
"Haruskah?"
"Apa maksud Akang? Tentu saja harus. Akang sudah berjanji."
"Kalau begitu katakan, bagaimana, kapan, di mana, dan jam berapa aku mengucapkan janji itu?"
Mata indah Luna membeliak lebar, dia nampak terkejut mendengar tanggapan Ak Jaka yang begitu santai, kemudian gadis itu terlihat resah. "Itu... aku lupa waktunya."
"Kalau begitu kamu tidak punya bukti kalau aku pernah berjanji padamu, ya kan? Dan lagipula aku tidak merasa pernah berjanji, lalu kenapa aku harus menepati janji yang tidak pernah kuucapkan padamu? Aku tidak punya kewajiban."
Lama gadis cantik itu tercengang mendengar ucapan Ak Jaka. Untuk beberapa saat sepasang matanya sampai tidak berkedip memandangi wajah tampan berkarisma itu. Perlahan Ak Jaka bangkit berdiri. Tapi tiba-tiba Luna memegang lengan Ak Jaka dan berkata, "Pembicaraan kita belum selesai."
Sabar, Wulan. Sabar....
Kalau kali ini aku tak pandai-pandai menahan diri, sudah kupatahkan tangan gadis itu, beraninya dia memegang tangan suamiku.
"Aku punya buktinya. Ada cctv di halaman belakang rumahku."
"Baiklah. Tunjukkan saja kepadaku supaya dengan mudah aku bisa menyangkalnya."
"Kalau Akang tidak bisa menyangkalnya, berarti Akang harus menepati janji itu. Nikahi aku."
"Akan sulit bagimu untuk membuktikannya, Luna. Tapi silakan, coba saja."
"Aku tidak peduli seberapa sulit. Aku akan memperjuangkan cintaku. Karena tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Termasuk mendapatkanmu. Aku pasti bisa!"
Ak Jaka coba menyunggingkan senyum. "Seperti itulah dirimu, dan kebanyakan para gadis yang mendekatiku. Kalian tidak punya rasa malu."
Wajah Luna yang putih mulus itu seketika memerah, entah karena marah atau karena malu atas ucapan Ak Jaka yang menamparnya dengan telak. "Aku tidak menyangka, Akang tega bicara begitu kasar kepadaku."
"Kenapa, tidak?"
Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu yang terbuka menyela pembicaraan. Cinta cucunya Nek Aluh berdiri di sana, terengah-engah. Sepertinya ia baru saja habis berlari, di belakangnya berdiri dua orang pengawal yang sama terengahnya. Mungkin mengejar Cinta.
Gadis itu terlalu nekat. Apa dia tidak memikirkan kandungannya? Bagaimana kalau dia terjatuh sewaktu berlari? Kenekatannya membuatku menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Sekarang apa yang mesti kulakukan? Tetap di sini dan membiarkan Ak Jaka menghadapi masalahnya sendiri atau aku harus keluar? Tapi apa Ak Jaka akan suka jika aku turut ikut campur?
"Maaf, kami sedang bicara. Harusnya kamu tidak langsung masuk seperti ini." Luna menatap tak suka kepada gadis yang tengah hamil muda itu.
Tapi Cinta tak ambil pusing. "Aku tidak punya urusan denganmu. Dan apa yang ingin kubicarakan dengan Kang Jaka tak kalah pentingnya dengan urusanmu. Jadi, bisa kita bicara, Kang? Ini soal nenekku dan juga tentang kehamilanku."
"Tidak bisa! Aku belum selesai bicara!"
"Kalau begitu selesaikan sekarang."
"Tidak di hadapanmu!"
"Terserah. Di sini ada beberapa orang yang menunggu untuk bicara dengan Kang Jaka. Urusan kami juga sangat mendesak."
Hah???
"Ada banyak?"
Aku menoleh, rupa-rupanya di belakangku, Teh Husna dan Kang Solihin turut menguping.
"Biar aku lihat ke luar." Kang Solihin menerobos ke ruang tamu dan melongo ke luar pintu. "Ada dua gadis di luar," katanya. "Para pengawal menahan mereka di sana."
Karena penasaran, Ak Jaka pun beranjak ke pintu dan melongo ke luar. Dahinya mengernyit. "Siapa mereka?"
"Serius, Kang Jaka tidak mengenal mereka?" Cinta berkata dan menatap sinis kepada Ak Jaka.
Ak Jaka menggeleng. "Aku tidak mengenal mereka." Dia tetap berusaha tenang. "Jangan menatap sinis kepadaku seolah kamu menuduhku. Atau, pergi dari sini dan kita tidak perlu bicara. Simpel, kan? Jika kalian sopan, maka saya akan segan."
Takut akan menerima pengusiran, cucu Nek Aluh itu menundukkan wajah dan menurunkan suara. "Mereka Arumi dan Puspa Sari. Sama seperti yang kualami, mereka berdua juga tengah hamil janin Kang Jaka."
Di tempatku bersembunyi bersama Teh Husna, aku tegak tertegun. Kugigit bibir menahan gejolak darah dan gejolak hati. Sedangkan di sana, Ak Jaka menghela napas dalam-dalam. "Suruh mereka semua masuk. Suruh juga semua pengawal berjaga di sini. Jangan sampai ada kerusuhan."
Sesuai yang diperintahkan, semua orang dibawa masuk ke dalam ruang tamu minimalis itu. Begitu melihat Ak Jaka, Arumi dan Puspa Sari menatap marah kepadanya. Baru hendak melayangkan pukulan dan tamparan, para pengawal yang juga berada di dalam ruagan langsung mencegat keduanya, menahan dan memegangi mereka kuat-kuat.
"Kita bicara baik-baik atau kalian segera angkat kaki dari sini. Pilihan yang mudah."
"Apa kamu bilang?" Gadis bernama Puspa Sari menatap marah. "Apanya yang mudah? Heh? Aku ini hamil anakmu! Tapi kamu malah menghilang!"
__ADS_1
"Puspa!" Cinta menegur dengan emosi tertahan. "Tenangkan dirimu dulu atau kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Sabar. Kita bicara baik-baik."
Meski terpaksa, keempat gadis itu bungkam jua di hadapan Ak Jaka dan Kang Solihin, juga para pengawal yang berdiri di belakang mereka.
Ak Jaka berdeham. "Langsung saja ke intinya, kalian pasti sudah mendengar kabar bahwa aku memiliki seorang kembaran bernama Jaka Prasetya yang belakangan berpura-pura menjadi aku dan membuat kerusuhan."
"Apa kami bisa percaya kalau kamu punya kembaran?"
Ak Jaka tersenyum tenang. Matanya menatap ke arah Puspa Sari, sesaat kemudian ia mengalihkan pandangan, menyapu setiap wajah keempat gadis di hadapannya. "Apa kalian punya bukti saat kalian sedang berdua-duaan dengan pemuda yang memiliki wajah yang sama persis dengan wajah di hadapan kalian ini? Sebuah foto atau video yang menunjukkan waktu dan tempat? Apa kalian punya?"
Puspa Sari menggeleng, begitu pula ketiga wajah lainnya. Mereka menggeleng, tidak punya bukti apa-apa.
"Tapi pada intinya momen-momen itu terjadi pada bulan lalu, bukan? Saya bisa membuktikan kepada kalian dengan jejak rekam digital, bahwa saya baru datang ke Rancabali ini setelah semua kerusuhan itu terjadi. Di mana di hari sebelum-sebelumnya saya sedang berada di Amsterdam."
Dengan percaya diri Ak Jaka menunjukkan sebuah video yang meliput dirinya dan beberapa orang rekan kerjanya, video yang lengkap dengan rincian kapan, di mana dan dalam momen apa video itu diambil. Video dari situs internet yang jelas bukan hasil editan atau tipu-tipu. Lalu ia juga menunjukkan video hasil rekaman cctv hotel tempat ia menginap selama di Amsterdam, juga rekaman cctv bandara saat penerbangannya ke luar negeri dan kepulangannya dari luar negeri.
"Kalau kalian pikir ada kecurangan, kalian bisa memeriksa sendiri ke bandara. Jika perlu ke seluruh bandara di Indonesia, seluruh stasiun, pelabuhan, atau ke terminal-minal. Terserah. Buktikan kalau saya sudah kembali ke Indonesia sebelum hari kepulangan saya yang saya tunjukkan barusan."
Keempat gadis itu tak berkutik.
"Saya tidak memaksa kalian untuk percaya. Terutama untuk kalian bertiga yang sedang hamil. Kita akan buktikan nanti kalau janin yang ada di rahim kalian itu bukanlah anak saya. Kita akan melakukan tes DNA."
Sekarang ketiga gadis yang tengah hamil itu saling melirik, lalu Arumi berkata, "Kami hanya orang kecil. Bagaimana kami bisa percaya kalau hasil tesnya nanti tidak dimanipulasi?"
"Percaya atau tidak itu urusan kalian. Toh, kalau pikiran kalian tentang saya itu sedemikian picik, percuma saya mengatakan kalau saya bukanlah orang yang culas. Kalian tetap tidak akan percaya."
Pembahasan yang tidak akan ada titik temunya jika mereka terus mencurigai Ak Jaka. Aku merasa geram. Aku baru saja hendak keluar dari persembunyian, tapi kuurungkan niatku ketika mendengar Kang Solihin lebih dulu menyela pembicaraan.
"Intinya para gadis yang tidak terhormat, kalau kalian tidak bisa menemukan Prasetya, lelaki yang menghamili kalian, maka nasib kalian terpaksa menggantung. Dan itu kesalahan kalian sendiri, terlalu murahan dan gampang disentuh. Katakan kalau ucapanku ini salah. Hmm? Bukankah kalian menyerahkan diri secara sukarela? Maka seharusnya kalian tanggung sendiri risikonya. Masih untung sepupuku mau membiayai persalinan kalian."
Oh Tuhan... Kang Solihin lepas kontrol. Mulut lemesnya kembali kumat. Teh Husna yang berdiri, menguping di dekatku, seketika melotot mendengar ocehan suaminya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sementara ketiga gadis hamil itu terdiam dengan tatapan nanar. Aku jadi teringat saat Kang Solihin mengatai-ngataiku dengan cara yang sama. Kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya memang terdengar sangat menyakitkan.
Melebur kembali suasana, Ak Jaka berdeham sopan. "Intinya begitu. Setelah kalian melahirkan kita akan melakukan tes DNA. Dan soal persalinan kalian nanti, kalian tenang saja, saya yang akan membiayai. Dan juga soal masa kehamilan ini, saya akan mencukupi semua kebutuhan kalian, berikut setiap kali USG dan pemeriksaan kesehatan bulanan kalian, saya yang akan menanggung."
"Lalu biaya hidup mereka setelah lahir nanti bagaimana?" Cinta bertanya.
__ADS_1
"Kita bahas hal itu nanti setelah kalian melahirkan dan tes DNA menunjukkan hasil positif."
"Tapi aku tidak mau melahirkan bayi ini," Arumi menyela. "Aku... minta biaya untuk aborsi saja."