
Selamat ulang tahun, Wulan. Selamat karena sudah mencapai usia ini dan selamat atas kelulusanmu. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena saya datang terlambat. Tapi sekarang saya ingin meminta maaf karena ternyata saya datang di saat yang tidak tepat. Dan, maaf juga jika kedatangan saya kali ini tidak kamu harapkan. Tidak seperti yang saya duga dan tidak seperti yang saya harapkan. Maafkan saya. Kalau kamu tidak berkenan atas kehadiran saya, saya tidak akan datang lagi. Maaf jika ternyata kedatangan saya membuatmu terganggu. Selamat tinggal.
Selamat tinggal...?
Air mata seketika menetes di pipiku. Entah kenapa aku merasa kehilangan....
"Ada apa?" suara Aji tiba-tiba menarik perhatianku dari rasa kehilangan yang serta-merta hadir selepas aku membaca surat dalam buket bunga itu. Aji baru saja masuk dan berdiri di pintu dapur. "Kenapa Siti menangis?"
Wenny mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu, Kang. Waktu aku datang Wulan sudah menangis. Oh ya, Wulan, kenapa kamu memperkenalkan diri sebagai Siti? Kamu kan tidak suka kalau orang-orang memanggilmu dengan nama Siti?"
"Itu... entahlah." Aku menggeleng, kemudian mengusap air mata. "Kurasa demi menyembunyikan identitas asliku saja sebenarnya. Takut kalau-kalau yang menyerempetku ternyata orang jahat dan akan mencari tahu tentangku atau akun media sosialku dari internet. Jadi, ya, begitu."
Wenny mengangguk-angguk, lalu berpaling ke arah pacarnya. "Oh, ya, itu, Kang, Wulan tidak percaya kalau Kang Jaka baru pulang dari kantor polisi. Katanya tadi Kang Jaka ada di sini menemui dia."
"Serius?" Aji bertanya padaku, cepat-cepat aku mengangguk membenarkan. Dia menghampiri aku dan Wenny, dan terlihat bingung. "Berarti yang kulihat tadi...."
Wenny terperangah. "Akang juga melihatnya? Di mana?"
"Di sini."
"Di sini?"
"Di halaman depan, di dalam mobil. Hanya sekilas, sih. Tapi wajahnya terlihat dengan jelas. Kupikir aku hanya salah lihat, hanya berhalusinasi. Tapi itu jelas bukan Jaka."
Sekarang aku bertambah bingung. "Bagaimana mungkin bukan? Aku bicara dengannya. Secara langsung. Di depanku."
"Tidak mungkin."
"Ya, memang tidak mungkin," timpal Wenny.
"Tapi itu kenyataannya. Tadi dia di sini. Itu dia. Mana mungkin aku salah melihat."
"Tapi sewaktu aku melihatnya, aku sedang menelepon Jaka. Dia sedang bersama Luna."
Aku menggeleng-geleng. "Itu berarti ada dua orang yang berwajah sama," gumamku. "Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Mustahil," kata Aji. "Aku mengenal Jaka sejak kecil. "Aku tidak pernah tahu dia punya kembaran."
Kalau Aji saja tidak tahu, bagaimana mungkin aku tahu?
"Dari kecil aku sering melihat Kang Jaka pulang kampung. Tapi dia selalu sendiri. Tidak pernah ada dua Jaka yang datang kemari."
Yang dikatakan Wenny benar. Dia selalu pulang kampung sendiri. Kalau pria itu punya kembaran, nenekku pasti tahu. Tapi ini...? Apa jangan-jangan ada yang menduplikat wajahnya? Tapi... memangnya dalam kisah nyata ada yang seperti itu? Ya Tuhan, ini sangat membingungkan.
"Apa mungkin memang ada dua orang berwajah sama?" tanya Wenny. "Kembar atau sengaja menduplikat? Seseorang yang mengubah wajahnya untuk meniru orang lain? Menyamar sebagai orang lain?"
Aji mengedikkan bahu. "Entahlah. Bisa jadi. Tapi apa pun itu, Jaka sahabatku bukanlah seorang pria bejat. Aku yakin, dia yang tidak bejat, pasti dialah Jaka yang sebenarnya."
"Jadi menurutmu, tentang gosip itu...?"
"Itu bukan ulah sahabatku, Wen."
"Itu duplikatnya?"
"Mungkin. Barangkali saja ada yang sengaja ingin merusak nama baiknya."
"Apa pun itu," gumam Aji, "sahabatku adalah seorang pria sejati. Dia tidak mungkin bertindak rendah yang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Pasti yang berbuat keji itu adalah duplikatnya. Aku mengenal Jaka dengan sangat baik. Aku percaya penuh padanya."
Bagaimana denganmu, Wulan? Apa kamu mempercayainya?
Oh Tuhan, kenapa rasanya seakan ada secercah harapan dalam hatiku? Kenapa aku begitu berharap memang ada orang lain di balik wajah itu? Aku berharap Oom Jaka, pria tampan pujaan hatiku, adalah pria yang bersih, dan rasanya aku ingin memperjuangkan kembali perasaan ini.
Rasa benci itu seketika sirna begitu saja.
Aku mengangguk-angguk seperti perempuan sinting. "Lalu, yang mana yang asli?" tanyaku pada diri sendiri. "Bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku bisa membedakan keduanya?"
"Ya, bagaimana kita akan tahu?" tanya Wenny.
"Entahlah." Aji menggeleng frustrasi.
"Yang bersama Luna, atau yang baru datang?"
__ADS_1
"Yang baru datang," gumamku. "Dia Oom Jaka."
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
"Tapi yang bersama Luna peduli pada Luna," sanggah Aji. "Itu karakter Jaka. Sifat baik Jaka."
"Tapi kamu tidak bertemu dengan orang yang baru saja datang kemari," aku balik menyanggah. "Maksudku... kamu tidak bicara dengannya. Kamu hanya melihatnya selintas saja, ya kan?"
Semua orang saling melirik, lalu Wenny kembali menanyakan pertanyaan yang sama padaku.
Di saat itulah aku menyadari perbedaannya. "Yang barusan menemuiku, dia bersikap begitu peduli padaku. Yang di kantor polisi... dia justru pura-pura tidak mengenalku. Dia tidak protes atau mengatakan apa pun sewaktu Kang Aji memperkenalkan aku padanya."
"Berarti dia mengenalmu? Dan harusnya tadi...?"
Aku mengangguk. "Aku tidak merasa asing pada sosok yang baru saja menemuiku. Dan dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Dia selalu mengucapkannya setiap tahun. Pasti dia yang asli."
"Bagaimana kalau dia yang palsu?" tanya Wenny. "Bagaimana kalau... dia datang untuk keperawanan...." Wenny menutup mulutnya. "Maaf, aku... aku tidak semestinya bicara seperti ini. Maaf...."
Aku termangu.
"Benar," sahut Aji. "Bagaimana kalau begitu? Sedangkan yang di sana bersikap peduli pada sahabatnya. Seperti itulah Jaka pada sahabatnya."
Aku meringis. Hatiku melesak. "Lalu padaku? Dia berpura-pura tidak mengenaliku, kenapa?"
"Maaf, Siti, maksudku Wulan, apa hubunganmu dengan Jaka? Emm... maksudku, apa kalian punya hubungan spesial?"
Yah, pada akhirnya aku harus sadar diri. Oom Jaka bukan siapa-siapaku. Tidak pernah ada signal ketertarikan darinya kepadaku. Hanya aku yang menyukainya bahkan rasa itu tidak pernah terutarakan.
Kenapa pertanyaanku seolah-olah aku ingin membuktikan bahwa aku ini penting baginya?
Memalukan!
"Wulan?"
Aku menggeleng. Aku tidak punya jawaban. Karena aku bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Jadi apa pentingnya bagiku mengetahui mana Oom Jaka yang asli dan mana yang palsu?