7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Hot Breakfast


__ADS_3

Seperti yang kuduga, kami tidak mandi bersama. Setelah membuatku kelelahan, Ak Jaka menggendongku ke bathtub dan menyuruhku berendam, sedangkan ia cepat-cepat menyelesaikan mandinya.


"Sarapan akan siap begitu kamu selesai mandi," ujarnya sebelum meninggalkanku dan menutup pintu.


Sengaja, kunikmati waktu berendamku lebih lama. Air hangat itu cukup membantu, membuat tubuhku terasa lebih nyaman dari kelelahan yang kurasakan di sekujur tubuhku. Seraya bersandar dan memejamkan mata, kuhitung-hitung sudah berapa kali kami bercinta dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam.


Tak dapat kutahan, senyum konyol merekah di wajahku. Merasa geli, aku pun menggeleng-gelengkan kepala. Tidak kurang dari enam kali pergulatan yang panjang. Memuaskan.


Ak Jaka sedang fokus menatap layar laptopnya ketika aku turun ke lantai bawah, ke bagian dapur villa mewah itu. Saking fokusnya, ia tak menyadari ketika aku sudah berdiri di belakangnya.


"Sibuk, ya?" tanyaku seraya mencondongkan tubuh. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya dan mencium pipinya. Ah, bahagia sekali rasanya. Aku bisa bermanis-manisan dengan kekasih hatiku seperti ini.


Ak Jaka tersenyum. "Tidak, Sayang," sahutnya. "Hanya... sedikit pekerjaan. Tunggu sebentar, ya. Sebentar... saja. Sedikit lagi."


"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja," kataku, kucium pipinya sekali lagi. "Aak belum sarapan, kan? Biar kusiapkan."


Well, kubiarkan ia fokus dengan pekerjaannya sementara aku duduk dan mengisi piringnya. Sup hangat dengan irisan kentang dan wortel, butir-butir telur puyuh dan daging kambing yang dipotong kecil-kecil. Menu yang membuat bibirku mengerucut. Pria dewasa itu ingin staminanya segera kembali pulih. Iyuuuuuh....


"Kenapa, Sayang? Kamu mau balas dicium? Hmm?"


Dasar! Bibirku maju dua senti!


Segera menutup laptopnya, Ak Jaka menyingkirkan benda itu, melupakan pekerjaannya, dan langsung sarapan. "Ini lezat sekali," ujarnya. "Tapi kalau kamu yang memasaknya, kelezatannya akan bertambah jadi berkali-kali lipat."


"Oh... oh... oh. Tentu saja," sahutku. "Apalagi kalau aku memasaknya tanpa sehelai pakaian apa pun, tanpa kambing pun stamina Aak akan langsung jreng kembali, ya kan?"


Dia terkekeh-kekeh. "Bahkan hanya dengan kamu menyebutnya saja, staminaku sudah jreng kembali."


Eh?

__ADS_1


"Ak!" sungutku.


"Serius...."


"Dasar!"


"Capek, ya?" tanyanya seraya cengar-cengir.


"Tentu saja," aku mengambil kesempatan untuk bicara. "Pokoknya sepanjang siang ini biarkan aku istirahat, ya. Sekujur tubuhku pegal-pegal semua, tahu!"


Dia mengangkat alis. Seringaian nakal terukir jelas di wajahnya. "Apa aku terlalu perkasa menurutmu?"


"Iyuuuuuh... pertanyaanmu vulgar sekali. Aku ini baru delapan belas tahun, tahu...."


"Dan itulah," katanya, tangannya menyentuh bahuku dan menelusur naik ke leherku. "Itulah yang membuatku bergairah. Pesona usia mudamu yang sungguh memikat."


"Dasar genit...." Aku melotot gemas kepadanya. "Sudah, ya, bercandanya. Nanti kamu kebablasan. Hari ini waktunya kita bicara, Ak. Kalau kita sudah selesai bicara, aku bersedia kita bercinta habis-habisan malam nanti. Deal?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti."


Dia mengangguk. Tapi tak mengatakan apa pun. Aku mengerti, pikirku, dia memang enggan bicara denganku perihal masalah yang ditimbulkan oleh saudara kembarnya itu.


"Ayolah, Ak. Kan kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku ini perempuan dewasa. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang tidak perlu dilibatkan dalam urusan ini. Tolonglah, aku lebih banyak tahu daripada kalian semua."


Ak Jaka hanya mengangguk sejenak. "Habiskan dulu sarapanmu, ya. Nanti kita bicara."


"Oh, jangan bilang itu alibi untuk menghindar!"


"Aku bukannya bermaksud untuk menghindar, Sayang," bantahnya.

__ADS_1


"Lalu? Apa, Ak? Apa salahnya kalau kamu membahasnya denganku?"


"Tidak ada salahnya. Hanya saja... memangnya apa yang mesti kita bahas? Sebenarnya aku saja sangsi kalau Prasetya masih ada di sini. Mungkin dia sudah kabur entah ke mana. Sudah pergi jauh."


Aku menatapnya dengan serius. "Lalu? Kalau benar seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Entahlah." Dia mengedikkan bahu. "Tidak ada."


"Sungguh? Tidak ada, Ak? Tadi pagi kamu mengatakan soal tanggung jawab, kan?"


"Oh... oh... oh...." Dia mulai menangkap sesuatu yang bahkan tidak kumengerti. Kecemasan.


Aku memberengut.


Dia mengulurkan tangan kanannya dan menumpangkannya di punggung tanganku. "Aku akan bertanggung jawab kepada bayi itu dan semua keperluan untuk persalinannya, Sayang. Bagaimana pun bayi itu adalah keponakanku. Aku akan bertanggung jawab sebagai seorang paman. Bukan sebagai seorang ayah. Tolong percaya kepadaku. Tolong?"


"Aku bukannya tidak mau percaya."


"Tapi?"


"Hanya takut."


"Kamu meragukanku? Tidak percaya kepadaku?"


"Berpikir logis, Ak. Jika kita menanyakan hal yang sama pada istri pertama ayahku, dia pasti akan mengatakan bahwa dia sangat percaya pada suaminya. Tapi lihat apa yang terjadi? Hampir dua puluh tahun dia bahkan tidak mengetahui apa pun bahwa suaminya telah berselingkuh dengan ibuku. Dan seandainya ibumu masih hidup, kita juga bisa menanyakan hal yang sama kepadanya bagaimana kepercayaannya dulu kepada ayahmu sebelum hatinya terluka. Sebelum hatinya terluka, dia pasti percaya pada suaminya."


Untuk beberapa saat Ak Jaka hanya diam, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. "Sayang," ia berkata, dengan sabar dan tenang, "aku mengerti kekhawatiranmu. Dan... mungkin aku tidak bisa meyakinkanmu hanya dengan kata-kata. Tapi... kita bisa mengambil solusinya. Solusi terbaik, kamu akan selalu ada di dekatku. Kapan pun dan di mana pun. Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu mengajakmu. Jadi, kamu tidak perlu mencemaskan adanya perselingkuhan di belakangmu. Karena suamimu ini akan selalu ada di dekatmu. Oke?"


Terdengar seperti solusi yang bagus. Aku memaksakan kepalaku untuk mengangguk. "Semoga saja kamu tidak menyelinap pergi saat aku tidur apalagi sampai memberiku obat tidur."

__ADS_1


"Kecemasanmu itu berlebihan. Tapi tidak apa-apa. Aku mengerti." Dia mengusap sisi kepalaku dengan sayang. "Tapi biar kukatakan ini kepadamu. Dalam menjalani rumah tangga, seorang perempuan tidak perlu takut berlebihan tentang kesetiaan pasangannya. Jalani saja hidup sebagaimana seharusnya. Nikmati dan berbahagialah. Dan ketika takdir tidak berpihak kepadamu, kau boleh menangis, tapi jangan biarkan dirimu terpuruk. Bangkit dan berdirilah. Buang dukamu jauh-jauh. Kau harus kuat. Nikmati hidup dan berbahagialah. Benar, kan? Bukan kita yang menggenggam takdir, tapi kebahagiaan bisa kita perjuangkan. Dan intinya adalah, nikmati dan bahagialah dalam pernikahan kita. Dan jika seandainya kamu mendapati suamimu ini berselingkuh, terbukti telah berselingkuh, maka tinggalkanlah aku. Jangan biarkan seorang pengkhianat memiliki peluang untuk menyakitimu lagi dan lagi. Kamu paham? So, please... aku mohon, jangan buang waktumu dengan semua ketakutan itu. Oke? Bisa biarkan aku sarapan sekarang? Aku ingin staminaku segera pulih. Sesegera mungkin."


Iyuuuuuh... dasar pria! Dia mengerling nakal ke arahku, lalu tersenyum konyol. Membuatku nyeri dan ngilu.


__ADS_2