7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Pagi Yang Hangat


__ADS_3

Aku bangun perlahan. Sambil meregangkan badan, aku memandang ke sekeliling lalu berusaha duduk. Kusadari sekarang aku berada di kamarku. Dengan kening berkerut, aku mengulurkan tangan untuk menyapu rambut dari wajah. Lalu aku ingat, aku jatuh tertidur dalam pelukan kekasihku. Pasti dia yang menggendongku ke kamar, batinku.


Turun dari tempat tidur, kuambil tongkatku lalu menyeberangi ruangan dan menempelkan telinga ke pintu, bertanya-tanya, apakah pria itu sudah bangun? Apa aku berani pergi ke kamar mandi?


Karena tidak mendengar apa pun, aku mengenakan jubah mandi di atas kausku dan bergegas menyusuri ruang demi ruang hingga sampai ke area dapur. Pintu kamar mandi sedikit terbuka, aku menyelinap masuk dan menutup pintu.


Pagi ini aku menyelesaikan mandiku lebih cepat dari waktu mandiku yang biasanya. Dengan rambut lurus yang sudah tersisir rapi dan tergerai di bahu aku keluar dari kamar mandi.


"Oh!" seruku, spontan tanganku mencengkeram kerah jubah mandiku ketika mendapati Ak Jaka duduk di meja dapur, kakinya diselonjorkan ke depan, dan di tangannya ada secangkir kopi. Aromanya menguar di ruang dapur menggelitik hidungku. "Kukira kamu masih tidur," ujarku.


Ak Jaka tersenyum. "Matahari-ku sudah bersinar, makanya aku terbangun," katanya. Tatapannya menelusuriku. Mengamati rambutku yang tergerai jatuh ke bahu. Bertelanjang kaki, dengan ibu jari kaki mengintip dari balik jubahku. Dan aku bertanya-tanya, kenapa tatapan matanya terlihat begitu intim? Sebegitu mempesonakah aku di matanya? Aku merasa seolah aku begitu seksi, dan pipiku memerah karena tatapannya. Membuat pria itu kembali tersenyum karena menyadari reaksiku.


Tapi, ya, satu-satunya hal buruk dalam momen ini adalah keberadaan tongkat sialan yang terapit di bawah lenganku. Kalau aku mesti berjalan, aku mesti melepaskan cengkaraman tanganku pada kerah jubah mandiku. Tapi, well, akhirnya hal ini menambah sedikit keberuntungan bagiku.


"Butuh bantuan?" tanya Ak Jaka.


Segera aku menggeleng. Tapi pertanyaan Ak Jaka sekadar basa-basi belaka, meski aku menggelengkan kepala, dia lekas berdiri, menaruh cangkir kopinya dan menghampiriku.


"Aku lebih suka jika kamu menganggukkan kepala," ujarnya, senyuman manis kembali merekah di wajahnya.


Dasar modus! Dia mengambil tongkatku dan menyandarkannya ke dinding, belum sempat aku bertanya kenapa ia mengambil tongkatku, ia langsung menggendongku.


Oh Tuhan... mendapati pria itu berada di dapur itu saja membuatku gelisah. Rasanya seperti adegan rumahan dan domestik, Ak Jaka duduk di meja sambil minum kopi di pagi hari, aku dalam balutan jubah mandi -- keluar dari kamar mandi dan kami tiba-tiba tatapan kami bertemu, lalu dia menggendongku, membawaku ke kamar. Kalau saja ini dalam masa pengantin baru, adegan ini akan terus berlanjut dan kami akan bercumbu di atas ranjang pengantin kami.

__ADS_1


Oh Tuhan... aku menelan ludah susah payah, tubuhku semakin hangat memikirkan Ak Jaka dan... momen manis di tempat tidur bersamanya. Angan-anganku yang manis.


"Ya ampun, Ak, aku bisa sendiri," kataku, dengan kenaifanku. Aku ingin menolak, tapi juga menyukai sikap manisnya.


Ak Jaka membawaku ke kamar, mendudukkan aku di depan meja rias, lalu mencondongkan tubuh untuk mencium keningku, kemudian ia menatap mataku di cermin. "Pasti akan terasa lebih sempurna seandainya kita sudah menikah," ujarnya.


"Kenapa mesti berandai-andai kalau kita bisa segera mewujudkannya, ya kan? Hari ini juga kita bisa menikah. Itu kalau kamu ingin."


Dan jawabannya tidak. Dia tidak ingin. Tepatnya belum ingin. Yeah, dia memang tidak mengatakan kalimat-kalimat penolakan, tapi keningnya yang mengerut dan jemarinya yang menggaruk-garuk dahi ketika ia menyeringai, itu adalah personifikasi jawaban tidak darinya.


"Well, sudahlah, tolong ambilkan tongkatku. Aku membutuhkannya, ya?"


Sebuah anggukan kecil menjawabku, kemudian ia melangkahkan kaki dan keluar dari kamarku.


Untuk sesaat, entah bagaimana mulanya, aku kembali memikirkan momen manis yang baru saja terjadi. Aku memejamkan mata dan kembali membayangkan pria itu -- rambutnya yang hitam, ototnya, kulitnya yang putih bersih, bahunya yang bidang, dan kakinya yang jenjang.


"Kedatanganku untuk melamarmu, Sayang. Bukan untuk langsung menikahimu." Ak Jaka datang membawakan tongkatku dan meletakkannya di sisi meja rias. "Kupikir meskipun kamu menerima lamaranku, pernikahan kita mesti direncanakan dengan matang. Sebab itu aku tidak membawa dokumen-dokumen penting untuk melengkapi persyaratan pernikahan kita," ujarnya seraya duduk berjongkok lutut di hadapanku. Menggenggam kedua belah tanganku. "Bagaimana kita bisa menikah secara resmi kalau aku belum mempersiapkan semuanya, hmm? Aku ingin menikahimu secara resmi, bukan asal sah dan tidak tercatat oleh negara. Kamu paham itu, Gadis Kecil?"


Aku menganguk.


Yah, dia benar. Mana dia tahu kalau akan seperti ini situasi pertemuan kami: dengan kehadiran kembaran Ak Jaka dan segala sepak terjangnya. Dan mana pernah terpikir bahwa kami akan terkurung dan terpaksa berdua-duaan di dalam rumah.


"Aku akan menikahimu secara resmi. Sah di mata hukum, dan sah secara agama. Aku tidak ingin merendahkan harga dirimu sebagai seorang wanita dengan pernikahan sirih. Kecuali dalam situasi urgent. Sekarang... keadaan kita tidak terlalu urgent, kan? Sekarang aku bersamamu. Aku akan menjagamu dan melindungimu. Selalu."

__ADS_1


Dan aku tertunduk lesu.


"Baiklah," kata Ak Jaka kemudian, lalu ia berdeham pelan. "Aku akan menuruti keinginanmu. Aku akan menyuruh orang untuk mengambil dokumen-dokumen penting dari rumah, sekalian akan mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan dari RT setempat. Kamu bisa menunggu beberapa hari lagi?"


Ya ampun, aku tersenyum semringah. "Ya," kataku. "Ya. Kamu serius, kan?"


Dia mengangguk, dan kali ini tersenyum karena melihat reaksiku yang begitu antusias. "Dan soal resepsi, tidak bisa sekarang. Tapi nanti, setelah masalahku selesai dan situasi tenang, kita akan mengadakan acara resepsi pernikahan kita. Apa tidak apa-apa?"


Kuanggukkan kepala cepat-cepat. "Ya," kataku. "Yang penting sah dan aku punya kamu sebagai keluarga." Langsung kucondongkan tubuh dan memeluknya. Berpaut di lehernya. "Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih."


"Tenang, Sayang...."


"Aku senaaaaang...," lengkingku sambil terus berpaut padanya.


"Iya, tapi...." Ak Jaka kehilangan keseimbangan dan malah terlentang di lantai. Aku tertelungkup, jatuh di atas tubuhnya. "Tuh kan...."


"Aku senang, tahu! Semua akan seperti yang aku harapkan. Kita akan punya satu kartu keluarga. Namaku tidak akan sendiri lagi. Nanti kita akan punya anak-anak dan nama-nama baru di kartu keluarga kita. Mungkin tiga atau empat anak. Lima juga boleh."


Ak Jaka terbahak-bahak. "Terserah padamu," katanya seraya melingkarkan kedua lengannya di tubuhku erat-erat. Lalu tawanya terhenti, ia menatapku lekat-lekat hingga tatapannya terfokus di bibirku, dan kusadari, kaki kanan pria itu mengunci kaki kiriku yang berada di antara kedua kakinya. Dan kemudian, secara perlahan, ia membaringkanku ke sisi kiri, dan secara bersamaan ia berada di atasku. Menindihku. Dan menatapku dengan gairah. Lalu dia menciumku.


Jantungku berdebar liar. Dia melahap bibirku. Meluma*. Dan memaksakan lidahnya memasuki mulutku. Aku bisa merasakan pusat gairahnya menekanku penuh damba, juga dari gerak tangannya yang menelusuri tubuhku.


"Oh, sial!" gerutunya. Dengan cepat ia bangkit, lalu menarik tanganku untuk membantuku duduk. Dia menciumku lagi, keras dan cepat, lalu berderap keluar dari kamar.

__ADS_1


Tercengang, aku menatap kepergiannya. Merasakan seberkas kekecewaan karena dia pergi.


Tapi itulah yang terbaik. Sebab, apa yang akan terjadi kalau pria itu tetap di sini?


__ADS_2