
Aku menyuruh diriku melupakan bayang-bayang sosok Jaka Prasetya yang sialnya terus terlintas dalam ingatan. Aku sesak. Aku benci ketika aku merasa sosok kembar itu tidaklah kembar, atau merasa sosok si penjahat kelamin itu jangan-jangan adalah pria yang sedang bercumbu denganku. Aku benci ketika aku mesti bersikap waspada kepada suamiku sendiri.
Tidak, tidak, tidak. Yang ada bersamaku saat ini adalah Jaka Pradana. Dia memang memiliki kembaran. Dan apa pun kejahatan yang telah dilakukan oleh saudara kembarnya, si penjahat kelamin itu, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria ini. Dia suamiku. Aku harus percaya padanya. Sepenuhnya. Kendalikan dirimu, Wulan. Kendalikan....
Kupejamkan mataku perlahan. Mencoba menikmati romantika sore itu ketika tangan suamiku yang panas menyentuh pahaku, sementara di tengkuk leherku, bibirnya mulai mencumbu.
Bisikkan. Tolong bisikkan kata sandinya, hatiku meminta ketika mulutku tak mampu berucap.
Sungguh aku takut kalau aku mengatakan -- ketika aku secara langsung memintanya mengucapkan kata sandi itu, pria yang tengah mencumbuku itu akan merasa tersinggung dan berpikir bahwa aku mencurigainya: bahwa aku merasa dirinya bukanlah dia. Bukan suamiku yang sebenarnya. Aku tidak mau dia tersinggung.
Tapi aku tak berdaya. Rasa tidak nyaman yang kurasakan di dalam hatiku tak bisa kuenyahkan. Aku membuka mata dan bergerak tidak nyaman ketika Ak Jaka mulai mengarahkan tangan ke dalam rok dress yang kukenakan lalu melepaskan sutra itu menuruni kaki, membiarkannya begitu saja jatuh ke dalam air.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, ia menyingkap rokku ke atas sampai ke pinggul, kemudian ia menyandarkan kakiku di atas bahunya, lalu mengecupku, di kelembutan yang lembab itu. Dan sesaat kemudian, Ak Jaka menekankan hidungnya di garis celah yang terbuka dan menghirupnya bagaikan sekuntum mawar yang merekah, dengan kelopak lembut dan aroma yang manis, dan begitu memikat. Lalu ia menyentuh celah itu dengan ujung lidahnya, mencicipi, menggigitnya sedikit dan menciuminya sampai aku menarik rambutnya dan menekan wajahnya kepadaku. Kuat-kuat.
Aku mengeran*. Ia terus melakukannya hingga aku gemetar. Lagi dan lagi, ia menekan mulutnya ke tubuhku, membuatku menggigit bibir untuk menahan diri. Aku tak ingin kelepasan hingga menjerit keras.
__ADS_1
“Please, lepaskan," katanya seraya melepaskan tanganku dari rambutnya, dan sebagai gantinya ia melingkarkan lengannya ke belakang punggungku.
Sungguh, aku pun bingung kenapa perasaanku jadi begini. Aku risih ketika Ak Jaka menurunkan ristsletingku hingga dress-ku turun, lalu membuka pengait bra-ku dan mengekspos dadaku. Dan, tanpa menunggu sedetik pun, pria itu langsung mendekap tubuhku dengan sebelah tangan. Bersamaan ia membenamkan taringnya di leherku, jari-jemari tangan kanannya pun turut aktif, menguasai dadaku. Merema* kuat hingga aku terpekik. "Hentikan, Ak, aku tidak tahan," rintihku, sedikit berdusta. Aku bisa menahan siksaan kenikmatan itu, tapi aku tidak bisa menahan atas rasa tidak nyaman yang mengusikku.
"No. Aku tidak bisa berhenti."
Byurrrrr....
Dia menarikku ke dalam air. Rasa terkejut membuatku berpaut kuat di pundaknya.
"Biar saja," sahutnya, matanya menelusuri kulitku dengan tatapannya yang panas, dan lapar.
"Tapi, Ak, bagaimana kalau penjaga di depan masuk dan melihat kita di sini? Aku malu, Ak."
"Mereka tidak akan berani." Ia mengecup pundakku. "Tidak akan ada yang berani melihat atau bicara apa pun."
__ADS_1
Oh, seandainya perasaanku sedang tidak seresah ini, aku tidak masalah kami bercinta di alam terbuka seperti ini.
"Ak...."
"Mmm-hmm?" Dia terus mencumbuku.
"Kita ke kamar saja, ya? Aku mohon?"
"No, Sayang."
"Tapi, Ak...."
"Ssst...."
"Kalau dia tidak mau, dengan kami saja."
__ADS_1
Hah? Mereka?