7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Pertempuran


__ADS_3

"Di mana kalian?" kakek berjuba putih itu kembali berteriak sembari berdiri dan meloncat turun dari atas batu. "Lekas kembali, Keparat...!!!"


Suara amarahnya mengggelegar, namun sialnya, jawaban yang diterimanya hanyalah gema suaranya yang kemudian pupus ditelan embusan angin. Rahang si kakek menggembung, berdenyut keras. Ia berbalik menghadap ke jurang, dan sekali kaki kanannya dihantamkan ke batu, maka menggelindinglah batu itu dari tebing yang tinggi ke lembah jurang di bawah sana.


Aku kembali ternganga. Kakek yang dahsyat! Di usia setua itu, ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang begitu menakjubkan. "Luar biasa," gumamku.


Belum habis rasa takjubku, si kakek berjubah hitam melompat turun menuruni lembah. Tidak tahu apa yang hendak ia lakukan atau hendak pergi ke mana dirinya, aku tidak dapat melihatnya lagi di kejauhan meski menggunakan teropong jarak jauh. Tapi yang jelas ia tidak melompat ke dasar lembah untuk bunuh diri. Bukan.


Sementara, di sisi lain, dua orang gadis berambut pirang yang ternyata masih bersembunyi di balik batang sebuah pohon besar, tertawa cekikikan melihat kemarahan kakek berjuba hitam yang sudah berhasil mereka tipu. Kemudian mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka berhenti di bawah jendela kamar yang kutempati tanpa memandang ke arahku, karena mengira bahwa villa ini selalu kosong seperti biasanya.


"Aku tidak habis pikir," kata salah seorang gadis yang kuingat ia yang bernama Jelita. "Bagaimana mungkin mudah sekali kita membohongi orang tua itu? Padahal dia sangat pandai dan cerdik luar biasa!"


Juwita menghentikan tawanya. "Kamu benar! Kurasa hari ini hari apesnya," jawab Juwita.


Jelita mengangguk. "Mungkin juga. Tapi jangan-jangan orang tua itu sudah kabur matanya. Hingga dia tidak bisa membedakan lagi batu yang asli dan batu yang palsu."


"Malah, jangan-jangan dia juga tidak kenal lagi pada sesuatu sekeras batu yang ada di bawah perutnya."


Dua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Lalu Jelita bertanya, "Menurutmu apa saat ini dia sudah tahu kalau kita membohonginya, maksudku bukan menyalahkan si Burung Jaka Tua itu?"


"Pertanyaanmu itu membuat aku kecut. Ayo, kita lari biar jauh dulu. Nanti kita berhenti di kebun teh. Di sana pasti aman. Terlalu luas bagi kakek itu untuk mencari kita. Kita periksa lagi batu ini. Bukankah tadi kita sempat melihat bagaimana kakek memuntir-muntir batu yang kita berikan? Tapi karena batu itu palsu, akhirnya pecah. Aku yakin ada yang tengah diselidikinya. Berarti batu yang ada pada kita menyembunyikan sesuatu."

__ADS_1


Dua gadis tomboy berambut pirang itu baru hendak kembali berlari ketika seorang pria datang menghadang. Kedua gadis berambut pirang itu berseru kaget.


"Kembalikan batu hitamku, baru kalian kuizinkan pergi."


Kedua gadis itu tertawa -- menertawai musuh mereka yang kini berhadapan dengan mereka. "Siapa yang butuh izinmu, Pak Tua? Kami bisa pergi ke mana pun sesuka kami."


"Keras kepala!" pria itu menghardik, lalu melayangkan tendangan tiba-tiba, membuat Jelita terjajar sampai lima langkah. Sebelum dia bisa mengimbangi diri dan sebelum Juwita sempat bertindak, serangan dilayangkan pula kepada Juwita. Membuatnya jatuh terjengkang.


Jelita naik pitam. "Beraninya kamu menyerang perempuan. Dasar banci! Akan kupatahkan tongkatmu!"


Pria dewasa itu tertawa. "O ya?" ledeknya. "Apa itu sebuah tantangan? Hmm? Well, kalau begitu akan kuterima tantanganmu. Akan kubiarkan kalian mencicipi tongkatku." Habis berkata begitu, pria itu menunjuk ke bawah dengan elusan tangannya di tengah-tengah antara pahanya yang jenjang, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Walau kamu seorang pria, jangan kira kami takut padamu! Riwayatmu akan segera tamat!"


"Hebat sekali ucapan kalian! Tidak ada salahnya aku menjajal dulu sampai di mana kehebatan kalian. Setelah itu baru aku menjajaki sampai di mana kenikmatan tubuh kalian! Hahaha!"


Dua gadis berambut pirang berteriak marah, lalu terjadi pertarungan sengit. Kedua gadis itu punya kemampuan beladiri juga ternyata. Tetapi, walau melawan satu musuh yang memiliki kemampuan beladiri yang sama, tetap saja mereka kalah. Sebab, dari segi kekuatan, mereka sama sekali tidak seimbang. Tenaga mereka sebagai seorang perempuan tidak mampu menyeimbangi kekuatan tenaga pria itu. Dia tertawa mengekeh walau diam-diam dia merasa kagum karena kekuatan dua pukulan sepasang gadis berambut pirang itu membuat lengannya menjadi nyeri sampai ia mesti mengelus lengannya.


Huh! Dia terlalu banyak bicara, batinku. Diam-diam aku menikmati pertunjukan di hadapanku. Barangkali karena merasa bosan tidak melakukan apa-apa sejak tiba di villa, aku merasa terhibur melihat pertarungan sengit ketiga orang itu. Rasanya seperti menonton film laga zaman dulu, tapi kali ini dalam versi nyata dan yang lebih modern. Alasan lain aku menyukai tontonan ini adalah: tiga orang yang sama-sama sok dan bermulut besar itu akan saling menumbangkan. Aku penasaran, siapa yang akan tumbang dan apa yang akan dilakukan oleh sang pemenang?


Sambil tertawa, pria itu maju mendekati dua lawan. "Dua gadis pirang, aku tahu selama ini kalian hanya suka pada makhluk sejenis. Tapi hari ini aku akan memberi pengalaman baru pada kalian berdua. Bagaimana nikmatnya bersenang-senang dengan seorang pejantan tangguh! Kalau kalian sudah merasakan, kalian pasti akan mengekoriku ke mana pun aku pergi."

__ADS_1


"Bajingan! Lelaki keparat!" maki Juwita yang coba kembali berdiri tegap dan siap menyerang.


Jelita tidak tinggal diam. Didahului teriakan, gadis itu melesat ke arah sang pria. Gerakan mereka hebat sekali. Begitu cepat. Menakjubkan. Tahu-tahu kaki kanan Jelita sudah menghunjam ke arah kepala, sedang tinju kanannya menyodok ke perut pria itu.


"Hebat... hebat! Kalian memang dua gadis hebat! Aku senang! Kalian berdua juga pasti hebat di atas ranjang! Kalian memang pantas kujadikan penghuni kamar di istanaku! Tapi, tidak untuk hari ini, ya, Sayang. Hari ini kita nikmati saja alam terbuka. Tempat ini sejuk, bukan? Di sini sepi. Dan kalian bebas menjerit. Ekspresikan diri kalian, Sayang...."


Setelah berkata begitu, pria itu menggerakkan tangannya kiri kanan.


"Jangan banyak bicara, Bajingan! Tunjukkan saja, sampai di mana kemampuanmu!"


Benar-benar gadis yang sombong. Mereka terlalu berani menantang seorang pria.


Pertempuran sengit kembali terjadi. Dan entah bagaimana jelasnya, ketika berhasil meraih gadis-gadis itu, pria itu melumpuhkan kedua lawannya itu dengan sehelai sapu tangan yang telah diberi obat bius dan membekapkan sapu tangan itu ke hidung gadis itu satu per satu. Hingga keduanya merasa pusing, kehilangan keseimbangan lalu terhampar-terguling di tanah.


"Dasar curang! Pria licik!" umpat Jelita lirih.


Sepasang kaki bagus kedua gadis itu tersentak sehingga jubah hitam mereka tersingkap sampai ke pinggul. Sesaat kemudian, sosok keduanya diam tak berkutik lagi. Tak bisa bergerak dan tak mampu mengeluarkan suara. Itulah kehebatan beladiri pria yang kukenal selama empat tahun itu. Kemampuan beladiri yang tak pernah kusangka-sangka.


"Putih, mulus, menggairahkan! Hahaha! Kalian benar-benar tidak mengecewakan!"


Ya Tuhan, dia benar-benar ingin memperkosa mereka berdua?

__ADS_1


__ADS_2