
“Sebelum kita memulai, katakan, apa kamu sanggup, atau sudah kelelahan?”
Aku tersenyum. Telingaku bisa menangkap seperti apa jenis suara yang keluar dari kerongkongan suamiku saat itu. Nampak serak, disertai dengan napas yang terasa mulai berat. Aku membasahi bibir yang mendadak terasa kering saat kembali membuka kedua mata dan menatap ke arahnya. "Kurasa aku sanggup. Hanya saja, mungkin nanti malam kamu harus membiarkan aku istirahat semalam penuh."
"Tidak masalah," ujarnya. Ia julurkan lidahnya dan memberikan sentuhan ringan di permukaan bibirku, sebelum kemudian kekasih hatiku itu mendadak bersikap agresif dengan menyerang mulutku terlebih dulu. Aku tersentak, secara refleks membuka mulutku dan kesempatan itu langsung ia gunakan untuk menyelinapkan lidahnya. Ketika lidah kami beradu, *rangan sama-sama keluar dari pangkal tenggorokan kami berdua.
Ak Jaka melingkarkan lengannya di leherku dan menekankan kepalaku agar ciuman kami semakin dalam. Sementara aku bukan hanya menggigit ringan lidahnya, aku pun mendorong tubuh pria gagah itu hingga terbaring rata di permukaan ranjang. Napas kami berdua sudah sangat memburu keluar dan menyapu wajah satu sama lain, semakin menambah gairah yang sudah menyala begitu liar.
Membiarkan jemarinya merema* dan menggenggam kedua bahuku, Ak Jaka mengubah posisinya hingga bertelungkup tepat di atas tubuhku, lalu ia menggerakkan tangannya ke bawah. Sambil kembali berciuman tanpa melepaskan bibir satu sama lain, kurasakan belaian ringan bagaikan bulu pada sisi tubuhku, membuatku yang berada di bawah tubuhnya jadi gemetar dan mendesa* di sela-sela ciuman.
Ketika akhirnya oksigen kembali menjadi kebutuhan paling utama, Ak Jaka menjauhkan bibirnya dari bibirku, menyisakan hanya seutas tipis saliva yang menghubungkan kami berdua dari lidah yang sama-sama masih terjulur. Melihat wajahku yang sudah merona merah dengan bibir yang basah, ia mengulu* kembali permukaan bibirnya. “Kamu tahu, aku sampai harus belajar pada teman-temanku demi mewujudkan momen seperti ini."
Eh? Ya ampun, tanpa bisa kutahan, aku tertawa mendengar penuturan Ak Jaka, membuat dirinya menyeringai ketika mendengar suara tawaku yang membahana.
“Benarkah?” tanyaku disela-sela tawa.
Dia mengangguk. “Yeah, karena aku tidak ingin mengecewakanmu, Sayang.” Ak Jaka menegakkan tubuhnya, berdiri dengan menggunakan lutut.
Tapi aku tidak suka itu. Aku merengek akibat panas tubuhnya yang menghilang dari tubuhku. Kujulurkan tanganku untuk menggapai tubuh besar itu kembali, untuk menariknya dan menempelkannya kembali ke tubuhku.
“Rileks," ujar Ak Jaka seraya melucuti semua pakaian dari tubuhku. "Diam dan nikmati saja, oke?"
Aku mengangguk.
"Lebarkan kakimu, Sayang," pinta Ak Jaka seraya memindahkan kedua kakinya di sela kedua pahaku. "Akan kutunjukkan apa yang telah kupelajari.”
Ugh! Menantang! Aku menjawabnya dengan anggukan, dan tanpa ragu aku melebarkan rentang kakiku untuknya. Menekuk kedua kakiku ke atas, hingga Ak Jaka bisa mengamati bagian itu tanpa terhalang apa pun, membuat wajahku kian memerah karena malu.
__ADS_1
"Oh, Sayang...." Ia menggeram ketika pada akhirnya ia melihat seksama bagian tersembunyi itu yang kini terpampang secara gamblang. Dengan segera ia melepaskan kemejanya tanpa melepaskan pandangan dari tubuhku, kemudian berlanjut melepaskan jins biru serta celana pendek ketat warna hitam yang dikenakannya, mempertontonkan dengan jelas kejantanan seorang pria yang sudah berdiri tegak dan mendamba untuk kembali merasakan kehangatan tempat persemayamannya.
Seringai di wajah Ak Jaka menjadi semakin lebar ketika mendengar geraman rendah keluar dari mulutku karena melihat kejantanannya yang sudah berada dalam kondisi seratus persen on fire. “Kau siap, Sayang? Ini akan berlangsung lebih lama. Mungkin bisa membuatmu lemas tak berdaya," katanya, lalu ia kembali tertawa melihat kedua mataku membelalak.
Iyuuuuuh... aku tidak menyangka kalau ia bisa berkata seperti itu secara terang-terangan. Bukan hal yang aneh, kan? Karena setiap orang akan selalu menunjukkan sisi yang berbeda ketika sudah melakukan adegan ranjang.
“Oh, Tuhan, Sayang! Hentikan teasing-mu itu!”
Aku tertawa. “Jangan khawatir, Ak. Akan kutanggung segalanya.”
Ia menyeringaikan kembali seringai khasnya mendengar kata-kataku. "Baiklah." Ak Jaka berlutut, kemudian, dengan kedua belah tangan menahan kedua pahaku, menekannya ke permukaan ranjang, Ak Jaka membenamkan wajahnya kepadaku. Di sana, dengan lidahnya ia menyerang sesuatu yang paling sensitif dari diriku. Menimbulkan sensasi geli bercampur ngilu yang tak tertahan. Sehingga tak mampu kucegah, aku memekik, menjerit, melengking karenanya.
“Ak...! Oh! Ak…! Ah! Ah... tolong…!”
Histeris. Aku mendesa*, menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, merasakan kedua belah tangannya yang menahan kakiku, menekan kedua pahaku ke permukaan ranjang dengan posisi lutut tertekuk tapi interval keduanya tetap terbuka lebar, memberikan akses yang lebih mudah untuk ia menyerangku sebebas-bebasnya. Dan sialnya ia hanya fokus di bagian itu. Berdenyar-denyar sekujur tubuhku karena Ak Jaka enggan berhenti.
Menyerah. Kumiringkan tubuhku untuk menutupi diriku dari serangan nakal pria dewasa itu.
Persis di saat itu, dengan cepat Ak Jaka membuat kedua kakiku terangkat, bersandar di pundaknya, dan, pria itu merendahkan tubuhnya untuk memberikan ciuman kepadaku yang menatapnya dengan mata berair.
Menekan perlahan, kejantanan itu masuk ke dalam diriku. Bisa kurasakan di dalamku begitu hangat dan penuh, membuatku kembali menggeram, mengeran* di sela-sela ciumannya, dan Ak Jaka pun sama. Ini benar-benar kenikmatan yang hakiki. Kedua tanganku kembali melingkar di leher dan tubuhnya, menguatkan dekapanku ketika pria itu memberikan hantaman kuat hingga kejantanannya terkubur dalam di ruangku.
“Akh!”
Ciuman kami terlepas.
Ak Jaka menggerakkan bibirnya ke bawah, memberikan *sapan dan gigitan di leherku. Menunggu dengan sabar agar diriku bisa segera rileks dan napasku tidak terlalu berat.
__ADS_1
“Ber-bergerak… Ak,” lenguhku.
Ak Jaka menggeram, menarik dirinya, dan menghantamkannya kembali ke dalam, mengenai dasar ruangku dengan telak. Berkali-kali, berkali-kali ia bergerak keluar-masuk, semakin lama temponya semakin cepat, dan hantaman yang ia berikan semakin kuat, membuat *rangan yang keluar dari mulutku pun semakin kencang, memintanya untuk memberikan lebih dan lagi dan lagi. Mendengar kekasihnya ini begitu vokal, Ak Jaka semakin tidak bisa menahan rasa excited yang menjalar di setiap bagian tubuhnya. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa kami berdua akan begitu bergairah.
Peluh sudah membasahi tubuh, suasana kamar semakin memanas, tetapi tidak ada satu pun yang peduli. Bahkan rasanya tidak ada satu pun dari kami yang mendengar derikan ranjang akibat impact yang kami buat.
Tanpa mengeluarkan dirinya dariku, Ak Jaka memiringkan tubuhku. Posisi kami sekarang membuat dirinya bisa menyelamiku lebih dalam. Dan, ia membuatku mengeran* kuat dan tubuhku bergetar hebat saat ia dengan buasnya menggigit pundakku.
“Oh Tuhan! Ak… aku… aku….”
Menangkap permintaan yang tersembunyi dari kata-kataku, Ak Jaka melepaskan diri, dan entah bagaimana, begitu cepatnya ia membuat tubuhku menelengkup sempurna, kemudian dengan cepat ia menarik pinggulku ke atas, bertopang dengan kedua lutut, dan ia begitu cepat pula memosisikan diri lalu kembali memasukiku, mulai menggerakkan pinggulnya kembali.
"Ugh! Ya Tuhan...!"
Tidak butuh waktu lama bagi diriku untuk meneriakkan namanya dan menumpahkan hasrat. Tubuhku menggigil, mendekap bantal erat-erat dan membenamkan wajahku ke dalam kelembutannya. Sementara, di belakangku, Ak Jaka menghentikan diri untuk sesaat. Ia memelukku hingga getaran itu mereda.
Beberapa saat setelahnya, dengan geraman rendah, Ak Jaka kembali ke posisinya, melanjutkan pergerakkannya terhadap tubuhku yang sudah lemas.
“Come, Sayang," bisik Ak Jaka. "Feel me. Fill me with my junk...."
Oh... pria tangguh itu kembali beraksi. Dengan kekuatan penuh, ritme yang begitu cepat dan irama yang bersahutan. Kata-kata vulgar itu akhirnya membuat dirinya sampai pada batasnya. Ia berikan hantaman terdalam terakhir, dan menumpahkan kehangatan hasratnya di dalam diriku.
Bersamaan, kami roboh, menjatuhkan tubuh hingga rata dengan permukaan ranjang. Ak Jaka masih berada di atasku, menindihku, dengan kulit panas yang menempel sempurna padaku. Napasnya terengah-engah, dan ia tertawa kecil. “Best orgasm ever. Thanks, Sayang. Kamu yang terbaik."
Ah, dasar! Aku tak punya kemampuan apa pun lagi untuk tertawa bahagia bersamanya. Hal-hal terakhir yang bisa kulakukan hanyalah membalas genggaman tangannya, memejamkan mata sambil tersenyum, menikmati keintiman tubuh kami yang panas, yang masih menempel dan menyatu, dan merasakan cintanya yang berdenyut hingga akhir.
"Urwell. Tetaplah seperti ini sampai aku tertidur."
__ADS_1