, begitu erat di pinggangku.


"O ya? Apakah itu pujian? Terima kasih kalau begitu. Sekarang waktunya makan."


Dia menggeleng, kembali menyengir konyol dan menengadah. "Aku mau memakanmu," katanya, dia menatapku dengan pandangan gelap dan lapar.


"Kamu ingin sekadar memberitahuku atau meminta izin, hmm?"


"Bangun sebentar," pintanya.


Hmm... dia kembali antisipasi, batinku. Dengan sedikit memberengut aku berdiri dan hendak duduk di kursi lain. Tapi tiba-tiba...


"Aku hanya memintamu berdiri sebentar, bukannya pindah ke kursi lain," ujarnya.


Aku menyeringai. "Lalu?"


"Duduk di sini. Menghadapku."


Deg!

__ADS_1


Aku ternganga. Namun begitu, aku menurut begitu saja saat Ak Jaka kembali menarikku ke pangkuannya. Duduk di atas pahanya, menghadapnya. Dan dia mendongak menatapku, matanya sarat dengan cinta berlimpah sehingga membuat hatiku jadi cenat-cenut.


"Wulan...." Ak Jaka membenamkan wajahnya di dadaku, mengeran* dalam. "Aku tegila-gila padamu," bisiknya. "Aku sangat tergila-gila padamu."


Aku bingung hendak menyahut apa. Sebagai gantinya, aku menangkup wajahnya. "Aku mencintaimu," ujarku. "Aku juga tergila-gila padamu."


Nekat. Aku menyapukan bibirku pada bibirnya. Meluma* bibirnya. Dan meski tanpa keahlian, kubiarkan lidahku menjelajah ke dalam kerongkongannya. Kucium ia sebagaimana ia menciumku, dengan keliaran dan kebebasan. Di antara kemabukan itu, kusadari kedua tangan pria itu menyelinap ke balik dress-ku, menjelajahi punggungku hingga rasa hangat seketika menjalari tubuhku.


"Ke sofa, ya?" ajaknya seraya menyelipkan kedua tangannya ke bawah lututku.


Aku mengangguk, tersenyum malu. Kemudian, dengan kekuatan otot kedua tangannya, Ak Jaka berdiri dengan aku berada dalam gendongannya, di dadanya, dan ia membawaku ke sofa untuk mencumbuku lebih gila. Menindihku, menekankan dirinya kepadaku. Meraba-raba. Namun demikian, ia tidak menanggalkan dress-ku ataupun menanggalkan kaus dari tubuhnya.


"Ouch!" Aku terkesiap. "Ak...?"


Dia menaruh jemarinya di bibirku. "Biarkan aku mencicipi rasa manismu, ya? Sedikit saja."


Tanpa menunggu jawaban dariku, Ak Jaka menyuruk ke leherku. Mengisap darahku.


"Ak!" Praktis mataku terpejam. "Ya Tuhan! Eummmmmmm...."


Ini gila! Seluruh sel sarafku menegang. Mendambakan dirinya.


"Ya Tuhan...," gumamnya dalam kelebatan rambutku. Dapat kurasakan pusat gairahnya menekan padaku dalam ketegangan.


Tersiksa....

__ADS_1


__ADS_2