
Tepat pada saat sang surya yang hendak tenggelam menyaput langit dengan cahayanya yang merah keemasan, kami buru-buru meninggalkan villa setelah menerima laporan dari salah seorang pengawal tentang kedua gadis pirang yang sudah terlelap akibat kelelahan pasca pertarungan ranjang dengan para pengawal yang bertubuh kekar. Tanpa menunggu apa pun lagi, aku dan Ak Jaka bersama enam pengawal lainnya lekas melaju membelah jalan, sedangkan empat pengawal lain tetap menunggu di sana, setidaknya sampai kedua gadis pirang itu pergi dengan sendirinya meninggalkan villa dengan cara yang baik-baik, barulah villa itu boleh dikosongkan.
Yeah, apa boleh buat. Rencana bulan madu yang semestinya satu minggu penuh terpaksa kami urungkan. Kami tidak ingin mengambil risiko jika terus berurusan dengan kedua gadis berambut pirang itu. Jadi tidak apa-apa, bulan madu itu bisa kami lanjutkan di lain waktu.
Setibanya kami di rumah, Kang Solihin dan Teh Husna sudah menunggu kepulangan kami. Sedangkan Mang Zulfikar dan Bi Fatma belum pulang dari perjalanan mereka. Waktu magrib yang sebentar lagi akan menyapa membuat kami tak bisa banyak bicara, aku dan Ak Jaka segera ke kamar, bersiap-siap untuk salat magrib.
Malam harinya, selepas salat magrib, saat aku dan Teh Husna tengah menyiapkan makan malam, terdengar suara ketukan di pintu depan. Ada tamu yang berkunjung, membuat perasaanku seketika kembali resah. Rasa ingin tahu membuatku beranjak dari dapur, niatku hanya ingin tahu siapa gerangan tamu yang berkunjung malam-malam begini. Sekiranya hanya tetangga, maka aku akan lekas kembali ke dapur.
Tapi ternyata yang datang adalah Luna. Begitu aku sampai di ruang tengah, aku langsung menyaksikan pemandangan yang sedikit menyesakkan hati. Luna langsung menghambur ke pelukan Ak Jaka begitu pintu itu terbuka. Dia menangis sedih di dada bidang suamiku.
Pada dasarnya, apa yang kulihat itu membuat hatiku jadi meradang, aku marah. Hatiku panas karena terbakar oleh api cemburu. Tetapi, mengingat statusku yang kini sudah menjadi seorang istri meski di usia muda yang wajar saja jika aku masih bersikap labil, tapi aku berusaha mengendalikan diriku untuk bisa menahan emosi. Toh, meski Ak Jaka tidak bereaksi -- tidak melepaskan pelukan Luna dari tubuhnya, Ak Jaka juga tidak membalas pelukan gadis itu. Dia hanya berdiri di sana, memegangi kedua bahu Luna yang seandainya gadis itu pahami, Ak Jaka ingin gadis itu melepaskan pelukannya itu dari tubuhnya.
Di sisi lain, Kang Solihin yang ada di ruang depan itu juga hanya diam saja. Kedua pria itu pasti merasa bingung saat Luna tiba-tiba menghambur memeluk Ak Jaka sambil menangis. Dan, ketika Kang Solihin menyadari keberadaanku di balik dinding yang menyekat ruang tengah dan ruang depan, ia memberi isyarat kepada Ak Jaka lewat lirikan mata dan gerakan kepalanya bahwa aku ada di sana dan melihat semuanya. Menyadari reaksiku yang diam menahan emosi, Ak Jaka menggerakkan sedikit kepalanya, tatapan matanya yang disertai dengan gerakan anggukan kepala yang pelan, aku tahu ia memintaku untuk bersikap tenang.
Aku mengerti. Maka aku diam saja di sana. Sebab kusadari, jika aku langsung meluapkan emosi dengan langsung marah-marah melihat gadis itu memeluk suamiku, berarti aku sama tidak beretikanya dengan gadis itu. Aku tidak ingin diriku terkesan sebagai istri yang barbar. Aku ingin menjadi seorang istri yang anggun, yang berkelas dan sempurna bagi Ak Jaka, seorang pengusaha muda yang sukses dalam karirnya. Memang harus begitu, bukan? Jadi meski sulit bagiku untuk menahan diri, aku berusaha untuk tetap sabar dan tenang.
"Bisa kita bicara empat mata, aku mohon?" pinta Luna, masih terisak di dada bidang suamiku.
Ak Jaka tidak langsung menjawab, justru Kang Solihin yang coba bersikap bijak dengan berkata, "Maaf, tapi kalian bukan muhrim. Saya tidak bisa membiarkan kalian hanya berduaan di sini."
"Aku mohon, Kang?" pinta Luna lagi, ia melepaskan pelukannya dan menatap Ak Jaka dengan tatapan memelas.
Sedikit membuatku merasa bertambah kesal, Ak Jaka seperti orang yang merasa berat untuk menolak permintaan gadis itu. Tapi setidaknya ia menoleh kepadaku, dan meminta izin. Walau itu tetap saja menyebalkan dan membuat hatiku merasa sesak.
Aku tidak bisa menjawab tidak walau ingin. Aku tidak ingin terkesan mengekang Ak Jaka padahal ia sendiri sudah berusaha menghormatiku dengan meminta izinku.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Tolong?" pinta Ak Jaka kepada Kang Solihin. "Tinggalkan kami berdua." Lalu ia menatap ke arahku, lalu pada kedua orang pengawal yang mengantar Luna ke depan pintu dan segera kembali bergabung bersama empat pengawal lainnya.
Seperti Kang Solihin, aku pun terpaksa menyingkir dari sana, dari pandangan mereka.
Namun aku tak benar-benar pergi ke dapur atau ke kamar. Aku masih tetap berdiri di sana, bersembunyi di balik dinding. Aku akan tetap menguping dan sesekali akan mengintip ke ruang tamu. Aku berhak mendengar dan mengetahui apa yang ingin dibicarakan Luna kepada suamiku. Aku berhak karena aku istrinya.
"Mari, silakan duduk."
Luna menurut. "Terima kasih, Kang."
Ak Jaka menanggapi ucapan terima kasih itu dengan senyuman. Kemudian ia duduk agak jauh dari posisi Luna, berseberangan meja. "Langsung saja, Lun, apa yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Aku bingung bagaimana aku harus memulai," ujar gadis itu lalu ia mengulum senyum. "Aku khawatir kalau aku salah bicara, Akang akan salah paham kepadaku."
Ak Jaka berdeham. "Aku percaya, maksudmu sengaja mencariku pasti kamu bermaksud baik. Kenapa ragu untuk memulai?"
"Aku senang Akang berkesimpulan baik seperti itu." Gadis itu menggeser duduknya lagi lebih dekat.
Gila, pikirku. Kenapa dia duduk begitu dekat dengan suamiku?
"Aku sengaja bicara berdekat-dekatan begini, bukan maksud apa-apa," kata gadis itu seolah tahu apa yang ada dalam benak Ak Jaka. "Mungkin dinding memiliki telinga yang dapat mendengar."
Ya Tuhan, mengapa pembicaraan itu seolah satu rahasia besar yang jangankan orang lain, tapi udara malam pun tak boleh mendengarkannya?
__ADS_1
"Beberapa hari lalu telah tersebar kabar bahwa Akang telah menikah dengan gadis bernama Wulan. Kuharap itu hanya kabar burung. Aku berharap itu tidaklah benar. Sebab kalau kabar itu benar... tidak, kumohon jangan. Akang tahu kalau itu akan sangat menyakitkan bagiku."
Oh, dia sungguh berterus terang.
Ak Jaka berdeham. "Maaf kalau itu sangat menyakitkan bagimu. Tapi itulah kenyataannya. Aku dan Wulan sudah menikah dan aku sangat mencintainya."
Aku yang tengah bersembunyi di balik dinding bersyukur dalam hati. Aku bahagia atas jawaban Ak Jaka yang berterus terang meski kebenaran itu membuat Luna kembali terisak.
"Aku kecewa, Kang," kata Luna. "Kamu tahu dari dulu aku mencintaimu. Tapi kamu malah... kamu menyakitiku. Aku tidak percaya pada semua ini. Apa istimewanya Wulan dibandingkan aku? Aku bahkan jauh lebih cantik dari gadis itu."
Kurang ajar! Jangan bandingkan diri kita dari segi paras! Aku memang kalah cantik, tapi hatiku tidak licik!
"Iya," Ak Jaka membenarkan. "Kamu memang lebih cantik. Tapi ini bukan tentang paras."
Gadis itu mengernyit bingung.
"Wulan itu seperti cerminan diriku sendiri. Dia bisa tumbuh menjadi gadis yang tegar dan kuat setelah kepergian kedua orang tuanya, juga neneknya. Dia gadis yang mandiri dan tidak manja. Dan dia berbeda dengan gadis mana pun yang berusaha mendekatiku. Dia polos. Dia tidak pernah mendekatiku secara terang-terangan seperti kebanyakan gadis yang menyatakan cinta mereka padaku tanpa malu. Dalam caranya menunjukkan perasaannya kepadaku, Wulan hanya menunjukkan sisi terbaik dari dirinya. Aku jatuh cinta kepada gadis itu karena sikapnya yang lucu dan lugu, dia sering salah tingkah dan tersipu. Itu kemurnian yang tidak kutemukan pada diri gadis-gadis lain. Kamu paham, kan, apa maksudku?"
Oh... aku tersanjung.
"Lalu kenapa Akang berjanji akan menikahiku dan memintaku untuk menunggu?"
Hah???
"Akang harus menepati janji."
__ADS_1