
Hujan turun lebat malam itu saat kami menyantap hidangan makan malam di ruang makan. Tak pelak, hal itu membuat Kang Solihin menggoda Ak Jaka dalam bisikan-bisikan nakal. Membuat pria itu cengengesan seraya mencuri-curi pandang ke arahku.
"Makan yang banyak, Jaka," kata Mang Zulfikar.
"Ya, Jaka, biar kuat dan berstamina," Bi Fatma menimpali.
"Jangan banyak-banyak," sergah Kang Solihin. "Secukupnya saja. Nanti malah gak nyaman olahraga malamnya."
"Betul itu," timpal Teh Husna. "Nanti begah kalau perutnya kebanyakan isi. Kamu juga jangan banyak-banyak makannya, Lan. Kalau lapar, nanti malam bisa bangun buat makan. Tapi... sebelum malam pertama, makannya jangan banyak-banyak. Biar tetap nyaman kalau dibawa jumpalitan."
Eh?
Semua orang tertawa ngakak.
Ah, dasar. Aku dan Ak Jaka terus saja jadi bulanan-bulanan mereka. Ditambah lagi Teh Husna berbisik, "Gimana perasaanmu? Deg-degan? Nervous, ya? Gadis muda seumuran kamu mesti berhadapan dengan pria sedewasa Kang Jaka, pasti bakal dilahap habis. Siapin mental." Teh Husna terkekeh kesenangan.
"Ih, Tetah, mah. Jangan bikin aku ngeri dong, Teh."
"Serius ngeri? Bukannya kamu sudah tidak sabar? Hmm?"
"Ya ampun, Teh. Jangan menggodaku begitu!" Praktis wajahku kembali merona merah.
Sehabis santap malam, karena tak enak hati untuk langsung ke kamar, aku dan Ak Jaka pun menimbrung ke dalam obrolan berlanjut anggota keluarga di ruang santai. Ngalur-ngidul membicarakan seputar pernikahan kami yang masih menjadi bahan perbincangan yang mengasyikkan bagi seisi rumah. Terutama mengingat bagaimana gugupnya Ak Jaka sejak memasuki rumah untuk proses akad. Hingga rasanya aku bertanya-tanya bagaimana mesti melarikan diri dari ruang keluarga itu dan membawa Ak Jaka menyelinap ke kamar?
Jarum jam sudah menunjuk angka delapan malam ketika aku dan Ak Jaka beradu lirikan untuk ke sekian kalinya malam itu, hingga Ak Jaka mesti memeluk bantal di atas pangkuannya karena tak mampu lagi menahan hasrat untuk satu peraduan yang dirindukannya sebagai seorang pria. Dari tatapannya aku tahu, apa yang ada di kepalanya sama persis dengan apa yang kupikirkan, dan berharap detik demi detik cepat bergulir dan berharap rasa kantuk segera menyerang semua orang.
Tapi harapan itu tak terjadi. Untungnya malam itu Mang Zulfikar sedang keluar, ke rumah kepala desa. Jadi tiga orang lagi yang mesti kami tunggu keluar dari ruang keluarga.
"Bibi ke kamar duluan, ya. Mau salat isya," kata Bi Fatma seraya berdiri, membuat otakku dan otak Ak Jaka serasa lampu yang menyala terang.
Akhirnya....
"Jaka, Wulan, jangan lupa salat isya dulu sebelum tidur," pesan Bi Fatma.
Kami berdua mengangguk, berkata kompak. "Ya, Bi."
"Bilang aja yang lugas, Bu. Sebelum nganu."
__ADS_1
Bi Fatma malah tertawa terkekeh-kekeh. "Nganu malah nggak lugas, Leh. Takutnya Jaka malah nggak ngerti apa itu nganu."
Euw... ibu dan anak sama agak-agaknya. Kompak sekali.
Setelah puas tertawa, Bi Fatma segera ke kamar mandi untuk berwudu. Dan begitu Bi Fatma masuk ke kamarnya dan menutup pintu, Ak Jaka langsung berdiri, menyingkirkan bantal dari atas pangkuannya dan tertawa cengengesan. "Sayang, salat isya sekarang, yuk?"
"Dasar!" ledek Kang Solihin seraya melempar bantal sofa.
Ak Jaka menyengir lebar. "Sekarang bukan waktunya menanggapimu, tahu!" ledeknya.
Tanpa mempedulikan celotehan Kang Solihin, aku dan Ak Jaka bergandengan tangan ke kamar mandi, berwudu, lalu kami berdua salat isya berjamaah. Selepas salat, tak lupa kami memanjatkan doa. Ak Jaka yang memimpin dan aku mengaminkan segala doa-doanya. Salah satu doanya meminta kepada Sang Pencipta untuk memberkahi pernikahan kami dan menganugerahi kami keturunan. Dia sudah amat sangat merindukan sebuah keluarga yang utuh.
Aamiin. Aku sangat berharap doa-doa kami segera diijabah. Aku pun menginginkan hal yang sama. Kami akan segera mengurus data-data kependudukan yang baru, kartu keluarga yang baru, dan berharap kelak ada banyak nama yang tertulis di bawah nama kami, di kolom nama anggota keluarga di selembar kertas itu. Sehingga namaku tidak akan terpancang sendirian lagi. Aamiin....
"Well, kita sudah selesai salat. Sekarang...?"
Aku tersenyum malu. Sekarang waktunya, batinku.
Walau tersipu malu, aku bersemangat untuk momen ini. Begitu antusias. Segera kulepas mukenaku, kulipat rapi-rapi beserta sajadah kami berdua lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.
Aduh... begitu aku berbalik, Ak Jaka sudah menanggalkan sarung dan atasan piyamanya, bertelanjang dada dan duduk bersandar di kepala ranjang, di tepinya, di sisi tempatnya akan tidur. Di sana, dari tempatnya itu, ia menatapku dengan tatapan yang luar biasa membuat hatiku berdebar tak karuan. Matanya menyiratkan cinta dan gairah. Dan senyumnya...
Dengan kikuk, aku melangkahkan kaki ke ranjang. Ke sisi di sebelahnya. Lalu duduk di sana.
Dalam hening kami berdua terdiam tanpa suara. Terpaku. Ak Jaka hanya menatapku, lalu akhirnya dia mengulurkan tangan, meraih tanganku dan menarikku lebih dekat kepadanya.
"Wardana, kamu hadiah yang paling berharga dari Tuhan untukku," ucap Ak Jaka seraya menelusurkan jemarinya di sisi wajahku. Kemudian tangannya menelusur ke belakang, melepaskan ikat rambutku dan membiarkan rambutku tergerai ke bahu, di mana ia membelitkan jemarinya dalam kelembutan itu, lalu menangkup bagian belakang kepalaku. Menarik wajahku lebih dekat kepadanya. Lebih dekat. Sangat dekat. Lalu dia menciumku.
Begitu lama. Dia menguasai, menjelajahi kerongkonganku. Membuatku kehabisan napas. Begitu engap hingga aku pun menarik wajah darinya.
"Selamat malam. Hari sudah larut. Kita tidur, yuk?"
Hah?
"Ak...?"
Pria itu langsung berbaring, bertelungkup, dan memejamkan mata.
__ADS_1
"Ak, serius kamu mau langsung tidur?" tanyaku, nelangsa.
Dia membuka mata, memicingkan sebelah matanya untuk menatapku. "Hu'um, aku ngantuk, Sayang. Capek."
"Tapi ini kan...."
"Malam pertama kita."
"Hu'um, jadi...?"
"Besok malam saja, ya."
"Oh? Besok...? Besok saja?"
"Ya. Tidak apa-apa, kan?"
Tak mampu menjawab. Aku yang kecewa hanya bisa mengangguk dan langsung merebahkan tubuhku. Berbaring memunggunginya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Hingga detik itu jadi menit, aku berkutat dengan pemikiranku sendiri. Bertanya-tanya, kenapa? Kenapa malam ini jadi begini?
Lalu tiba-tiba Ak Jaka meraih tanganku, dan...
Mengarahkan tanganku ke sana.
Eh?
Tegang. Keras. Kuat. Dan berdenyut. Tanganku menyentuhnya.
Ak Jaka tertawa terbahak-bahak. "Mana mungkin aku melewatkannya! Sekarang waktunya kamu menyerahkan diri, Sayang!"
"Dasar! Bercandamu tidak lucu!"
Dia membuatku merengut. Tapi tidak lama, sebab...
Dia segera menelanjangiku bulat-bulat. Sebulat bulan purnama di atas sana. Memosisikan diri di atasku.
"Well, sudah siap, Sayang?"
__ADS_1
Ouch!!!