7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Huru-Hara


__ADS_3

Menunda kepergian, itu keputusanku saat ini. Ada sesuatu yang membuatku masih tertahan di sini, sebuah harapan dan rasa penasaranku pada misteri sosok dua pria yang misterius itu. Untungnya Aji memaklumi keputusanku, dan tadi siang sewaktu aku memutuskan untuk menunda kepergianku, dia memaksaku untuk kembali ke villa, atau jika aku tetap ingin di rumah, dia ingin aku ditemani oleh Wenny, aku bisa bersikeras menolak semua usulannya. Masa bodoh dengan rasa tidak enak hati dan rasa bersalahnya atas kondisiku, yang penting aku bisa sendiri, tanpa Wenny, dan, dia tidak mesti melihatku terus berada-bersama pacarnya seperti jika aku kembali ke villa.


Yah, lebih baik aku sendiri, di rumahku sendiri, dan sekarang aku hanya harus berhati-hati pada gadis berdarah dingin itu dan pada pria cabul yang mungkin saja masih mengincar keperawananku.


Aku menghela napas panjang dan mengusap wajahku berulang kali. "Aku tidak boleh membiarkan Wenny punya kesempatan untuk berdua saja denganku, atau kalau tidak, itu sangat berbahaya bagiku. Berisiko tinggi. Apa yang menimpa Mentari bisa saja terjadi juga padaku. Karena Wenny sepertinya tipikal orang yang tidak mau mendengar penjelasan orang lain saat dia sudah terbakar api cemburu. Dia gadis yang berbahaya."


Sekarang, di kesunyian kamarku, aku duduk termenung sendirian, mengingat-ingat kembali pertemuan serta semua ucapanku dengan Oom Jaka tadi siang.


"Aku memang melihat sendiri apa yang terjadi antara pria itu dan Cinta cucunya Nek Aluh. Aku juga melihat sendiri bagaimana pria itu memuaskan kedua gadis berambut pirang di belakang villa kemarin. Bahkan aku juga tahu kalau dia memesan kamar di sebuah penginapan untuk berduaan dengan Luna. Dan soal dia tengah mengincar darah perawan demi mendapatkan jimat keberuntungan, aku tahu itu adalah sebuah kebenaran. Bukan sekadar fitnah. Tapi kalau ada dua orang yang berwajah sama, mungkin saja, kan, yang satunya tidak terlibat dalam perbuatan keji itu? Yang satu hanya terkena imbasnya saja? Orang yang makan nangkanya, dia yang terkena getahnya? Bisa jadi. Tapi semoga saja yang bersih itu benaran Oom Jaka. Dia yang asli. Aku harap dia baik-baik saja dan segera bersih dari semua tuduhan keji itu. Semoga dia segera tahu desas-desus tentang dirinya, dan mudah-mudahan dia bisa melakukan sesuatu untuk membersihkan namanya. Sementara itu, bagaimana aku harus mengambil sikap? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara mencari tahu sementara kondisi kakiku seperti ini? Lagipula aku takut, alih-alih aku mau mencari tahu kebenarannya, nanti malah aku sendiri yang terjebak dengan Jaka yang cabul. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"


Lama aku duduk termenung di kamarku yang sunyi. Lalu aku menarik napas dalam-dalam, berulang kali, memandang berkeliling. Untuk menghilangkan kerisauan hatiku, sambil memandang ke luar jendela, kucoba melantunkan lagu tak menentu. Di langit sang surya mulai condong ke barat. Udara yang tadinya panas berangsur-angsur terasa teduh. Selagi hanyut dalam lamunan sambil mengumandangkan lagu, tiba-tiba aku melihat tiga orang pria tengah menuju halaman rumahku.


"Oom Jaka?"


Ya Tuhan, hatiku merasa gelisah, tapi juga bahagia. Semoga itu Oom Jaka yang asli, batinku. Tapi bagaimana aku akan tahu dia yang asli atau yang palsu?


Selagi aku berusaha menenangkan hatiku, tiba-tiba Oom Jaka, Kang Solihin, dan Aji menghentikan langkah kaki mereka. Ada seseorang yang memanggilnya.


Cinta. Gadis itu berlari keluar dari rumahnya dan menghambur ke arah Oom Jaka. Dengan cepat langsung memeluknya.


Untuk sesaat aku mematung, bengong dan tercenganh, tidak bisa memikirkan apa-apa, hanya melihat dan menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.


"Maaf," pria itu berkata sopan seraya kedua belah tangan memegangi bahu Cinta, menjauhkan tubuh seksi gadis cantik itu dari dadanya yang bidang.


Cinta mengernyitkan dahi, nampak bingung. "Kenapa, Kang? Aku kan kangen pada Akang."


"Maaf, tapi...."


"Kenapa, Kang?" Cinta memegangi kedua tangan pria itu, menatapnya dengan penuh cinta sekaligus dengan sejuta tanda tanya.


"Maaf, tapi jangan tersinggung. Emm... kurasa kita tidak punya hubungan se-spesial itu untuk pantas mengatakan rasa kangen. Jadi...."

__ADS_1


Air mata dengan segera menggenang, lalu menetes di kedua pipi gadis itu. "Apa maksud, Akang? Kenapa Akang bilang kita tidak punya hubungan yang istimewa? Apa Akang hanya menganggap aku ini sebagai mainan? Aku mencintaimu, Kang. Aku bahkan sudah menyerahkan keperawananku untuk Akang, untuk membuktikan cintaku pada Akang!"


"Hah?"


"Kang Jaka tega."


"Sebentar--"


"Bagaimana mungkin kita tidak punya hubungan istimewa? Aku menyerahkan keperawananku pada Akang atas nama cinta. Atas nama cinta, Kang. Akang tega padaku?"


Gusar. Pria itu kebingungan sendiri menghadapi gadis itu dan air matanya. "Dengar, maaf," katanya kemudian. "Tapi saya bukan Jaka yang memiliki hubungan istimewa denganmu. Itu Jaka yang lain."


"Maksud Akang?"


"Saya punya kembaran."


"Apa?"


"Namanya Jaka Prasetya. Kami kembar."


"Memang sulit untuk dipercaya. Tapi itulah kenyataannya."


Hooooo... air mataku juga ikut bercucuran. Semoga itulah kebenarannya, Tuhan. Semoga pria yang ini benar-benar adalah Jaka yang kukenal.


"Tidak. Aku tidak percaya hal ini."


"Neng Cinta," Kang Solihin hendak bersuara. "Tenanglah. Kita bisa menjelaskan--"


"Bohong! Kalian semua bohong padaku! Bilang saja kalau Akang mau menghindariku!"


"Ya Tuhan," Oom Jaka mendesa*. "Saya berani bersumpah,' itu bukan saya!"

__ADS_1


"Akang tidak jantan! Akang berani merenggut keperawanan seorang gadis, tapi Akang tidak mau mengaku!"


"Dasar kurang ajar!" Nek Aluh tiba-tiba menghambur keluar rumah dengan celurit karatan yang diacungkan tinggi-tinggi.


Ya Tuhan, aku ngeri sekali. Bagaimana kalau Nek Aluh sampai kesetanan?


"Beraninya kamu meniduri cucuku! Kubeset batangmu, Jahanam!"


Uh! Kunyahan sirih bermuncratan dari mulut Nek Aluh, membuat ketiga pria di hadapannya merasa jijik dan tersurut sampai dua langkah.


"Buset! Nenek sudah bungkuk saja masih galak begini," cerocos Kang Solihin. "Ingat umur, Nek. Tidak baik teriak-teriak begitu. Ayo, turunkan celuritnya. Itu berbahaya. Sudah karatan pula. Nanti infeksi."


Nek Aluh melotot. "Kurang ajar! Diam, Sontoloyo! Akan kupotong semua punya kalian!"


Ketiga pria itu kaget bukan alang kepalang. Mereka melangkah mundur saat Nek Aluh kian dekat ke arah mereka. Dengan langkah tertatih, Nek Aluh maju hendak mengebiri pria-pria itu. Sementara di sisi lain, beberapa warga berkerumun di sana: hanya untuk menonton.


Wah, celaka, batinku. Bulu kudukku sampai merinding. Nek Aluh terkenal dengan wataknya yang kurang waras saat dikuasi emosi. Dan kali ini agaknya dia tidak main-main.


Ah, andai saja aku bisa melerai keributan itu. Tapi mana mungkin, dalam kondisi normal saja aku tidak akan berani mendekati nenek yang sedang mengamuk itu, apalagi dengan kaki cedera-ku, aku hanya akan mengantarkan nyawa. Celurit karatan itu bisa saja membeset organ tubuhku.


"Ya ampun, sabar dong, Nek," Aji berseru. "Ini hanya salah paham...."


Tapi Nek Aluh sudah marah besar. Wajar saja sebenarnya, nenek mana yang tidak akan marah ketika tahu keperawanan cucunya direnggut pria tak bermoral? Semua nenek akan marah kalau tahu cucunya hilang keperawanan sebelum menikah. Kecuali dalam kasus pelecehan. Dan ini sama sekali bukanlah kasus pelecehan.


"Salah paham apanya? Heh? Kalian para biadab ini pantas untuk dikebiri." Dia mengibaskan celuritnya.


Karena takut Nek Aluh melemparkan celuritnya dan mengenai siapa saja yang berada di sana, Kang Salihin berusaha merebut celurit itu. Dan, ketika Nek Aluh tak mampu menahan hentakan tangan Kang Solihin yang merebut celurit dari tangannya, Nek Aluh sampai terjengkak ke tanah. Begitu ia hendak bangun dibantu oleh cucunya, tiba-tiba sarungnya terlepas dari lingkar pinggangnya.


"Kurang ajar! Sekarang kalian mau melecehkan nenek-nenek tua sepertiku juga?" teriak si nenek sambil kalang kabut menutupi bagian bawah tubuhnya yang kini bugil polos sementara tawa riuh penonton mulai memecah gendang telinga.


Ketiga pria itu tersentak kaget. Mereka tak berani berada lebih lama di tempat itu. Takut dilabrak Nek Aluh, mereka tancap gas ambil langkah seribu.

__ADS_1


"Kemarikan batang kalian! Biar kukunyah kalian mentah-mentah!"


Ya ampun... Nek Aluh mulai sinting! Salah sendiri kenapa tidak pakai ****** *****!


__ADS_2